Senin, 02 Juni 2025

Mengatasi Gangguan Psycotraumatic

 

Bunga Matahari. ANTARA/Pixabay. 

Pada awalnya saya agak ragu untuk menggunakan judul artikel seperti yang tertulis diatas apalagi dengan tambahan poto ilustrasi yang tidak memnunjukkan kesingkronan sama sekali - maaf poto hanya sebatas pemantas dan penghias saja. problematika ini muncul karena saya mendapati dua referensi kata yang memiliki kemiripan essensi maknawi yang terkandung di dalamnya. Bahkan pada level psikology effeck (dampak psikologi) terhadap diri seorang peyintas dari peristiwa tragis yang pernah dialaminya terutama pada ranah emosional kejiwaannya.

Sedangkan dua referensi kata yang membingungkan tersebut yaitu: kata traumatik dan kata pobia. Menurut naluriah saya kedua kata tersebut memeiliki kemiripan yang sangat menyerupai atau keserupaan yang sangat mirip. Kemudian dari kebingungan tersebut saya kepikiran untuk mencoba minta bantuan pada AI dengan menambahkan kata psyco diawal kedua kata tadi. Dan setelah membaca penjelasan secara definisional saya baru menemukan diksi yang pas untuk unggahan artikel ini yaitu jatuh pada kata psycotraumatic.

Agar kita memiliki pemahaman yang sama rupanya perlu saya kutip dan cantumkan definisi yang ditawarkan oleh AI tersebut sehingga kita sama-sama tahu unsur deferensial titik tekannya. AI mendefinisikan psycotraumatic sebagai pngalaman yang sangat menegangkan dan menyakitkan yang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan emosi seseorang. Pengalaman ini dapat berupa kejadian yang menyakitkan, kehilangan, atau ancaman yang dapat memicu reaksi emosi yang kuat, contohnya bisa berupa pengalaman kekerasan, kehilangan orang yang dicintai, pengalaman perang atau bencana, dan bisa juga pelecehan. Sedangkan untuk kata psycophobia dijelaskan sebagai sebuah ketakutan atau kecemasan yang berlebihan terhadap jiwa atau psikologi sesorang. Kasus psikopobia ini kayaknya mirip dengan yang dirssakan oleh salah satu klien penyintas Covid-19 yang pernah datang kerumah beberapa tahun yang lalu.

Sementara itu untuk mengatasi permasaalahan ini AI menyebutan 3 cara atau tindakan yang sama persis yang bisa dilakukan. Ketiga tindakan tersebut adalah metode terapi, medikasi, dan dukungan sosial.  Dan dalam kasus ini saya memilih menggukan metode terapi – lebih tepanya hipnoterapi. Alasan pememilihan metode ini karena saya sedikit tahu dan juga pernah beberapa kali mencobanya dan alhamdulillah hasilnya sangat efektif – jitu. Treatmen ini juga yang saya terapkan pada salah satu rekan guru pada hari Sabtu kemarin yang akhirnya melatarbelakangi munculnya tulisan ini.

  Hipnoterapi dibilang sangat jitu karena setahu saya metode ini mampu digunakan untuk menghapus atau mendelete black memori yang terekam kuat dalam pikiran bawah sadar seseorang dan berikutnya memprogram ulang atau mendekonstrusinya dengan keyakinan yang lebih baik. Untuk praktik penerapian hipnoterapi ini dapat dengan menggunakan media bantu berupa wangi-wangian ataupun musik dan bisa juga tanpa alat bantu tersebut asal suasananya kondusif , tenang dan frekwensi gelombang otak yang pas untuk dilakukan tindakan hipnosis.

Sedangkan keluhan yang dialami oleh salah satu rekan guru selaku klien yang rasa traumatik karena telah mengalami keguguran pada kehamilan pertamanya. Untuk saat ini klien tersebut tengah melakukan konsultasi medis pada salah satu dokter kandungan guna untuk menjalankan programan kehamilan. Dan menurut hasil konsultasinya kondusi fisik baik tubuh, rahim maupun siklus menstruasinya dan sudah dinyatakan siap untuk hamil. Dalam momen ini hipnoterapi digunakan untuk menghapus rasa cemas dan juga kekhawitan pada klien karena keguguran yang pernah dialaminya beberapa bulan yang lalu.

Tindakan terapi pun dilakukan dislah satu ruang kelas karena kebetulah Sabtu kemarin ada kegiatan pelepasan kelas 6 yang dilakukan di SDN 2 Pandasari. Jadi sekoalahan SDN 1 Pandansari cukup tenang dan baik untuk melakukan terapi. Tentu saja saat dilakukan terapi saya minta ada rekan guru lain yang mengawasi (mendampingi) agar tidak terjadi hal-hal diluar perkiraan PMKG. Maklum kliennya perempuan dan saya laki-laki.

Seperti biasanya, terapi yang saya lakukan tanpa adanya sentuhan fisik sama sekali karena terapi ini dilakukan pada sisi psikologis dan yang pas adalah menggunakan afirmasi secara verbal lewat kata-kata. Ketika proses terapi berlangung 3 menitan, tiba-tiba saja kepanikan terjadi. Klien tadi secara spontan menangis dan suaranya lumayan keras. Pada awalnya saya santai saja namun akhirnya juga sedikit khawatir juga karena suaranya semakin keras dan guru yang ada diluar – di tempat lain jadi dengar dan penasaran. Saya tahu betul bahwa ini merupakan salah satu efek atau reaksi yang muncul dari terapi yang saya berikan. Tapi bukan dari hipnoterapinya melainkan dari terapi bioenerginya.

Akhirnya cerita  yang berlangsung pada kisaran 10 – 15 an menit selesai. Kemudian klien tersebut menceritakan kalau kepalanya saat menangis tadi terjadi diluar kendalinya. Dia bilang tiba-tiba saja menangis dan air mata mengalir cukup deras walau tidak sampai menyebabkan kebanjiran. Dia juga menceritakan saat dia menangis berasa kepalanya dirai-tarik cukup kuat.

Mendengar cerita tersebut saya hanya manggut-manggut dan bilang kalau saya tidak menyentuh apapun. Kalau tidak percaya silahkan tanya pada bu Dian yang menunggu dan duduk di situ sejak tadi. Dan alhamdulillah ending dari treatmen terapi ini klien merasa lebih tenang dan semoga segera mendapatkan momongan yang sholeh sholihah. Aamiin.

 

0 komentar:

Posting Komentar