Acara
bedah buku ini menghadirkan dua narasumber yang sangat kualified baik dari sisi
akademis maupupun dari sisi keshalehan religiusitasnya. Kedua narasumber
tersebut adalah: Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag – Rektor IAIN Tulungagung dan Dr. Abad
Badruzaman, Lc., M.Ag – Wakil Rektor III IAIN Tulungagung, yang kebetulan kedua-duanya
merupakan penulis dari buku yang akan dibedah
dalam kesempatan tersebut. Karena sebagai penulisnya, tentu saja beliaunya
bukan saja memahami seluk beluk terkait tema yang diangkat tetapi juga tahu
betul spirit atau ruh yang menjiwai serta melatarbelakangi terlahirnya buku
tersebut.
Sedangkan
dua pembahas yang diundang untuk
mengupas buku tersebut adalah Prof. Ahmad Ali Nurdin, M.A., Ph.D. – Dekan FISIP
UIN Sunan Gunung Djati dan satunya lagi yaitu K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag.
– Dekan Pascasarjana UNUSIA Jakarta. Dua pembahas yang sangat matang dalam
ranah pemikiran Islam. Hal ini bisa dipahami karena kedua-duanya merupakan
seorang akademisi yang dinamika pemikirannya cukup berani dan inspiratif
(liberal). Diterminasi pemikiran liberal ini secara jelas terpresentasikan pada
sosok K.H. Ulil Abshar Abdalla, M.Ag. yang mana beliau sangat lekat dengan
pemikiran modernis yang diusung oleh Fazlur Rahman – pemikir modernis Islam
Pakistan dan juga Dr. Nurcholis Madjid – pemikir modernis Islam Indonesia.
Dan
dari pembahasan yang disampaikan oleh K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag terhadap
buku Menggali Spiritualitas Ramadhan Syarah Renungan Rektor IAIN Tulungagung
saya menemukan dua ulasan yang cukup menarik dan layak untuk dikupas dalam
tulisan ini. Yang pertama, saya merasakan kondisi ekstase yang dialami K.H.
Ullil Abshar Abdalla, M.Ag dalam mendeskripsikan spirit yang terkandung dalam
buku yang dibedah. Dalam memberikan penjelasan beliaunya tampak sedikit
kebingungan untuk menjelaskan secara verbal. Kondisi ini terjadi karena beliaunya
telah terserap dalam kondisi ekstase dengan pengalaman spiritualnya. Ekstase
merupakan keadaan di luar
kesadaran diri (seperti keadaan orang yang sedang khusyuk bersemadi), KBBI
Online. Bahkan untuk membantu penjelasannya, beliau sempat merujuk pada
kepadatan muatan kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah yang kepadatan muatannya
membutuhkan beberapa buku penjelas (penafsir). Situasi seperti itulah kondisi
yang dihadai beliau saat mengomentari buku Menggali Spiritualitas
Ramadhan Syarah Renungan Rektor IAIN Tulungagung.
Dan
keganjilan yang sedikit nyleneh kedua berupa saran yang ditujukan pada Prof.
Dr. Maftukhin, M.Ag – Rektor IAIN Tulungagung dan Dr. Abad Badruzaman, Lc.,
M.Ag – Wakil Rektor III IAIN Tulungagung supaya tidak terlalu sering menulis
buku semacam itu. Karena bila terlalu sering akan menyebabkan kepadatan materi
tulisannya menjadi ambyar. Dan untuk memperjelas saran tersebut, K.H. Ullil
Abshar Abdalla, M.Ag. mengibaratkan seseorang yang sedang memeras santan yaitu
bila kelapa parutan terlalu sering diperas maka akan menyebabkan penurunan
kualitas tingkat kekentalan santan yang dihasilkan. Sedangkan waktu yang ideal
untuk menjaga kekentalan santan pemikiran, K.H. Ullil Abshar Abdalla, M.Ag.
menyarankan waktu yang cukup ideal paling cepat anatar 2 sampai 3 tahun.
Menurut pemahamannya, dalam rentang waktu tersebut dianggap waktu yang cukup
bagi Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag – Rektor IAIN Tulungagung dan Dr. Abad
Badruzaman, Lc., M.Ag – Wakil Rektor III IAIN Tulungagung untuk melakukan
pengendapan santan pemikirannya menjadi matang dan bisa terkristalisasikan
menjadi mutiara ilmu yang pemahamannya membutuhkan banyak keberanian untuk menafsirkannya.








0 komentar:
Posting Komentar