This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 02 April 2022

Donor Darah, Dampak Genetik dan Status Nasab Perwalian

 

Poto: Dokumen pribadi

Semalam  atau lebih tepatnya pada hari Jumat malam Sabtu, 1 April 2022 kemarin sepulang genduri Megengan di rumah tetangga saya menyempatkan diri melihat Tv guna untuk mengetahui inforfomasi penetapan awal puasa Ramadhan dari pemerintah. Setelah menunggu sejenak akhirnya pengumuman  penetapan awal puasa dari pemerintah yang disampaikan oleh Meteri Agama Bapak H. Yaqut Cholil Qoumas yang intinya menetapkan jatuhnya awal Ramadhan pada hari Minggu, 3 April 2022. Mendengar kabar tersebut saya merasa sangat senang karena satu alasan personal yang melatar belakanginnya 

Alasan tersebut bukan karena belum siap untuk berlapar dan dahaga. Apalagi benci karena tidak merindukan datangnya bulan suci yang penuh berkah tersebut. Tentu saja anggapan semacam itu sangat keliru. Pasti saya sangat rindu. Bahkan rindu banget. Alasannya juga bukan karena saya berada pada fihak yang menyepakati seperti yang di tetapkan oleh pemerintah sehingga puasanya terjeda atau mundur satu hari yang menurut istilah kerenya “pilih poso keri melok bodo disik – pilih puasa belakangan dan hari raya duluan.”  

Satu-satunya alasan yang saya punya yaitu saya bisa merealisasikan salah satu planning yang sempat beberapa kali penundaan yaitu keinginan melakuan donor darah ke kantor PMI Tulungagung untuk yang kesebelas kalinya. Bagi saya kegiatan ini selain memiliki makna kemanusiaan juga sangat baik bagi kesehatan badan utamanya yang berkaitan dengan darah.  

Dari sisi kemanusiaan, dengan melakukan donor darah kita bisa turut membantu meringankan penderitaan orang yang mengalami kekurangan darah dan perlu segera dilakukan tindakan transfusi terutama bagi pasien yang menjalani tindakan operasi maupun kecelakaan yang serius. Sedangkan dari sisi kesehatan, paska donor darah secara otomatis badan terasa lebih nyaman. Perubahan ini dikarenakan adanya proses regenerasi sel-sel darah yang telah menua berlangsung lebih baik. Selain itu juga dapat untuk mengurangi kandungan toksin ataupun zat-zat racun/kurang baik yang menumpuk dalam darah diantaranya kolesterol, zat asam, dan sisa-sisa obat yang telah dikonsumsi saat tubuh merasakan sakit.  

Sebenarnya rencana awal ke kantor PMI Tulungagung sekitar jam 09.30 WIB yaitu setelah selesai membilas dan mengeringkan pakaian yang telah dicuci oleh istri tercinta. Tapi nyatanya pengekskusiannya mengalami kemunduran hingga 3 jam karena saat akan berangkat ada salah satu rekanita beserta suami dan dua anaknya yang telepon mau kerumah minta untuk diterapi atas keluhan sesak nafas pada kedua anaknya dan juga adanya penurunan kinerja hati/liver yang dirasakannya paska terpapar Covid-19 beberapa bulan sebelumnya.  

Untuk kedua anak laki-lakinya saya lakukan beberapa tindakan terapi dengan fokus untuk perbaikan sel genetik, sel darah, fungsi lambung, fungsi paru – jalur organ pernafasan, dan sedikit rekonstruksi saraf otaknya guna untuk penigkatan daya ingat dan ketenangan pikirnya. Sedangkan untuk rekan (ibunya) harus dilakukan terapi jarak jauh karena kedua anaknya sudah mulai marah-marah karena sudah tidak betah untuk menunggu lebih lama lagi. 

Setelah mereka berempat pulang, saya segera sholat Dhuhur dan terus cuss melaju ke kantor PMI Tulungagung. Sampai dilokasi sekitar jam 13,30 an. Namun selama perjalanan menuju lokasi dan bahkan saat merampungkan tulisan ini ada dua pertanyaan yang cukup mengganjal di hati, yaitu : bagaimana pengaruhnya transfusi darah secara genetik pada pasien – genetik heriditas keturunannya dan bagaimana pula setatus kenasabperwalian atas anaknya bila anaknya dihasilkan setelah menjalani tranfusi darah, apakah sama hukumnya dengan ibu sesusuan? Yang jelas dari kedua pertanyaan ini saya tidak memeliki kapasitas keilmuan untuk menjawabnya dan saya sangat berharap Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H,I selaku Guru Besar UIN SATU Tulungagung berkenan memberi pencerahan! 

Monggo Prof. Pencerahannya!