This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 28 Februari 2020

Mengenal Ghost Writer



Pagi ini saya merasa sedikit heran karena saat  majalah Dwija saya menemukan  sebuah yang cukup menarik dengan judul  Belajar dari Film Terbaik. Saya merasa heran karena disitu tercantum nama, foto dan identitas saya dengan tepat, mulai dari penulisan nama, titel, unit kerja dan juga pakaian yang saya kenakan. Dari itu semua memang benar, saya banget. Tapi satu hal yang saya rasa cukup aneh, saya tidak begitu ingat dengan tulisan tersebut. Kapan menulisnya dan kapan pula saya mengirimnya ke redaktur Dwija. Hanya satu yang saya ingat tentang tulisan tersebut yaitu tentang Laskar Pelangi karya Andrea Herata yang sempat booming beberapa tahun yang lalu. Karena kebetulan beberapa bulan yang lalu saya sempat mendapati buku  Laskar Pelangi  yang dibawa oleh salah satu murid kelas 6 dan saya sempat membacanya. Setelah itu saya meriview buku tersebut didepan murid kelas 4 dengan tujuan untuk memotivasi murid-murit agar selalu semangat dalam menuntut ilmu seperti Lintang. Selain itu juga untuk menumbuhkan minat menulis seperti yang dilakukan oleh Andera Herata yang lewat buku Laskar Pelangi  telah diterjemahkan kedalam 130 bahasa asing. Tentu sangat luar bisa dan patut untuk ditiru.
Terus apa kaitan dan relevansinya dengan judul tulisan diatas? Kaitan dan relevansinya terletak pada keberadaan tulisan tadi karena hal semacam ini pernah dua kali saya alami. Kira-kira pada tahun 1994/1995 – 20 tahun  yang lalu. Saat itu saya mulai tertarik dalam kepenulisan, sehingga mampu menghasilkan beberapa tulisan dalam tiap semerternya untuk dikirim ke majalah Didaktik – yaitu majalah yang berada dibawah naungan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan UMM.  Dalam kurun waktu tersebut saya menemukan dua buah tulisan atas nama Samsudin. Dua tulisan tersebut yang satu tulisan dari hasil wawancara dengan Mendikbud bapak Wardiman - Mendikbud saat itu dan yang satunya lagi berupa tulisan berbentuk esay/artikel. Dan kejadian tersebut rupanya saya alami lagi di majalah Dwija  edisi bulan ke 47 /2019/Tahun V /  kali ini. Dan  khusus untuk kasus ini (Dwija) karena saya merasa kurang yakin kalau itu tulisan saya. Sedangkan yang ada di majalah Didaktik FKIP UMM saya yakin 100% itu bukan tulisan saya dan saat saya tanyakan kebenarannya ke tim redaktur  jawabannya ya benar itu tulisan yang kami terima atas nama samsudin. Maka dari kejadian tersebut saya terinspirasi untuk mengikat kenangan tersebut dalam bentuk tulisan bentuk feature mungkin saja bisa menambah wawasan kita kepenulisan.
 Ghost writer. Mungkin saat pertama kali membaca judul tulisan diatas dalam pikiran kita muncul sebuah gambaran ataupun bayangan yang sangat menyeramkan, yaitu sebuah sosok hantu. Entah itu hantu yang berwujud pocong, kuntilanak, wewegombel, gondoruwo, tuyul, elo-elo, banaspati, atau apa saja yang jelas penuh keseraman. Atau bisa juga terlintas ganbaran pada hantu yang suka acting sperti mak Lampir, Suster ngesot, hantu jeruk purut, si manis jembatan Ancol, nenek gayung, sundel bolong, nyi Blorong, dan masih banyak lagi untuk ditulis satu persatu.
            Terus bagaimana dengan ghost writer dalam konteks dunia kepenulisan? Apakah ghost writer bisa diartikan sebagi hantu menulis, hantu penulis atau bagaimana?  Tentu penerjemahan semacam ini sangat tidak karena teramat jauh dari kebenaran atas realita yang ada. Seperti yang saya pahami selama ini ghost writer merupakan salah satu profesi dalam dunia kepenulisan yang mana seorang penulis menyewakan jasa kepenulisannya kepada orang lain sebagai pengguna/penyewa jasa kepenulisannya guna untuk menuliskan apa yang diinginkan. Baik itu dalam bentuk esay, artikel, maupun dalam bentuk buku. 
            Pemahaman saya ini senada dengan definisi yang disampaikan oleh Alif Writer dalam http://blog.bukupedia.com/apa-itu-ghost-writer/ yang diunggah pada bulan October 24th, 2018. Dalam unggahan tersebut Alif Writer menyebutkan “Ghost Writer adalah penulis yang menyewakan jasa menulisnya kepada orang lain yang ingin membuat buku tetapi tidak ada waktu untuk menulis atau memang tidak punya keahlian dalam menulis. Yang dimiliki adalah ide, gagasan, dan materi inti untuk bukunya nanti.”
            Mengapa disebut ghost writer? Seorang penulis disebut sebagai ghost writer karena didasarkan pada sistem kerja dan juga hasil akhir dari pekerjaannya. Dari sistem kerjanya, ghost writer menyewakan jasa kepenulisannya atau dengan kata lain si penulis menulis atas permintaan orang lain dan untuk itu si penulis akan mendapatkan imbalan sesuai dengan kesepakatan atas apa yang dilakukan tadi. Sedangkan dari sisi hasil akhirnya, sepenulis ghost writer tidak berhak atau tidak memiliki kewenangan  hak intelektual atas karya tulisnya melainkan menjadi milik sang penyewa atau pengguna jasa tersebut. Ya karena penulis bekerja untuk mendapatkan bayaran dari orang yang menyuruhnya. Sehingga nama yang tersematkan sebagai penulis dan sekaligus pemilik hak intelektuanya.
            Kacangan, 29/02/2020

