This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 03 September 2021

Catatan kecil seputar covid-19

Foto: CNN Indonesia 27 Maret


Apa yang terlintas di dalam pikiran ketika telinga kita mendengar kata Covid-19 


Saya merasa sangat yakin bahwa secara spontanitas akan terbayang stigma negatif terlintas dalam otak kita. Stigma negatif yang muncul mulai dari rasa khawatir, rasa cemas, ketakutan, isoman, rawat inap, dan bahkan sampai kematian. Pokoknya semuanya serba serem dan mengerikan. Tentu saja konsep pemikiran negatif semacam ini dampaknya kurang baik bagi kesehatabila selalu mendapatkan afirmasi penguatan sehingga mendominasi kinerja otak bawah sadar. 


Namun dalam kesempatan kali ini, saya tidak akamembahas Covid-19  dari sisi negatif melainkan dari perspektif positif dan didasarkan pengalaman yang saya alami selama pandemi ini berlangsung. Yang jelas semuanya terkait dengan hal-hal yang baik agar  energi serta vibrasi aura positif bisa terpancar  ke semua orang. Dan semoga saja unggahan/curhatan ini mampu berimbas pada peningkatan imunitas kita bersama, terutama bagi yang membaca tulisan ini. Secara garis besar, pengalaman yang saya samapikan dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu: kategori umum dan kategori khusus. 

 

Yang pertama, kategori umum. Mengapa kok disebut kategori umum? Kategori umum yang saya maksud di sini karena hampir semua orang menjalani dan sekaligus menjalaninya agar terselamatkan dari amukan Covid-19Dari segi kesehatan, kategori ini menuntut semua orang untuk melakukan perubahan perilaku dan gaya hidup secara mendasar yang terkonsep lewat proses Adaptasi Kebiasaan Baru (ABK). Dalam pemberlakuan AKB ini kita dituntut untuk menjalani pola hidup sehat dengan mematuhi protokol kesehatan (Prokesmulai dari memakai masker; rajin mencuci tangan pakai sabun; dan menjaga jarak hindari kerumunan. Dan setelah itu di sempurnakan dengan melakukan vaksinasi.  


Sedangkan dari sistem tata kerja yaitu diberlakukannya Work From Home (WFH) dan dalam konteks dunia pendidikan terpresentasikan lewat dalam bentuk pembelajaran sistem dalam jaringan (daring) dan diluar jaringan (luring). Dan yang pasti pola pembelajaran model ini memiliki banyak celah dan tantangan yang butuh penanganan yang serius. Celah-celah atau titik permasalahan tersebut mulai dari kurang siapnya guru terutama dalam pemanfaat IT; lemahnya jaringan internet; besarnya biaya untuk pembeian kuota internet; dan juga terkendala dengan masalah kepemilikan sara IT ( HP android). 


Yang kedua adalah kategori khusus. Saya kategorikan khusus karena hanya sebagian kecil orang saja yang mengalaminya. Atau bisa juga dikatakan saya saja yang mengalmi kejadian khusus tadi. Walaupun pernyataan ini tidak bisa dianggap benar secara seutuh. Kejadian khusus yang pertama yaitu saya beserta 15 rekan guru yang tergabung dalam komunitas Guru Pegiat Literasi Tulungagung (GPLT) berhasil mendokumentasikan pandemi Covid-19 dalam bentuk buku antologi yang berjudul “Geliat Literasi Dalam Mengikat Jejak Covid-19."


Sedangkan kejadian khusus berikutnya yaitu saya mendapatkan kepercayaan dari beberapa teman dumay yang positif terpapar Covid-19 untuk membantu penyembuhan lewat terapi jarak jauh dan alhamdulillah ternyata  hasilnya lumayan baikDari 12 klien yang positif terpapar Covid-19, bisa terbantu dan sembuh lebih cepat dengan pemberlakuan satu samapi tiga kali terapi saja. Sedangkan sisanya yaitu tiga orang tidak bisa tertolong karena saat minta dibatu terapi sudah dalam kondisi kritis. Dari kedua belas klien tersebut jaraknya sangat berjauhan dengan rincian 3 orang ada di wilayah Kabupaten Tulungagung, 1 orang di Pare Kediri, 1 oarang di Lamongan, 1 orang di Tangerang Selatan, 1 orang di Serang Banten,  1 orang di Karangploso Malang, 1 orang di Bondowoso, dan 3 orang di Kertosono. Semoga 9 klien yang telah sembuh selalu sehat dan bagi 3 klien yang telah berpulang bisa khusnul khotimah. Aamiin.

