Senin, 26 Juli 2021

Ketika Isaac Newton dan Cak Nun Hadir

 


Sumber Foto: idntimes.com


Pada Minggu pagi tanggal 18/07/2021 yang lalu saya sempat menelusuri unggahan yang ada di komunitas Sahabat Pena Kita Tulungagung (SPKTA atau SPeKTA). Di sana, saya mendapati dua un
ggahan yang cukup menyegarkan dan sekaligus menyehatkan. Unggahan yang sifatnya menyegarkan berasal dari tulisan kang Kamim Tohari. Sedangkan yang menyehatkan berasal dari tulisan kang Woko Aljonggoly.

Kedua tulisan tersebut akan terasa sangat pas ketika tulisan tersebut dibaca pada pagi hari yang cukup romantis (ora mangan tapi atis atau dingin). Atau paling tidak dari kedua artikel tersebut kita masih tetap mendapat asupan nutrisi yang lumayan baik yang secara tidak langsung akan berdampak positif terhadap imunitas tubuh.  Walaupun itu hanya sebatas masukan imateri karena hanya menyasar salah satu elemen dari bagian tubuh yaitu pada dimensi otak.

Sedangkan dari buah labu, saya tidak menemukan adanya kandungan vitamin seperti pada buah ceri. Tapi dari buah labu saya menangkap kegunaannya saya yang secara implisit terselib pada huruf awal buah labu yaitu berupa huruf L. Huruf L di sini disinyalir berasal dari kata serapan bahasa Inggris yaitu low yang artinya rendah. Mungkin dari konsep inilah buah labu dimanfaat sebagai media herbal untuk menurunkan hipertensi dan juga menurunkan kolesterol.

Salah satu tulisan tersebut bisa dikatakan menyegarkan karena dalam ulasannya mencantumkan nama buah-buahan Dua diantara nama buah tadi adalah buah ceri dan labu. Bahkan nama kedua buah tersebut, oleh Kang Kamim Tohari telah dipilih untuk dijadikan judul dari tulisan yang saya maksud. Dan yang saya tahu buah ceri itu mengandung vitamin C walau tingkat kadarnya tidak mencapai 1000 seperti yang terdapat pada minuman suplemen yang terjajakan dirak toko. Dan kandungan vitamin C ini dari buah ceri saya tahu dari huruf C yang terletak diawal kata ceri.

Sedangkan dari buah labu yang tergolong bukan buah karena buah ini tidak bisa dimakan langsung bila tidak dimasak terlebih dahulu. Selain itu buah labu juga tidak memiliki rasa manis layaknya buah-buahan yang lain, kecuali hanya rasa hambar (anyep). Makanya buah labu digolongkan sebagai buah sayur. Secara lebih detail lagi, menurut pengamatan saya buah juga tidak mengandung unsur vitamin seperti pada buah ceri. Walaupun begitu buah labu sebagai sayur memiliki kemanfaatan yang tidak kalah esensialnya disbanding dengan buah ceri. Sejauh yang saya tahu buah labu memiliki kegunaannya yang secara implisit terselib pada huruf inisial awal dari namanya yaitu berupa huruf L. Huruf L di sini disinyalir berasal dari kata serapan bahasa Inggris yaitu low yang artinya rendah. Mungkin dari konsep inilah buah labu dimanfaat sebagai media herbal untuk menurunkan hipertensi dan juga menurunkan kolesterol.

Sumber Foto: www.caknun.com
Dari artikel kedua yang ditulis oleh kang Woko Aljonggoly di blog Woks Intitut, saya anggap menyehatkan karena dalam tulisan tersebut disinggung masalah sepak bola. Tentunya sebagai salah satu cabang olah raga, sepak bola dianggap sangat menyehatkan, terutama bagi pelaku dan juga bagi fihak-fihak yang memiliki keterkaitan dengan olah raga tersebut. Karena dalam olah raga ini dibutuhkan adanya stamina, enduran, vomax, dan nutrisi yang memadai. Walaupun tak jarang dari cabang olahraga ini juga menyebabkan kondisi penmain yang tidak sehat, mulai cedera engkle, harmstring, kesel/capek, keseleo, patah tulang, dan bahkan beberapa diantaranya berujung pada kematian.

Dan yang lebih menarik lagi, saat membaca dua unggahan tadi mampu menghantarkan imajiner saya untuk merasakan kehadiran dua sosok fenomenal dan cukup berpengaruh. Paling tidak anggapan dan penilaian saya yang subjektif ini. Entah menurut persepsi dan dari sudut pandang kaca mata kalian. Toh semua itu syah-syah saja dan juga boleh-boleh sajadalam melakukan apresiasi terhadap segala sesuatunya.

