(gambar diunduh 19/03/2020 11.30 WIB dari https://ekosistem.co.id/jaringan-otak)
Kemarin sore saya menerima pesan via wa dari seorang ibu yang ada di
Lampung Timur, yang intinya si ibu penasaran dengan komentar saya disalah satu
group fb terkait penawaran saya tentang terapi bioenergi untuk mengatasi
berbagai keluhan yang ada. Dan salah satu penawaran saya berikan kepada ibu ini
atas unggahan yang berisi curhatan tentang keterlambatan anaknya dalam hal
kemampuan berbicara. Kemudian dari tema
ini terjadilah perbincangan atau lebih layaknya sebagai konsultasi seputar
kesehatan khususnya untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi putrinya yang
berupa keterlambatan bicara. Dan bahkan selain keterlamabatan bicara tersebut
diatas, si ibu menambahkan juga keterangan yang didapat dari dokter bahwa si
anak juga mengalami sedikit autis. Dan insyaallah hal ini merupakan dampak samping
atau efek penyerta yang ditimbulkan.
Untuk dapat memberi masukan, saran dan treatmen yang tepat saya pun butuh
informasi yang cukup tentang keluhan anak tersebut terutama dari sisi medis
atau berdasarkan analisa dokter. Mengapa hal ini? Ya karena
secara ke ilmuan teori ini bisa dianggap valid dan bisa dipercaya. Baru
setelah itu dipadu dengan pemikiran serta intuisi saya dalam pemberian terapi
bioenergy agar hasilnya lebih efektif dan cepat terlihat. Bila tindakan ini bisa
membuahkan hasil, tentunya sangat membahagiakan khususnya bagi ibu dan putrinya
tersebut. Sedangkan bagi saya, perasaan senang juga pasti ada karena teori atau
tindakan terapis yang diterapkan bisa diaplikasikan pada orang lain dalam kasus
yang serupa.
Agar tidak terlalu ngelantur pembahasan ini, sepatutnya kita tahu terlebih
dahulu apa itu definisi speech delay – keterlambatan bicara itu. Speech delay
atau keterlambatan bicara merupakan suatu kelainan atau gangguan yang
menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan dan keterlambatan untuk berbicara.
Sehingga kondisi ini berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan anak
terutama dalam melakukan komunikasi dengan orang lain. Bahkan sisi negative
lainnya tidak tertutup kemungkinan berimbas pada kekurang maksimalan pada ranah
intelegensinya. Bila sampai terjadi semacam itu, tentunya sangat disayangkan.
Tentunya untuk mengatasi permasalahan yang cukup pelik ini dibutuhkan adanya
kesriusan, ketelatenan, kesabaran, dan juga waktu yang relative lama.
Setelah mengetahui penjelasan yang didasarkan pada analisa dokter seperti
yang saya uraikan diatas kemudian saya melanjutkan ke pertanyaan berikutnya
yaitu: bagaimana reaksinya saat dia dipanggil. Cepat bereaksi atau tidak atau
dengan kata lain dengar apa tidak? Untuk pertanyaan ini si ibu menjelaskan
kalau anaknya reaksinya sangat baik. Berdasarkan jawaban tersebut saya berani
menyimpulkan bahwa si anak telinganya normal dan peluang pembenahaman kemampuan
bicara yang mengalami keterlabatan bisa dilakukan dengan baik. hal ini
didasarkan pada asumsi bahwa memori otak si anak mampu menerima dan menyimpan
berbagai data/informasi yang berupa suara lewat pendengarannya. Yang jelas saya
merasa optimis yang cukup kuat karena dapat dipastikan si anak bisa bicara
secara baik walau membutuhkan penanganan khusus.
Dan pertanyaan yang terakhir adalah bagaimana suaranya saat dia menangis,
jelas atau tidak dank eras atau tidak? Untuk pentanyaan ini si ibu menjawab
kalau putrinya menangis sangat keras dan suaranya jelas. Dari keterangan
tersbut saya meyakini kalau anak tersebut mampu berbicara dengan baik karena
alat ucap danpita suaranya juga dalam keadaan normal dan sangat dimungkinkan
untuk dapat disingkronkan atara elemen-elemen yang mengalami sedikit gangguan
tadi.
