This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 09 November 2020

AKU, BUKU DAN TRANSFORMASI DIRI

 

Dokumen Pribadi

Dua bulan terakhir ini terasa sangat istimiwa bagi saya pribadi. Terutama dalam hal literasi – baca dan tulis. Karena dalam rentang waktu tersebut koleksi buku di pustaka pribadi saya bertambah lagi. Dan penambahannya cukup lumayan banyak, yaitu sebanyak 34 buah buku. Walau pun tahun penerbitannya sudah agak lama. Bagi saya pribadi itu tidak mengapa, yang penting aktifitas membaca saya masih tetap bisa berlanjut secara baik. Sehingga informasi kebutuhan otak saya berupa asupan informasi yang relative baru dan cukup bergizi dapat tersuplay secara memadai.

 

Mungkin kegilaan saya akan buku, bagi orang sudah bookoholick (penikmat buku) dianggap biasa-biasa saja. Tapi bisa juga sebaliknya, terutama bagi mereka yang kurang akrab dengan buku. Pasti mereka menganggap sebagi pemborosan dan kesia-siaan saja. Buang waktu dengan sia-sia. Apa pun pandangan dan penilaian orang lain itu tidak begitu penting bagi saya. Toh aktifitas tersebut yang melakukan diri saya sendiri dan juga menggunakan dana saya sendiri untuk pengadaan seambreg buku bacaan tadi.

 

 Paling tidak dari apa yang telah saya lakukan tersebut saya mampu menjaga konsistensi dan motivasi baca saya dalam dinamika yang tetap stabil. Sehingga kemampuan literasi saya baik   reading, writing, publishing, maupun sharing pemikiran bisa semakin lancar dan tidak sampai kekurangan ide. Tentu saja hal ini sangat penting terutama bila dikaitkan dengan keprofesian saya, yaitu sebagai seorang guru. Sebagai seorang guru pastinya dituntut untuk memiliki pengetahuan yang cukup dan juga wawasan yang memadai. Baik itu yang memiliki keterkaitan secara langsung dengan sisi akademik pembelajaran yang saya ampu maupun yang tidak bersinggungan secara langsung.

 

Bagi saya pribadi buku bukanlah sekedar tumpukan atau bendelan kertas yang disemati oleh banyaknya rangkaian huruf untuk menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi artikel, artikel menjadi sub bab, sub bab menjadi bab, dan akhirnya bab terkumpul menjadi buku. Nilai lebih dari itu semua karena sebuah buku bisa merubah kehidupan manusia dan juga dapat merubah peradaban dunia.

 

Situasi psikologis yang lebih mendalam terhadap dirasakan oleh Khaled seperti yang terungkap dalam bukunya yang berjudul Musyawarah Buku yang secara jelas menyebutkan “Kalian adalah gudang hikmah kami, catatan terperinci kegagalan dan keberhasilan kami, nalar dan hawa nafsu kami. Kalian menghubungkan masa lalu dengan masa kini dengan dirinya yang sejati. Dari sebuah Kitab Tuhan yang luar biasa, kalian menciptakan sebuah peradaban. Dari sebuah inspirasi, kalian menciptakan sebuah gagasan, lalu pemikiran, kemudian system, selanjutnya sarana, akhirnya kalian menciptakan jalan-jalan dan rambu-rambunya” (Ngainun Naim, The Power of reading Menggali Kekuatan Membaca Untuk Melejitkan Potensi diri, 2013: 66).

 

Buku memang memiliki pengaruhnya sangat dahsyat dalam kehidupan. Bahkan dalam sebuah kata bijak disebutkan buku lebih hebat dari sebutir peluru, karena sebutir peluru hanya mampu menembus satu kepala sedangkan buku dapat mempengaruhi berjuta-juta kepala dalam waktu yang bersamaan.

 

Selain itu, karena esensinya peran buku dalam sebuah peradaban manusia maka tidak salah bila buku dianggap sebagai jendela dunia, sperti yang tertera pada gambar slogan diatas. Menurut pandangan saya ungkapan tersebut memang sangat benar adanya. Karena sebuah buku menyimpan banyak misteri yang penuh dengan keajaiban yang bisa menghantarkan kita kemana saja dalam waktu sekejab. Dalam posisi ini, rangkaian kalimat yang tertulis dalam buku layaknya sebuah mantera yang nilai magisnya luar biasa. Baik bagi penulis dan juga bagi penikmatnya.

 

Sebuah buku bisa membantu pembaca untuk melakukan relaksasi, refreshing, dan traveling imajiner kemanapun yang dideskripsikan dalam buku. Bahkan lebih dari itu, buku juga mampu memberikan banyak mutiara ilmu dan hikmah bagi siapa saja yang sudi mengakrapinya. Dan bahkan lebih dahsyat lagi sesuatu yang bisa ditawarkan oleh sebuah buku mulai dari: inspirasi, motivasi, transformasi diri, kehormatan, status social, dan sisi finansial seseorang khususnya badi penulis serta penjualnya.

 

Terus terang saya telah merasakan benar kemanfaatan dari buku-buku yang saya baca selama ini.  Saya juga telah mendapatkan semua hal yang saya sebutkan diatas. Karena dengan membaca banyak buku saya mendapatkan banyak kemudahan, penghidupan yang layak, status social yang baik, dan kehidupan finansial yang lumayan mapan. Padahal secara kuantitas jumlah buku yang saya baca belum begitu banyak. Bahkan bisa dibilang sangat sedikit. Dan dari sinilah muncul rasa penyesalan yang sangat mendalam mengapa saat masih kuliah dulu saya tidak begitu rajin ke perpustakaan untuk berselancar di dunia kata dan mengakrapi banyak buku yang ada didalamnya. Tentunya saya akan mengalami transformasi diri yang luar biasa sebagai dampak positif dari banyak mutiara ilmu dan pencahayaan hikmah yang cecap.

 

Ternyata memang benar kebiasaan bercengkerama buku adalah sebuah aktifitas yang sangat menakjubkan. Karena terlalu besarnya manfaat yang bisa direguk darinya guna untuk menyirami dahaga pada otak akan ilmu. Bahkan dengan buku saya bisa mengenal jejak pemikiran orang-orang besar. Selain itu, buku juga merupakan teman yang baik. Tidak cerewet, tidak bawel dan juga tidak banyak menuntut. Menurut Ernest Hemingway “There is no friend as loyal as a book” yang kalau diartikan tiada ada teman seloyal/sebaik buku.

 

Maka untuk memperkuat hasrat saya pada buku, kemampuan baca saya selalu saya asah agar terus meningkat. Untuk itu pun saya melakukan perburuan buku yang mengupas berbagai metode membaca yang efektif. Dari sini saya menemukan beberapa buku dan dua diantaranya yang paling berkesan yaitu buku The Power of reading Menggali Kekuatan Membaca Untuk Melejitkan Potensi diri  karya Prof. Ngainun Naim dan buku Bacakilat Kiat Membaca 1 halaman/Detik karya Agus setiawan.

 

Seandainya sudah sejak masa kuliah dulu saya sudah mengenal teori membacakilat 1 halaman/detik seperti yang disampaikan Agus setiawan tentu amazing banget properti akademik yang terserap dalam otak saya. Karena dengan penguasaan skill tersebut saya bisa merampungkan ratusan bahkan ribuan buku yang ada di perputakaan UMM yang kala itu (tahun 1991/1995) jumlahnya bukunya mencapai 15.000 judul.

