Rabu, 23 Oktober 2019

MENGEKSPLORASI POTENSI ANAK LEWAT TULISAN


Semalem saya mbolos dari kegiatan rewang dirumah tetangga yang juga kebetulan masih family dari keluarga istri saya yang memiliki hajatan untuk mantu (menikahkan) anak laki-lakinya. Saya mbolos, meninggalkan lokasi tersebut sekitar jam 19.15 WIB. Ini berarti saya berada dilokasi perewangan tersebut kurang dari satu jam dan belum sempat membantu apa-apa, baik ngangkat baki untuk antarkan nasi maupun menambahkan kue ke tempat hidangan yang disediakan untuk para tamu yang hadir malam itu.

Keputusan tersebut saya lakukan bukan karena saya ada apa-apa dengan yang punya hajatan tapi karena beberapa pertimbangan dan juga faktor urgensi dan kemendesakkan  yang menempati level pada posisi yang sangat. Yang jelas malem itu rekan perewangan yang masih muda-muda jumlahnya cukup banyak, mungkin dua puluh orang lebih. Hal  ini berarti banyak orang yang nganggur dan factor inilah yang saya jadikan alibi pembenar dari keputusan yang saya ambil untuk meningglakan tempat hajatan tersebut.

Sedangkan delik urgensinya adalah saya harus merampungkan koreksi naskah PTS (Penilaian Tengah Semester)murid kelas 4 yang saya ajar. Karena berdasarkan keputusan rapat dengan Kepala Sekolah raport sisipan besok – Kamis, 24 Oktober 2019 harus dibagikan agar wali murid dapat mengetahui progresifitas yang telah dicapai anaknya di kelas 4. Tentu saja alibi ini sangat bisa dimaklumi oleh semua rekan perewangan yang malam itu hadir disana.

Sesampainya dirumah, istri dan anak-anak saya juga merasa sedikit heran karena saya cepat pulang. Saya pun menjelaskan situasi kondusif yang dilokasi yang ditandai oleh banyaknya yang datang untuk rewang/membantu dirumah hajatan tersebut. Kemudian juga saya beritahu kalau saya juga harus menyelesaikan koreksi naskah PTS yang tinggal membuat skornya serta melanjutkan kedalam pembuatan raport.

Setelah itu saya langsung ambil naskah yang menumpuk dimeja, ambil pulpen dan juga hp untuk mengkalkulasi nilai yang diperoleh siswa pada lembar kertas kerjanya. Sekitar pukul 02.30 WIB saya telah merampungkannya, baik proses penyekorannya maupun pembuatan raportnya. Lumayan bangetlah! Berarti saya bisa  segera merebahkan badan saya yang sudah cukup lelah sejak sepulang dari sekolah belum sempat istirahat – tidur.

Terus apa korelasinya deskripsi diatas dengan judul yang tertulis diatas. Korelasinya adalah selama proses koreksi dan penyekoran tersebut saya menemukan banyak pelajaran yang sangat bernilai dan penting. Pelajaran tersebut berupa penemuan informasi yang sangat signifikan terkait dengan kondisi serta potensi yang ada pada seluruh diri murid-murid saya. Baik berupa gambaran emosi, karakter, bakat-minat, domain ranah kerja otaknya, cara belajar anak dan juga kebiasaan yang dilakukan siswa ketika dirumah. Terutama yang berhubungan dengan penggunakan gadget.

Dari model tulisan tangan yang cenderung amburadul dan acak-acaknya dapat diketahui bahwa anak tersebut sangat sering memegang hp (bermain game) dalam tingkat keringan yang cukup tinggi dan dalam rentang waktu yang cukup lama pula. Hal ini, tentunya berdampak sangat buruk bagi mereka/murid-murid, terutama terhadap kinerja system saraf otak yang mengakibatkan terjadinya penurunan daya ingat, ngedropnya kapabilitas kecerdasan, pikiran susah fokus saat pelajaran dan juga melemahnya daya ingat.

Sedangkan dari sisi kesehatan, terlalu sering mengakrapi hp dengan bermain game bisa menyebabkan gangguan saraf mata karena selalu tegang dalam jangka waktu yang cukup lama yang menyebabkan hilangnya kemampuan akomodasi saraf mata. Terjadinya kepala pusing yang serius karena terpapar gelombang radio aktif dari signal hp. Bahkan tak menutup kemungkinan hal ini dapat memicu timbulnya kanker otak dan juga gangguan jantung.