 

Tegalrejo - Jumat, 03/09/2021

 

Senin, 26 Juli 2021

Ketika Isaac Newton dan Cak Nun Hadir

 


Sumber Foto: idntimes.com


Pada Minggu pagi tanggal 18/07/2021 yang lalu saya sempat menelusuri unggahan yang ada di komunitas Sahabat Pena Kita Tulungagung (SPKTA atau SPeKTA). Di sana, saya mendapati dua un
ggahan yang cukup menyegarkan dan sekaligus menyehatkan. Unggahan yang sifatnya menyegarkan berasal dari tulisan kang Kamim Tohari. Sedangkan yang menyehatkan berasal dari tulisan kang Woko Aljonggoly.

Kedua tulisan tersebut akan terasa sangat pas ketika tulisan tersebut dibaca pada pagi hari yang cukup romantis (ora mangan tapi atis atau dingin). Atau paling tidak dari kedua artikel tersebut kita masih tetap mendapat asupan nutrisi yang lumayan baik yang secara tidak langsung akan berdampak positif terhadap imunitas tubuh.  Walaupun itu hanya sebatas masukan imateri karena hanya menyasar salah satu elemen dari bagian tubuh yaitu pada dimensi otak.

Sedangkan dari buah labu, saya tidak menemukan adanya kandungan vitamin seperti pada buah ceri. Tapi dari buah labu saya menangkap kegunaannya saya yang secara implisit terselib pada huruf awal buah labu yaitu berupa huruf L. Huruf L di sini disinyalir berasal dari kata serapan bahasa Inggris yaitu low yang artinya rendah. Mungkin dari konsep inilah buah labu dimanfaat sebagai media herbal untuk menurunkan hipertensi dan juga menurunkan kolesterol.

Salah satu tulisan tersebut bisa dikatakan menyegarkan karena dalam ulasannya mencantumkan nama buah-buahan Dua diantara nama buah tadi adalah buah ceri dan labu. Bahkan nama kedua buah tersebut, oleh Kang Kamim Tohari telah dipilih untuk dijadikan judul dari tulisan yang saya maksud. Dan yang saya tahu buah ceri itu mengandung vitamin C walau tingkat kadarnya tidak mencapai 1000 seperti yang terdapat pada minuman suplemen yang terjajakan dirak toko. Dan kandungan vitamin C ini dari buah ceri saya tahu dari huruf C yang terletak diawal kata ceri.

Sedangkan dari buah labu yang tergolong bukan buah karena buah ini tidak bisa dimakan langsung bila tidak dimasak terlebih dahulu. Selain itu buah labu juga tidak memiliki rasa manis layaknya buah-buahan yang lain, kecuali hanya rasa hambar (anyep). Makanya buah labu digolongkan sebagai buah sayur. Secara lebih detail lagi, menurut pengamatan saya buah juga tidak mengandung unsur vitamin seperti pada buah ceri. Walaupun begitu buah labu sebagai sayur memiliki kemanfaatan yang tidak kalah esensialnya disbanding dengan buah ceri. Sejauh yang saya tahu buah labu memiliki kegunaannya yang secara implisit terselib pada huruf inisial awal dari namanya yaitu berupa huruf L. Huruf L di sini disinyalir berasal dari kata serapan bahasa Inggris yaitu low yang artinya rendah. Mungkin dari konsep inilah buah labu dimanfaat sebagai media herbal untuk menurunkan hipertensi dan juga menurunkan kolesterol.

Sumber Foto: www.caknun.com
Dari artikel kedua yang ditulis oleh kang Woko Aljonggoly di blog Woks Intitut, saya anggap menyehatkan karena dalam tulisan tersebut disinggung masalah sepak bola. Tentunya sebagai salah satu cabang olah raga, sepak bola dianggap sangat menyehatkan, terutama bagi pelaku dan juga bagi fihak-fihak yang memiliki keterkaitan dengan olah raga tersebut. Karena dalam olah raga ini dibutuhkan adanya stamina, enduran, vomax, dan nutrisi yang memadai. Walaupun tak jarang dari cabang olahraga ini juga menyebabkan kondisi penmain yang tidak sehat, mulai cedera engkle, harmstring, kesel/capek, keseleo, patah tulang, dan bahkan beberapa diantaranya berujung pada kematian.

