This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 27 April 2021

Long Distance Terapy

 


Puasa Ramadhan merupakan puasa yang hukumnya wajib dan harus dilakukan oleh umat Islam pada bulan suci Ramadhan.  Karena hukumnya wajib maka bila dilanggar dan tidak dilakukan tentunya si pelanggar akan mendapatkan sanksi berupa dosa serta neraka. Sedangkan bagi yang melaksanakan akan mendapatkan reward mulai dari pelipatgandaan pahala yang didapat, pengampunan akan dosa-dosanya, dan bahkan mendapatkan surga.

Namun dalam unggahan ini saya bukan bermaksud untuk mengulas keutamaan bulan Ramadhan dari sisi tersebut karena salah satunya saya tidak memiliki kapasitas untuk melakukannya. Melainkan saya akan hanya ingin berbagi pengalaman imajiner yang saya lakukan dalam rangka silaturrahmi ke tiga rekan (klien yang namanya saya rahasiakan) yang letaknya boleh dibilang sangat. Ke-tiga tempat tersebut yaitu: yang pertama ke desa Pukem kecamatan Mataram Marga kabupaten Lampung Timur yang jaraknya kira-kira mencapai   km dengan waktu tempuh 15.  - Kamis, 23/04/2021, 21.30 WIB).  Yang kedua, saya harus meluncur ke Citra Indah Bojong Jonggol Bogor dengan waktu tempuh dikisaran 10, 30 menit. Dan yang ketiga yaitu ke Kelurahan Gambut Kecamatam Gambut Banjarmasin yang berjarak 1.128,0 km yang membutuhkan waktu tempuh selama 39 jam – (Selasa, 27/04/2021, 20.50 WIB). 

 Ya karena travelingnya dilakukan secara imajiner maka waktu yang dibutuhkan tidak begitu lama yaitu dikisaran 15 – 25 menit. Itu pun sudah PP (Pergi Pulang). Tentu saja aktifitas ini tidak membutuhkan ongkos yang banyak karena cukup dengan beberapa rupiah saja untuk beli paketan internet. Selain itu, kunjungan model ini juga tidak terlalu menguras tenaga dan juga tidak terlalu melelahkan karena cukup pencet dan tunul-tunul tombol HP dan setelah tersambung cukup pejamkan mata. Aktifitas penerapian bisa dimulai.

 Kunjungan pertama yaitu pada puasa ke sebelas tepatnya hari Kamis, 23/04/2021 pukul   21.30 WIB. Dalam kesempatan tersebut saya diminta bantuan untuk menerapi klien (anak kecil) yang mendrita sakit typus dan dalam waktu satu bulan dalam penanganan medis belum sembuh. Dan Alhamdulillah – singkat cerita esok paginya ibu si anak tersebut mengabarkan kalau buah hatinya sudah membaik dan tidak rewel lagi.  Kasus serupa juga pernah terjadi pada salah satu suami rekan di Guru Pegiat Literasi Tulungagung yang mengalami penyakit yang sama dalam tempo yang hampir sama dan reaksi yang dirasakan juga hampir sama, yaitu langsung terasa enak.

Kunjungan yang kedua yaitu pada puasa ke tiga belas tepatnya hari Minggu, 25/04/2021 pukul 10. 30 WIB. Di lokasi ini saya dimintai tolong untuk menrapi seorang yang merasakan nyeri yang luar biasa dibagian tulang belakang hingga kedua kakinya merasa sakit untuk digerakkan. Rasa sakit ini muncul diperkirakan efek dari penyuntikan obat bius pada sumsum tulang belangnya saat menjalani operasi cesar dalam proses pelahiran anaknya. Padahal penyuntikkan tersebut sudah terjadi 10 tahunan yang lalu. Dan Alhamdulillah setelah diterapi katanya langsung membaik dan langsung bisa menuntaskan pekerjaannya untuk mencuci baju.

Dan yang terakhir adalah malam ini sebelum tulisan ini dimulai pengetikkannya, yaitu pada puasa kelima belas, hari Selasa, 27/04/2021 pukul 20. 50 WIB. Dalam kesempatan ini saya diminta bantuan oleh kakak tingkat kuliah saya di UMM yang mengalami gangguan gula darah pada level 230 dengan keluhan berupa rasa tidak nyaman/kesemutan/kebas di kedua kakinya. Dan Alhamdulillah dari terapi pertama dalam waktu 25an menit sudah merasakan perubahan yang cukup lumayan. Yang mungkin saja dengan bebarapa kali terapi lagi pankreasnya bisa sembuh dan kadar gula darahnya bisa normal lagi.

