This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 28 Agustus 2020

LEGITNYA SAYUR BLENDI KORONYA

 

Saya merasa sangat senang sekali saat menerima ajakan Prof Ngainun Naim untuk membuat buku antologi dengan mengusung tema kuliner jangan blendrang. Tepatnya tiga hari yang lalu dengan tenggang batas penyetoran naskah 4 hari setelah pengumuman. Empat hari merupakan rentang waktu yang lebih dari cukup untuk membuat blendrang. Tapi juga waktu yang relative singkat untuk sekedar membuat tulisan. Apalagi kalu kemampuan nulisnya masih memiliki ketergantungan dengan mood.

Dari batasan waktu tersebut saya memilih untuk setor paling akhir saja, yaitu saat date line atau saat jatuh tempo. Keputusan tersebut saya ambil karena dua alasan, yaitu: yang pertama karena tulisan baru kelar hari ini, dan yang kedua karena rentang waktu tiga hari saya anggap sangat cukup untuk membuat cita rasa jangan blendrang menjadi lebih legit dan jangget banget di lidah. Karena kekhasan itulah jangan blendrang terkonsep secara kuat di dalam otak.

Bahkan karena ke khasan jangan blendrang tersebut, seringkali saat menyantapnya pikiran kita terserap kembali kemasa lalu. Saat-saat kita masih kecil. Saat masih bersama ibu, bapat, adik, kakak, dan juga orang terkasih dalam hidup kita dimasa lalu.  Ya semuanya bisa termunculkan kembali karena sensasi jangan blendrang.

Dalam konsepsi ini, agar jangan blendrang tidak terkesan ndeso serta terkesan ketinggal jaman maka saya ingin menghadirkan nuansa yang lebih kekinian dengan memberi nama yang lebih jreng dan lebih ngehh.  jangan blendrang dengan sebuatan sayur blendi. Seperti yang kita tahu bahwa kata sayur itu memang sama saja baik makud, arti maupun wujudnya, yaitu sayur yang sudah lewat. Dalam konteks ini kita sedikit memasuki ranah gaya bahasa yang heterologoi. Suatu gaya bahasa yang digunakan untuk menyebut sesuatu yang sama tetapi menggunakan kata yang berbeda.

Oh ya, mungkin ada yang penasaran apa sih sayur blendi koronya itu? Ih kok sedikit ngeri karena mirip-mirip dengan virus yang lagi pandemic saat ini, yaitu virus Corona atau Covid-19. Sayur blendi yang saya maksud di sini adalah jangan blendrang dik ingi kalau di Indonesiakan jadi sayur kemarin. Sedangkan koronya lebih mengacu pada bahan yang dijadikan jangan blendrang tadi. Dan bila mengacu pada judul tulisan diatas maka baha yang dipilih berupa koro.

Ada satu alasan mengapa saya memilih sayur blendi dengan bahan dasar koro karena waktu itu orang tua saya selalu menama koro dipinggiran tegal/lading. Sedangkan lading bagian tengah sebagian ditanami Lombok dan yang sebagian ditanami singkong untuk bikin gaplek. Sehingga saat tanaman koro dan lomboknya bebuah dalam jumlah yang banyak ibu saya selalu njangan koro dalam ukuran yang lebih. Baik koronnya maupun lomboknya. Hal itu dilakukan dengan pertimbanagan lebih irit dan lebih praktis. Karena dengan sekali njangan – koro sekuali dengan lombok hijau satu sampai dua kilogram lombok yang masih diutuhkan bisa dikonsumsi selama dua atau tiga hari. Tentu saja dengan lombok seukuran itu rasanya cukup pedas.  Tapi saat menyantapnya, sambil nyletetin lomboknya untuk dicampur dengan nasi sebelum dimakan rasanya asik juga. Tapi ingat, makannya tidak boleh kebanyakan karena bisa bikin perut mules-mules dan terasa panas saat BAB.

            Menurut pemikiran saya, saat membicarakan jangan blendrang, sebenarnya terdapat banyak unsur nilai kearifan lokal yang didalamnyan. Nilai-nilai kearifan tersebut diantaranya: yang pertama yaitu adanya manajemen waktu. Hal ini bisa kita cermati dengan prosesi masak yang hanya membutuhkan sekali masak dan hasil masakkanya bisa digunakan untuk beberapa hari berikutnya. Hari berikutnya tinggal ngenget/memanasi saja. Maka di sini terjadipenghematan waktu. Sehingga hari berikutnya bisa dimanfaatkan untuk mengerjakan aktifitas lainnya. Biasanya untuk nggaplek – ngoncek telo setelah itu dijemur dibawah terik matahari.