Jumat, 14 Februari 2020

Membuat Profil Tokoh


Saat ini sebenarnya memiliki tanggungan untuk menulis sebuah profil seseorang untuk dikirim ke salah satu majalah. Terus terang karya tulis model ini masih cukup asing bagi saya karena selama ini terbiasa dengan tulis yang bergenre esay ataupun artikel ilmiah populer. Untuk melakukan keinginan tersebut maka saya harus memiliki bekal pengetahuan yang dibutuhkan agar bisa menghasilkan tulisan genre ini secara baik. Dan saya pun menempuh jalur perselancaran di Google dan mengunjungi beberapa situs yang mengunggah tulisan terkait pembuatan profil.
Dari perselancaran tersebut saya hanya memilih 4 unggahan dari alamat situs yang saya kunjungi untuk dijadikan referensi. Ke empat unggahan tersebut saya rasa sudah cukup untuk mengungkap seputar definisi profile, cara atau langkah pembuatan profile, dan juga tujuan pembuatan profile.
Pengertian profil menurut https://jagokata.com/arti-kata/profil.html (09.15 wib) yang mengacu pada ketentuan dalam KBBI kata profil dapat didefinisikan menjadi empat bagian yaitu: 1) pandangan dari samping (tentang wajah orang); 2) lukisan (gambar) orang dari samping; sketsa biografis; 3) penampang (tanah, gunung, dsb); dan 4) grafik atau ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus - https://jagokata.com/arti-kata/profil.html (09.15 wib) 14/02/2020.  Sedangkan yang lebih simple dan cenderung lebih mudah adalah definisi profile yang ada di http://catatansang1.blogspot.com/2015/02/pengertian-profil.html (09.10 wib) yakni profile dijelaskan sebagai sebuah gambaran singkat tentang  seseorang,, organisasi, benda lembaga  ataupun wilayah.
Sedangkan tujuan dari pembuatan profil menurut Asyapradana dapat dibedakan menjadi dua yaitu: profil positif dan profil negative. Profil positif bertujuan untuk membantu membagun reputasi baik seseoramg. Dan sebaliknya, profile negatif biasanya digunakan untuk merusak citra dan reputasi orang lain - http://asyapradana646702.blogspot.com/2011/02/cara-menulis-profil.html 14/02/2020 (09.20). Bila didasarkan pada kriteria diatas, tentu saja profil yang saya tulis termasuk kedalam profil positif karena unsur-unsur yang dituliskan adalah hal-hal baik dari orang yang diprofilkan.
Metode atau cara yang bisa diterapkan untuk mengumpulkan data guna memperkuat penulisan profil dapat dilakukan dengan dua cara yaitu lewat wawancara baik kepada nara sumber maupun kepada orang lain yang mengenal secara baik pada orang yang diprofilkan; dan yang kedua melalui kajian pustaka atau kajian literaratur cetak maupun digital bila ada. Dan dalam kesempatan ini saya menggunakan keduanya baik wawancara kepada yang bersangkutan dan orang lain yang tahu banyak tentangnya, serta menggunakan informasi yang ada di media cetak yaitu Koran Memorandum.