Untuk kasus ini treatmen yang saya lakukan bertujuan/berfungsi untuk membenahi beberapa poin dan sekaligus untuk pemrograman ulang pada bagian-bagian:

1. Pankreas dibenahi kenormalanya dan produktivitas insulinnya

2. Pembersihan/penormalan kadar gula dalam darah agar tidak terlalu kental sehingga oksigen

    dalam darah meningkat. Terus skala darah diprogram pada level 160.

3. Pember fleg/kerak akibat gula/kolesterol yang menutupi sel-sel reseptor yang akhirnya

    mengganggunya dalam menyerap gula dari darah tuk dirubah jadi energi.

4. Pembersihan saraf tulang belakang dari kotoran yang mengganggu dan menghambat aliran

    energi utama dalam tubuh.

5. Pemrograman sistem saraf otak/kepala biar normal dan enteng serta tidak gampang pusing

 Semoga tulisan ini bermanfaat dan mampu memantik rasa optimism untuk hidupa sehat tanpa obat bisa terbangun pada kita semua atas idzin, ridhlo dan pertolongan Allah SWT, aamiin.

Tegalrejo-Tulungagug, 27/04/2021.

 

 

 

  

Senin, 26 April 2021

Syaratnya Harus Bisa Baca

 


Kemarin pagi ketika saya dimintai tolong oleh anak sulung saya untuk ngeprint tugas kelas 5 yang telah diberikan kemarinnya. Ya karena anaknya merasa lemas puasa sehingga tugasnya tidak bisa dirampungkan hari itu juga. Mungkin saja karena pikirannya merasa sulit untuk fokus.

 Singkat cerita proses pengeprinan tugas pun beres. Karena masih ada waktu yang cukup longgar sebelum berangkat ke sekolah maka saya lanjutkan buka internet siapa tahu ada sesuatu yang bisa menginspirasi untuk dijadikan tulisan. Tentu ini sangat berharga sekali. Mengingat belakangan ini produktivitas kepenulisan saya sangat jeblok. Bahkan bisa dikatakan mandeg karena hampir tiga Minggu cuman menyelesaikan satu tulisan.

Dan Alhamdulillah keinginan tersebut bisa saya dapatkan, yaitu lewat kunjungan saya ke blog Dr. Ngainun Naim. Pada kesempatan tersebut saya sempat melahap tiga buah artikel yang penuh gizi dan yang pasti sangat baik untuk memberi asupan berkualitas bagi otak saya pagi itu. Ketiga artikel tersebut berjudul: Asal Bisa Membaca, Semua Bisa Menulis (Sabtu, 10 April 2021); Jantung Pendidikan (Senin, 13 April 2021); dan Resensi Atas Resensi (Senin, 19 April 2021).

Dari artikel yang berjudul Asal Bisa Membaca, Semua Bisa Menulis yang intinya menceritakan dua hal. Yang pertama disebutkan bahwa semua orang pasti bisa menulis asalkan orang tersebut bisa membaca. Bisa Membaca dalam artian memiliki kemampuan, kemauan, dan keistikomahan untuk membaca karena lewat proses tersebut seseorang akan memiliki banyak informasi inspiratif dan juga kaya akan ide-ide yang akhirnya bisa ditransformasikan dalam bentuk tulisan. Yang kedua, agar keterampilan menulis tidak hilang, seseorang perlu untuk menjaganya yaitu dengan cara menulis, menulis, menulis, dan terus menulis. Ya karena dengan cara semacam inilah keterampilan menulis bisa tetap melekat pada diri seseorang.

 Dari artikel Jantung Pendidikan diceritakan bahwa membaca sebagai penentu akan hidup atau matinya pendidikan. Bila budaya membacanya bisa terbangun secara baik maka pendidikannya akan tumbuh dan berkembang secara maksimal pula. Layaknya pada tubuh, bila jantung yang ada didalamnya sehat mampu bekerja sesuai standard yang dibutuhkan maka secara otomatis tubuh akan selalu sehat. Dan agar bisa tetap sehat tentunya dibutuhkan asupan nutrisi yang berkualitas. Begitu juga dengan pendidikan, asupan-asupan yang cukup pada otak hanya mampu didapat dari rutinitas membaca yang baik.

 Dan dari artikel Resensi Atas Resensi, inspirasi yang saya tangkap yaitu aktifitas menulis dan mencatat sesuatu - buku yang dibaca sangat perlu agar informasi dan inspirasi yang didapat tidak menguap begitu saja. Maka pengikatan makna dalam hal ini informasi lewat tulisan wajib dilakukan. 

