This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 09 November 2020

AKU, BUKU DAN TRANSFORMASI DIRI

 

Dokumen Pribadi

Dua bulan terakhir ini terasa sangat istimiwa bagi saya pribadi. Terutama dalam hal literasi – baca dan tulis. Karena dalam rentang waktu tersebut koleksi buku di pustaka pribadi saya bertambah lagi. Dan penambahannya cukup lumayan banyak, yaitu sebanyak 34 buah buku. Walau pun tahun penerbitannya sudah agak lama. Bagi saya pribadi itu tidak mengapa, yang penting aktifitas membaca saya masih tetap bisa berlanjut secara baik. Sehingga informasi kebutuhan otak saya berupa asupan informasi yang relative baru dan cukup bergizi dapat tersuplay secara memadai.

 

Mungkin kegilaan saya akan buku, bagi orang sudah bookoholick (penikmat buku) dianggap biasa-biasa saja. Tapi bisa juga sebaliknya, terutama bagi mereka yang kurang akrab dengan buku. Pasti mereka menganggap sebagi pemborosan dan kesia-siaan saja. Buang waktu dengan sia-sia. Apa pun pandangan dan penilaian orang lain itu tidak begitu penting bagi saya. Toh aktifitas tersebut yang melakukan diri saya sendiri dan juga menggunakan dana saya sendiri untuk pengadaan seambreg buku bacaan tadi.

 

 Paling tidak dari apa yang telah saya lakukan tersebut saya mampu menjaga konsistensi dan motivasi baca saya dalam dinamika yang tetap stabil. Sehingga kemampuan literasi saya baik   reading, writing, publishing, maupun sharing pemikiran bisa semakin lancar dan tidak sampai kekurangan ide. Tentu saja hal ini sangat penting terutama bila dikaitkan dengan keprofesian saya, yaitu sebagai seorang guru. Sebagai seorang guru pastinya dituntut untuk memiliki pengetahuan yang cukup dan juga wawasan yang memadai. Baik itu yang memiliki keterkaitan secara langsung dengan sisi akademik pembelajaran yang saya ampu maupun yang tidak bersinggungan secara langsung.

 

Bagi saya pribadi buku bukanlah sekedar tumpukan atau bendelan kertas yang disemati oleh banyaknya rangkaian huruf untuk menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi artikel, artikel menjadi sub bab, sub bab menjadi bab, dan akhirnya bab terkumpul menjadi buku. Nilai lebih dari itu semua karena sebuah buku bisa merubah kehidupan manusia dan juga dapat merubah peradaban dunia.

 

Situasi psikologis yang lebih mendalam terhadap dirasakan oleh Khaled seperti yang terungkap dalam bukunya yang berjudul Musyawarah Buku yang secara jelas menyebutkan “Kalian adalah gudang hikmah kami, catatan terperinci kegagalan dan keberhasilan kami, nalar dan hawa nafsu kami. Kalian menghubungkan masa lalu dengan masa kini dengan dirinya yang sejati. Dari sebuah Kitab Tuhan yang luar biasa, kalian menciptakan sebuah peradaban. Dari sebuah inspirasi, kalian menciptakan sebuah gagasan, lalu pemikiran, kemudian system, selanjutnya sarana, akhirnya kalian menciptakan jalan-jalan dan rambu-rambunya” (Ngainun Naim, The Power of reading Menggali Kekuatan Membaca Untuk Melejitkan Potensi diri, 2013: 66).

 

Buku memang memiliki pengaruhnya sangat dahsyat dalam kehidupan. Bahkan dalam sebuah kata bijak disebutkan buku lebih hebat dari sebutir peluru, karena sebutir peluru hanya mampu menembus satu kepala sedangkan buku dapat mempengaruhi berjuta-juta kepala dalam waktu yang bersamaan.

 

Selain itu, karena esensinya peran buku dalam sebuah peradaban manusia maka tidak salah bila buku dianggap sebagai jendela dunia, sperti yang tertera pada gambar slogan diatas. Menurut pandangan saya ungkapan tersebut memang sangat benar adanya. Karena sebuah buku menyimpan banyak misteri yang penuh dengan keajaiban yang bisa menghantarkan kita kemana saja dalam waktu sekejab. Dalam posisi ini, rangkaian kalimat yang tertulis dalam buku layaknya sebuah mantera yang nilai magisnya luar biasa. Baik bagi penulis dan juga bagi penikmatnya.

 

Sebuah buku bisa membantu pembaca untuk melakukan relaksasi, refreshing, dan traveling imajiner kemanapun yang dideskripsikan dalam buku. Bahkan lebih dari itu, buku juga mampu memberikan banyak mutiara ilmu dan hikmah bagi siapa saja yang sudi mengakrapinya. Dan bahkan lebih dahsyat lagi sesuatu yang bisa ditawarkan oleh sebuah buku mulai dari: inspirasi, motivasi, transformasi diri, kehormatan, status social, dan sisi finansial seseorang khususnya badi penulis serta penjualnya.

