Jumat, 13 Maret 2020

Sebuah Kata Pengantar




           Alhamdulillah, siang ini saya telah merampungkan penulisan sebuah kata pengatar untuk buku Resolusi Literasi Tahun 2020. Sebuah buku antologi dari teman-teman guru di wilayah Kabupaten tulungagung yang tergabung dalam komunitas Guru Pegiat Literasi Tulungagung atau yang lebih familiar dengan sebutan GPLT. Sesuai dengan judulnya, buku ini banyak membahas tentang program kerja yang lebih menyerupai sebuah impian yang ingin diwujudkan dalam rentang waktu satu tahun kedepan. Lebih tepatnya tahun 2020. Dan impian yang disasar adalah kegiatan literasi khususnya dalam hal kepenulisan.

            Kata pengantar buku Resolusi Literasi Tahun 2020 ini saya beri judul Menyusun Resolusi Literasi, Membangun Konsistensi Wujudkan Mimpi. Kata pengantar merupakan karya tulis kedua saya untuk genre ini. Sebelum ini saya telah membuat sebuah kata pengantar untuk buku antologi saya bersama 15 murid SDN 1 Kacangan. Buku tersebut berjudul Ternyata Kami Bisa.

            Dari penulisan dua kata pengantar tersebut saya menempati posisi yang agak berbeda yaitu: untuk buku pertama selain sebagai kontributor/penulis naskah saya memainkan peran sebagai editor. Sedangkan untuk buku yang kedua, selain sebagi contributor saya berposisi sebagai penyunting naskah. Sebenarnya esensi dari kedua posisi ini hampir sama yaitu membenahi atau mengedit sebuah naskah agar sebuah tulis enak dibaca sehingga layak untuk dipublikasikan baik dalam bentuk cetak ataupun dalam posisi digital. Untuk buku Ternyata Kami Bisa, saya memiliki kewenangan penuh untuk melekukan editing - memodivikasi naskah murid-murid saya agar tulisanya menjadi baik dan alur ceritanya menjadi runtun. Sehingga koherensi – ketersambungan dan keholistikan – keutuhan cerita bisa terbentuk secara apik. Sedangkan untuk pengantar buku Resolusi Literasi Tahun 2020 penulisan kata pengantar dalam posisi sebagai penyunting. Dalam posisi ini, cara kerjanya juga hampir sama dalam proses penditan naskah. Tapi sedikit lebih ringan dan memiliki keterbatasan dalam melakukan pengolahan kalimatnya. Hal ini dikarenakan si penulis mengingkan orinilas karyanya. Walaupu kailmatnya sedikit belepotan tapi ada prestice atau kebangaan tersendiri yang dirasa, katanya begitu.

            Entah apapun nama dan posisi kepenulisan yang saya tempati saat menulis kata pengantar baik sebagi editor maupun penyunting naskah itu bukanlah sesuatu yang mendasar untuk dipermasalahkan melainkan lebih penting lagi untuk konsisten dalam berkarya. Karena menurut saya pribadi, kedua kata pengantar tersebut memiliki fungsi yang relatih sama yaitu untuk menghantarkan pembaca poda topik yang dibahas dalam buku yang akan dinikmatinya. Dengan kata lain, lewat kata pengantar tersebut saya bertugas untuk membangun, membentuk dan sekaligus menggiring opini pembaca terhadap buku yang diberikan hantaran teresebut.

Kacangan, 14 Maret 2020

0 komentar:

Posting Komentar