 

Sayangnya saat itu sampai kini, menurut perkiraan  saya masih membaca buku dikisaran 400 buku (buku diluar pelajaran) saja dengan rincian  100 buku dimasa kuliah (40 buku literature penyusunan skripsi yang rata-rata bahasa Inggris, 60an buku sifatnya umum mulai bukunya Cak Nun, Nurkholis Madjid, Jalaludin Rahmat, Frans Magnessuseno, Dr.Fatchurrahman, Dr, Schuler, dan masih banyak lagi). Rentang waktu 1996/2008 saya banyak membaca buku dari perustakaan SDN Tenggong 1 & 2, Perpusda Tulungagung dan Perpus Akper Bakti Husada Tulungagung melalui adik saya yang saat itu kuliah keperawatan disana. Dan mungkin jumlahnya 50 – 70 an. Dan yang terakhir 2009 sampai saat ini, saat saya telah menjadi PN kira baru 150 – 200an buku. Dari perpustakaan SDN 1 Kacangan yang mendapatkan program perpustakaan dan sekitar 100an. Dan semoga saja perpus pribadiku bisa terus bertambah hingga mencapai 1000 buku, yang sebagian adalah karya tulis saya baik antologi maupun karya mandiri saya.

 

Untuk mengatasi rasa kecewa saya terhadap masa lalu terkait aktivitas membacaku maka saya obati dengan pembiasaan melakukan kegiatan menulis sehingga saya menjadi lebih rajin dalam mencari informasi dari banyak buku. Bahkan wirus gila buku juga saya sebarkan pada murid-murid yang saya ajar, yaitu murid-murid kelas 4. selain itu saya juga mencanangkan program khusus untuk murid-murid saya yaitu program baca – (setiap murid harus setor laporan baca sekian halaman setiap pagi dengan buku bebas). Alhamdulillah program ini sudah berjalan dan beberapa murid ada yang telah menyelesaikan 3 buku dalam waktu 1 bulan. Dan sebagai program penegmbangan selanjutnya adalah penggiringan siswa untuk bisa berkarya tulis seperti angkatan sebelumnya yang berhasil menelurkan satu buah antologi setebal 231 halaman.

Jumat, 06 November 2020

JANGAN TERLALU SERING MEMERAS SANTAN

 


Pada hari rabu, 04/11/2020 kemarin saya sempat nimbrung gabung bareng dalam acara Bedah Buku yang dilaksanakan di IAIN Tulungagung via zoom meeting. Sedangkan buku yang dibedah berjudul Menggali Spiritualitas Ramadhan Syarah Renungan Rektor IAIN Tulungagung. Acara tersebut dimoderatori oleh Dr. Ngainun Naim, M.H.I. – Ketua LP2M IAIN Tulungagung dan didampingi oleh Dr. Chusnul Chotimah, M.Ag. sebagai Hostnya - Kapuslit LP2M IAIN Tulungagung.

Acara bedah buku ini menghadirkan dua narasumber yang sangat kualified baik dari sisi akademis maupupun dari sisi keshalehan religiusitasnya. Kedua narasumber tersebut adalah: Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag – Rektor IAIN Tulungagung dan Dr. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag – Wakil Rektor III IAIN Tulungagung, yang kebetulan kedua-duanya merupakan  penulis dari buku yang akan dibedah dalam kesempatan tersebut. Karena sebagai penulisnya, tentu saja beliaunya bukan saja memahami seluk beluk terkait tema yang diangkat tetapi juga tahu betul spirit atau ruh yang menjiwai serta melatarbelakangi terlahirnya buku tersebut.

Sedangkan dua pembahas yang diundang  untuk mengupas buku tersebut adalah Prof. Ahmad Ali Nurdin, M.A., Ph.D. – Dekan FISIP UIN Sunan Gunung Djati dan satunya lagi yaitu K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag. – Dekan Pascasarjana UNUSIA Jakarta. Dua pembahas yang sangat matang dalam ranah pemikiran Islam. Hal ini bisa dipahami karena kedua-duanya merupakan seorang akademisi yang dinamika pemikirannya cukup berani dan inspiratif (liberal). Diterminasi pemikiran liberal ini secara jelas terpresentasikan pada sosok K.H. Ulil Abshar Abdalla, M.Ag. yang mana beliau sangat lekat dengan pemikiran modernis yang diusung oleh Fazlur Rahman – pemikir modernis Islam Pakistan dan juga Dr. Nurcholis Madjid – pemikir modernis Islam Indonesia.

Dan dari pembahasan yang disampaikan oleh K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag terhadap buku Menggali Spiritualitas Ramadhan Syarah Renungan Rektor IAIN Tulungagung saya menemukan dua ulasan yang cukup menarik dan layak untuk dikupas dalam tulisan ini. Yang pertama, saya merasakan kondisi ekstase yang dialami K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag dalam mendeskripsikan spirit yang terkandung dalam buku yang dibedah. Dalam memberikan penjelasan beliaunya tampak sedikit kebingungan untuk menjelaskan secara verbal. Kondisi ini terjadi karena beliaunya telah terserap dalam kondisi ekstase dengan pengalaman spiritualnya. Ekstase merupakan keadaan di luar kesadaran diri (seperti keadaan orang yang sedang khusyuk bersemadi), KBBI Online. Bahkan untuk membantu penjelasannya, beliau sempat merujuk pada kepadatan muatan kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah yang kepadatan muatannya membutuhkan beberapa buku penjelas (penafsir). Situasi seperti itulah kondisi yang dihadai beliau saat mengomentari buku Menggali Spiritualitas Ramadhan Syarah Renungan Rektor IAIN Tulungagung.

Dan keganjilan yang sedikit nyleneh kedua berupa saran yang ditujukan pada Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag – Rektor IAIN Tulungagung dan Dr. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag – Wakil Rektor III IAIN Tulungagung supaya tidak terlalu sering menulis buku semacam itu. Karena bila terlalu sering akan menyebabkan kepadatan materi tulisannya menjadi ambyar. Dan untuk memperjelas saran tersebut, K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag. mengibaratkan seseorang yang sedang memeras santan yaitu bila kelapa parutan terlalu sering diperas maka akan menyebabkan penurunan kualitas tingkat kekentalan santan yang dihasilkan. Sedangkan waktu yang ideal untuk menjaga kekentalan santan pemikiran, K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag. menyarankan waktu yang cukup ideal paling cepat anatar 2 sampai 3 tahun. Menurut pemahamannya, dalam rentang waktu tersebut dianggap waktu yang cukup bagi Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag – Rektor IAIN Tulungagung dan Dr. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag – Wakil Rektor III IAIN Tulungagung untuk melakukan pengendapan santan pemikirannya menjadi matang dan bisa terkristalisasikan menjadi mutiara ilmu yang pemahamannya membutuhkan banyak keberanian untuk menafsirkannya.

Rabu, 14 Oktober 2020

Secuil Catatan Harianku Hari ini

Proyek kepenulisan ku hari ini cukup lumayan banyak - itu menurut ukuran saya pribadi. Entah menurut pandangan  orang lain. Yang jelas satu persatu proyek yang saya proyeksikan hari ini sebisa mungkin harus terksekusi  satu persatu. Masalah lelah dan kecapekan itu sautu hal yang lumrah. Biasa saja. Karena tanpa pengorbanan semaacam itu hidup akan  jalan ditempat. Tidak bisa maju. Bahkan tanpa pencapaian sama sekali. Dengan kata lain hidup kurang manfaat. Dan umur terbuang sia-sia. wwwkkkklll, biar kelihat serius dikit boleh kan????