 

Terus terang saya telah merasakan benar kemanfaatan dari buku-buku yang saya baca selama ini.  Saya juga telah mendapatkan semua hal yang saya sebutkan diatas. Karena dengan membaca banyak buku saya mendapatkan banyak kemudahan, penghidupan yang layak, status social yang baik, dan kehidupan finansial yang lumayan mapan. Padahal secara kuantitas jumlah buku yang saya baca belum begitu banyak. Bahkan bisa dibilang sangat sedikit. Dan dari sinilah muncul rasa penyesalan yang sangat mendalam mengapa saat masih kuliah dulu saya tidak begitu rajin ke perpustakaan untuk berselancar di dunia kata dan mengakrapi banyak buku yang ada didalamnya. Tentunya saya akan mengalami transformasi diri yang luar biasa sebagai dampak positif dari banyak mutiara ilmu dan pencahayaan hikmah yang cecap.

 

Ternyata memang benar kebiasaan bercengkerama buku adalah sebuah aktifitas yang sangat menakjubkan. Karena terlalu besarnya manfaat yang bisa direguk darinya guna untuk menyirami dahaga pada otak akan ilmu. Bahkan dengan buku saya bisa mengenal jejak pemikiran orang-orang besar. Selain itu, buku juga merupakan teman yang baik. Tidak cerewet, tidak bawel dan juga tidak banyak menuntut. Menurut Ernest Hemingway “There is no friend as loyal as a book” yang kalau diartikan tiada ada teman seloyal/sebaik buku.

 

Maka untuk memperkuat hasrat saya pada buku, kemampuan baca saya selalu saya asah agar terus meningkat. Untuk itu pun saya melakukan perburuan buku yang mengupas berbagai metode membaca yang efektif. Dari sini saya menemukan beberapa buku dan dua diantaranya yang paling berkesan yaitu buku The Power of reading Menggali Kekuatan Membaca Untuk Melejitkan Potensi diri  karya Prof. Ngainun Naim dan buku Bacakilat Kiat Membaca 1 halaman/Detik karya Agus setiawan.

 

Seandainya sudah sejak masa kuliah dulu saya sudah mengenal teori membacakilat 1 halaman/detik seperti yang disampaikan Agus setiawan tentu amazing banget properti akademik yang terserap dalam otak saya. Karena dengan penguasaan skill tersebut saya bisa merampungkan ratusan bahkan ribuan buku yang ada di perputakaan UMM yang kala itu (tahun 1991/1995) jumlahnya bukunya mencapai 15.000 judul.

 

Sayangnya saat itu sampai kini, menurut perkiraan  saya masih membaca buku dikisaran 400 buku (buku diluar pelajaran) saja dengan rincian  100 buku dimasa kuliah (40 buku literature penyusunan skripsi yang rata-rata bahasa Inggris, 60an buku sifatnya umum mulai bukunya Cak Nun, Nurkholis Madjid, Jalaludin Rahmat, Frans Magnessuseno, Dr.Fatchurrahman, Dr, Schuler, dan masih banyak lagi). Rentang waktu 1996/2008 saya banyak membaca buku dari perustakaan SDN Tenggong 1 & 2, Perpusda Tulungagung dan Perpus Akper Bakti Husada Tulungagung melalui adik saya yang saat itu kuliah keperawatan disana. Dan mungkin jumlahnya 50 – 70 an. Dan yang terakhir 2009 sampai saat ini, saat saya telah menjadi PN kira baru 150 – 200an buku. Dari perpustakaan SDN 1 Kacangan yang mendapatkan program perpustakaan dan sekitar 100an. Dan semoga saja perpus pribadiku bisa terus bertambah hingga mencapai 1000 buku, yang sebagian adalah karya tulis saya baik antologi maupun karya mandiri saya.

 

Untuk mengatasi rasa kecewa saya terhadap masa lalu terkait aktivitas membacaku maka saya obati dengan pembiasaan melakukan kegiatan menulis sehingga saya menjadi lebih rajin dalam mencari informasi dari banyak buku. Bahkan wirus gila buku juga saya sebarkan pada murid-murid yang saya ajar, yaitu murid-murid kelas 4. selain itu saya juga mencanangkan program khusus untuk murid-murid saya yaitu program baca – (setiap murid harus setor laporan baca sekian halaman setiap pagi dengan buku bebas). Alhamdulillah program ini sudah berjalan dan beberapa murid ada yang telah menyelesaikan 3 buku dalam waktu 1 bulan. Dan sebagai program penegmbangan selanjutnya adalah penggiringan siswa untuk bisa berkarya tulis seperti angkatan sebelumnya yang berhasil menelurkan satu buah antologi setebal 231 halaman.

