Dua
bulan terakhir ini terasa sangat istimiwa bagi saya pribadi. Terutama dalam hal
literasi – baca dan tulis. Karena dalam rentang waktu tersebut koleksi buku di
pustaka pribadi saya bertambah lagi. Dan penambahannya cukup lumayan banyak,
yaitu sebanyak 34 buah buku. Walau pun tahun penerbitannya sudah agak lama.
Bagi saya pribadi itu tidak mengapa, yang penting aktifitas membaca saya masih
tetap bisa berlanjut secara baik. Sehingga informasi kebutuhan otak saya berupa
asupan informasi yang relative baru dan cukup bergizi dapat tersuplay secara
memadai.
Mungkin kegilaan saya akan buku, bagi
orang sudah bookoholick (penikmat buku) dianggap biasa-biasa saja. Tapi bisa
juga sebaliknya, terutama bagi mereka yang kurang akrab dengan buku. Pasti
mereka menganggap sebagi pemborosan dan kesia-siaan saja. Buang waktu dengan
sia-sia. Apa pun pandangan dan penilaian orang lain itu tidak begitu penting
bagi saya. Toh aktifitas tersebut yang melakukan diri saya sendiri dan juga
menggunakan dana saya sendiri untuk pengadaan seambreg buku bacaan tadi.
Paling
tidak dari apa yang telah saya lakukan tersebut saya mampu menjaga konsistensi
dan motivasi baca saya dalam dinamika yang tetap stabil. Sehingga kemampuan
literasi saya baik reading, writing, publishing, maupun sharing
pemikiran bisa semakin lancar dan tidak sampai kekurangan ide. Tentu saja hal
ini sangat penting terutama bila dikaitkan dengan keprofesian saya, yaitu
sebagai seorang guru. Sebagai seorang guru pastinya dituntut untuk memiliki
pengetahuan yang cukup dan juga wawasan yang memadai. Baik itu yang memiliki keterkaitan
secara langsung dengan sisi akademik pembelajaran yang saya ampu maupun yang
tidak bersinggungan secara langsung.
Bagi saya pribadi buku
bukanlah sekedar tumpukan atau bendelan kertas yang disemati oleh banyaknya
rangkaian huruf untuk menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi
paragraf, paragraf menjadi artikel, artikel menjadi sub bab, sub bab menjadi
bab, dan akhirnya bab terkumpul menjadi buku. Nilai lebih dari itu semua karena
sebuah buku bisa merubah kehidupan manusia dan juga dapat merubah peradaban
dunia.
Situasi psikologis yang
lebih mendalam terhadap dirasakan oleh Khaled seperti yang terungkap dalam
bukunya yang berjudul Musyawarah Buku yang secara jelas menyebutkan “Kalian
adalah gudang hikmah kami, catatan terperinci kegagalan dan keberhasilan kami,
nalar dan hawa nafsu kami. Kalian menghubungkan masa lalu dengan masa kini
dengan dirinya yang sejati. Dari sebuah Kitab Tuhan yang luar biasa, kalian
menciptakan sebuah peradaban. Dari sebuah inspirasi, kalian menciptakan sebuah
gagasan, lalu pemikiran, kemudian system, selanjutnya sarana, akhirnya kalian
menciptakan jalan-jalan dan rambu-rambunya” (Ngainun Naim, The Power of reading
Menggali Kekuatan Membaca Untuk Melejitkan Potensi diri, 2013: 66).
Buku memang memiliki pengaruhnya
sangat dahsyat dalam kehidupan. Bahkan dalam sebuah kata bijak disebutkan buku
lebih hebat dari sebutir peluru, karena sebutir peluru hanya mampu menembus
satu kepala sedangkan buku dapat mempengaruhi berjuta-juta kepala dalam waktu
yang bersamaan.
Selain itu, karena esensinya
peran buku dalam sebuah peradaban manusia maka tidak salah bila buku dianggap
sebagai jendela dunia, sperti yang tertera pada gambar slogan diatas.
Menurut pandangan saya ungkapan tersebut memang sangat benar adanya.
Karena sebuah buku menyimpan banyak misteri yang penuh dengan keajaiban yang
bisa menghantarkan kita kemana saja dalam waktu sekejab. Dalam posisi ini,
rangkaian kalimat yang tertulis dalam buku layaknya sebuah mantera yang nilai
magisnya luar biasa. Baik bagi penulis dan juga bagi penikmatnya.
Sebuah buku bisa membantu
pembaca untuk melakukan relaksasi, refreshing, dan traveling imajiner kemanapun
yang dideskripsikan dalam buku. Bahkan lebih dari itu, buku juga mampu memberikan
banyak mutiara ilmu dan hikmah bagi siapa saja yang sudi mengakrapinya. Dan bahkan
lebih dahsyat lagi sesuatu yang bisa ditawarkan oleh sebuah buku mulai dari:
inspirasi, motivasi, transformasi diri, kehormatan, status social, dan sisi
finansial seseorang khususnya badi penulis serta penjualnya.