Dan yang lebih menarik lagi, saat membaca dua unggahan tadi mampu menghantarkan imajiner saya untuk merasakan kehadiran dua sosok fenomenal dan cukup berpengaruh. Paling tidak anggapan dan penilaian saya yang subjektif ini. Entah menurut persepsi dan dari sudut pandang kaca mata kalian. Toh semua itu syah-syah saja dan juga boleh-boleh sajadalam melakukan apresiasi terhadap segala sesuatunya.

Terus terang dua sosok tersebut bukanlah sosok kang Kamim Tohari maupu kang Woko Aljonggoly selaku penulis dari artikel yang saya baca pagi itu. Karena mereka berdua saya anggap belum memenuhi kriteria untuk dianggap fenomenal. Kedua tokoh fenomenal yang saya maksud tersebut yaitu: sosok Isaac Newton dan satunya lagi sosok budayawan asal jombang yaitu Cak Nun Emha Ainun Najib. 

Yang pertama sosok Isaac Newton hadir untuk memperkenalkan hukum grafitasi tasawufnya bersamaan dengan jatuhnya buah ceri yang menimpa kepala Nasruddin Hoja sang sufi jenaka. Maaf istilah grafitasi tasawuf yang saya tulis di sini bukan bermaksud untuk menghadir tasawuf baru sebagai turunan dari Tasawuf Falasafi – seperti yang didefinisikan oleh Fathul Mufid dalam jurnal Addin Vol 2, No 1 (2010) dengan judul Tipologi Tasawuf Falsafi yang dipublish pada tanggal 28 Januari 2014. Tasawuf falasafi, menurut Fathul Mufid didefinisikan sebagai pemaduan antara visi mistis dengan visi rasional atau perpaduan antara tasawuf dengan filsafat, sehingga ajaran-ajarannya bercampur dengan unsur-unsur dari luar Islam, seperti filsafat Yunani, Persi, India, dan agama Nasrani.

Grafitasi tasawuf yang saya maksud di sini adalah untuk menjelaskan sebuah proses penyadaran atau pencerahan pikir terhadap peristiwa dialektika antara hukum perfeksionisme, relatifisme dan idialitas subjektif yang dialami oleh Nasruddin Hoja sang sufi jenaka. Proses dialektik antara ketiga ranah penelaran tersebut bermula saat sang sufi jenaka beristirahat dibawah pohon ceri. Karena semua yang nampak sekeliling terlihat sangat indah serta dalam bentuk dan prosorsi yang proporsinal, maka secara spontanitas si sufi mengakui kesempurnaan Allah SWT atas semua ciptaannya.

Namun pengakuan dan kekaguman itu mengalami kegoyahan ketika si sufi jenaka melihat realita yang sangat kontradiksi yang terdapat pada ukuran buah ceri dan buah labu. Di mana pohon ceri berukuran besar, kuat, dan tinggi malah buahnya sangat kecil. Sedangkan pada labu yang batangnya kecil dan hanya bisa menjajarat ke tamanan lain justru buagnya besar. Tentu  ini suatu kotradiksi paradoksal yang sangat fatal damn sekaligus antitesa terhadap kemahasempurnaan Allah SWT dalam segala hal. Termasuk dalam penciptaan buah ceri dan labu.

Dan ketika keraguan itu semakin memuncak, tiba-tiba saja kepala sang sufi tertimpa buah ceri yang dianggap kecil dan tidak ideal dalam porsi penciptaannya dengan dalih terdapat ketidakproporsionalan dengan bentuk fisik pohon ceri yang cukup kuat dan besar tadi. Namun di situlah titik proses penyadarah serta pencerahan itu terjadi, yang akhirnya menghempaskan ego rasionalitas sang sufi jenaka.

Sedangkan dari unggahan kang Woko Aljonggoly, saat membacanya saya merasa menembus lorong waktu, flashback ke tahun 1992. Dimana saat itu menyaksikan berlangsung perhelatan sepak bola piala Eropa di tv dan yang keluar sebagai jawaranya yaitu timnas Denmark. Saya teringat betul nuansa itu karena hampir seluruh pertandingan dari perhelatan aktar tersebut bisa menyaksikan. Maklum saja karena hampir semua teman kos yang jumlahnya 11 orang gibol (gila bola) semuanya. Bahkan suasan tersebut semakin terasa ciamik, ketika pagi harinya dibumbui dengan mebaca beberapa artikel olah raga yang ada di Koran harian Jawa Pos. Terutama   tulisan essay Cak Nun terdapat dalam rubrik Bola Kultural di Jawa Pos. Tulisannya terasa sangat unik karena analisanya bukan hanya fokus dari sisi teknis keolahragaan – sepak bola, melainkan juga dengan menggunakan terminology religi, budaya, kultural, dan juga filsafat. Pokoknya asik banget.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini yaitu asupan tubuh yang bersifat segar bukan saja sangat baik bagi kesehatan kesehatan tetapi juga mampu mendongkrak imunitas tubuh – ini kesimpulan yang mampu saya buat. Mungkin saja kesimpulan lain juga bisa dibuat dengan formulasi, tata kelola, dan menajamen kata kedalam kalilimat yang lebih elegan lagi. Atau paling tidak, di kepala kita terdapat konsep simpulan dari tulisan ini walaupun tidak bisa tersimpul pada satu titik yang sama. Semua itu benar dan syah-syah saja kok.