Beberapa program kepenulisan pagi ini diantaranya:

1. Membuat artikel tentang donor darah yang didasarkan pada pengalaman saya kemarin  untuk diupload  di Topop.

2. Membuat artikel tentang kuliner capar punten untuk diunggah di sukon.

3. Membuat artikel tentang kepenulisan terkait Go Tulis yang saya ikuti kemarin untuk dikirim ke Gurusiana.

4. Nyicil nulis untuk materi buku yang diprogramkan satu bulan satu buku.

5. kalau masih sempat nulis artikel terkait rencana revolusi yang didengungkan SHR munkin dikirim ke Topop juga.

Semoga saja semua itu bisa terrealisasi secara baik walau sedikit terengah-engah untuk menjalani. Ya karena hidup harus hidup. Dan pertanda adanya kehidupan harus terus bergerak.


Senin, 07 September 2020

Belajar Menulis Cerita

 


Setelah membaca judul tulisan diatas, kira-kira ada yang menganggap lebay apa tidak ya? Entah apapun anggapan dan bagaimana penilaiannya itu tidak terlalu berpengaruh pada hasrat saya untuk tetap menulis. Dan untuk saat ini, saya ingin belajar menulis cerita.

Kok masih belajar, kan selama ini sudah sering menulis to? Ya, memang benar saya sering menulis. Tapi tulisan saya diluar genre sastra terutama terkait dengan cerita. Tulisan saya termasuk dalam ranah karya ilmiah popular. Jadi bukan sastra tulis cerita.

Tentu saja sebagai penulis atau sebagai orang yang menggemari dunia kata-kata, saya juga ingin mencoba untuk bisa menulis cerita. Entah itu dalam bentuk cerpen, novel, novelet maupun cergam. Yang jelas hasrat untuk keluar zona aman itu selalu ada dan bukan hanya bertahan di zona aman kepenulisan saya selama ini. Maklum saya selama ini merasa kurang tertarik untuk membaca apalagi untuk menulisnya.

Yang jelas itu merupakan sebuah tantangan yang perlu dijalani agar bisa terus berkembang dan sukse. Untuk meneguhkan niatan tersebut tentu saya butuh literatur yang mampu memberikan masukan tentang apa itu cerita, bagaimana bentuknya dan seberapa besar peluangnya bila dipasarkan. Dan setelah saya pun mencari-cari dari jajaran buku yang saya miliki saya menemukan beberapa buku yang signifikan dengan niatan saya tadi. Salah satu buku tersebut adalah buku karya Harris Effendi Thahar dengan judul Kiat Menulis Cerita Pendek.

Walaupun judulnya hanya terfokus pada penulisan pendek, saya tahu buku ini tidak mengkhususkan ulasannya pada cerita penden saja. Melainkan juga membahas tentang novel dan novelet, tepatnya pada Bab 1 Pendahuluan - (A. Hakikat Cerpen 1. Cerpen, Novel, dan Novelet: 5-6). Dihalaman tersebut dijelaskan bahwa ketiga-tiganya termasuk jenis prosa yang masing-mas-ng memiliki unnsur kesamaan terutama dalam bentuk penokohan, tema, alur, latar, dan gaya bahasanya.

Selain dari sisi kesamaan tersebut, didalam buku ini Harris Effendi Thahar juga memberikan gambaran pemebeda antara ketiganya. Terutama terkait dengan ukuran panjang pendek cerita yang terpresentasikan dalam bentuk teks tulis. Yang pertama, Cerpen sebagai cerita pendek penyajian ceritanya dalam bentuk yang cukup padat, latarnya hanya dimunculkan dalam kilasan sesaat, dan membutuhkan waktu sebentar untuk mambacanya.

Hal ini berbeda jauh dengan Novel, karena novel memiliki ukuran yang sangat panjang, membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya, latar belakang ceritanya diungkap lebih mendetail dan ceritanya berangkai/bersambung dalam sebuah keruntunan. sedangkan posisi Novelet berada ditengah-tengah diantara cerpen dan Novel. Karena novelet sebenarnya adalah nama lain dari novel pendek. Dan penulisan novelet sebagai novel pendek bertujuan untuk menghindari rasa kebosanan atau rasa jenuh ketika pembaca membaca novel. Sedangkan dari sisi lainya antara novelet dan novel itu sama saja.

Mungkin sepintas pemahaman awal saya tentang belajar untuk menulis cerita hanya sebatas itu. Dan mungkin saja tulisan ini akan menjadi lengkap setelah saya merampungkan baca tiga buku bacaan yang memiliki relevansi. Ketiga buku tersebut adalah: Cara Mudah Menulis Novel Petunjuk Praktis. Tahap Demi Tahap. Menulis Novel Mulai dari Nol Hingga Selesai (Isa Alamsyah: 2019); Kreatif menulis Buku Populer, Artikel, Novel, Cerpen, Cernak & Puisi (Nyuwan S. Budiana, Nenny Makmun: 2018); dan Trik Jitu Menulis Cerita Remaja (Novel-Cerpen-Skenario) (Setiawan G. Sasongko: 2012). Semoga saja dengan penambahan pengetahuan dan wawasan  tentang penulisan cerita dari berbagai sudut pandang yang berbeda, saya juga mampu mempraktekkannya untuk menulis genre ini.

Jumat, 28 Agustus 2020

LEGITNYA SAYUR BLENDI KORONYA

 

Saya merasa sangat senang sekali saat menerima ajakan Prof Ngainun Naim untuk membuat buku antologi dengan mengusung tema kuliner jangan blendrang. Tepatnya tiga hari yang lalu dengan tenggang batas penyetoran naskah 4 hari setelah pengumuman. Empat hari merupakan rentang waktu yang lebih dari cukup untuk membuat blendrang. Tapi juga waktu yang relative singkat untuk sekedar membuat tulisan. Apalagi kalu kemampuan nulisnya masih memiliki ketergantungan dengan mood.

Dari batasan waktu tersebut saya memilih untuk setor paling akhir saja, yaitu saat date line atau saat jatuh tempo. Keputusan tersebut saya ambil karena dua alasan, yaitu: yang pertama karena tulisan baru kelar hari ini, dan yang kedua karena rentang waktu tiga hari saya anggap sangat cukup untuk membuat cita rasa jangan blendrang menjadi lebih legit dan jangget banget di lidah. Karena kekhasan itulah jangan blendrang terkonsep secara kuat di dalam otak.

Bahkan karena ke khasan jangan blendrang tersebut, seringkali saat menyantapnya pikiran kita terserap kembali kemasa lalu. Saat-saat kita masih kecil. Saat masih bersama ibu, bapat, adik, kakak, dan juga orang terkasih dalam hidup kita dimasa lalu.  Ya semuanya bisa termunculkan kembali karena sensasi jangan blendrang.

Dalam konsepsi ini, agar jangan blendrang tidak terkesan ndeso serta terkesan ketinggal jaman maka saya ingin menghadirkan nuansa yang lebih kekinian dengan memberi nama yang lebih jreng dan lebih ngehh.  jangan blendrang dengan sebuatan sayur blendi. Seperti yang kita tahu bahwa kata sayur itu memang sama saja baik makud, arti maupun wujudnya, yaitu sayur yang sudah lewat. Dalam konteks ini kita sedikit memasuki ranah gaya bahasa yang heterologoi. Suatu gaya bahasa yang digunakan untuk menyebut sesuatu yang sama tetapi menggunakan kata yang berbeda.

