Semalem
saya mbolos dari kegiatan rewang dirumah tetangga yang juga kebetulan masih
family dari keluarga istri saya yang memiliki hajatan untuk mantu (menikahkan)
anak laki-lakinya. Saya mbolos, meninggalkan lokasi tersebut sekitar jam 19.15
WIB. Ini berarti saya berada dilokasi perewangan tersebut kurang dari satu jam
dan belum sempat membantu apa-apa, baik ngangkat baki untuk antarkan nasi
maupun menambahkan kue ke tempat hidangan yang disediakan untuk para tamu yang
hadir malam itu.
Keputusan
tersebut saya lakukan bukan karena saya ada apa-apa dengan yang punya hajatan
tapi karena beberapa pertimbangan dan juga faktor urgensi dan kemendesakkan yang menempati level pada posisi yang sangat.
Yang jelas malem itu rekan perewangan yang masih muda-muda jumlahnya cukup banyak,
mungkin dua puluh orang lebih. Hal ini
berarti banyak orang yang nganggur dan factor inilah yang saya jadikan alibi
pembenar dari keputusan yang saya ambil untuk meningglakan tempat hajatan
tersebut.
Sedangkan
delik urgensinya adalah saya harus merampungkan koreksi naskah PTS (Penilaian
Tengah Semester)murid kelas 4 yang saya ajar. Karena berdasarkan keputusan
rapat dengan Kepala Sekolah raport sisipan besok – Kamis, 24 Oktober 2019 harus
dibagikan agar wali murid dapat mengetahui progresifitas yang telah dicapai
anaknya di kelas 4. Tentu saja alibi ini sangat bisa dimaklumi oleh semua rekan
perewangan yang malam itu hadir disana.
Sesampainya
dirumah, istri dan anak-anak saya juga merasa sedikit heran karena saya cepat
pulang. Saya pun menjelaskan situasi kondusif yang dilokasi yang ditandai oleh
banyaknya yang datang untuk rewang/membantu dirumah hajatan tersebut. Kemudian
juga saya beritahu kalau saya juga harus menyelesaikan koreksi naskah PTS yang
tinggal membuat skornya serta melanjutkan kedalam pembuatan raport.
Setelah
itu saya langsung ambil naskah yang menumpuk dimeja, ambil pulpen dan juga hp
untuk mengkalkulasi nilai yang diperoleh siswa pada lembar kertas kerjanya.
Sekitar pukul 02.30 WIB saya telah merampungkannya, baik proses penyekorannya
maupun pembuatan raportnya. Lumayan bangetlah! Berarti saya bisa segera merebahkan badan saya yang sudah cukup
lelah sejak sepulang dari sekolah belum sempat istirahat – tidur.
Terus
apa korelasinya deskripsi diatas dengan judul yang tertulis diatas. Korelasinya
adalah selama proses koreksi dan penyekoran tersebut saya menemukan banyak
pelajaran yang sangat bernilai dan penting. Pelajaran tersebut berupa penemuan
informasi yang sangat signifikan terkait dengan kondisi serta potensi yang ada
pada seluruh diri murid-murid saya. Baik berupa gambaran emosi, karakter,
bakat-minat, domain ranah kerja otaknya, cara belajar anak dan juga kebiasaan
yang dilakukan siswa ketika dirumah. Terutama yang berhubungan dengan
penggunakan gadget.
Dari
model tulisan tangan yang cenderung amburadul dan acak-acaknya dapat diketahui
bahwa anak tersebut sangat sering memegang hp (bermain game) dalam tingkat
keringan yang cukup tinggi dan dalam rentang waktu yang cukup lama pula. Hal
ini, tentunya berdampak sangat buruk bagi mereka/murid-murid, terutama terhadap
kinerja system saraf otak yang mengakibatkan terjadinya penurunan daya ingat,
ngedropnya kapabilitas kecerdasan, pikiran susah fokus saat pelajaran dan juga
melemahnya daya ingat.
Sedangkan
dari sisi kesehatan, terlalu sering mengakrapi hp dengan bermain game bisa
menyebabkan gangguan saraf mata karena selalu tegang dalam jangka waktu yang
cukup lama yang menyebabkan hilangnya kemampuan akomodasi saraf mata.