            Yang kedua yaitu muatan nilai ekonomis. Nilai ekonomisnya bisa didapat dari pengiritan bahan bakar, bumbu masak, dan juga waktunya bisa digunakan untuk kegiatan produktif lainnya. Bahkan saat saya kos ketika kuliah di UMM dulu juga tidak lepas dari kemaslkhatan secara ekonomis dari blendrang. Tapi blendrangnya bukan blendi koronya. Blendinya berupa sambel terasi yang dibikinin ibu saya setiap kali saya pulang. Tiap bulan saya sangu blendi sambel terasi satu botol aqua ukuran satu literan. Ya lumayan dengan bekal sambel satu botol tadi bisa menghemat biaya pengeluaran kira-kira dua mingguan. Blendi banget kan???

            Yang ketiga berupa nilai syukur. Nilai syukur bisa pantik oleh adanya keikhlasan yang tulus dari dalam hati. Ikhlas untuk menerima dan menikmati rejeki apapun bentuknya. Walau itu berupa jangan blendi koronya ataupun sebatas sambel terasi. Tapi di situ terdapat nikmat yang luar biasa. Daintaranya karena blendi sambel terasi kuliah saya bisa rampung dan bisa jadi PNS lewat jalur yang tidak sewajarnya, yaitu jalur data based.

            Dan yang keempat berupa keistikomahan dalam memegang sebuah komitmen. Komitmen di sini bukan hanya terkait dengan masalah blendrang saja. Tetapi bisa ke masalah lain juga. Baik itu di ranah social, norma, maupun pada kehidupan religious. Dengan kata lain, keikhlasan dalam komitmen di sini dapat diartikan tidak gampang waleh atau lenjeh terhadap sesuatu yang telah kita miliki. Mungkin di sinilah letak relevansinya pernyataan Bung Karno andagiomna yang terkenal itu, yaitu JASMERAH. Jangan melupakan sejarah. Sejarah itu bisa berupa apa saja. Kalau dalam konteks personal mungkin rekam jejak masa lalu. Masa di mana seseorang tengah berjuang sebelum titik pencapaian saat ini. Atau bisa juga berupa kenangan yang mampu membangkitkan nilai heroik saat seseorang dalam posisi terpuruk. Atau apalah itu namanya. Yang jelas jangan blendi koronya dan juga sambel terasi ada di dalamnya.

            Sedangkan dari sisi kesehatan, menurut saya tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Asalkan tidak berlebihan seperti yang disarankan oleh Rosulullah saja. Semua pasti aman dan terkendali, yaitu makan secukupnya dan berhenti sebelum kenyang. Terus bagaiman dengan kata dokter? Tidak usah begitu diperhatikan! Asalkan konsep pemikiran yang terinstal di otak kita mengatakan baik dan meyakini blendrang itu baik, insyaallah reaksi negative tidak akan terjadi pada diri kita. Dan dengan sendirinya, pemunculan toksin atau racun yang disebabkan oleh blendrang pasti tidak ada karena apa? Karena konsep atau definisi yang tersimpan diotak bawah sadar tidak mengatakan seperti itu. Sehingga waktu otak sadar melakukan afirmasi apakah blendrang bisa berubah jadi racun yang bisa mengganggu daya tahan dan kesehatan tubuh. Pas afirmasi tersebut dilakukan dan otak sadar tidak menemukan rambu-rambu pesimis semacam itu. Maka  saat program saraf yang telah dikomando oleh otak sadar untuk mencerna makanan berupa bledrang tentu yang dihasilkan adalah sesuatu yang baik-baik saja. Jadi untuk membangun imunitas tubuh yang lebih kuat persepsi positif terkait dengan trust and believe pada jangan blendrang perlu direkonstruksi ulang lagi. Kemudian diganti fomulasi positif dan penuh rasa optimism.

            Hidup blendrang. Hidup blendi koronya. Hidup juga sambel terasi.