Selain berdasarkan teori diatas, dalam kepenulisan profil ini juga saya dasarkan pada pengalaman saat membaca beberapa buku biografi karena antara profil dan biografi memiliki kemiripan   yang cukup erat. Buku-buku biografi tersebut adalah: Mr. Crack Dari Parepare – A. Makmur Makka; Harus Bisa! Seni Memimpin ala SBY – Dr. Dino Patti Djalal; Karmaka Surjaudaja tidak ada yang tidak bisa – Dahlan Iskan;  dan Dahlan Iskan Juga Manusia – Siti Nasyi’ah.
Kacangan, 15/02/2020

Minggu, 09 Februari 2020

Pengelolaan Blog

Pagi ini saatbuka laptop pikiran saya langsung mengarahkan jari-jemari saya tertuju pada sebuah blog yang menguggah tentang tata cara membuat blog baru dan juga managemen pengelolaannya. Karena didorong oleh kuatnya rasa penesaran maka saya mencoba mempraktekkan petunjuk praktis yang diuraikan dalam blog tersebut. 

Untuk beberapa saat setelah itu saya otak-atik blog saya dan melakukan berbagai penyesuaian guna untuk mengasilkan perubahan sesuai harapan.  Dan salah satunya adalah keinginan untuk menambahkan satu buah halaman  rubrik atau kolom yang memuat berbagai tulisan tentang sastra. Entah itu puisi, cerpen, apresiasi sastra atau apalah yang penting berkaitan dengan kesusasteraan. Rubrik ini saya buat dengan tujuan untuk mengasah intuisi sastra saya karena sisi ini merupakan salah satu skill yang perlu  diasah lebih serius agar mampu menghasilakn karya tulis yang bergendre sastra seperti yang saya harapkan.

Dari berbagai langkah perbaikan yang saya coba, terdapat beberapa perubahan yang berhasil dilakukan. Sedangkan khusus untuk penambahan kolom atau halaman yang memuat tulisan sastra belum berhasil ditambahkan. Mungkin saja hal ini terjadi karena saya masih kurang cermat dalam mengikuti petunjuk yang ada sehingga terdapat beberapa langkah yang masih terselip dan terlewati. 

Ya... sudah pasti guna untuk menghasilkan sebuah blog yang baik tentu dituntut adanya perbaikan baik dari sisi face vailidity atau perfom kenampakannya agar menjadi lebih yahut maupun dengan postingan yang lebih variatif dan berkualitas baik. Perbaikan face vailidity atau perfom kenampakan dapat ditempuh dengan merubah lay outnya maupun dengan adanya penambahan kolom / rubrik tulisan yang lebih update lagi. Sedangkan untuk kualitas unggahan bisa dilakukan dengan banyak berlatih dalam menulis dan juga dengan memperkaya khsanah literatur yang dapa digunakan sebagai acuan maupun sumber inspirasi yang bisa dikembangkan lebih lanjut. 