 

Rabu, 23 Juni 2021

Sekat Pembatas Buku Baruku

 

 Senin, 21/06/2021 kira-kira pukul 13. 30an lalu tepatnya saat saya sedang rebahan dikamar secara sama-samar mendengar beberapa kali suara ketukkan di pintu rumah. Dan untuk meyakinkan akan kebenaran pendengaran saya pun mencoba bangun, kemudian keluar kamar untuk mengeceknya keluar. Ternyata benar. Di luar berdiri seorang laki dari tim ekspedisi yang sedang menenteng dua bungkusan buku yang telah saya pesan beberapa hari yang lalu dari toko onlineMasing-masing dari kedua buku tersebut adalah: Seni Melatih Pikiran dan daya Ingat setajam Silet - karya Daniel Nugroho - cetakan kedua Pebruari 2019 yang diterbitkan oleh Askara  Bantul Yogyakarta; dan yang satunya lagi berjudul Mindset Mengubah Pola Pikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup  yang ditulis oleh Carol S. Dweck, PH.D. yang diterbitkan oleh penerbit BACA Tangerang. 

Sedangkan tema yang diangkat dari kedua buku  tersebut memiliki saling keterkaitan yaitu untuk melatih kemampuan otak dan yang satunya lagi membahas tentang rekayasa pola pikir manusia. Dan bila ditengok dari tema kajiannya, tentunya kedua buku ini sangat menarik untuk selami karena di dalamnya terdapat banyak informasi yang sangat berguna dalam membantu optimalisasi kemampuan anak dan murid-murid kita.

Namun dalam kesempatan ini, saya bukan bermaksud untuk mengupas isi dari kedua buku yang baru saja saja beli secara onlie tadi. Ya yang pasti karena saya masih sempat membaca beberapa lembar dari salah satu buku tersebut, yaitu buku yang berjudul Seni Melatih Pikiran dan Daya Ingat Setajam silet. Sedangkan yang satunya lagi masih sebatas melihat membaca kata pengantar, daftar isi, dan sinopsis halaman belakangnya saja.  

Foto: dokumen pribadi


Melainkan saya akan menulis terkait dengan kertas penyekat (pembatas) yang terselib di dalam salah satu buku tersebut karena dua alasan. Alasan pertama, karena pada kertas penyekat tersebut terdapat foto sosok literat yang sangat cinta dengan buku, yaitu Bung Hatta. Yang jelas dari sosok Bung Hatta kita bisa mendapatkan banyak pelajaran dan keteladanan terutama terkait dengan buku.  


Sedangkan alasan yang kedua yaitu berupa sebuah quote dari Bung Hatta yang bunyinya “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”  Bagi saya quote statemen ini bukan hanya menarik tetapi juga sangat seksi sehingga mampu membangkitkan memori saya terhadap sebuah cerpen yang pernah saya baca di pertengahan tahun 90an. Sebuah cerpen terdapat dalam sebuah buku mata kuliah Reading  yang seingat saya matkul tersebut diajar oleh Bu Pudji AstutiAlhamdulillah walau kemampuan saya dalam berbahasa Inggris kurang baik tetapi masih mampu mengingat alur ceritanya maupun value (nilai) yang diselipkan dalam cerita tersebut. Yang jelas cerpen ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan quote dari Bung Hatta tadi. 


Foto: dokumen pribadi

Cerpen yang di tulis oleh Anton Pavlovich Chekhov – (berkebangsaan Rusia, lahir 29 Januari 1860, sebagai seorang dokter, cerpenis dan sekaligus dramawan) tersebut berjudul “The Bed” yang kalau diterjemah ke dalam bahasa Indonesia berarti Taruhan (perjudian). Cerpen yang di tulis pada tahun .... bertitik tolak dari sebuah perdebatan seru yang yang melibatkan dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Yang mana salah satunya sebagai bankir dan satunya lagi sebagai lawyer - praktisi hukumSedangkan tema yang diangkat dalam perdebatan tersebut adalah  “Lebih baik mana antara hukuman mati dengan hukuman seumur hidup.”   