Minggu, 23 Agustus 2020

MEMBANGUN KONSISTENSI DALAM KEPENULISAN


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus Versi online/daring (dalam jaringan) kata konsisténsi dikategorikan sebagai kata benda/
n yang didefinisikan sebagai ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak) ~ https://kbbi.web.id/konsistensi. Konsistensi merupakan salah satu faktor penentu dalam pencapaian suatu target kerja. Apa pun itu jenis pekerjaannya. Termasuk didalamnya adalah kegiatan tulis-menulis. Hal in dikarenakan tanpa adanya konsistensi   produktifitas kepenulisan akan mengalami ketersendatan. Bahkan yang lebih fatal lagi kemampuan menulis seseorang bisa semakin tumpul dan hilang sama sekali.  Bila kondisi semacam ini terjadi, tentu saja karya kepenulisan tidak akan pernah bias dihasilkan lagi.

Hal ini searah dengan pernyataan Prof. Ngainun Naim yang dalam bukunya yang berjudul  The Power Of Writing (2015: 50) menyebutkan “agar kita bias menghasilkal tulisan setiap hari dibutuhkan komitmen yang kuat. Tanpa komitmen yang kuat, sulit rasanya menjaga ritme menulis secara terus-menerus. Tetapi jika kita memiliki komitmen yang kuat, berb agai hambatan dapat diatasi.”

Pernyataan Prof. Ngainun Naim diatas lebih dipertegas lagi oleh Hernowo Hasim seperti yang tertulis pada cover buku antologi SPN yang berjudul Resolusi Menulis Menyusun Rencana Mewujudkan Karya (2017) yang secara jelas menyatakan bahwa “Aku juga sadar kemahiran dan kenyamanan menulisku akan hilang sedikit demi sedikit jika tak kujaga dan kurawat. Menjaga dan merawatnya, sekali lagi, hanya dengan berlatih dan menambah pengetahuanku tentangnya. Ini perlu kulakukan secara konsisten. Konsisten disini tidak harus banyak dan berdarah-darah. Sedikit saja (15 – 30 menit), asalkan kulakukan setiap hari tentulah akan membuahkan perbaikan.”

Konsistensi merupakan salah satu bagian penting dari dimensi kepribadian seorang individu secara holistik. Dan untuk merekonstruksi dimensi ini memerlukan rentang waktu yang cukup lama dan harus dibarengi adanya kekuatan niat, tekat, kekhusukan serta keistikhomahan selama dalam menjalani proses. Kemudian rangkaian runtinitas dan  pembiasaan tersebut akan tumbuh dan terbentuk sikap/dimensi kekonsistensian tadi. Mungkin proses semacam inilah penebalan meilin pada otak kita terjadi. Dan bila hal ini bisa terbentuk secara terus-menerus maka hasil akhir (progressif result) akan sangat baik dan relative permanen tertanam dalam diri seseorang.

Seandainya penebalan meilin terbangun memlalui pembiasaan aktivitas menulis tentu dampak positif yang dihasilkan adalah kemudahan dalam melakukan aktifitas kepenulisannya. Baik dalam penggalian ide, penyusunan kalimat maupun dalam pemilihan gaya penulisan yang digunakannya. Bahkan orang telah mencapai fase ini, disetiap harinya dia akan merasa gelisah dan sangat tersiksa bila belum melakukan aktifitas menulis sama sekali. Dia selalu merasa ada kejanggalan karena energy yang terakumulasi dalam meilin kepeneulisan belum tersalurkan.

Tegalrejo, 24/08/2020

Sabtu, 22 Agustus 2020

MENGUSIR RASA PENASARAN

 

foto diunduh dari WinNetNews - Minggu, 23/08/2020, 10.50 WIB

Ah rasa itu? Rasa penasaran! Rasa yang membuat hati dan pikiran saya menjadi gelisah. Rasa itu pagi ini tiba-tiba muncul begitu saja. Gejolak itu membuncah karena telepon dari saudara perempuan misanan saya – anaknya pak de yang ada di desa Karangsari Kecamatan Rejotangan. Dalam sambuang telepon HPnya mbakyu  saya terdengar nada suaranya penuh kecemasan. Dia menceritakan kalau anak laki-lakinya yang semalam diajak kerumah untuk diterapi sakitnya kambuh lagi. Sebuah kecemasan yang sangat wajar bagi setiap ibu bila melihat anaknya sakit. Entah itu tampan atau tidak; cantik atau tidak; penurut ataupun menyebal. Yang   jelas naluri seorang ibu tetap sayang pada anaknya. Semoga kebaikan untuk mbakyu saya adan anak laki-lakinya, aammiin.

