Hari ini Sabtu, 19/06/2021 merupakan momen yang cukup spesial. Paling tidak bagi saya pribadi. Dan entah bagi orang lain. Terasa spesial karena pagi ini saya harus mengambil dua buah rapor dari kedua anak saya, yang kebetulan sekolah di tempat saya ditugaskan mengajar. Rapor yang saya ambil yang pertama untuk anak pertama – cowok yang saat ini duduk di kelas 5 naik ke kelas 6. Sedangkan yang kedua cewek duduk di kelas satu naik ke kelas 2.
Maaf di sini saya tulis naik ke kelas dua dan naki ke kelas 6 padahal saya belum membukanya sama sekali buku rapor tersebut. Hal ini bukan berarti saya sok tahu kayak seorang mentalis, spiritualis apalagi seorang dukunis. Saya menulisnya hanya berdasarkan keyakinan atas kemampuan kedua anak saya yang berada pada level aman (ora kenemenen – bahasa Jawanya). Hal ini mengesampingkan faktor x yaitu adanya rasa ewuh pakewuh karena saya sebagai salah satu guru kelas 6 di sekolah tersebut.
Selain itu keyakinan tersebut saya buat berdasarkan asumsi bahwa seluruh hasil pengerjaan tugas harian maupun pengerjaan soal PTS dan PAT-nya sangat baik. Begitu juga dengan murid-murid yang lain. Fenomena semacam ini bukan hanya terjadi di sekolahan tempat saya saja, melainkan juga terjadi di sekolah lain yang terdampak oleh pembelajaran model daring/luring sebagai imbas dari wabah Covid-19 yang begitu luar biasa edannya.
Dari pencapaian prestasi akademik yang terpresentasikan lewat angka-angka yang relatif sempurna semacam itu. Tentunya hal ini patut kita berikan apresiasi yang sepantasnya. Toh dalam situasi semacam ini anak-anak (murid-murid) masih tetap bisa berprestasi. Walaupun pencapaiannya masih bisa diperdebatkan – dalam artian perlu dilakukan pengkajian yang lebih inten lagi agar keakurasian serta validitasnya bisa terpastikan secara tepat. Sehingga aspek-aspek yang melekat pada diri murid bisa di inisasi dan dipoles agar mampu berkembang secara maksimal.
Dan menurut perspektif pemikiran saya, pencapai positif ini harus ditanggapi dengan pemikiran yang positif juga. Kita tidak boleh under estimate - berprasangka dalam menyikapinya. Kalau menurut kaca mata pemikiran saya paling tidak ada 3 hal yang terbentuk dibalik pencapaian tadi. Yang pertama, semangat belajar murid-murid masih tetap terjaga walau proses pembelajarannya dengan mode daring/luring. Di sini perlu diacungi jempol karena mempertahankan motifasi belajar yang sifatnya fluktuatif itu sangat sulit. Dan agar bisa tetap stabil dalam konsistensi yang stabil membutuhkan bantuan oran lain, terutama dari seorang guru.
Yang kedua, adanya sinergi dan pengertian orang tua dalam membimbing dan mendampingi anaknya selama proses pembelajaran daring/luring diberlakukan. saya yakin benar, tanpa adanya unsur ini anak tidak akan mencapai prestasi secara maksimal semacam ini. Selain itu, dari sinergitas antara orang tua dan anak/murid akan terbentuk dimensi psiko-komunikasi yang semakin baik. Sehingga para orang tua mampu mengenali, memahami, serta memperlakukan sesuai dengan spesifikasi karakter yang ada pada diri anaknya.
Dan yang terakhir anak memiliki kemampuan untuk memanfaat kemajuan dibidang IT terutama dalam pemanfaatan gadget berbasis android secara baik dalam urusan yang bersifat positif. Tentu ini sebagai sesuatu yang menggembirakan. Atau paling tidak anak-anak/murid sudah bisa melatih dan mempersiapkan diri sejak awal untuk memasuki era milenial ke depan.
Kacangan, 19/06/2021








Tetap semangat itulah kenyataannya
BalasHapusSetuju pak
BalasHapusTulisan yang penuh inspiratif, walaupun saat Pandemi seperti ini ternyata pak guru tetap optimis dalam menyongsong masa depan murid-murid nya, Good Job Mr Sam
BalasHapusNggih harus tetap semangat dan penuh optimisme pak biar aura positif yang tersebar bisa berimbas pada muridnya pak
BalasHapus