Terus terang dua sosok tersebut bukanlah sosok kang Kamim Tohari maupu kang Woko Aljonggoly selaku penulis dari artikel yang saya baca pagi itu. Karena mereka berdua saya anggap belum memenuhi kriteria untuk dianggap fenomenal. Kedua tokoh fenomenal yang saya maksud tersebut yaitu: sosok Isaac Newton dan satunya lagi sosok budayawan asal jombang yaitu Cak Nun Emha Ainun Najib. 

Yang pertama sosok Isaac Newton hadir untuk memperkenalkan hukum grafitasi tasawufnya bersamaan dengan jatuhnya buah ceri yang menimpa kepala Nasruddin Hoja sang sufi jenaka. Maaf istilah grafitasi tasawuf yang saya tulis di sini bukan bermaksud untuk menghadir tasawuf baru sebagai turunan dari Tasawuf Falasafi – seperti yang didefinisikan oleh Fathul Mufid dalam jurnal Addin Vol 2, No 1 (2010) dengan judul Tipologi Tasawuf Falsafi yang dipublish pada tanggal 28 Januari 2014. Tasawuf falasafi, menurut Fathul Mufid didefinisikan sebagai pemaduan antara visi mistis dengan visi rasional atau perpaduan antara tasawuf dengan filsafat, sehingga ajaran-ajarannya bercampur dengan unsur-unsur dari luar Islam, seperti filsafat Yunani, Persi, India, dan agama Nasrani.

Grafitasi tasawuf yang saya maksud di sini adalah untuk menjelaskan sebuah proses penyadaran atau pencerahan pikir terhadap peristiwa dialektika antara hukum perfeksionisme, relatifisme dan idialitas subjektif yang dialami oleh Nasruddin Hoja sang sufi jenaka. Proses dialektik antara ketiga ranah penelaran tersebut bermula saat sang sufi jenaka beristirahat dibawah pohon ceri. Karena semua yang nampak sekeliling terlihat sangat indah serta dalam bentuk dan prosorsi yang proporsinal, maka secara spontanitas si sufi mengakui kesempurnaan Allah SWT atas semua ciptaannya.

Namun pengakuan dan kekaguman itu mengalami kegoyahan ketika si sufi jenaka melihat realita yang sangat kontradiksi yang terdapat pada ukuran buah ceri dan buah labu. Di mana pohon ceri berukuran besar, kuat, dan tinggi malah buahnya sangat kecil. Sedangkan pada labu yang batangnya kecil dan hanya bisa menjajarat ke tamanan lain justru buagnya besar. Tentu  ini suatu kotradiksi paradoksal yang sangat fatal damn sekaligus antitesa terhadap kemahasempurnaan Allah SWT dalam segala hal. Termasuk dalam penciptaan buah ceri dan labu.

Dan ketika keraguan itu semakin memuncak, tiba-tiba saja kepala sang sufi tertimpa buah ceri yang dianggap kecil dan tidak ideal dalam porsi penciptaannya dengan dalih terdapat ketidakproporsionalan dengan bentuk fisik pohon ceri yang cukup kuat dan besar tadi. Namun di situlah titik proses penyadarah serta pencerahan itu terjadi, yang akhirnya menghempaskan ego rasionalitas sang sufi jenaka.

Sedangkan dari unggahan kang Woko Aljonggoly, saat membacanya saya merasa menembus lorong waktu, flashback ke tahun 1992. Dimana saat itu menyaksikan berlangsung perhelatan sepak bola piala Eropa di tv dan yang keluar sebagai jawaranya yaitu timnas Denmark. Saya teringat betul nuansa itu karena hampir seluruh pertandingan dari perhelatan aktar tersebut bisa menyaksikan. Maklum saja karena hampir semua teman kos yang jumlahnya 11 orang gibol (gila bola) semuanya. Bahkan suasan tersebut semakin terasa ciamik, ketika pagi harinya dibumbui dengan mebaca beberapa artikel olah raga yang ada di Koran harian Jawa Pos. Terutama   tulisan essay Cak Nun terdapat dalam rubrik Bola Kultural di Jawa Pos. Tulisannya terasa sangat unik karena analisanya bukan hanya fokus dari sisi teknis keolahragaan – sepak bola, melainkan juga dengan menggunakan terminology religi, budaya, kultural, dan juga filsafat. Pokoknya asik banget.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini yaitu asupan tubuh yang bersifat segar bukan saja sangat baik bagi kesehatan kesehatan tetapi juga mampu mendongkrak imunitas tubuh – ini kesimpulan yang mampu saya buat. Mungkin saja kesimpulan lain juga bisa dibuat dengan formulasi, tata kelola, dan menajamen kata kedalam kalilimat yang lebih elegan lagi. Atau paling tidak, di kepala kita terdapat konsep simpulan dari tulisan ini walaupun tidak bisa tersimpul pada satu titik yang sama. Semua itu benar dan syah-syah saja kok.

 

1 komentar:

  1. Khas Kak Sam, rinci dan memuat perbendaharaan kata baru. Jazakallah.

    BalasHapus