Oh ya, mungkin ada yang penasaran apa sih sayur blendi koronya itu? Ih kok sedikit ngeri karena mirip-mirip dengan virus yang lagi pandemic saat ini, yaitu virus Corona atau Covid-19. Sayur blendi yang saya maksud di sini adalah jangan blendrang dik ingi kalau di Indonesiakan jadi sayur kemarin. Sedangkan koronya lebih mengacu pada bahan yang dijadikan jangan blendrang tadi. Dan bila mengacu pada judul tulisan diatas maka baha yang dipilih berupa koro.

Ada satu alasan mengapa saya memilih sayur blendi dengan bahan dasar koro karena waktu itu orang tua saya selalu menama koro dipinggiran tegal/lading. Sedangkan lading bagian tengah sebagian ditanami Lombok dan yang sebagian ditanami singkong untuk bikin gaplek. Sehingga saat tanaman koro dan lomboknya bebuah dalam jumlah yang banyak ibu saya selalu njangan koro dalam ukuran yang lebih. Baik koronnya maupun lomboknya. Hal itu dilakukan dengan pertimbanagan lebih irit dan lebih praktis. Karena dengan sekali njangan – koro sekuali dengan lombok hijau satu sampai dua kilogram lombok yang masih diutuhkan bisa dikonsumsi selama dua atau tiga hari. Tentu saja dengan lombok seukuran itu rasanya cukup pedas.  Tapi saat menyantapnya, sambil nyletetin lomboknya untuk dicampur dengan nasi sebelum dimakan rasanya asik juga. Tapi ingat, makannya tidak boleh kebanyakan karena bisa bikin perut mules-mules dan terasa panas saat BAB.

            Menurut pemikiran saya, saat membicarakan jangan blendrang, sebenarnya terdapat banyak unsur nilai kearifan lokal yang didalamnyan. Nilai-nilai kearifan tersebut diantaranya: yang pertama yaitu adanya manajemen waktu. Hal ini bisa kita cermati dengan prosesi masak yang hanya membutuhkan sekali masak dan hasil masakkanya bisa digunakan untuk beberapa hari berikutnya. Hari berikutnya tinggal ngenget/memanasi saja. Maka di sini terjadipenghematan waktu. Sehingga hari berikutnya bisa dimanfaatkan untuk mengerjakan aktifitas lainnya. Biasanya untuk nggaplek – ngoncek telo setelah itu dijemur dibawah terik matahari.

            Yang kedua yaitu muatan nilai ekonomis. Nilai ekonomisnya bisa didapat dari pengiritan bahan bakar, bumbu masak, dan juga waktunya bisa digunakan untuk kegiatan produktif lainnya. Bahkan saat saya kos ketika kuliah di UMM dulu juga tidak lepas dari kemaslkhatan secara ekonomis dari blendrang. Tapi blendrangnya bukan blendi koronya. Blendinya berupa sambel terasi yang dibikinin ibu saya setiap kali saya pulang. Tiap bulan saya sangu blendi sambel terasi satu botol aqua ukuran satu literan. Ya lumayan dengan bekal sambel satu botol tadi bisa menghemat biaya pengeluaran kira-kira dua mingguan. Blendi banget kan???

            Yang ketiga berupa nilai syukur. Nilai syukur bisa pantik oleh adanya keikhlasan yang tulus dari dalam hati. Ikhlas untuk menerima dan menikmati rejeki apapun bentuknya. Walau itu berupa jangan blendi koronya ataupun sebatas sambel terasi. Tapi di situ terdapat nikmat yang luar biasa. Daintaranya karena blendi sambel terasi kuliah saya bisa rampung dan bisa jadi PNS lewat jalur yang tidak sewajarnya, yaitu jalur data based.

            Dan yang keempat berupa keistikomahan dalam memegang sebuah komitmen. Komitmen di sini bukan hanya terkait dengan masalah blendrang saja. Tetapi bisa ke masalah lain juga. Baik itu di ranah social, norma, maupun pada kehidupan religious. Dengan kata lain, keikhlasan dalam komitmen di sini dapat diartikan tidak gampang waleh atau lenjeh terhadap sesuatu yang telah kita miliki. Mungkin di sinilah letak relevansinya pernyataan Bung Karno andagiomna yang terkenal itu, yaitu JASMERAH. Jangan melupakan sejarah. Sejarah itu bisa berupa apa saja. Kalau dalam konteks personal mungkin rekam jejak masa lalu. Masa di mana seseorang tengah berjuang sebelum titik pencapaian saat ini. Atau bisa juga berupa kenangan yang mampu membangkitkan nilai heroik saat seseorang dalam posisi terpuruk. Atau apalah itu namanya. Yang jelas jangan blendi koronya dan juga sambel terasi ada di dalamnya.

            Sedangkan dari sisi kesehatan, menurut saya tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Asalkan tidak berlebihan seperti yang disarankan oleh Rosulullah saja. Semua pasti aman dan terkendali, yaitu makan secukupnya dan berhenti sebelum kenyang. Terus bagaiman dengan kata dokter? Tidak usah begitu diperhatikan! Asalkan konsep pemikiran yang terinstal di otak kita mengatakan baik dan meyakini blendrang itu baik, insyaallah reaksi negative tidak akan terjadi pada diri kita. Dan dengan sendirinya, pemunculan toksin atau racun yang disebabkan oleh blendrang pasti tidak ada karena apa? Karena konsep atau definisi yang tersimpan diotak bawah sadar tidak mengatakan seperti itu. Sehingga waktu otak sadar melakukan afirmasi apakah blendrang bisa berubah jadi racun yang bisa mengganggu daya tahan dan kesehatan tubuh. Pas afirmasi tersebut dilakukan dan otak sadar tidak menemukan rambu-rambu pesimis semacam itu. Maka  saat program saraf yang telah dikomando oleh otak sadar untuk mencerna makanan berupa bledrang tentu yang dihasilkan adalah sesuatu yang baik-baik saja. Jadi untuk membangun imunitas tubuh yang lebih kuat persepsi positif terkait dengan trust and believe pada jangan blendrang perlu direkonstruksi ulang lagi. Kemudian diganti fomulasi positif dan penuh rasa optimism.

            Hidup blendrang. Hidup blendi koronya. Hidup juga sambel terasi.

Minggu, 23 Agustus 2020

MEMBANGUN KONSISTENSI DALAM KEPENULISAN


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus Versi online/daring (dalam jaringan) kata konsisténsi dikategorikan sebagai kata benda/
n yang didefinisikan sebagai ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak) ~ https://kbbi.web.id/konsistensi. Konsistensi merupakan salah satu faktor penentu dalam pencapaian suatu target kerja. Apa pun itu jenis pekerjaannya. Termasuk didalamnya adalah kegiatan tulis-menulis. Hal in dikarenakan tanpa adanya konsistensi   produktifitas kepenulisan akan mengalami ketersendatan. Bahkan yang lebih fatal lagi kemampuan menulis seseorang bisa semakin tumpul dan hilang sama sekali.  Bila kondisi semacam ini terjadi, tentu saja karya kepenulisan tidak akan pernah bias dihasilkan lagi.

Hal ini searah dengan pernyataan Prof. Ngainun Naim yang dalam bukunya yang berjudul  The Power Of Writing (2015: 50) menyebutkan “agar kita bias menghasilkal tulisan setiap hari dibutuhkan komitmen yang kuat. Tanpa komitmen yang kuat, sulit rasanya menjaga ritme menulis secara terus-menerus. Tetapi jika kita memiliki komitmen yang kuat, berb agai hambatan dapat diatasi.”

