This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 23 Juni 2021

Sekat Pembatas Buku Baruku

 

 Senin, 21/06/2021 kira-kira pukul 13. 30an lalu tepatnya saat saya sedang rebahan dikamar secara sama-samar mendengar beberapa kali suara ketukkan di pintu rumah. Dan untuk meyakinkan akan kebenaran pendengaran saya pun mencoba bangun, kemudian keluar kamar untuk mengeceknya keluar. Ternyata benar. Di luar berdiri seorang laki dari tim ekspedisi yang sedang menenteng dua bungkusan buku yang telah saya pesan beberapa hari yang lalu dari toko onlineMasing-masing dari kedua buku tersebut adalah: Seni Melatih Pikiran dan daya Ingat setajam Silet - karya Daniel Nugroho - cetakan kedua Pebruari 2019 yang diterbitkan oleh Askara  Bantul Yogyakarta; dan yang satunya lagi berjudul Mindset Mengubah Pola Pikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup  yang ditulis oleh Carol S. Dweck, PH.D. yang diterbitkan oleh penerbit BACA Tangerang. 

Sedangkan tema yang diangkat dari kedua buku  tersebut memiliki saling keterkaitan yaitu untuk melatih kemampuan otak dan yang satunya lagi membahas tentang rekayasa pola pikir manusia. Dan bila ditengok dari tema kajiannya, tentunya kedua buku ini sangat menarik untuk selami karena di dalamnya terdapat banyak informasi yang sangat berguna dalam membantu optimalisasi kemampuan anak dan murid-murid kita.

Namun dalam kesempatan ini, saya bukan bermaksud untuk mengupas isi dari kedua buku yang baru saja saja beli secara onlie tadi. Ya yang pasti karena saya masih sempat membaca beberapa lembar dari salah satu buku tersebut, yaitu buku yang berjudul Seni Melatih Pikiran dan Daya Ingat Setajam silet. Sedangkan yang satunya lagi masih sebatas melihat membaca kata pengantar, daftar isi, dan sinopsis halaman belakangnya saja.  

Foto: dokumen pribadi


Melainkan saya akan menulis terkait dengan kertas penyekat (pembatas) yang terselib di dalam salah satu buku tersebut karena dua alasan. Alasan pertama, karena pada kertas penyekat tersebut terdapat foto sosok literat yang sangat cinta dengan buku, yaitu Bung Hatta. Yang jelas dari sosok Bung Hatta kita bisa mendapatkan banyak pelajaran dan keteladanan terutama terkait dengan buku.  


Sedangkan alasan yang kedua yaitu berupa sebuah quote dari Bung Hatta yang bunyinya “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”  Bagi saya quote statemen ini bukan hanya menarik tetapi juga sangat seksi sehingga mampu membangkitkan memori saya terhadap sebuah cerpen yang pernah saya baca di pertengahan tahun 90an. Sebuah cerpen terdapat dalam sebuah buku mata kuliah Reading  yang seingat saya matkul tersebut diajar oleh Bu Pudji AstutiAlhamdulillah walau kemampuan saya dalam berbahasa Inggris kurang baik tetapi masih mampu mengingat alur ceritanya maupun value (nilai) yang diselipkan dalam cerita tersebut. Yang jelas cerpen ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan quote dari Bung Hatta tadi. 


Foto: dokumen pribadi

Cerpen yang di tulis oleh Anton Pavlovich Chekhov – (berkebangsaan Rusia, lahir 29 Januari 1860, sebagai seorang dokter, cerpenis dan sekaligus dramawan) tersebut berjudul “The Bed” yang kalau diterjemah ke dalam bahasa Indonesia berarti Taruhan (perjudian). Cerpen yang di tulis pada tahun .... bertitik tolak dari sebuah perdebatan seru yang yang melibatkan dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Yang mana salah satunya sebagai bankir dan satunya lagi sebagai lawyer - praktisi hukumSedangkan tema yang diangkat dalam perdebatan tersebut adalah  “Lebih baik mana antara hukuman mati dengan hukuman seumur hidup.”   