 Karena mendengar tuturan tersebut spontanitas hati saya mengajak menghentikan aktifitas yang tengah saya kerjaan dan sesegera mungkin untuk menangani keponakan saya yang merintih menahan rasa sakit dilambung kirinya. Dan seketika itu pula saya katakana “langsung diterapi saja mbak dan siapkan air minum didekat duduknya saat diterapi.” Maka dengan baca basmallah dan mengucap dua kalimah syahadah saya mulai menerapinya agar rasa skit dan penyebabnya segera teruraikan. Sedangkan rentang waktu terapinya kira-kira membutuhkan waktu selama 20 menitan. Sedangkan  terapi yang dilakukan adalah terapi jarak jauh yaitu kira-kira 4 km dari rumah saya yang berada di desa Tegalrejo. Terapi jarak jauh ini tentunya sangat relevan dengan anjuran pemereintah dimasa New Normal lewat Adaptasi Kebiasaan Baru (ABK). Terutama dari ketentuan untuk jaga jarak. Jarak 4 km tentu jarak yang sangat aman baik bagi saya sendiri selaku terapisnya maupun bagi keponakan saya selaku klien.


 Sambil melakukan terapi saya pun melakukan perseluncuran di dumay untuk mencari refernsi terkait dengan keluhan keponakan saya tersebut guna untuk menyakinkan keakuratan prediksi instingtif yang saya lakukan semalam. Naluri saya mencurigai ada permasalahan dikisaran lambung, usus buntu, ginjal bias berupa infeksi maupun peradangan.  Dan dalam perseluncuran tadi saya menemukan informasi yang relative sama (ada kesamaannya) yang dapat untuk digunakan sebagai acuan dalam pemberlakuan treatmen yang tepat agar keluhan bisa terselesaikan. Situs yang saya kunjungi tersebut adalah Alodokter karena situs ini ditangani para profesionalis dibidang medis kesehatan. Jadi sangat kredibel dan akurasinya sangat tinggi.

 Semoga saja kesembuhan segera menghampirinya, seperti saat terapi keluhan yang sebelumya. Sebuah keluhan yang cukup berkepanjangan, yaitu selama 7 bulan harus berdiam dirumah karena badan tidak bertenaga, lambung sakit, dan kepala pusing. Kondisi yang sangat menguras tenaga dan menelan banyak biaya karena harus menjalai rawat inap di RS Madinah dan juga RSUD dr. Iskak Tulungagung tapi hasilnya nihil. Nol besar tanpa ada perubahan yang signifikan. Bahkan keponakan tersebut sempat dilakukan ruýah, dibawa ke ahli saraf, dan ahli pijat urat. Dan Alhamdulillah karena pertolongan Allah SWT semua keluhan tersebut bisa teratasi dengan mediasi terapi bioenergy jarak jauh yang saya lakukan. Dan saya berharap dengan bantuan doa dari rekan-rekan dumay trauma pada lambung kiri keponakan saya bisa segera sembuh, aamiin.

Tegalrejo, 23/08/2020


Senin, 17 Agustus 2020

KETIKA DUA PENDEKAR BERTEMU




Mungkin saat membaca judul tulisan ini sepontanitas pikiran kita terseret dalam situasi jaman kerajaan dimana dunia persilatan dan kependekaran sangat kental.  Entah itu jaman kerajaan Majapahit, Demak, Mataram Hindu, Mataram Islam, Pajajaran, Sriwijaya, Singasari, Kediri, atau manapun. Atau bisa juga terbayang sebuah film Joko Sembung, Wiro sableng, dan film-film laga lainnya. Yang jelas tergambar adalah adanya dua penndekar yang saling berhadapan face to face satu dengan yang lainnya.

Dan bila gambaran tersebut yang muncul dalam pikiran kita, tentu saja hal ini sangat tidak tepat karena saat ini kita sudah hidup di jaman modern dan dalam situasi disrupsi seperti saat ini. Tentu saja konsep kependekaraan konvensional tersebut sudah tidak ada relevansinya lagi. Apalagi konsepsi tersebut dikaitkan dengan ranah leterasi.

