pada
hari Kamis, 11 – 02 – 2021 saya melakukan perjalanan kearah barat kayak
ceritanya film Kera Sakti bersama Biksu Tong Sam Chong yang sempat tayang di
salah satu TV swasta yang ada di Indonesia di akhir tahun 90 an itu. Namun dari
arah perjalanan tersebut saya menemukan banyak perbedaanya. Menurut saya,
paling tida terdapat 5 items sebagai pembedanya. Kelima items tersebut adalah:
Yang
pertama adalah misi yang diemban. Kalau biksu Tong muridnya melakukan
perjalanan kebarat untuk mengambil kitab suci dan misi ini adalah mengemban
tugas dari sang Budha. Sedangkan saya melakukan perjalan tersebut untuk
memenuhi kepentingan pribadi yaitu untuk mengambil Buku Antologi
Sahabat Pena Kita Tulungagung 2020 dengan judul Membumikan Literasi Secuil
Kontribusi untuk Memajukan Negeri di kantor LP2M STAIN Tulungagung.
Walaupun
misi yang dijalankan berbeda namun secara esensinya terdapat sedikit kesamaan,
yaitu endingnya berupa enlightmen (pencerahan). Kalau Biksu Tong beserta tiga
muridnya pencerahan dari sisi teologis religi. Sedangkan misi yang saya tempuh
endingnya berupa pencerahana dari sisi akademik literat karena yang saya
dapatkan berupa buku yang mendokumentasikan greget dan pergumulan pemikiran
para pegiat literasi yang ada di wilayah Tulungagung.
Pembeda
yang kedua yaitu dari sisi penokohan pelaku ceritanya. Kalau dalam film Kera Sakti
tokoh pelakunya adalah Tong Sam Cong ( Xuan Zang atau Hsuang Tsang); Sun Wu
Kong (Sun Go Kong); Wu Cheng En (Pat Kai); dan sha Wu Jing) – samagi-phala.or.id/naskah-dhamma
dengan judul Kisah Asli Perjalanan ke Barat. Sedangkan aktor pelaku dari
perjalan ke barat mengambil buku antologi adalah saya sendiri sebagai pelaku
utamanya karena kebetulan tidak ada temannya.
Pembeda
ketiga yaitu setingan waktunya. Kalau seting waktu yang saya jalani boleh
dibilang masih baru atau kekinian, yaitu pada hari Kamis, 4 Pebruari 2021. Atau
lebih tepatnya 3 hari yang lalu dari saat menulis artikel ini. Sedangkan perjalanan
biksu Tong ke arah barat setingan waktunya berlangsung antara tahun 602 – 664 M.
Tentu saja rentang waktu yang sangat jauh keberlangsungannya.
Pembeda
keempat berupa seting tempat kejadian cerita. Kalau seting tempat kejadian yang
ditempuh biksu Tong dari Cina ke India – https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/kisah-asli-perjalanan-ke-barat/
dengan judul Kisah Asli Perjalanan ke Barat. Dan atau dari Cina ke Arab menurut https://www.facebook.com/santrimubarok/posts/fakta-keislaman-dari-film-kera-saktisobat-pernah-nonton-film-kerasakti-salah-sat/1287027057996735/.
Sedangkan seting tempat kejadian yang saya lewati boleh dibilang jalur pendek karena
waktu tempuhnya cukup 30 menit sampai 1 jam saja. Yaitu jalur desa Tegalrejo yang
masuk wilayah kecamatan Rejotangan dilanjut ke SDN I Kacangan wilayah Kecamatan
Ngunut bagian selatan dan setelah itu meluncur ke kantor LP2M STAIN
Tulungagung.
Pembeda
yang kelima yaitu adanya tantang, halangan dan rintangan. Biksu Tong dan tiga
muridnya mendapati tantang, halangan dan rintangan berupa beratnya perjalanan
di daerah gurun pasir yang berat dan juga acaman pembunuhanyang dilakukan oleh
para siluman karena menginginkan darah suci sang biksu. Sedangkan tantang, halangan dan rintangan yang saya
alami hanya pertanya pak satpam pejaga gerbang masuk lokasi kampus STAIN
Tulungagung yang sempat membuat saya sedikit grogi karena bingung mencari jawaban yang pas. Padahal pertanyaan
cukup sederhana dan gampang untuk menjawabnya. Pertanyaannya adalah sebagai
berikut:
PS:
“Bapak ke sini ada keperluan apa?”
S:
“Saya ada keperluan untuk mengambil buku antologi Sahabat Pena Kita yang ada di
kanto LP2M pak?” jawab saya meyakinkan.
PS:
“Bapak akan mengambilnya ke siapa?”
S:
“Saya akan menemui pak Ngainun Naim pak.”jawab saya agak sedikit cemas.
PS:
“Apa bapak sudah janjian sebelumnya dengan pak Naim?”
S:
“Belum pak?”
PS:
“Lha kalau belum janjian terus pak Naimnya tidak ada. Bapak akan menemui siapa?”
S:
“Kalau pak Ngainun tidak ada, saya akan menemui mas Fahmi di sana pak.”
PS:
“Bapak ini sebenarnya dari mana ya?”
S:
“Saya dari SDN 1 Kacangan kecamatan Ngunut pak.”
Dan
ini rupanya pertanyaan terakhir yang dilontarkan pak Satpam dalam
menginterogasi saya di gerbang masuk tersebut. Setalah itu saya disofgun termo.
Sofgun termo merupakan alat atau media protocol kesehatan untuk mendeteksi suhu
tubuh bukan sayu sop dan es degun (degan) yang diterima setelah order versi
gofood. Setelah itu, pak Satpam mempersilahkan saya masuk wilayah kampus untuk
menemui pak Ngainun Naim di kantor sekertariap LP2M.
Sesampainya
di kantor sekertariap LP2M tampaknya sangat sepi karena saat saya di depan
pintu dan melihat kedalam tidak menemukan orang sama sekali. Saat saya ucapkan
salam hingga beberapa kali juga tidak terdengar ada balasan. Kemudian saya pun
diam sejenak dan mendengar gemercik air di kamar mandi dalam kantor tesebut. Sesaat
kemudian baru saya tahu yang keluar dari kamar mandi tersebut adalah pak
Ngainun Naim. Sosok akademisi literat yang saya cari tanpa kesepakat sebelumnya
tadi.
Singkat
cerita, saya pun disambut dengan baik dan ramah sekali oleh Pak Naim. Dalam pertemuan
tersebut selain mendapatkan buku yang telah saya pesan, saya juga mendapat
bonus satu buku yang cukup keren yang ditulis oleh Mujamil Qomar yang berjudul
Pemikiran Pengembangan Pendidikan Islam (2013). Selain mendapatkan dua buku
tersebut, saya juga mendapatkan hal lain yang tidak kalah nilai yaitu: mendapat
kesempatan foto bersama untuk kedua kalinya; mendapat banyak informasi tentang
banyak hal; dan juga pengarahan terkait persiapan penerbitan naskah buku solo
di Akademia Pustaka ataupun di STAIN Tulungagung Press. Insyaallah untuk dua
hal terakhir yang berkaitan dengan isi perbincangan saya dengan pak Naim maupun
terkait pengarahan rencana penerbitan buku solo tersebut akan saya usahakan ditulis
secara terpisah agar bisa tersampaikan secara baik.
Tegalrejo, 14-02-2021