Secara garis besar keputusan dari dua tokoh tersebut saling berlawanan. Si bankir menganggap hukuman mati lebih karena menurutnya hukuman mati dapat menghindarkan dari banyak kerugian dari perbuatan yang dilakukan oleh si terhukum. Sedangkan si lawyer menganggap hukuman seumur lebih baik karena selain lebih manusiawi juga masih terdapat banyak hal yang bisa dilakukan oelh si terhukum disisa hidupnya – selama hidup dipenjara.  


foto: dokumen pribadi

Kemudian dari selisih pendapat tersebut si bankir melontarkan tantangan pada si lawyer untuk membuktikan pilihannya kalau hukuman seumur hidup itu lebih baik. Di sini, si bankir menantang (meminta) si lawyer untuk menjalani hidup di tahanan – ruang tertutup selama 10 tahun tanpa boleh melihat luar dan tanpa melakukan komunikasi dengan orang lain. Dan bila masa 10 tahun mampu dilewati, si bankir akan memberikan hadiah uang sebesar $ 10, 000 kepada si lawyer 


Mendapat tantangan semacam itu, si lawyer pun menerimanya dengan sepenuh hati hali ini untuk membuktikan bahwa pilihannya itu benar. Dan sebelum menjalani kesepakatan tersebut, si lawyer mengajukan sebuah permintaan kepada si bankirPermintaannya yaitu setiap minggu si bankir harus menyediakan satu buku. Tidak harus baru tetapi judulnya harus beda. Sebuah permintaan yang cukup gampang dan mudah sekali untuk dipenuhi oleh si bankir - orang terkaya di kota itu. Selain itu, si bankir juga sangat yakin yakin kalau si lawyer tidak akan sanggup mejalani tantangan tersebut. Dan setelah bebarapa hari akan menyerah. Sehingga tidak memerlukan banyak uang untuk memenuhinya.  


Sebagai ending dari cerita cerpen ini disebutkan bahwa si lawyer mampu menjalani tantang 10 tahun hidup dalam tahanan dengan sempurna. Dan hari akhir saat lawyer harus terbebas dari  perjanjian itu tiba si bankir pun merasa sangat cemas karena harus memenuhi janjinya yaitu untuk memberikan uang $ 10, 000 sebagai hadiahnya karena ketika itu si bankir sudah bangkrut dan miskin karena uangnya habis untuk membelikan buku  dan juga memenuhi kebutuhan si lawyer selama di tahanan.  


Kepanikan pun terjadi ketika si bankir mencoba menemui si lawyer dalam tahanannya karena saat dipanggil-panggil si lawyer tidak merespon. Tidak ada jawaban sama sekali. Dalam situasi ini si bankir berada pada posisi cemas, kuatir, panil dan sekaligus gembira. Merasa cemas, kuatir, panik karena takut kalau si lawyer sampai meninggal di dalam tahan. Tentu urusannya akan berkepanjangan. Dan sekaligus gembira seandai-nya si lawyer meninggal karena dia merasa tidak mampu lagi untuk membayarnya.  


Untuk mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya, si bankir memberanikan diri untuk mendobrak pintu ruang yang digunakan untuk menahan si lawyer. Saat pintu didobrak braaakkkk dan pintu pun terbuka dengan susah karena ruangan yang sempit tersebut penuh dengan tumpukan buku. Namun di situ, si bankir tidak menemukan keberadaan si lawyer melainkan hanya menemukan sebuah surat yang ditulis oleh si lawyer yang intinya menyampaikan terima kasih kepada si bankir karena tantangannya dia (si lawyer) bisa banyak membaca, bisa tahu banyak hal, mampu berkunjung ke berbagai tempat, dan juga banyak pengetahuan yang didapatnya.  Dan di akhir suratnya, si lawyer menyebutkan kalau tidak memerlukan uang  $ 10, 000 yang telah dijanjikan karena menurutnya nilainya tidak lebih berharga apa yang diperoleh dari buku-buku yang telah dibacanya selama di tahanan.  


Sebagai kesimpulan dari uraian di atas rajin-rajinlah membaca buku dan juga perbanyak membelinya karena dengan langkah tersebut kita dapat memuliakan ilmu dan sekaligus menghagai penulis buku. 


Mungkin itulah setitik kisah dibalik sekat pembatas buku baruku. 


Tegalrejo – Rejotangan – Rabu, 23/06/2021.