Pernyataan Prof. Ngainun Naim diatas lebih dipertegas lagi oleh Hernowo Hasim seperti yang tertulis pada cover buku antologi SPN yang berjudul Resolusi Menulis Menyusun Rencana Mewujudkan Karya (2017) yang secara jelas menyatakan bahwa “Aku juga sadar kemahiran dan kenyamanan menulisku akan hilang sedikit demi sedikit jika tak kujaga dan kurawat. Menjaga dan merawatnya, sekali lagi, hanya dengan berlatih dan menambah pengetahuanku tentangnya. Ini perlu kulakukan secara konsisten. Konsisten disini tidak harus banyak dan berdarah-darah. Sedikit saja (15 – 30 menit), asalkan kulakukan setiap hari tentulah akan membuahkan perbaikan.”

Konsistensi merupakan salah satu bagian penting dari dimensi kepribadian seorang individu secara holistik. Dan untuk merekonstruksi dimensi ini memerlukan rentang waktu yang cukup lama dan harus dibarengi adanya kekuatan niat, tekat, kekhusukan serta keistikhomahan selama dalam menjalani proses. Kemudian rangkaian runtinitas dan  pembiasaan tersebut akan tumbuh dan terbentuk sikap/dimensi kekonsistensian tadi. Mungkin proses semacam inilah penebalan meilin pada otak kita terjadi. Dan bila hal ini bisa terbentuk secara terus-menerus maka hasil akhir (progressif result) akan sangat baik dan relative permanen tertanam dalam diri seseorang.

Seandainya penebalan meilin terbangun memlalui pembiasaan aktivitas menulis tentu dampak positif yang dihasilkan adalah kemudahan dalam melakukan aktifitas kepenulisannya. Baik dalam penggalian ide, penyusunan kalimat maupun dalam pemilihan gaya penulisan yang digunakannya. Bahkan orang telah mencapai fase ini, disetiap harinya dia akan merasa gelisah dan sangat tersiksa bila belum melakukan aktifitas menulis sama sekali. Dia selalu merasa ada kejanggalan karena energy yang terakumulasi dalam meilin kepeneulisan belum tersalurkan.

Tegalrejo, 24/08/2020

Sabtu, 22 Agustus 2020

MENGUSIR RASA PENASARAN

 

foto diunduh dari WinNetNews - Minggu, 23/08/2020, 10.50 WIB

Ah rasa itu? Rasa penasaran! Rasa yang membuat hati dan pikiran saya menjadi gelisah. Rasa itu pagi ini tiba-tiba muncul begitu saja. Gejolak itu membuncah karena telepon dari saudara perempuan misanan saya – anaknya pak de yang ada di desa Karangsari Kecamatan Rejotangan. Dalam sambuang telepon HPnya mbakyu  saya terdengar nada suaranya penuh kecemasan. Dia menceritakan kalau anak laki-lakinya yang semalam diajak kerumah untuk diterapi sakitnya kambuh lagi. Sebuah kecemasan yang sangat wajar bagi setiap ibu bila melihat anaknya sakit. Entah itu tampan atau tidak; cantik atau tidak; penurut ataupun menyebal. Yang   jelas naluri seorang ibu tetap sayang pada anaknya. Semoga kebaikan untuk mbakyu saya adan anak laki-lakinya, aammiin.

 Karena mendengar tuturan tersebut spontanitas hati saya mengajak menghentikan aktifitas yang tengah saya kerjaan dan sesegera mungkin untuk menangani keponakan saya yang merintih menahan rasa sakit dilambung kirinya. Dan seketika itu pula saya katakana “langsung diterapi saja mbak dan siapkan air minum didekat duduknya saat diterapi.” Maka dengan baca basmallah dan mengucap dua kalimah syahadah saya mulai menerapinya agar rasa skit dan penyebabnya segera teruraikan. Sedangkan rentang waktu terapinya kira-kira membutuhkan waktu selama 20 menitan. Sedangkan  terapi yang dilakukan adalah terapi jarak jauh yaitu kira-kira 4 km dari rumah saya yang berada di desa Tegalrejo. Terapi jarak jauh ini tentunya sangat relevan dengan anjuran pemereintah dimasa New Normal lewat Adaptasi Kebiasaan Baru (ABK). Terutama dari ketentuan untuk jaga jarak. Jarak 4 km tentu jarak yang sangat aman baik bagi saya sendiri selaku terapisnya maupun bagi keponakan saya selaku klien.


 Sambil melakukan terapi saya pun melakukan perseluncuran di dumay untuk mencari refernsi terkait dengan keluhan keponakan saya tersebut guna untuk menyakinkan keakuratan prediksi instingtif yang saya lakukan semalam. Naluri saya mencurigai ada permasalahan dikisaran lambung, usus buntu, ginjal bias berupa infeksi maupun peradangan.  Dan dalam perseluncuran tadi saya menemukan informasi yang relative sama (ada kesamaannya) yang dapat untuk digunakan sebagai acuan dalam pemberlakuan treatmen yang tepat agar keluhan bisa terselesaikan. Situs yang saya kunjungi tersebut adalah Alodokter karena situs ini ditangani para profesionalis dibidang medis kesehatan. Jadi sangat kredibel dan akurasinya sangat tinggi.

 Semoga saja kesembuhan segera menghampirinya, seperti saat terapi keluhan yang sebelumya. Sebuah keluhan yang cukup berkepanjangan, yaitu selama 7 bulan harus berdiam dirumah karena badan tidak bertenaga, lambung sakit, dan kepala pusing. Kondisi yang sangat menguras tenaga dan menelan banyak biaya karena harus menjalai rawat inap di RS Madinah dan juga RSUD dr. Iskak Tulungagung tapi hasilnya nihil. Nol besar tanpa ada perubahan yang signifikan. Bahkan keponakan tersebut sempat dilakukan ruýah, dibawa ke ahli saraf, dan ahli pijat urat. Dan Alhamdulillah karena pertolongan Allah SWT semua keluhan tersebut bisa teratasi dengan mediasi terapi bioenergy jarak jauh yang saya lakukan. Dan saya berharap dengan bantuan doa dari rekan-rekan dumay trauma pada lambung kiri keponakan saya bisa segera sembuh, aamiin.

Tegalrejo, 23/08/2020


Senin, 17 Agustus 2020

KETIKA DUA PENDEKAR BERTEMU




Mungkin saat membaca judul tulisan ini sepontanitas pikiran kita terseret dalam situasi jaman kerajaan dimana dunia persilatan dan kependekaran sangat kental.  Entah itu jaman kerajaan Majapahit, Demak, Mataram Hindu, Mataram Islam, Pajajaran, Sriwijaya, Singasari, Kediri, atau manapun. Atau bisa juga terbayang sebuah film Joko Sembung, Wiro sableng, dan film-film laga lainnya. Yang jelas tergambar adalah adanya dua penndekar yang saling berhadapan face to face satu dengan yang lainnya.

Dan bila gambaran tersebut yang muncul dalam pikiran kita, tentu saja hal ini sangat tidak tepat karena saat ini kita sudah hidup di jaman modern dan dalam situasi disrupsi seperti saat ini. Tentu saja konsep kependekaraan konvensional tersebut sudah tidak ada relevansinya lagi. Apalagi konsepsi tersebut dikaitkan dengan ranah leterasi.

Konsep kependekaran disini merupakan sebuah konsep yang memiliki keterkaitan scara erat dengan profesi kependidikan yang kami (saya dan teman saya) sandang saat ini terutama dari susdut literasi. Konsep Pendekar tersebut adalah: Penilik dengan Karya dan Pendidik dengan Karya.