Terus terang saya telah
merasakan benar kemanfaatan dari buku-buku yang saya baca selama ini.
Saya juga telah mendapatkan semua hal yang saya sebutkan diatas. Karena dengan
membaca banyak buku saya mendapatkan banyak kemudahan, penghidupan yang layak,
status social yang baik, dan kehidupan finansial yang lumayan mapan. Padahal
secara kuantitas jumlah buku yang saya baca belum begitu banyak. Bahkan bisa
dibilang sangat sedikit. Dan dari sinilah muncul rasa penyesalan yang sangat
mendalam mengapa saat masih kuliah dulu saya tidak begitu rajin ke perpustakaan
untuk berselancar di dunia kata dan mengakrapi banyak buku yang ada didalamnya.
Tentunya saya akan mengalami transformasi diri yang luar biasa sebagai dampak
positif dari banyak mutiara ilmu dan pencahayaan hikmah yang cecap.
Ternyata memang benar kebiasaan
bercengkerama buku adalah sebuah aktifitas yang sangat menakjubkan. Karena
terlalu besarnya manfaat yang bisa direguk darinya guna untuk menyirami dahaga
pada otak akan ilmu. Bahkan dengan buku saya bisa mengenal jejak pemikiran
orang-orang besar. Selain itu, buku juga merupakan teman yang baik. Tidak
cerewet, tidak bawel dan juga tidak banyak menuntut. Menurut Ernest Hemingway
“There is no friend as loyal as a book” yang kalau diartikan tiada ada teman
seloyal/sebaik buku.
Maka untuk memperkuat hasrat
saya pada buku, kemampuan baca saya selalu saya asah agar terus meningkat.
Untuk itu pun saya melakukan perburuan buku yang mengupas berbagai metode
membaca yang efektif. Dari sini saya menemukan beberapa buku dan dua
diantaranya yang paling berkesan yaitu buku The Power of reading Menggali
Kekuatan Membaca Untuk Melejitkan Potensi diri
karya Prof. Ngainun Naim dan buku Bacakilat Kiat Membaca 1 halaman/Detik
karya Agus setiawan.
Seandainya sudah sejak masa
kuliah dulu saya sudah mengenal teori membacakilat 1 halaman/detik seperti yang
disampaikan Agus setiawan tentu amazing banget properti akademik yang terserap
dalam otak saya. Karena dengan penguasaan skill tersebut saya bisa merampungkan
ratusan bahkan ribuan buku yang ada di perputakaan UMM yang kala itu (tahun
1991/1995) jumlahnya bukunya mencapai 15.000 judul.
Sayangnya saat itu sampai
kini, menurut perkiraan saya masih membaca buku dikisaran 400 buku
(buku diluar pelajaran) saja dengan rincian 100 buku dimasa kuliah
(40 buku literature penyusunan skripsi yang rata-rata bahasa Inggris, 60an buku
sifatnya umum mulai bukunya Cak Nun, Nurkholis Madjid, Jalaludin Rahmat, Frans
Magnessuseno, Dr.Fatchurrahman, Dr, Schuler, dan masih banyak lagi). Rentang
waktu 1996/2008 saya banyak membaca buku dari perustakaan SDN Tenggong 1 &
2, Perpusda Tulungagung dan Perpus Akper Bakti Husada Tulungagung melalui adik
saya yang saat itu kuliah keperawatan disana. Dan mungkin jumlahnya 50 – 70 an.
Dan yang terakhir 2009 sampai saat ini, saat saya telah menjadi PN kira baru 150
– 200an buku. Dari perpustakaan SDN 1 Kacangan yang mendapatkan program
perpustakaan dan sekitar 100an. Dan semoga saja perpus pribadiku bisa terus
bertambah hingga mencapai 1000 buku, yang sebagian adalah karya tulis saya baik
antologi maupun karya mandiri saya.
Untuk mengatasi rasa kecewa
saya terhadap masa lalu terkait aktivitas membacaku maka saya obati dengan
pembiasaan melakukan kegiatan menulis sehingga saya menjadi lebih rajin dalam
mencari informasi dari banyak buku. Bahkan wirus gila buku juga saya sebarkan
pada murid-murid yang saya ajar, yaitu murid-murid kelas 4. selain itu saya
juga mencanangkan program khusus untuk murid-murid saya yaitu program baca –
(setiap murid harus setor laporan baca sekian halaman setiap pagi dengan buku
bebas). Alhamdulillah program ini sudah berjalan dan beberapa murid ada yang
telah menyelesaikan 3 buku dalam waktu 1 bulan. Dan sebagai program
penegmbangan selanjutnya adalah penggiringan siswa untuk bisa berkarya
tulis seperti angkatan sebelumnya yang berhasil menelurkan satu buah antologi
setebal 231 halaman.