Secara garis besar keputusan dari dua tokoh tersebut saling berlawanan. Si bankir menganggap hukuman mati lebih karena menurutnya hukuman mati dapat menghindarkan dari banyak kerugian dari perbuatan yang dilakukan oleh si terhukum. Sedangkan si lawyer menganggap hukuman seumur lebih baik karena selain lebih manusiawi juga masih terdapat banyak hal yang bisa dilakukan oelh si terhukum disisa hidupnya – selama hidup dipenjara.  


foto: dokumen pribadi

Kemudian dari selisih pendapat tersebut si bankir melontarkan tantangan pada si lawyer untuk membuktikan pilihannya kalau hukuman seumur hidup itu lebih baik. Di sini, si bankir menantang (meminta) si lawyer untuk menjalani hidup di tahanan – ruang tertutup selama 10 tahun tanpa boleh melihat luar dan tanpa melakukan komunikasi dengan orang lain. Dan bila masa 10 tahun mampu dilewati, si bankir akan memberikan hadiah uang sebesar $ 10, 000 kepada si lawyer 


Mendapat tantangan semacam itu, si lawyer pun menerimanya dengan sepenuh hati hali ini untuk membuktikan bahwa pilihannya itu benar. Dan sebelum menjalani kesepakatan tersebut, si lawyer mengajukan sebuah permintaan kepada si bankirPermintaannya yaitu setiap minggu si bankir harus menyediakan satu buku. Tidak harus baru tetapi judulnya harus beda. Sebuah permintaan yang cukup gampang dan mudah sekali untuk dipenuhi oleh si bankir - orang terkaya di kota itu. Selain itu, si bankir juga sangat yakin yakin kalau si lawyer tidak akan sanggup mejalani tantangan tersebut. Dan setelah bebarapa hari akan menyerah. Sehingga tidak memerlukan banyak uang untuk memenuhinya.  


Sebagai ending dari cerita cerpen ini disebutkan bahwa si lawyer mampu menjalani tantang 10 tahun hidup dalam tahanan dengan sempurna. Dan hari akhir saat lawyer harus terbebas dari  perjanjian itu tiba si bankir pun merasa sangat cemas karena harus memenuhi janjinya yaitu untuk memberikan uang $ 10, 000 sebagai hadiahnya karena ketika itu si bankir sudah bangkrut dan miskin karena uangnya habis untuk membelikan buku  dan juga memenuhi kebutuhan si lawyer selama di tahanan.  


Kepanikan pun terjadi ketika si bankir mencoba menemui si lawyer dalam tahanannya karena saat dipanggil-panggil si lawyer tidak merespon. Tidak ada jawaban sama sekali. Dalam situasi ini si bankir berada pada posisi cemas, kuatir, panil dan sekaligus gembira. Merasa cemas, kuatir, panik karena takut kalau si lawyer sampai meninggal di dalam tahan. Tentu urusannya akan berkepanjangan. Dan sekaligus gembira seandai-nya si lawyer meninggal karena dia merasa tidak mampu lagi untuk membayarnya.  


Untuk mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya, si bankir memberanikan diri untuk mendobrak pintu ruang yang digunakan untuk menahan si lawyer. Saat pintu didobrak braaakkkk dan pintu pun terbuka dengan susah karena ruangan yang sempit tersebut penuh dengan tumpukan buku. Namun di situ, si bankir tidak menemukan keberadaan si lawyer melainkan hanya menemukan sebuah surat yang ditulis oleh si lawyer yang intinya menyampaikan terima kasih kepada si bankir karena tantangannya dia (si lawyer) bisa banyak membaca, bisa tahu banyak hal, mampu berkunjung ke berbagai tempat, dan juga banyak pengetahuan yang didapatnya.  Dan di akhir suratnya, si lawyer menyebutkan kalau tidak memerlukan uang  $ 10, 000 yang telah dijanjikan karena menurutnya nilainya tidak lebih berharga apa yang diperoleh dari buku-buku yang telah dibacanya selama di tahanan.  


Sebagai kesimpulan dari uraian di atas rajin-rajinlah membaca buku dan juga perbanyak membelinya karena dengan langkah tersebut kita dapat memuliakan ilmu dan sekaligus menghagai penulis buku. 


Mungkin itulah setitik kisah dibalik sekat pembatas buku baruku. 


Tegalrejo – Rejotangan – Rabu, 23/06/2021.