Sebutan pendekar – Penilik dengan Karya sangat tepat disematkan untuk pak Toni Hartono, M.Pd karena beliaunya berprofesi sebagai pengawas TK/PAUD di Korwil Kecamatan Ngunut. Penyematan gelar pendekar ini saya merujuk pada salah satu judul buku karyna beliau yang berjudul Sepak Terjang Pendekar (Penilik Dengan Karya) yang diterbitkan tahaun 2019 yang lalu.  Sedangkan definisi pendekar saya gunakan untuk diri saya sendiri guna untuk mengimbangi pak Toni Hartono, M.Pd dalam candaan saya saat mengikuti pelatihan Microsoft office 365 awal bulan Pebruari yang lalu. Gelar pendekar yang terkhusus untuk saya bukan pendek kekar, melainkan pedidik dengan karya. Tentunya ini ada kemiripan, kecocokan dan juga kesamaan antara keduanya. Kira-kira sebelas duabelas begitulah.

Dari pertemua tersebut tidak menimbulkan keributan apalagi kegaduhan yang ditimbulkan peperangan dua pendekar yang saling berhadapan secara face to face. Yang muncul hanyalah guyonan yang sangat renyah, terutama saat kata dan kalimat yang terlontar dalam perbicangan tadi saya pelintir kesana kemari. Tetapi makna yang dimaksut tetap terfokus dan tidak kabur.

Perbincangan pun kami mulai dari saling menanyakan kabar masing-masing. Dan Alhamdulillah kami berdua tetap sehat serta penuh keberkahan serta penuh limpahan ridhloNya. Aamiin ya rabbal’alamiin. Setelah itu perbincangan dilanjut kemasalah literasi. Disisi ini saya mencoba menyinggung proyek penulisan buku antologi yang melibatkan Penilik TK/PAUD se Jawa Timur yang rencananya dikonsultasikan dan sekaligus minta bantuan dalam proses penerbitannya. Dan saat menjawab pertanyaan tersebut beliaunya sedikit mengeluh karena dari sekian banyak Penilik TK/PAUD yang ada, ternyata hanya terdapat 4 orang penilik yang sudah setor naskahnya. Padahal tenggang waktunya sudah kelewat satu bulan meleset dari target yang telah ditetapkan.

Saya pun sangat memahami kegundahan serta kegalauan yang menyelimuti perasaannya. Perbincangan kami pun terus berlanjut ke hal-hal yang sedikit teorits tapi tidak mengandung unsur klenik sama sekali. Ya, masih tetap seputar literasi dan kepenulisan saja karena tema ini sangat menarik bagi kami berdua. Kemudian saat beliau bercerita tentang tawaran/ajakan menulis ke guru-guru TK/PAUD yang ada di kecamatan Ngunut, beliaunya sangat semangat dan antusias sekali. Beliau pun menunjukkan tumpukan naskah yang ada di mejanya. Saya pun mencoba mengambil beberapa naskah dan membaca sepintas untuk mempelajarinya.

Kemudian secara sepontantas saya menyarankan kepada beliau kalau naskah ini bias dibukukan. Dari naskah yang sudah ada ini jenengan tinggal memoles dan juga sedikit editing agar naskahnya jadi lebih enak dibaca. Bahkan saya juga siap membantunya, baik editing naskah, pembuatan kata pengantar maupun proses penerbitannya. Walaupun tawaran yang saya lakukan itu hanya bermodal kenekatan saja.

Tegalrejo, 18/08/2020


Kamis, 13 Agustus 2020

THE SPIRIT POWER OF MOMENTUM

 

    Pada hari Kamis, 06 Agustus kemarin tepatnya jam 20.22 WIB  saya mendapatkan pesan elektronik via wa dari prof. Ngainun Naim. Dalam pesan tersebut  yang  intinya mengabarkan kalau beliaunya memiliki group literasi dan sekaligus mengundang saya untuk bergabung di dalamnya. Group literasinya  diberi nama Sahabat Pena Kita (SPK). Dan saat mencermati  penamaan group tersebut saya merasakan kalau group ini memiliki  kedekatan  dengan group Sahabat Pena Nusantara (SPN). Praduga instingtif saya ini dilatarbelakangi beberapa alasan sebagai alibi pemebenarnya. Alasan tersebut yaitu:

Alasan yang pertama adalah Fokus orientasi kerjanya sama-sama menyasar pada optimalisasi kegiatan literasi. Cuman benda hanya terletak pada tingkat keluasan wilayah operasionalnya saja. Kalau  Sahabaat Pena Kita hanya mengkhususkan diri untuk menggarap potensi literasi ada di wilayah Kabupaten Tulungagung saja. Sedangkan Sahabat Pena Nusantara  cakupan wilayahnya meliputi seluruh Nusantara.

 Alasan yang kedua yaitu berupa adanya keterlibatan Prof. Ngainun Naim di kedua group ini, baik di SPK maupun di SPN.  Yang mana jejaknya dapat secara mudah saya temukan. Di group SPK peran sentralnya dapat terbaca secara jelas dari pesan elektronik WA yang saya terima yang berisi undangan untuk bergabung di dalamnya. Sedangkan di group Sahabat Pena Nusantara  jejaknya dapat saya ikuti dari dua buah buku antology yang telah diterbitkan oleh SPN dan disitu terulis secara jelas nama prof Ngainun Naim sebagai penyunting atau editor naskahnya. Kedua buku tersebut adalah: Resolusi Menulis Menyusun Rencana Mewujudkan Karya, dan Aku Buku dan Membaca Kisa Persahabatan dengan Buku. Dan dari kedua buku tersebut  telah menginspirasi terlahirnya buku antology bagi group Guru Pegiat Literasi Tulungagung yang terbit di awal tahun 2020 ini. Dalam buku ini saya berperan sebagai inisiatornya dan sekaligus editornya. Walaupun hanya berbekal kenekatan saja karena tidak memiliki ilmu editorial naskah sama sekali. Tapi tetap harus saya syukuri walau disana-sini masih terdapat banyak kekurang pasan dan kekurang telitian dalam melakukan editor naskahnya.  

 Sedangkan reaksi spontanitas yang muncul atas undangan Prof. Ngainun Naim untuk gabung di group SPK saya langsung merimanya tawaran tersebut dengan senang hati. Bahkan penuh antusiasme yang meledak-ledak. Tawaran dan undangan tersebut saya terima dengan  pertimbangan utama yaitu untuk konsistensi saya dalam kegiatan tulis menulis. Sebuah konsistensi merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam segala bidang. Begitu pula dalam aktifitas kepenulisan. Hal ini  saya anggap sangat penting karena hanya dengan konsistensi yang khusuk dan istikhomah segala sesuatunya dapat membuahkan hasil yang baik. Demikian halnya  dengan dunia tulis menulis. Bahkan konsistensi dalam kepenulisan telah saya jadikan targetkan utama dalam  penyusunan resolusi literasi tahun 2020 yang telah terbukukan dalam sebuah buku antologi bersama 16 Guru Pegiat Literasi yang ada di Tulungagung.

 Konsisten merupakan sesuatu yang perlu diperjuangan keberadaannya dalam diri saya. Ya  karena kekurang konsistensian saya ini, seringkali  menyebabkan banyak pekerjaan mengalami keteledoran serta penundaan. Tentu saja semuanya menjadi runyam. Sebagai contoh kerunyaman karena ketidak konsistensian saya dalam kepenulisan tersebut yaitu terjadi pada proyek penulisan dua buku saya yang telah menyebabkan mangkrak hampir 3 tahun. Padahal bagian-bagian dari buku tersebut sudah saya buat, mulai dari penulisan judul, pembagian bab dan pemilahan subbabnya sudah. Bahkan sudah saya buat secara rapi. Buku literatur sebagai acuan pustaka dalam penulisan naskah juga telah ada dalam jumlah yang cukup.  Ya, sekali lagi semua harus terbengkelai karena tidak bisa fokus dalam kekonsistensian tadi.