Inilah sedikit pengalaman yang saya dapat untuk pagi ini semoga mampu menginspirasi yang lain. Salam Literasi, Kacangan, 10/02/2020.

Jumat, 07 Februari 2020

Satu Tahun GPLT Tulungagung

Tanggal 1 Pebruari 2019 merupakan salah satu hari yang bersejarah bagi guru-guru yang yang ada di wilayah Kabupaten Tulungagung. Terutama bagi mereka (guru-guru) yang memiliki  greget dan kepedulian terhadap perkembangan literasi yang ada di wilayah Kabupaten Tulungagung. Karena  pada tanggal tersebut sebuah komunitas kepenulisan tetapkan dan kukuhkan sebagai tanggal kelahiran komunitas tersebut dengan nama Guru Pegiat Literasi Tulungagung atau yang lebih familiar dengan sebutan GPLT, yang pengukuhannya dilakukan secara langsung oleh Kadin Dispendikpora  (Alm) H. Suharno, M.M dan juga ketua PGRI Sugiarno, M.M.

Dengan kata lain,  berarti di bulan Pebruari 2020 ini GPLT baru berumur satu tahun. Sebuah umur yang sangat dini untuk ukuran sebuah organisasi atau pun komunitas. Usia yang sangat hijau atau seumur jagung dalam konteks kultural Jawa. Tetapi hal ini bukanlah satu-satunya paradigma yang bisa digunakan untuk mengukur tingkat keprofesian sebuah organisasi/komunitas. Tentu saja ada indikator lain yang bisa digunakan menilanya, diantaranya lewat kualifikasi dan kapabilitas keanggotaannya maupun lewat produktifitas yang dihasilkan. Mungkin dua indikator  terakhir ini kiranya yang lebih tepat digunakan sebagai parameter untuk menilai progresifitas yang dijejakkan oleh GPLT. 

Dari sisi SDM-nya, GPLT mempunyai potensi yang cukup lumayan. Ya karena rata-rata yang tergabung dalam GPLT memiliki latar belakang akademis Strata satu (S1) dan beberapa diantaranya sudah menyelasaikan S2. Tentu saja ini sangat mencukupi. Dari sisi status kepegawaian  sebagaian besar adalah guru  mulai dari guru PAU sampai guru SMA.  Sedangkan dari tenaga kependidikan terdapat pustakawan, Kepala Sekolah, Pengawas  Sekolah PAUD/TK, Pengawas SMP, Asesor tingkat Propinsi dan juga instruktur Microsoft tingkat nasipnal (MIEE). Tentunya sudah bisa dibilang wah walau tidak terlalu banget.

Sedangkan dari indikator tingkat produktifitas kepenulisan juga dapat dibilang tidak terlalu mengecewakan. Karena dari komnitas ini sudah berhasil menerbitkan beberapa buah buku. Misalkan P Budi KS SMPN 2 Ngunut selaku ketua GPLT sudah menerbitkan 5 buku mandiri dan beberapa buku antologi bersama anggota yang lain. Bu Marifa suda menerbitkan 10 an buku mandiri. P Toni Hartono pengawas PAUD/TK kec, Ngunut menerbitkan 1 buku mandiri. Bu Dhiana Kurnia 1 buku cerita. Bu Erna Yanuningsih beberapa buku antologi yang berafiliasi ke penerbit mayor. Dan saya sendiri masih menerbitkan 7 buah antologi yang salah satunya masih dalam proses editing. Selain itu masih ada sekitar 4 buku antologi yang masih antrian terbit di percetakan yang insyaaloh ISBNnya sudah terbit. Oh ya, untuk tulisan dalam bentuk  artikel sudah sangat sering dimuat di majalah Dwija PGRI Tulungagung, ada juga di Media Jatim, bloggurusiana, dan juga memiliki beberapa blog pribadi.


Semoga sedikit deskripsi ini mampu memberikan sedikit gambaran tentang GPLT bagi siapa saja yang sedang atau berburu informasi seputar komunitas ini.