Apa yang terlintas di dalam pikiran ketika telinga kita mendengar kata Covid-19?
Saya merasa sangat yakin bahwa secara spontanitas akan terbayang stigma negatif terlintas dalam otak kita. Stigma negatif yang muncul mulai dari rasa khawatir, rasa cemas, ketakutan, isoman, rawat inap, dan bahkan sampai kematian. Pokoknya semuanya serba serem dan mengerikan. Tentu saja konsep pemikiran negatif semacam ini dampaknya kurang baik bagi kesehatan bila selalu mendapatkan afirmasi penguatan sehingga mendominasi kinerja otak bawah sadar.
Namun dalam kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas Covid-19 dari sisi negatif melainkan dari perspektif positif dan didasarkan pengalaman yang saya alami selama pandemi ini berlangsung. Yang jelas semuanya terkait dengan hal-hal yang baik agar energi serta vibrasi aura positif bisa terpancar ke semua orang. Dan semoga saja unggahan/curhatan ini mampu berimbas pada peningkatan imunitas kita bersama, terutama bagi yang membaca tulisan ini. Secara garis besar, pengalaman yang saya samapikan dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu: kategori umum dan kategori khusus.
Yang pertama, kategori umum. Mengapa kok disebut kategori umum? Kategori umum yang saya maksud di sini karena hampir semua orang menjalani dan sekaligus menjalaninya agar terselamatkan dari amukan Covid-19. Dari segi kesehatan, kategori ini menuntut semua orang untuk melakukan perubahan perilaku dan gaya hidup secara mendasar yang terkonsep lewat proses Adaptasi Kebiasaan Baru (ABK). Dalam pemberlakuan AKB ini kita dituntut untuk menjalani pola hidup sehat dengan mematuhi protokol kesehatan (Prokes) mulai dari memakai masker; rajin mencuci tangan pakai sabun; dan menjaga jarak hindari kerumunan. Dan setelah itu di sempurnakan dengan melakukan vaksinasi.
Sedangkan dari sistem tata kerja yaitu diberlakukannya Work From Home (WFH) dan dalam konteks dunia pendidikan terpresentasikan lewat dalam bentuk pembelajaran sistem dalam jaringan (daring) dan diluar jaringan (luring). Dan yang pasti pola pembelajaran model ini memiliki banyak celah dan tantangan yang butuh penanganan yang serius. Celah-celah atau titik permasalahan tersebut mulai dari kurang siapnya guru terutama dalam pemanfaat IT; lemahnya jaringan internet; besarnya biaya untuk pembeian kuota internet; dan juga terkendala dengan masalah kepemilikan sara IT ( HP android).
Yang kedua adalah kategori khusus. Saya kategorikan khusus karena hanya sebagian kecil orang saja yang mengalaminya. Atau bisa juga dikatakan saya saja yang mengalmi kejadian khusus tadi. Walaupun pernyataan ini tidak bisa dianggap benar secara seutuh. Kejadian khusus yang pertama yaitu saya beserta 15 rekan guru yang tergabung dalam komunitas Guru Pegiat Literasi Tulungagung (GPLT) berhasil mendokumentasikan pandemi Covid-19 dalam bentuk buku antologi yang berjudul “Geliat Literasi Dalam Mengikat Jejak Covid-19."
Sedangkan kejadian khusus berikutnya yaitu saya mendapatkan kepercayaan dari beberapa teman dumay yang positif terpapar Covid-19 untuk membantu penyembuhan lewat terapi jarak jauh dan alhamdulillah ternyata hasilnya lumayan baik. Dari 12 klien yang positif terpapar Covid-19, bisa terbantu dan sembuh lebih cepat dengan pemberlakuan satu samapi tiga kali terapi saja. Sedangkan sisanya yaitu tiga orang tidak bisa tertolong karena saat minta dibatu terapi sudah dalam kondisi kritis. Dari kedua belas klien tersebut jaraknya sangat berjauhan dengan rincian 3 orang ada di wilayah Kabupaten Tulungagung, 1 orang di Pare Kediri, 1 oarang di Lamongan, 1 orang di Tangerang Selatan, 1 orang di Serang Banten, 1 orang di Karangploso Malang, 1 orang di Bondowoso, dan 3 orang di Kertosono. Semoga 9 klien yang telah sembuh selalu sehat dan bagi 3 klien yang telah berpulang bisa khusnul khotimah. Aamiin.
Tegalrejo - Jumat, 03/09/2021