 Realita tersebut mengingatkan saya pada sebuah unggahan dilaman grafologi yang juga saya kutip dalam penulisan kata pengantar editor buku Resolusi Literasi guru-guru yang tergabung dalam group GPL Tulungagung. Menurut unggahan tersebut dijelaskan kalau banyaknya kegagalan yang dialami banyak orang dalam proses pewujudan resolusi atau program kerjanya yang telah dibuatnya dikarenakan orang tersebut tidak memahami dirinya. Yang akhirnya resolusi yang dibuat asal-asalan tanpa mempertimbangkan  karakter dan potensi dirinya secara baik. Bahkan menurut hasil penelitian hal ini dapat memicu tingkat kegagalan hingga 92%   Grafologi Indonesia  info@grafologiindonesia.com lewat md.authmail01.com (21 Des 2019 12.07).

 Dengan pertimbangan tersebut dan dengan kemantapan hati saya siap bergabung di group SPK. Paling tidak dengan ketergabungan saya di SPK kosistensi dan greget kepenulisan saya bisa terbangun kembali. Entah itu terdorong karena rasa malu bila tidak menulis; rasa tanggung jawab; atau kuatnya rasa gengsi dengan teman yang lain kalau tidak memposting tulisan wajib. Apapun alasannya yang penting spirit dan motivasi didada tetap membakar sehingga meilin saraf yang berhubungan dengan aktifitas menulis semakin menguat. Sedangkan penguatan meilin hanya bisa tercipta melalui proses pengulangan yang ajeg/konsisten dalam rentang waktu yang lama. Tentunya disini kejelian dalam menangkap dan memanfaatkan the spirit power of momentum akan mengkhasilkan sesuatu yang sangat dahsyat bila dalam pengekskusiannya dibarengi dengan kemauan dan mood yang sedang memucak.

 Semoga dengan ketergabungan di SPK Tulungagung mampu membuahkan sesuatu yang manis, baik berupa terkonstruksinya konsistensi pada diri agar lebih permanen maupun dalam  peneloran karya tulis baik artikel maupun dalam bentuk buku “insyaallah”.

Rabu, 12 Agustus 2020

Mission I'm possible

Sejak hari Senin kemarin hingga malam ini saat saya membuat tulisan ini, terus terang hati saya masih diliputi oleh sebuah kekhawatiran. Ya khawatir karena jangan-jangan tulisan ini akan menemui nasib yang sama dengan tulisan harus saya setor untuk hari Senin kemarin. Kalau nasibnya sama berarti saya gagal lagi untuk memenuhi kewajiban seperti rekan-rekan yang lain. Tentunya hal ini sangat berpengaruh pada kredibilitas, akuntabilitas bahkan integritas saya dihadapan rekan-rekan anggota SPK - sedikit baper ah.
Dan jika tulisan ini berhasil diposting serta dishare berarti kesialan tersebut bisa terbayar dengan penuh kelegaan. Yang jelas terasa sangat plong karena kuwajiban bisa tertunaikan walau dengan perjuangan dan susah payah. Dan setelah itu besok malamnya tinggal berburu sunnahnya. Kebetulan besok bertepatan hari Kamis dan malamnya adalah malam Jumat. Sebuah malam yang cukup disarankan karena banyak berkah dan kesunnahan yang bisa dilakukan. Termasuk salah satu kesunnahan tersebut adalah menebar ilmu atau posting tulisan di blog pribadi dan selanjutnya dishare diblog group SPK ini. 
Hhmmm, mantapkan??? 
Bila misi ini bisa terealisasi dengan baik berarti langkah saya telah menapaki jalan yang benar atau istilah kerennya on the track. Dengan kata lain perjuangan yang saya lakukan  telah menghantarkan saya pada suatu keyakinan yang  seperti dikatakan orang "segala sesuatunya akan indah pada waktunya". 
Pokoknya, gitu deh!! Setiap ada kemauan pasti ada jalan dan kalau mentok pada kebuntuan masih bisa bikin jalan  terobosan.  Hal ini selaras dengan sebuah pepatah yang mengatakan seribu jalan menuju Roma.
Mungkin disinilah relevansi sebuah komitmen dalam bingkai kehitaman konsistensi yang ulet yang tersirat dalam filosofi berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Entah apa pun alasannya dan alibi yang terpapar sebagai pembenar dari tulisan ini, yang jelas jerih payah dan semangat pantang menyerah telah membuah hasil yang manis. Aamiin.

Kamis, 30 Juli 2020

AKU, BUKU DAN LITERASIKU


Bulan Juli ini, boleh dibilang bulan yang cukup wah bagi saya pribadi. Hal ini terlepas dari pandangan dan juga penilaian orang lain berdasarkan persepsi mereka terhadap apa yang saya alami tadi. Toh ini hanyalah sebatas apresiasi terhadap diri sendiri yang saya sangat berbeda dengan yang saya lakukan dibulan-bulan sebelumya. Paling tidak apa yang saya lakukan mampu menjaga konsistensi dan menyetabilkan motivasi literasi saya, yang mencakup reading, writing, publishing dan sharing. Hal ini menurut saya sangat penting terutama bila dikaitkan dengan keprofesian saya, yaitu sebagai guru. Tentunya harus memiliki pengetahuan yang cukup dan juga wawasan yang memadai baik terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan sisi akademik pembelajaran yang saya ampu.

Sesuatu yang membuat wah tersebut minimal ada tiga items yang keseluruhannya terkait erat dengan peng-upgrade-an kemampuan literasi saya. Yang pertama dari ketiga hal tersebut yaitu berupa keikutsertaan saya dalam kegiatan webinar sebanyak 4 kali dan keempat-empatnya dengan nara sumber yang sama yaitu Bu Lulut Wilujeng. Sedangkan yang menjadi tema pembahasan dari webinar tersebut seputar pemanfaatan aplikasi Microsoft 365 berupa sway maupun kayzala untuk menunjang pemberajaran jarak jauh dengan berbasis jaringan internet (daring). Tentunya tema ini memiliki urgensitas yang sangat signifikan dalam situasi emergensi (darurat) karena terjangan pandemi corona melanda dunia saat ini.

Namun ada satu hal yang perlu disayangkan dari kegiatan kulwebinar ini karena dari keempat keikutsertaan saya hanya satu momen yang bisa saya ikut secara baik yaitu webinar ke 4 yang digelar oleh PGRI Tulungagung. Dan terus terang hasil dari kulwebiner tersebut kurang maksimal karena berbagai alasan yang salah satunya dipicu oleh kekurang pintaran saya dalam memanajemen waktu. Sedangkan tiga kulweb lainnya gagal untuk bisa bergabung karena terkendala oleh sulitnya jaringan dan juga kekurang tahuan saya tentang aplikasi yang dipakai. Dari kegagalan di kulwebiner ini akhirnya saya munculkan sebuah anekdot pembelaan diri ketika teman-teman Guru Pegiat Literasi Tulungagung (GPLT) menanyakan permasalah yang menyebabkan saya gagal untuk join dalam kegiatan tersebut. Anekdot  atau lelucon yang sempat saya lontarkan tersebut adalah “Saya gagal gabung di kulwebiner karena hanya muter-muter terus yang akhirnya jadi tersesat malah masuk ke webbingung dan webbekgoreng lengkap dengan lalapan dan sambel terasinya yang lezat banget di lidah.”