Konsep kependekaran disini merupakan sebuah konsep yang memiliki keterkaitan scara erat dengan profesi kependidikan yang kami (saya dan teman saya) sandang saat ini terutama dari susdut literasi. Konsep Pendekar tersebut adalah: Penilik dengan Karya dan Pendidik dengan Karya.

Sebutan pendekar – Penilik dengan Karya sangat tepat disematkan untuk pak Toni Hartono, M.Pd karena beliaunya berprofesi sebagai pengawas TK/PAUD di Korwil Kecamatan Ngunut. Penyematan gelar pendekar ini saya merujuk pada salah satu judul buku karyna beliau yang berjudul Sepak Terjang Pendekar (Penilik Dengan Karya) yang diterbitkan tahaun 2019 yang lalu.  Sedangkan definisi pendekar saya gunakan untuk diri saya sendiri guna untuk mengimbangi pak Toni Hartono, M.Pd dalam candaan saya saat mengikuti pelatihan Microsoft office 365 awal bulan Pebruari yang lalu. Gelar pendekar yang terkhusus untuk saya bukan pendek kekar, melainkan pedidik dengan karya. Tentunya ini ada kemiripan, kecocokan dan juga kesamaan antara keduanya. Kira-kira sebelas duabelas begitulah.

Dari pertemua tersebut tidak menimbulkan keributan apalagi kegaduhan yang ditimbulkan peperangan dua pendekar yang saling berhadapan secara face to face. Yang muncul hanyalah guyonan yang sangat renyah, terutama saat kata dan kalimat yang terlontar dalam perbicangan tadi saya pelintir kesana kemari. Tetapi makna yang dimaksut tetap terfokus dan tidak kabur.

Perbincangan pun kami mulai dari saling menanyakan kabar masing-masing. Dan Alhamdulillah kami berdua tetap sehat serta penuh keberkahan serta penuh limpahan ridhloNya. Aamiin ya rabbal’alamiin. Setelah itu perbincangan dilanjut kemasalah literasi. Disisi ini saya mencoba menyinggung proyek penulisan buku antologi yang melibatkan Penilik TK/PAUD se Jawa Timur yang rencananya dikonsultasikan dan sekaligus minta bantuan dalam proses penerbitannya. Dan saat menjawab pertanyaan tersebut beliaunya sedikit mengeluh karena dari sekian banyak Penilik TK/PAUD yang ada, ternyata hanya terdapat 4 orang penilik yang sudah setor naskahnya. Padahal tenggang waktunya sudah kelewat satu bulan meleset dari target yang telah ditetapkan.

Saya pun sangat memahami kegundahan serta kegalauan yang menyelimuti perasaannya. Perbincangan kami pun terus berlanjut ke hal-hal yang sedikit teorits tapi tidak mengandung unsur klenik sama sekali. Ya, masih tetap seputar literasi dan kepenulisan saja karena tema ini sangat menarik bagi kami berdua. Kemudian saat beliau bercerita tentang tawaran/ajakan menulis ke guru-guru TK/PAUD yang ada di kecamatan Ngunut, beliaunya sangat semangat dan antusias sekali. Beliau pun menunjukkan tumpukan naskah yang ada di mejanya. Saya pun mencoba mengambil beberapa naskah dan membaca sepintas untuk mempelajarinya.

Kemudian secara sepontantas saya menyarankan kepada beliau kalau naskah ini bias dibukukan. Dari naskah yang sudah ada ini jenengan tinggal memoles dan juga sedikit editing agar naskahnya jadi lebih enak dibaca. Bahkan saya juga siap membantunya, baik editing naskah, pembuatan kata pengantar maupun proses penerbitannya. Walaupun tawaran yang saya lakukan itu hanya bermodal kenekatan saja.