 Sedangkan esensi dari ketiga artikel tersebut bertemu pada pentingnya aktivitas membaca - budaya berliterasi. Yang jelas dari aktivitas baca berupa penguatan budaya literasi semua perubahan serta kemajuan peradaban terbangun dan bermuara. Dan yang pasti tugas inilah merupakan tugas pertama yang diterima nabi Muhammad SAW ketika beliau berkhalwat di Goa Hira serta perintah tersebut harus disampaikan kepada seluruh umat Islam. Yang mana peristiwa ini secara jelas terdokumentasikan dalam Al Qur'an surat Al Alaq.

 Kemudian dari sini saya teringat dengan materi yang saya sampaikan saat memandu dan mengisi KKG guru kelas VI – Sabtu, 13 April yang lalu. Dalam kesempatan tersebut salah satunya adalah trik yang saya lakukan untuk melatih murid-murid kelas VI yang saya ajar dengan kemampuan bacakilat. Sebuah teori membaca dengan kecepatan tinggi yaitu satu halaman perdetik. Skill ini bisa dibangun dengan memanfaat kemampuan saraf pangkal mata (saraf kortek) dengan kemampuan menyimpak pada otak bawah sadar kita.

 Kemampuan ini dapat berfungsi dengan baik, maksudnya informasi digunakan secara optimal bila orang yang bersangkutan sudah bisa membaca. Dan bila belum bisa membaca, informasi yang telah terekam dalam otak hanya akan muncul sebagai gambar/foto yang berbentuk huruf yang berjajar saja. Maka dari itu, judul tulisan diatas saya rasa sangat relevan untuk disematkan pada unggahan ini. Semoga bermanfaat.

 Tulungagung, 25/04/2021

 

Sabtu, 17 April 2021

Pentingnya Keakuratan Informasi

 

sumber foto: loexie.wordpress.com

Jumat kemarin, 16/04/2021 saya dihubungi lagi oleh salah satu teman dan sekaligus klien terapi alternatif yang saya lakukan. Dihubungi lagi karena beberapa hari sebelumnya sudah menghubungi saya untuk menyempatkan diri mampir ke rumahnya. Katanya ada sesuatu yang ingin disampaikan. Sesuatu yang sangat penting dan perlu untuk segera saya ketahui.” katanya penuh harap.  


Maka-nya Jumat kemarin saya luangkan sedikit waktu saya untuk menjenguk kerumahnyaDan ternyata benar. Ada sesuatu yang spesial banget yang ditunjukkan pada saya, yaitu sebuah film foto rontgen yang dilakukan di RS. dr. Iskak Tulungagung beberapa hari sebelumnya. Foto rontgen terkait keluhan tulang yang beberapa hari ini terasa sangat mengganggu karena terasa sangat linu dan senut-senutKemudian dari situ, kami melakukan perbincangan (konsultasi) berdasarkan hasil rontgen yang ditunjukkan tadi.  Perbincangan tersebut kira-kira berlangsung 10an menit karena saya harus buru-buru untuk pulang. Maklum hari itu hari Jumat dan saya harus melakukan sholat Jumat. Seperti kita tahu bersama bagaimana hukumnya sholat Jumat bagi seorang laki-laki. Ya betul. Hukumnya wajib. Karena wajib makanya harus dilaksanakan bila tidak ingin mendapatkan sanksi dari pengabaian (pelanggaran) atas kewajiban tersebut. 


Saat mengamati klise negatifilm hasil rontgennya, saya merasa sedikit bingung karena 3 hal, yakni: Yang pertama, saya tidak memiliki kapasitas untuk membacanya. Ya karena latar belakang pendidikan akademik yang pernah saya tempuh bukan jurusan kedokteran melainkan jurusan bahasa Inggris di UMM dan juga linierisasi PGSD di UT yang berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri 45.  

Yang kedua, saya melakukan kekeliruan saat melihat negatif filmnya, yaitu saat memposisikan bagian gambar yang seharusnya terletak di bawah saya letakkan di atas dan juga seharusnya bagian depan di depan tetapi malah sebaliknya. Makanya saya merasa ada keanehan dengan gambaran tersebut. Dan setelah menyadari kekeliruan tersebut maka saya lakukan perubahan posisinya sehingga gambarnya menjadi familiar dengan mata saya.  Tapi dari sini saya belum bisa mendapatkan informasi yang cukup untuk dapat membuat simpulan yang pas. Apalagi untuk memutuskan melakukan tindakan chiropatik - yaitu suatu tindakan yang dilakukan untuk memanipulasi tulang agar gangguan yang terjadi bisa diminimalisir dan selanjutnya disembuhkan.   