Jumat, 06 November 2020

JANGAN TERLALU SERING MEMERAS SANTAN

 


Pada hari rabu, 04/11/2020 kemarin saya sempat nimbrung gabung bareng dalam acara Bedah Buku yang dilaksanakan di IAIN Tulungagung via zoom meeting. Sedangkan buku yang dibedah berjudul Menggali Spiritualitas Ramadhan Syarah Renungan Rektor IAIN Tulungagung. Acara tersebut dimoderatori oleh Dr. Ngainun Naim, M.H.I. – Ketua LP2M IAIN Tulungagung dan didampingi oleh Dr. Chusnul Chotimah, M.Ag. sebagai Hostnya - Kapuslit LP2M IAIN Tulungagung.

Acara bedah buku ini menghadirkan dua narasumber yang sangat kualified baik dari sisi akademis maupupun dari sisi keshalehan religiusitasnya. Kedua narasumber tersebut adalah: Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag – Rektor IAIN Tulungagung dan Dr. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag – Wakil Rektor III IAIN Tulungagung, yang kebetulan kedua-duanya merupakan  penulis dari buku yang akan dibedah dalam kesempatan tersebut. Karena sebagai penulisnya, tentu saja beliaunya bukan saja memahami seluk beluk terkait tema yang diangkat tetapi juga tahu betul spirit atau ruh yang menjiwai serta melatarbelakangi terlahirnya buku tersebut.

Sedangkan dua pembahas yang diundang  untuk mengupas buku tersebut adalah Prof. Ahmad Ali Nurdin, M.A., Ph.D. – Dekan FISIP UIN Sunan Gunung Djati dan satunya lagi yaitu K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag. – Dekan Pascasarjana UNUSIA Jakarta. Dua pembahas yang sangat matang dalam ranah pemikiran Islam. Hal ini bisa dipahami karena kedua-duanya merupakan seorang akademisi yang dinamika pemikirannya cukup berani dan inspiratif (liberal). Diterminasi pemikiran liberal ini secara jelas terpresentasikan pada sosok K.H. Ulil Abshar Abdalla, M.Ag. yang mana beliau sangat lekat dengan pemikiran modernis yang diusung oleh Fazlur Rahman – pemikir modernis Islam Pakistan dan juga Dr. Nurcholis Madjid – pemikir modernis Islam Indonesia.

Dan dari pembahasan yang disampaikan oleh K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag terhadap buku Menggali Spiritualitas Ramadhan Syarah Renungan Rektor IAIN Tulungagung saya menemukan dua ulasan yang cukup menarik dan layak untuk dikupas dalam tulisan ini. Yang pertama, saya merasakan kondisi ekstase yang dialami K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag dalam mendeskripsikan spirit yang terkandung dalam buku yang dibedah. Dalam memberikan penjelasan beliaunya tampak sedikit kebingungan untuk menjelaskan secara verbal. Kondisi ini terjadi karena beliaunya telah terserap dalam kondisi ekstase dengan pengalaman spiritualnya. Ekstase merupakan keadaan di luar kesadaran diri (seperti keadaan orang yang sedang khusyuk bersemadi), KBBI Online. Bahkan untuk membantu penjelasannya, beliau sempat merujuk pada kepadatan muatan kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah yang kepadatan muatannya membutuhkan beberapa buku penjelas (penafsir). Situasi seperti itulah kondisi yang dihadai beliau saat mengomentari buku Menggali Spiritualitas Ramadhan Syarah Renungan Rektor IAIN Tulungagung.

Dan keganjilan yang sedikit nyleneh kedua berupa saran yang ditujukan pada Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag – Rektor IAIN Tulungagung dan Dr. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag – Wakil Rektor III IAIN Tulungagung supaya tidak terlalu sering menulis buku semacam itu. Karena bila terlalu sering akan menyebabkan kepadatan materi tulisannya menjadi ambyar. Dan untuk memperjelas saran tersebut, K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag. mengibaratkan seseorang yang sedang memeras santan yaitu bila kelapa parutan terlalu sering diperas maka akan menyebabkan penurunan kualitas tingkat kekentalan santan yang dihasilkan. Sedangkan waktu yang ideal untuk menjaga kekentalan santan pemikiran, K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag. menyarankan waktu yang cukup ideal paling cepat anatar 2 sampai 3 tahun. Menurut pemahamannya, dalam rentang waktu tersebut dianggap waktu yang cukup bagi Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag – Rektor IAIN Tulungagung dan Dr. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag – Wakil Rektor III IAIN Tulungagung untuk melakukan pengendapan santan pemikirannya menjadi matang dan bisa terkristalisasikan menjadi mutiara ilmu yang pemahamannya membutuhkan banyak keberanian untuk menafsirkannya.