Sekama Layang-layang
Sambil mengetik tulisan di hp untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang
diajukan oleh si ibu tadi, saya mencoba untuk merenung sesaat untuk mencari
solusi yang mungkin bisa digunakan sebagai solusinya. Kemudian dibenak saya
terbayang ada 4 titik yang perlu penanganan khusus yaitu dengan cara
pentransferan bioenergy keposisi yang ada, yaitu: otak, telingan mulut (lidah
dan pit suara), dan lambung. Berdasarkan penemuan ke empat titik tersebut saya terinspirasi
untuk menerapinya dengan metode sekema laying-layang. Dan dari sekema laying-layang
tadi dapat dijelaskan sebagai berikut: posisi titik atas dari laying-layang
mempresentasikan posisi otak; kedua titik sayap dari laying-layang
menggambarkan posisi telinga; posisi titik bawah merupakan kedudukan alat ucap;
dan yang satu lagi benang laying-layang mewaliki keberadaan lambung.
Setelah penentuan sekema tersebut saya melakukan pengenergian seperlunya
guna untuk mensinkronkan kinerja sistemsaraf otaknya. Tindakan ini dilakukan
dengan pengaliran energy lewat kedua lubang telinganya. Kemudian dilanjut
maksimalisai kemampuan otak beserta daya ingatnya dengan pengenrgian otak besar
dan kecil lewat dahi/cakra ajna dan juga lewat sisi otak kecilnya. Dari tindakan
ini, selain untuk meningkatkan daya ingat, kecerdasan, serta ketenangan pikir
juga untuk mengentaskan anak dari kondisi hiperaktif ataupun autis – semoga saja.
Setelah itu fase berikutnta adalah pengenergian alat bicara terutama lidah dan
pita suaranya dengan harapan organ ini mampu bekerja secara baik.
Dan baru setelah titik itu berikan treatmen maka tindakan selanjutnya
adalah pensinkronan saraf-saraf yang menghubungkan otak, telinga, dan organ
bicara secara bersamaan. Dalam proses ini, saya merasakan adanya ketidak
sinkronan pada suatu posisi pertemuan atara saraf-saraf tersebut yang yang
letaknya tepat di otak bagian bawah dimana lokasi tersebut saraf otak, telinga
dan pengucap bertemu. Dalam posisi tersebut saya merakan sesuatu yang agak
suram dan tindakan yang saya lakukan sebagai solusinya adalah pembersihan/detok
untuk mengeluarkan zat atau cairan yang sedikit mengganggu tersebut. Dan tahap
berikutnya adalah pengenergian cakra tenggoran pada anak tersebut dengan tujuan
untuk mengaktifkan kemampuan komunikasinya termasuk kemampuan bicaranya. Sedangkan
pengenergian pada lambung bertujuan untuk mereduksi zat hormonal yang menjadi
pemicu anak menjadi hiperaktif ataupun menjadi autis. Ingat ini hanya analisa
saya dan bukan dari susut pandang logika teoritis medistik.
Oh ya hampir terlupakan yaitu satu fase sebelum pemberlakuan pada
titik-titik diatas yaitu adanya langkah ditoksifikasi yang bertujuan untuk
membersihkan semua zat yang memiliki energy negative yang ditengarai sebagi
biang kerok dari permasalahan yang ada. Dan tahap ini sebaiknya tidak
dilewatkan begitu saja karena fase ini merupakan momentum yang cukup penting
untuk persiapan tahap berikutnya.
Progressive report di sore hari
Setelah pemberlakuan terapi 15 menit dipagi hari, pada sore harinya si ibu
tadi melaporkan perubahan yang telah dialami oleh putrinya. Si ibu menceritakan
kalau anaknya seharian ngoceh (ceriwis) terus walau suara yang terdengar belum
begitu jelas bunyinya. Tapi itu perubahan yang sangat berarti karena si ibu
telah menempuh langkah medis selama 7 bulan tidak membawa perubahan sama
sekali. Bahkan itu sudah melalui penanganan spesialis saraf. Saya pun merasa
sangat senang sekali mendengar kabar tesebut. Hal ini berarti metode yang saya
gunakan memiliki keefektifan dan bisa diterapkan pada yang kasus sejenis.
Semoga bermanfaat.
Tegalrejo_Tulungagung, 19/03/2020