Dan yang ketiga, dari negatif film tersebut tidak dilengkapi dengan penyertaan keterangan pejelas dari hasi pembacaan kelainan yang ada. Tentu saja hal ini sangat saya butuhkan guna untuk melakukan tidakan reka manipulatif dalam mengatasi serta pemulihan kondisi tulangnya.  


Kemudian pada tahap berikutnya saya langsung mempertanyakan pada teman saya tadi terkait dengan penjelas yang didapat dari dokter  saat membacakan negatif film hasil rontgen tersebut. Teman saya tadi hanya mengatakan intinya keluhan yang dialaminya disebabkan oleh terjadinya proses pengapuran di bagian tulang cethik (pinggang) bagian kanan. Mendengar penuturan seperti itu, secara spontan saya mengatakan bahwa selama ini terapi yang dilakukan merupakan kebalikannya yaitu merangsang peningkatan zat kapur pada bagian tersebut. Dan tentu saja hal ini tidak seharusnya dilakukan karena pada proses pengapuran suplai zat kapur pada titik tadi sudah mengalami kelebihan stok 


Mengapa kekeliruan semacam ini bisa terjadi? Ah ini pasti mal praktek. Mungkin saja jawaban semacam ini bisa dianggap dan atau mungkin tidak. Dianggap ya sebagai mal praktek karena treatmen dan tindakan yang dilakukan tidak sesuai. Dan sebaliknya, bisa dianggap tidak mal praktek karena tindakan yang saya lakukan juga berdasarkan keterangan dari klien itu sendiri. Sedangkan si klien memyampaikan keterangan tersebut juga didasarkan pada penjelasan dari dokter yang menanganinya pada saat awal mula rasa sakit itu muncul. Tapi itu sudah lama. Setahunan yang lalu.  


Bahkan dua kekeliruan serupa juga terjadi padanya karena kekurangjelasan saat memberi informasi  yang didasarkan pada keterangan dokter sebelunya, yaitu pada keluhan sakit pada punggung dan juga pada kelainan prostatnya pasca opreasi. Untuk keluhan pada pada tulang belakangya dia hanya mengatakan rasa yang amat sakit ketika akan bergerak untuk berdiri. Dan berdasarkan data tersebut terapi yang dilakukan reaksi yang dihasilkan sangat kecil dan lambat banget. Kemudian setelah beberapa kali terapi, teman saya baru teringat dengan salah satu keterangan dokter yang ada di Kediri yang mengatakan bahwa saraf tulang belakang bagian kanan ada yang terjepit. Kemudian terpipun didasarkan pada informasi tadi dan alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan. Setelah dua atau tiga kali terapi keluhan ini sudah beres. 


sumber foto: Layanan Urologi/radarsukabumi.com

Sedangkan untuk keluhan pasca operasi prostat, terapi yang saya lakukan kurang tepat sasaran, yaitu agak kebawah beberapa centi dari lokasi yang penyumbatan saluran kencingnya. Dan setelah ditunjukkan negatif film hasil rontgennya beserta ditambah penjelasan dari dokter yang menyatakan bahwa penyumbatan yang terjadi pasca operasi dipicu oleh sel keloid pad lokasi bekas operasi yang dilakukan. Maka dengan berdasarkan informasi yang valit penerapian bisa dilakukan secara lebih efektif dan reaksi yang dihasilkan bisa lebih jreng. Setelah diterapi rasa sakitnya alhamdulillah langsung hilang dan saat kencing bisa lebih baik.  


Kasus ketidak akuratan informasi awal semacam ini juga terjadi pada kedua klien saya. Baik klien yang ada di Kelapa Gading Dua Jakarta Utara maupun yang ada dKromasan Tulungagung.  Klien yang ada di Kelapa Gading Dua hanya menginformasikan kalau dada terasa sesak dan sakit sekali, yang mungkin efek penyerta akibat kemoterapi untuk penyembuhan (pembersihan) sisa-sisa kanker payudara yang dialaminya. Bahkan katanya, sisa-sisa sel kanker tersebut telah merambat sampai di beberapa titk dtulangnya. Bahkan, katanya proses kemoterapi tidak sampai menuntaskan jumlah paketan terapi yang harus dilakukannya karena sang dokter sudah tidak berani melakukannya.  

