Pada
awalnya saya agak ragu untuk menggunakan judul artikel seperti yang tertulis
diatas apalagi dengan tambahan poto ilustrasi yang tidak memnunjukkan kesingkronan sama sekali - maaf poto hanya sebatas pemantas dan penghias saja. problematika ini muncul karena saya mendapati dua referensi kata yang memiliki
kemiripan essensi maknawi yang terkandung di dalamnya. Bahkan pada level
psikology effeck (dampak psikologi) terhadap diri seorang peyintas dari peristiwa
tragis yang pernah dialaminya terutama pada ranah emosional kejiwaannya.
Sedangkan
dua referensi kata yang membingungkan tersebut yaitu: kata traumatik dan kata
pobia. Menurut naluriah saya kedua kata tersebut memeiliki kemiripan yang
sangat menyerupai atau keserupaan yang sangat mirip. Kemudian dari kebingungan
tersebut saya kepikiran untuk mencoba minta bantuan pada AI dengan menambahkan
kata psyco diawal kedua kata tadi. Dan setelah membaca penjelasan secara
definisional saya baru menemukan diksi yang pas untuk unggahan artikel ini
yaitu jatuh pada kata psycotraumatic.
Agar
kita memiliki pemahaman yang sama rupanya perlu saya kutip dan cantumkan
definisi yang ditawarkan oleh AI tersebut sehingga kita sama-sama tahu unsur
deferensial titik tekannya. AI mendefinisikan psycotraumatic sebagai pngalaman
yang sangat menegangkan dan menyakitkan yang dapat mempengaruhi kesehatan
mental dan emosi seseorang. Pengalaman ini dapat berupa kejadian yang menyakitkan,
kehilangan, atau ancaman yang dapat memicu reaksi emosi yang kuat, contohnya
bisa berupa pengalaman kekerasan, kehilangan orang yang dicintai, pengalaman
perang atau bencana, dan bisa juga pelecehan. Sedangkan untuk kata psycophobia
dijelaskan sebagai sebuah ketakutan atau kecemasan yang berlebihan terhadap
jiwa atau psikologi sesorang. Kasus psikopobia ini kayaknya mirip dengan yang
dirssakan oleh salah satu klien penyintas Covid-19 yang pernah datang kerumah
beberapa tahun yang lalu.
Sementara
itu untuk mengatasi permasaalahan ini AI menyebutan 3 cara atau tindakan yang
sama persis yang bisa dilakukan. Ketiga tindakan tersebut adalah metode terapi,
medikasi, dan dukungan sosial. Dan dalam
kasus ini saya memilih menggukan metode terapi – lebih tepanya hipnoterapi.
Alasan pememilihan metode ini karena saya sedikit tahu dan juga pernah beberapa
kali mencobanya dan alhamdulillah hasilnya sangat efektif – jitu. Treatmen ini
juga yang saya terapkan pada salah satu rekan guru pada hari Sabtu kemarin yang
akhirnya melatarbelakangi munculnya tulisan ini.
Hipnoterapi dibilang sangat jitu karena setahu
saya metode ini mampu digunakan untuk menghapus atau mendelete black memori
yang terekam kuat dalam pikiran bawah sadar seseorang dan berikutnya memprogram
ulang atau mendekonstrusinya dengan keyakinan yang lebih baik. Untuk praktik
penerapian hipnoterapi ini dapat dengan menggunakan media bantu berupa
wangi-wangian ataupun musik dan bisa juga tanpa alat bantu tersebut asal
suasananya kondusif , tenang dan frekwensi gelombang otak yang pas untuk
dilakukan tindakan hipnosis.
Sedangkan
keluhan yang dialami oleh salah satu rekan guru selaku klien yang rasa
traumatik karena telah mengalami keguguran pada kehamilan pertamanya. Untuk
saat ini klien tersebut tengah melakukan konsultasi medis pada salah satu
dokter kandungan guna untuk menjalankan programan kehamilan. Dan menurut hasil
konsultasinya kondusi fisik baik tubuh, rahim maupun siklus menstruasinya dan sudah
dinyatakan siap untuk hamil. Dalam momen ini hipnoterapi digunakan untuk
menghapus rasa cemas dan juga kekhawitan pada klien karena keguguran yang
pernah dialaminya beberapa bulan yang lalu.
Tindakan
terapi pun dilakukan dislah satu ruang kelas karena kebetulah Sabtu kemarin ada
kegiatan pelepasan kelas 6 yang dilakukan di SDN 2 Pandasari. Jadi sekoalahan
SDN 1 Pandansari cukup tenang dan baik untuk melakukan terapi. Tentu saja saat
dilakukan terapi saya minta ada rekan guru lain yang mengawasi (mendampingi)
agar tidak terjadi hal-hal diluar perkiraan PMKG. Maklum kliennya perempuan dan
saya laki-laki.
Seperti
biasanya, terapi yang saya lakukan tanpa adanya sentuhan fisik sama sekali
karena terapi ini dilakukan pada sisi psikologis dan yang pas adalah
menggunakan afirmasi secara verbal lewat kata-kata. Ketika proses terapi
berlangung 3 menitan, tiba-tiba saja kepanikan terjadi. Klien tadi secara
spontan menangis dan suaranya lumayan keras. Pada awalnya saya santai saja
namun akhirnya juga sedikit khawatir juga karena suaranya semakin keras dan
guru yang ada diluar – di tempat lain jadi dengar dan penasaran. Saya tahu betul
bahwa ini merupakan salah satu efek atau reaksi yang muncul dari terapi yang
saya berikan. Tapi bukan dari hipnoterapinya melainkan dari terapi
bioenerginya.
Akhirnya
cerita yang berlangsung pada kisaran 10 –
15 an menit selesai. Kemudian klien tersebut menceritakan kalau kepalanya saat
menangis tadi terjadi diluar kendalinya. Dia bilang tiba-tiba saja menangis dan
air mata mengalir cukup deras walau tidak sampai menyebabkan kebanjiran. Dia juga
menceritakan saat dia menangis berasa kepalanya dirai-tarik cukup kuat.
Mendengar
cerita tersebut saya hanya manggut-manggut dan bilang kalau saya tidak
menyentuh apapun. Kalau tidak percaya silahkan tanya pada bu Dian yang menunggu
dan duduk di situ sejak tadi. Dan alhamdulillah ending dari treatmen terapi ini
klien merasa lebih tenang dan semoga segera mendapatkan momongan yang sholeh
sholihah. Aamiin.








0 komentar:
Posting Komentar