Dan khusus untuk paparan kelainan jantung dapat dimunculkan lewat kerusakan saraf ujung yang terdapat pada jari-jari yang diakibatkan oleh lamanya ujung jari menunul keyboard hp. Ingat bahya saraf-saraf ujung jari baik tangan maupun jari kaki memiliki keterkaitan secara langsung dengan pembuluh jantung kita. Kondisi ini akan semakin buruk dengan diperparahkannya oleh terjadinya paparan gelombang elektro magnetik dari gadget yang ada digenggaman tangan.

Sedangkan dari sisi psiko-emosional, tulisan yang terkesan semrawut tadi mencerminkan emosi anak sangat labil, egois, temperamen dan cenderung susah diatur. Hal ini merupakan salah satu imbas negatif yang ditimbulkan oleh game baik secara langsung maupun tidak langsung. Dmpak negative tersebut akan semakin tertancap dalam otak yang pada akhirnya akan mempengaruhi serta membentuk keperibadian anak menjadi kasar. Yang perlu di ingat bahwa, sesuatu aktifitas yang akan dilakukan secara berulang-ulang dan dalam waktu yang cukup lama akan semakin mudah terekam secara permanen oleh memori otak kita baik dalam memori jangka pendek amaupun jangka panjang.

Langkah-langkah solutif yang perlu diambil untuk mengatasi permasalah semacam ini agar kondisi psikologis, kecerdasan, daya ingat dan karakternya yaitu dapat dilakukan dengan menerapkan program menulis huruf tegak bersambung. Pada posisi inilah penerapan NLP yang dikomparasi secara bebarengan dengan kemampuan grafologi akan memainkan efektifitasnya dalam membenahi/menerapi kelainan yang terjadi. Tapi sayangnya, saat saya menerapkan pendekatan ini murid-murid kurang menyukainya. Menurutnya menulis dengan huruf tegak bersambung terasa sangat sulit. Dan yang pasti dari situasi semacam ini target yang ingin saya sasar dari pemrograman tersebut menjadi sulit untuk dipenuhi.

Langkah alternatifpun harus tetap dicari untuk dicobakan untuk menyelamatkan masa depan mereka. Alternatif berikutnya adalan melalui program penulisan cerita seperti pada angkatan sebelumnya, yaitu yang pernah dilakukan untuk mereka yang saat ini sudah kelas 5. Program yang ditempuh adalah pembenahan dan penguatan karakter dan kepribadian siswa dengan menulis cerita. Dengan penulisan cerita ini, personality siswa akan terpola dengan penciptaan/pengahdiran karakter protagonist dalam penokohan cerita tersebut. Ingat, pada usia ini domain kinerja otak masih didominasi oleh otak bawah sadar dan dalam proses kerjanya otak bawah sadar tidak mengenal apakah cerita itu nyata atau tidak. Yang jelas berdasarkan kemampuan imajinasinya anak seusia ini sering kali mengidentikkan dirinya dengan tokoh yang dipujanya baik yang ditemukan dalam buku cerita maupun tokoh idola yang dilihat dalam film.

Dan yang tidak kalah pentingnya dari penemuan diatas, saya juga mendapati diferensiasi kemampuan siswa yang sagat beragam terutama bila disinggungkan dengan masalah intelektual-intelegensitas, bakat-minat, dan juga tipe belajarnya. Untuk mengakomodasi keperluan tersebut tentu dibutuhkan wawasan pengetahuan yang memadai baik dalam melakukan pendekatan, pemilihan metodologi maupun penerapanya sehingga semua potensi yang ada pada anak didik bisa tereksplorasi secara maksimal. Hal ini mengingatkan saya pada salah satu pernyataan M. Chotib dalam salah satu bukunya yang mengatakan guru yang hebat adalah guru yang mampu menemukan dan mengoptimalkan semua potensi ada pada diri anak didiknya. 

Semoga pembelajaran yang saya alami semalam mampu menginspirasi kita semua untuk semakin matang, aamiin.


0 komentar:

Posting Komentar