Sudah beberapa harian
ini saya berusaha selalu mengakrabi kembali salah buku karya Prof Ngainun Naim yang
berjudul, ” Teraju Strategi Membaca Buku & Mengikat Makna.” Walaupun itu terkadang
cuman berlaku beberapa menit saja, yaitu untuk mengisi waktu senggang yang ada –
(padahal santai terus). Oh ya, sebenarnya buku ini pernah tuntaskannya pada
kisaran bulan Desem 2020 yang lalu yaitu pada saat mendapatkan sebagai hadiah
saat mengikuti webiner terkait literasi yang diselenggarakan oleh PGRI
Tulungagung dan pada saat itu Prof. Ngainun Naim sebagai narasumbernya.
Sedangkan alasan yang melatarbelakangi
sedikitnya ada 3 items. Pertama, kerena buku ini merupakan kumpulan resensi
buku maka didalamnya terdapat banyak contoh yang bisa digunakan sebagai acuan bagi
kita untuk membuat resensi secara baik. Dengan kata lain saat membaca saya
melakukan proses ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) yang meliputi cara
langkah-langkahnya, cara menulis dan meramunya, dan keruntunan logika alurnya.
Alasan yang kedua, saya
juga ingin membuat catatan tentang buku-buku yang saya miliki ataupun buku yang
penah saya baca – buku pinjaman. Dan kalau bisa catatan/resensi tersebut juga
ingin diterbitkan dan terdokumentasikan dalam bentuk buku. Walaupun pada
akhirnya setelah menjadi buku yang membaca hanya diri ataupun anak saya tidak
jadi masalah.
Sedangkan alasan yang
ketiga atau yang terakhir yaitu saya ingin memberikan penghargaan atas karya
tulis – buku yang hasilkan oleh penulisnya yaitu dengan cara turut membeli dan
juga meresesninya. Sedangkan salah satu penulis tersebut adalah Roni Dewar AlhaFiz Romlan yang berjudul “Teras
Aksara Mengabadikan jejak Menjaring Makna.” Dan semoga selepas ini bisa
dilanjut untuk buku-buku lainnya.








Aamiin Pak Sam. Memang betul bahwa membaca buku perlu dicatat. Karena ingatan kita terbatas. Kadang, saat menulis pun kita perlu merujuk pada beberapa buku. Disini manfaatnya. Ada catatan, proses menulis pun juga bisa cepat
BalasHapus