Terjadinya kepala pusing yang serius karena terpapar gelombang radio aktif dari
signal hp. Bahkan tak menutup kemungkinan hal ini dapat memicu timbulnya kanker
otak dan juga gangguan jantung.
Dan khusus
untuk paparan kelainan jantung dapat dimunculkan lewat kerusakan saraf ujung
yang terdapat pada jari-jari yang diakibatkan oleh lamanya ujung jari menunul
keyboard hp. Ingat bahya saraf-saraf ujung jari baik tangan maupun jari kaki
memiliki keterkaitan secara langsung dengan pembuluh jantung kita. Kondisi ini
akan semakin buruk dengan diperparahkannya oleh terjadinya paparan gelombang
elektro magnetik dari gadget yang ada digenggaman tangan.
Sedangkan
dari sisi psiko-emosional, tulisan yang terkesan semrawut tadi mencerminkan
emosi anak sangat labil, egois, temperamen dan cenderung susah diatur. Hal ini
merupakan salah satu imbas negatif yang ditimbulkan oleh game baik secara
langsung maupun tidak langsung. Dmpak negative tersebut akan semakin tertancap
dalam otak yang pada akhirnya akan mempengaruhi serta membentuk keperibadian
anak menjadi kasar. Yang perlu di ingat bahwa, sesuatu aktifitas yang akan
dilakukan secara berulang-ulang dan dalam waktu yang cukup lama akan semakin
mudah terekam secara permanen oleh memori otak kita baik dalam memori jangka
pendek amaupun jangka panjang.
Langkah-langkah
solutif yang perlu diambil untuk mengatasi permasalah semacam ini agar kondisi
psikologis, kecerdasan, daya ingat dan karakternya yaitu dapat dilakukan dengan
menerapkan program menulis huruf tegak bersambung. Pada posisi inilah penerapan
NLP yang dikomparasi secara bebarengan dengan kemampuan grafologi akan
memainkan efektifitasnya dalam membenahi/menerapi kelainan yang terjadi. Tapi
sayangnya, saat saya menerapkan pendekatan ini murid-murid kurang menyukainya.
Menurutnya menulis dengan huruf tegak bersambung terasa sangat sulit. Dan yang
pasti dari situasi semacam ini target yang ingin saya sasar dari pemrograman
tersebut menjadi sulit untuk dipenuhi.
Langkah
alternatifpun harus tetap dicari untuk dicobakan untuk menyelamatkan masa depan
mereka. Alternatif berikutnya adalan melalui program penulisan cerita seperti
pada angkatan sebelumnya, yaitu yang pernah dilakukan untuk mereka yang saat
ini sudah kelas 5. Program yang ditempuh adalah pembenahan dan penguatan
karakter dan kepribadian siswa dengan menulis cerita. Dengan penulisan cerita
ini, personality siswa akan terpola dengan penciptaan/pengahdiran karakter
protagonist dalam penokohan cerita tersebut. Ingat, pada usia ini domain
kinerja otak masih didominasi oleh otak bawah sadar dan dalam proses kerjanya
otak bawah sadar tidak mengenal apakah cerita itu nyata atau tidak. Yang jelas
berdasarkan kemampuan imajinasinya anak seusia ini sering kali mengidentikkan
dirinya dengan tokoh yang dipujanya baik yang ditemukan dalam buku cerita maupun
tokoh idola yang dilihat dalam film.
Dan
yang tidak kalah pentingnya dari penemuan diatas, saya juga mendapati diferensiasi
kemampuan siswa yang sagat beragam terutama bila disinggungkan dengan masalah
intelektual-intelegensitas, bakat-minat, dan juga tipe belajarnya. Untuk
mengakomodasi keperluan tersebut tentu dibutuhkan wawasan pengetahuan yang
memadai baik dalam melakukan pendekatan, pemilihan metodologi maupun
penerapanya sehingga semua potensi yang ada pada anak didik bisa tereksplorasi
secara maksimal. Hal ini mengingatkan saya pada salah satu pernyataan M. Chotib
dalam salah satu bukunya yang mengatakan guru yang hebat adalah guru yang mampu
menemukan dan mengoptimalkan semua potensi ada pada diri anak didiknya.
Semoga
pembelajaran yang saya alami semalam mampu menginspirasi kita semua untuk
semakin matang, aamiin.