Unsur wah yang kedua pada bulan Juli ini yaitu berupa penambahan koleksi yang cukup lumayan untuk melengkapi daftar bacaan di pustaka pribadi saya. Penambahan tersebut mencapai tigapuluhan buku dengan judul berbeda yang mengupas tema kajian yang cukup beragam. Tentunya hal ini sangat baik untuk memberi asupan yang bergizi dan memiliki value added (nilai tambah) yang sangat bagi diri saya. Terutama  bagi otak saya dalam upaya memperluas wawasan maupun dalam rangka untuk menjaga kewarasan logika akademik. Bahkan hal ini juga sangat berguna untuk  menambah amunisi kepenulisan saya biar aktifitas literasi tidak mengalami lockdown karena mengalami writingl block. Buku-buku tersebut adalah sebagai berikut:
111. Mendaki Tangga Iman Dari Syariat Dan tarekat Menuju Hakekat (2009) karya Sayyid Haidar Amuli  yang diterjemah oleh Irwan Kurniawan, M.Ag.
222. Kisah-Kisah Teladan Pencerah Hati (2010) karya Achmad Mufid A.R.
3 3. Meraih Lemuliaan Dengan Takwa Meneladani Takwa Rasulullah dan Para Sahabat (2007) karya Supriyanto Abdullah
444. Shalat sungguh Dahsyat Berbagai Keutamaan Shalat Wajib dan Shalat Sunnah (2014) karya Farid Al-Anshari diterjemah oleh Kholid Abdillah
555. Ayat-Ayat Percepatan Memperoleh Rezeki (2012) karya Mauhammad Hanifiyah
666. Kebiasaan Manusia Super Bahagia (2013) karya DH. Ismail Al Faruqi, S.Ag., M.Si. dan DR. H. M. Syahrial Yusuf, SE, MM.
777. Jokowi Orang Desa Yang Luar Biasa (2014) karya Sandhy Aditya B.
888. Cerdas dengan Bermain (2013) karya Bunda Nisrina
999. Mengetahui Problema Kesehatan Anak ( 2013) karya dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, Sp.A., M. Biomed
1110. Mengenal, Mencegah, dan Mengobati Gangguan Kesehatan pada Balita (2011) karya dr. Arief Dwi Sudarmoko
1111. Tanya Jawab Perkembangan dan Kesehatan Balita (2012) karaya Yuyun Wulandari
1112. Anakku Hebat Penuh Bakat Menemukan Potensi dan Bakat Anak Sejak Dini (2014) karya Muhammad Subhi Abdussalam
1113.  Rahasia Hamil Cantik, Aktif, & Sehat (2013) karya Kara Nina
1114. Membaca Garis Tangan Anak (2009) karya Anne Hasset dan diterjemah oleh Ade Fiea
1115. Olahraga Dan Makanan Sesuai Golongan darah (2015) karya Ida saraswati
1116.  Yoga untuk Pasangan suami Istri (2011) karya Eduard de Grave dkk.
1117.  Ini Dia Zat Berbahaya di balik Makanan Lezat! ( 2014) karya Rosmauli T., A.Md.Keb dkk.
1818. Good Luck Menciptakan Kondisi Untuk sukses dalam Kehidupan Dan Bisnis (2013) karya Alex Rovira dan Fernando Trias de Bes
1119.  Kuliah Jurusan apa? Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Ilmu Dan Teknologi Pangan (2015) karya Chitra Savitri
2220. Agar Anda Dibayar Lebih Mahal ( 2012) karya Abdi wibowo
2221. Siapapun Bisa Menerbitkan Buku! Rahasia Membuat Buku Mulai Mencari Ide, Menulis, Hingga Menerbitkan (2012) karya Ahmad Fatzin Karini
2222. Cara Mudah Cari Sponsor Event (2010) karya Sonta Frisca Manalu
2223. 50 Kreasi Bros Anting Untuk Kerudung (2014) karya Iva Hardiana
2224. Buku Pintar Mempertajam Foto dengan Photoshop (2015) karya Dila Candra Kirana
2225. Jurus Anadalan Photoshop (2014) karya Sholechul Azis
2226. Kumpulan Lagu Wajib Nasional & Daerah (2017) karya Tim Redaksi  @Dafa  Publishing
2227. Bhinneka Tunggal Ika (2014) karya Bayu Adi
2228. Buku tentang sepak bola (saat ini masih dibawa anak saya dan belum sempat mencari)
2229. Buku belajar menulis untuk anak (saat ini masih dibawa anak saya dan belum sempat mencari)
3330. Yang dua buku judulnya sama yaitu nomor 10 & 27

Mungkin ada yang penasaran tentang banyaknya anggaran yang harus saya keluarkan dari dampet untuk itu semua. Menurut saya pribadi tidak banyak. Bahkan bisa dibilang cukup kecil bila dibanding dengan tunjangan profesi yang saya terima – yang salah satu tujuan pemberian tunjangan tersebut berfungsi untuk mengembangkan kemampuan profesionalitas kerja di bidang pendidik. Selain itu juga relatif kecil bila buku itu saya beli saat buku itu baru terbit. Saya cukup mengeluarkan duit dikisaran 300k saja. Itu pun sudah termasuk dua kulwebiner 2 x 20k untuk ongkos pembuatan sertifikatnya.  Sedangkan untuk bukunya sudah termasuk onkirnya. Pengeluaran ini pasti sangat beda bila buku-buku pas lagi trending di masa-masa baru terbit. Tentu sangat berat karena harus merogoh kocek cukup dalam. Bayangin saja, seandanya perbuku dibikin harga rata-rata 40k terus dikalikan 30an buku kita akan menemukan hitungan Rp 1,2 jt. Saya pun tentu tidak sanggup untuk membelanjakan uang sebanyak itu hanya untuk membeli buku. Ya karena harus memikirkan juga kebutuhan keluarga.

Apakah buku sebanyak itu bisa terbaca semua ya??? Jawabannya insyaallah bisa. Tapi tidak seketika itu terbaca secara langsung. Ya karena pasti ada unsur penghambat lain diantaranya harus menjalai tugas dinas, tugas keluarga dan juga kemampuan baca kilat yang belum begitu saya kuasai. Dan seandainya kemampuan baca kilat saya kuasai mungkin untuk melahap buku-buku tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama, mungkin 4 hari sudah kelar. Karena dengan kemampuan baca kilat kapabalitas baca seseorang bisa diupgrade dengan kecepatan 1 halaman/detik. Bila kecepatan ini saya kuasai untuk melibas satu buku mungkin hanya butuh waktu 30an menit dan paling lama 1 jam. Itu pun sudaha dilakukan pengulangan dua atau tiga kali. Oh ya, terus terang saja pengadaan buku yang cukup banyak ini salah satunya rerinspirasi oleh tip inspiratif DR. Ngainun Naim tokoh literasi dan kepenulisan yang berfesi sebagai dosen di IAIN Tulungaggung yang mengatakan yang penting miliki dulu bukunya dan nanti sewaktu-waktu dibutuhkan kita tinggal membacanya.

Unsur wah ketiga di bulan Juli ini yaitu saya mulai aktif lagi dalam kegiatan literasi bukan saja dalam hal membaca (reading) yang dikarenakan banyaknya buku baru walaupun produk lama. Tetapi juga dalam aktifitas literasi disektor kepenulisan  mulai menemukan spirit baru lagi, terutama menulis di blog pribadi saya.  Selain itu, juga dapat melakukan finishing penulisan kata pengantar buku antologi Mengikat Jejak Covid-19 yang insyallah segera siap dikirim ke penerbit untuk diurus NISNnya.

Tegalrejo, 30/07/2020