Berdasarkan informasi tersebut, bebarapa tindakan terapi jarak jauh saya lakukan dan hasilnya kurang memuaskan karena reaksi dan perubahannya sangat lambat serta hampir tidak bisa dirasakan. Kemudian setelah kira-kira satu bulan terapi rutin jarak jauh si klien menceritakan kalau dia saat itu tensi darahnya juga cukup tinggi.  


Mendengar penjelasan semacam itu, saya pun langsung menanyakan tentang kondisi lambungnya apakah juga bermasalah asam lambungnya tinggi. Ternyata memang benar, klien tersebut menyebutkan kalau asam lambungnya seringkali tinggi dan terasa perih dan sakit. Dari tamabahan informasi ini dapat disimpulkan bahwa rasa sesak, nyeri dan sakit pada dada klien tadi bukan semata-mata karena pengaruh tindakan kemoterapi yang dijalaninya. Melainkan juga terpengaruh oleh tingginya asam lambung yang pengaruhnya sudah naik mencapai dada (paru dan jantung). Dan untuk mengatasi situasi ini tentunya tindakan terapinya perlu ditambah yang fungsinya membersih zat-zat hormonal yang bersifat resistensi dalam proses penyembuhan dan penormalan lambungnya. Selain itu juga dilakukan pemrograman serta penormalan ulang sistem saraf otaknya agar pikirannya lebih tenang, nyaman dan fresh. Hal ini dilakukan karena kondisi pskologis (otak) sangat berkaitan erat dengan produktifitas asam lambung seseorang. Dan ternyata tindakan ini sangat efektif, sehingga si ibu tadi tidak mengeluhkan lagi rasa sakit di dadanya. Suaranya saat telepon pun juga terdengar santai dan normal. Hal ini beda jauh dengan sebelumnya yang biasanya suaranya terdengar cukup berat bahkan cederung keras/menjerit karena menahan rasa sakitnyaSemoga saja lekas tuntas dan sehat selalu. 


sumber foto: KlikDokter

Sedangkan kasus yang terjadi pada klien yang ada di Kromasan Tulungagung berupa rasa sakit yang cukup akut di seputaran lambungnya dan setiap kali konsultasi ke dokterpun juga difonis mengalami gangguan asam lambung. Resep-resep obat yang diberikannya pun juga untuk mengatasi gangguan lambungnya. Begitu pun saat minta dibantu lewat terapi entah itu terapi jarak jauh maupun saat terapi langsung jarak dekat tapi reaksinya juga tidak bisa maksimal. Hingga suatu ketika, saat rasa sakitnya memuncak dan tidak tahan lagi maka diputuskan untuk dilakukan tindakan foto rontgen maka baru diketahui secara pasti bahwa di dalam empedunya ditemukan adanya peradangan. Berdasarkan hasil akhir dari foto rontgen yang dilakukan dia mengalami kelalinan berupa batu empedu dan empedunya oleh dokter di RS. Era Medika Ngunut Tulungagung dinyatakan infeksi dan direkomendasikan untuk dioperasi guna untuk mengangkat 6 butir batu empedu yang bersarang di dalamnya. Tapi dia menolak saran yang diberikan oleh dokter untuk diopresai 


Mendengar curhatan tersebut, saya pun menaggapi dengan menyampaikan beberapa pengalaman saya saat menerapi kasus serupa yang akhirnya sembuh dan tidak jadi dioperasi hanya cukup diterapi beberapa kali saja. Misalkan kasus seorang teman yang sudah dirawat di salah RS yang ada di Jombang setelah diterapi jarak jauh satu kali alhamdulillah tidak jadi operasi; kasus seorang teman yang ada di Kutai Kartanegara sudah antrean operasi karena menunggu normal kondisi jantungnya, alhamdulillah diterapi jarak jauh sebanyak tiga kali dari lima perkiraan yang dibutuhkan dan ternyata saat kontrol ke dokter yang menanganinya sudah dinyatakan sembuh; dan begitu pula dengan klien yang sedesa dengan saya setelah lima kalian terapi saat kontrol ke dokter juga dinyatakan sembuh tidak perlu operasi lagi.  


Dari beberapa kejadian tersebut dapat disimpulkan bahwa keakuratan dan kevalitan informasi sangat dibutuhkan agar penyikapan dan tindakan dapat diberikan secara tepat, efektif serta efisien. Tuntutan semacam ini bukan hanya berlaku pada tindakan medis dan terapi penyembuhan saja. Tetapi juga berlaku pada urusan lainnya, termasuk dalam kepenulisan agar tidak memunculkan fitnah dan berita hoaks. 


Semoga bermanfaat sebagai motifasi hidup sehat, aamiin. 


Tegalrejo Rejotangan Tulungagung, 18/04/2021