Tegalrejo, 18/08/2020


Kamis, 13 Agustus 2020

THE SPIRIT POWER OF MOMENTUM

 

    Pada hari Kamis, 06 Agustus kemarin tepatnya jam 20.22 WIB  saya mendapatkan pesan elektronik via wa dari prof. Ngainun Naim. Dalam pesan tersebut  yang  intinya mengabarkan kalau beliaunya memiliki group literasi dan sekaligus mengundang saya untuk bergabung di dalamnya. Group literasinya  diberi nama Sahabat Pena Kita (SPK). Dan saat mencermati  penamaan group tersebut saya merasakan kalau group ini memiliki  kedekatan  dengan group Sahabat Pena Nusantara (SPN). Praduga instingtif saya ini dilatarbelakangi beberapa alasan sebagai alibi pemebenarnya. Alasan tersebut yaitu:

Alasan yang pertama adalah Fokus orientasi kerjanya sama-sama menyasar pada optimalisasi kegiatan literasi. Cuman benda hanya terletak pada tingkat keluasan wilayah operasionalnya saja. Kalau  Sahabaat Pena Kita hanya mengkhususkan diri untuk menggarap potensi literasi ada di wilayah Kabupaten Tulungagung saja. Sedangkan Sahabat Pena Nusantara  cakupan wilayahnya meliputi seluruh Nusantara.

 Alasan yang kedua yaitu berupa adanya keterlibatan Prof. Ngainun Naim di kedua group ini, baik di SPK maupun di SPN.  Yang mana jejaknya dapat secara mudah saya temukan. Di group SPK peran sentralnya dapat terbaca secara jelas dari pesan elektronik WA yang saya terima yang berisi undangan untuk bergabung di dalamnya. Sedangkan di group Sahabat Pena Nusantara  jejaknya dapat saya ikuti dari dua buah buku antology yang telah diterbitkan oleh SPN dan disitu terulis secara jelas nama prof Ngainun Naim sebagai penyunting atau editor naskahnya. Kedua buku tersebut adalah: Resolusi Menulis Menyusun Rencana Mewujudkan Karya, dan Aku Buku dan Membaca Kisa Persahabatan dengan Buku. Dan dari kedua buku tersebut  telah menginspirasi terlahirnya buku antology bagi group Guru Pegiat Literasi Tulungagung yang terbit di awal tahun 2020 ini. Dalam buku ini saya berperan sebagai inisiatornya dan sekaligus editornya. Walaupun hanya berbekal kenekatan saja karena tidak memiliki ilmu editorial naskah sama sekali. Tapi tetap harus saya syukuri walau disana-sini masih terdapat banyak kekurang pasan dan kekurang telitian dalam melakukan editor naskahnya.  

 Sedangkan reaksi spontanitas yang muncul atas undangan Prof. Ngainun Naim untuk gabung di group SPK saya langsung merimanya tawaran tersebut dengan senang hati. Bahkan penuh antusiasme yang meledak-ledak. Tawaran dan undangan tersebut saya terima dengan  pertimbangan utama yaitu untuk konsistensi saya dalam kegiatan tulis menulis. Sebuah konsistensi merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam segala bidang. Begitu pula dalam aktifitas kepenulisan. Hal ini  saya anggap sangat penting karena hanya dengan konsistensi yang khusuk dan istikhomah segala sesuatunya dapat membuahkan hasil yang baik. Demikian halnya  dengan dunia tulis menulis. Bahkan konsistensi dalam kepenulisan telah saya jadikan targetkan utama dalam  penyusunan resolusi literasi tahun 2020 yang telah terbukukan dalam sebuah buku antologi bersama 16 Guru Pegiat Literasi yang ada di Tulungagung.

 Konsisten merupakan sesuatu yang perlu diperjuangan keberadaannya dalam diri saya. Ya  karena kekurang konsistensian saya ini, seringkali  menyebabkan banyak pekerjaan mengalami keteledoran serta penundaan. Tentu saja semuanya menjadi runyam. Sebagai contoh kerunyaman karena ketidak konsistensian saya dalam kepenulisan tersebut yaitu terjadi pada proyek penulisan dua buku saya yang telah menyebabkan mangkrak hampir 3 tahun. Padahal bagian-bagian dari buku tersebut sudah saya buat, mulai dari penulisan judul, pembagian bab dan pemilahan subbabnya sudah. Bahkan sudah saya buat secara rapi. Buku literatur sebagai acuan pustaka dalam penulisan naskah juga telah ada dalam jumlah yang cukup.  Ya, sekali lagi semua harus terbengkelai karena tidak bisa fokus dalam kekonsistensian tadi.

