Sabtu, 13 Februari 2021

Perjalan ke Barat Yang Penuh Makna

 


KP OppoA92

pada hari Kamis, 11 – 02 – 2021 saya melakukan perjalanan kearah barat kayak ceritanya film Kera Sakti bersama Biksu Tong Sam Chong yang sempat tayang di salah satu TV swasta yang ada di Indonesia di akhir tahun 90 an itu. Namun dari arah perjalanan tersebut saya menemukan banyak perbedaanya. Menurut saya, paling tida terdapat 5 items sebagai pembedanya. Kelima items tersebut adalah:

Yang pertama adalah misi yang diemban. Kalau biksu Tong muridnya melakukan perjalanan kebarat untuk mengambil kitab suci dan misi ini adalah mengemban tugas dari sang Budha. Sedangkan saya melakukan perjalan tersebut untuk memenuhi kepentingan pribadi yaitu untuk mengambil  Buku  Antologi Sahabat Pena Kita Tulungagung 2020 dengan judul Membumikan Literasi Secuil Kontribusi untuk Memajukan Negeri di kantor LP2M STAIN Tulungagung.

Walaupun misi yang dijalankan berbeda namun secara esensinya terdapat sedikit kesamaan, yaitu endingnya berupa enlightmen (pencerahan). Kalau Biksu Tong beserta tiga muridnya pencerahan dari sisi teologis religi. Sedangkan misi yang saya tempuh endingnya berupa pencerahana dari sisi akademik literat karena yang saya dapatkan berupa buku yang mendokumentasikan greget dan pergumulan pemikiran para pegiat literasi yang ada di wilayah Tulungagung.

Pembeda yang kedua yaitu dari sisi penokohan pelaku ceritanya. Kalau dalam film Kera Sakti tokoh pelakunya adalah Tong Sam Cong ( Xuan Zang atau Hsuang Tsang); Sun Wu Kong (Sun Go Kong); Wu Cheng En (Pat Kai); dan sha Wu Jing) – samagi-phala.or.id/naskah-dhamma dengan judul Kisah Asli Perjalanan ke Barat. Sedangkan aktor pelaku dari perjalan ke barat mengambil buku antologi adalah saya sendiri sebagai pelaku utamanya karena kebetulan tidak ada temannya.

Pembeda ketiga yaitu setingan waktunya. Kalau seting waktu yang saya jalani boleh dibilang masih baru atau kekinian, yaitu pada hari Kamis, 4 Pebruari 2021. Atau lebih tepatnya 3 hari yang lalu dari saat menulis artikel ini. Sedangkan perjalanan biksu Tong ke arah barat setingan waktunya berlangsung antara tahun 602 – 664 M. Tentu saja rentang waktu yang sangat jauh keberlangsungannya.

Pembeda keempat berupa seting tempat kejadian cerita. Kalau seting tempat kejadian yang ditempuh biksu Tong dari Cina ke India – https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/kisah-asli-perjalanan-ke-barat/ dengan judul Kisah Asli Perjalanan ke Barat.  Dan atau dari Cina ke Arab menurut https://www.facebook.com/santrimubarok/posts/fakta-keislaman-dari-film-kera-saktisobat-pernah-nonton-film-kerasakti-salah-sat/1287027057996735/. Sedangkan seting tempat kejadian yang saya lewati boleh dibilang jalur pendek karena waktu tempuhnya cukup 30 menit sampai 1 jam saja. Yaitu jalur desa Tegalrejo yang masuk wilayah kecamatan Rejotangan dilanjut ke SDN I Kacangan wilayah Kecamatan Ngunut bagian selatan dan setelah itu meluncur ke kantor LP2M STAIN Tulungagung.

Pembeda yang kelima yaitu adanya tantang, halangan dan rintangan. Biksu Tong dan tiga muridnya mendapati tantang, halangan dan rintangan berupa beratnya perjalanan di daerah gurun pasir yang berat dan juga acaman pembunuhanyang dilakukan oleh para siluman karena menginginkan darah suci sang biksu. Sedangkan  tantang, halangan dan rintangan yang saya alami hanya pertanya pak satpam pejaga gerbang masuk lokasi kampus STAIN Tulungagung yang sempat membuat saya sedikit grogi karena  bingung mencari jawaban yang pas. Padahal pertanyaan cukup sederhana dan gampang untuk menjawabnya. Pertanyaannya adalah sebagai berikut:

PS: “Bapak ke sini ada keperluan apa?”

S: “Saya ada keperluan untuk mengambil buku antologi Sahabat Pena Kita yang ada di kanto LP2M pak?” jawab saya meyakinkan.

PS: “Bapak akan mengambilnya ke siapa?”

S: “Saya akan menemui pak Ngainun Naim pak.”jawab saya agak sedikit cemas.

PS: “Apa bapak sudah janjian sebelumnya dengan pak Naim?”

S: “Belum pak?”

PS: “Lha kalau belum janjian terus pak Naimnya tidak ada. Bapak akan menemui siapa?”

S: “Kalau pak Ngainun tidak ada, saya akan menemui mas Fahmi di sana pak.”

PS: “Bapak ini sebenarnya dari mana ya?”

S: “Saya dari SDN 1 Kacangan kecamatan Ngunut pak.”

Dan ini rupanya pertanyaan terakhir yang dilontarkan pak Satpam dalam menginterogasi saya di gerbang masuk tersebut. Setalah itu saya disofgun termo. Sofgun termo merupakan alat atau media protocol kesehatan untuk mendeteksi suhu tubuh bukan sayu sop dan es degun (degan) yang diterima setelah order versi gofood. Setelah itu, pak Satpam mempersilahkan saya masuk wilayah kampus untuk menemui pak Ngainun Naim di kantor sekertariap LP2M.

Sesampainya di kantor sekertariap LP2M tampaknya sangat sepi karena saat saya di depan pintu dan melihat kedalam tidak menemukan orang sama sekali. Saat saya ucapkan salam hingga beberapa kali juga tidak terdengar ada balasan. Kemudian saya pun diam sejenak dan mendengar gemercik air di kamar mandi dalam kantor tesebut. Sesaat kemudian baru saya tahu yang keluar dari kamar mandi tersebut adalah pak Ngainun Naim. Sosok akademisi literat yang saya cari tanpa kesepakat sebelumnya tadi.

Singkat cerita, saya pun disambut dengan baik dan ramah sekali oleh Pak Naim. Dalam pertemuan tersebut selain mendapatkan buku yang telah saya pesan, saya juga mendapat bonus satu buku yang cukup keren yang ditulis oleh Mujamil Qomar yang berjudul Pemikiran Pengembangan Pendidikan Islam (2013). Selain mendapatkan dua buku tersebut, saya juga mendapatkan hal lain yang tidak kalah nilai yaitu: mendapat kesempatan foto bersama untuk kedua kalinya; mendapat banyak informasi tentang banyak hal; dan juga pengarahan terkait persiapan penerbitan naskah buku solo di Akademia Pustaka ataupun di STAIN Tulungagung Press. Insyaallah untuk dua hal terakhir yang berkaitan dengan isi perbincangan saya dengan pak Naim maupun terkait pengarahan rencana penerbitan buku solo tersebut akan saya usahakan ditulis secara terpisah agar bisa tersampaikan secara baik.

Tegalrejo, 14-02-2021



0 komentar:

Posting Komentar