 Realita tersebut mengingatkan saya pada sebuah unggahan dilaman grafologi yang juga saya kutip dalam penulisan kata pengantar editor buku Resolusi Literasi guru-guru yang tergabung dalam group GPL Tulungagung. Menurut unggahan tersebut dijelaskan kalau banyaknya kegagalan yang dialami banyak orang dalam proses pewujudan resolusi atau program kerjanya yang telah dibuatnya dikarenakan orang tersebut tidak memahami dirinya. Yang akhirnya resolusi yang dibuat asal-asalan tanpa mempertimbangkan  karakter dan potensi dirinya secara baik. Bahkan menurut hasil penelitian hal ini dapat memicu tingkat kegagalan hingga 92%   Grafologi Indonesia  info@grafologiindonesia.com lewat md.authmail01.com (21 Des 2019 12.07).

 Dengan pertimbangan tersebut dan dengan kemantapan hati saya siap bergabung di group SPK. Paling tidak dengan ketergabungan saya di SPK kosistensi dan greget kepenulisan saya bisa terbangun kembali. Entah itu terdorong karena rasa malu bila tidak menulis; rasa tanggung jawab; atau kuatnya rasa gengsi dengan teman yang lain kalau tidak memposting tulisan wajib. Apapun alasannya yang penting spirit dan motivasi didada tetap membakar sehingga meilin saraf yang berhubungan dengan aktifitas menulis semakin menguat. Sedangkan penguatan meilin hanya bisa tercipta melalui proses pengulangan yang ajeg/konsisten dalam rentang waktu yang lama. Tentunya disini kejelian dalam menangkap dan memanfaatkan the spirit power of momentum akan mengkhasilkan sesuatu yang sangat dahsyat bila dalam pengekskusiannya dibarengi dengan kemauan dan mood yang sedang memucak.

 Semoga dengan ketergabungan di SPK Tulungagung mampu membuahkan sesuatu yang manis, baik berupa terkonstruksinya konsistensi pada diri agar lebih permanen maupun dalam  peneloran karya tulis baik artikel maupun dalam bentuk buku “insyaallah”.

Rabu, 12 Agustus 2020

Mission I'm possible

Sejak hari Senin kemarin hingga malam ini saat saya membuat tulisan ini, terus terang hati saya masih diliputi oleh sebuah kekhawatiran. Ya khawatir karena jangan-jangan tulisan ini akan menemui nasib yang sama dengan tulisan harus saya setor untuk hari Senin kemarin. Kalau nasibnya sama berarti saya gagal lagi untuk memenuhi kewajiban seperti rekan-rekan yang lain. Tentunya hal ini sangat berpengaruh pada kredibilitas, akuntabilitas bahkan integritas saya dihadapan rekan-rekan anggota SPK - sedikit baper ah.
Dan jika tulisan ini berhasil diposting serta dishare berarti kesialan tersebut bisa terbayar dengan penuh kelegaan. Yang jelas terasa sangat plong karena kuwajiban bisa tertunaikan walau dengan perjuangan dan susah payah. Dan setelah itu besok malamnya tinggal berburu sunnahnya. Kebetulan besok bertepatan hari Kamis dan malamnya adalah malam Jumat. Sebuah malam yang cukup disarankan karena banyak berkah dan kesunnahan yang bisa dilakukan. Termasuk salah satu kesunnahan tersebut adalah menebar ilmu atau posting tulisan di blog pribadi dan selanjutnya dishare diblog group SPK ini. 
Hhmmm, mantapkan??? 
Bila misi ini bisa terealisasi dengan baik berarti langkah saya telah menapaki jalan yang benar atau istilah kerennya on the track. Dengan kata lain perjuangan yang saya lakukan  telah menghantarkan saya pada suatu keyakinan yang  seperti dikatakan orang "segala sesuatunya akan indah pada waktunya". 
Pokoknya, gitu deh!! Setiap ada kemauan pasti ada jalan dan kalau mentok pada kebuntuan masih bisa bikin jalan  terobosan.  Hal ini selaras dengan sebuah pepatah yang mengatakan seribu jalan menuju Roma.
Mungkin disinilah relevansi sebuah komitmen dalam bingkai kehitaman konsistensi yang ulet yang tersirat dalam filosofi berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Entah apa pun alasannya dan alibi yang terpapar sebagai pembenar dari tulisan ini, yang jelas jerih payah dan semangat pantang menyerah telah membuah hasil yang manis. Aamiin.