Selasa, 01 Oktober 2019

MENYELAMI KANDUNGAN NILAI FILOSOFIS DALAM SENI BATIK






”2 Oktober  Hari Bati Nasional. Hari Batik adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai  Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpiece of the Oral & Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober  2009 oleh UNESCO”.

Quote yang dapat dari salah satu teman yang tergabung kelompok GGDN Jawa Tengah dan juga dalam group EW yaitu bu Cibdah. Saya rasa quate tersebut sangat relefan untuk saya comot sebagai lead introduction – paragraph pembuka dari tulisan saya kali ini, terkait dengan peringatan hari batik nasional.

Seperti yang kita tahu, bahwa masyarakat kita kaya akan khasanah budaya, baik dalam bentuk kearifan kultur filosofis, seni, pakaian adat, bentuk rumah, senjata tradisional,  tradisi tata social, kuliner, dan masih banyak lagi. Khusus untuk kesempatan kali ini, tulisan ini hanya akan membahas permasalahan batik. Ya, karena ini bertepatan dengan pelaksanaan hari batik yang telah mendapatkan pengakuan internasional yang terbukti dengan ditetapkannya hak cipta/kepemilikannya oleh UNESCO sebagai milik bangsa Indonesia. Namun untuk pembahasan saya akan menfokuskan pada maslah kandungan nilai filosofis dari karya seni batik. Sedangkan pengkajian dari sisi produksi, pemasaran dan pengembangannya.

Untuk memulai penelusuran terhadap jejak-jejak muatan kearifan kultural lokal kaya akan nilai-nilai filosofis yang telah berkembang dan dipegang teguh oleh masyarakat pengrajin batik, analisa saya akan mengacu pada 5 items yang terselib dari kata batik itu sendiri. Secara morfologi kata batik terdiri dari 5 huruf yang akan jadi acuan tadi. Mungkin dari penjelasan awal semacam ini, pembaca merasa terpantik untuk melontarkan sebuah kalimat tanya yang bernuansa sanggahan “mungkinkah tolak ukur sesimpel itu mampu digunakan untuk mengupas permasalahan seputar batik, apalagi dai sust pandang filosofis?”.

Mungkin persepsip pesimis semacam itu sangat benar bila kita memandangnya dari ukuran yang sempurna, perfeksionis dan holistic. Yang jelas sudut pandang semacam itu bagi saya tidak  begitu esensial karena bila hanya akan menghambat gerak imajinatif kita dalam berekspresi dalam mengapresiasi karya seni batik. Atau paling tidak tulisan ini, bisa sedikit menyibak dari banyal hal yang perlu diketahui.

Ok, langsung saja ulasannya saya awali dari huruf “b” dari kata batik. B bisa dijabarkan sebagai  beraneka, beragam,dan berwarna-warni. Dari bentuk seni batik kita bisa belajar banyak tentang adanya keragaman, keanekaan, perbedaan/ketidak samaan yang berkembang secara baik dalam kehidupan bermsyarakat. Namun keragaman dalam nuansa pluralis dan kemajemukan tersebut akan menjadi sesuatuyang sangat bernilai tinggi bila mampu dikombinasikan dalam perpaduan yang harmonis. Dari harmonisasi warna, corak, model, ragam, dan spiritnya akan mampu mendongkrak aura si pemakai pakaian batik. Begitu pula halnya dalam realita kehidupan bermasyarakat, bila kita mampu melebur secara apik dalam tata social kultural yang ada secara baik tentu kerukunan, perasatuan dan kesatuan akan selalu tercipta secara sempurna dalam alur bingkai harmonisasi yang penuh kehangatan.

A, huruf a menurut saya dari kata batik mengandung makna asik, antik, dan artistis. Seperti kita tahu bahwa seni batik/pakaian batik mengandung nilai seni yang sangat artisitik. Dikatakan artistic karena betik termasuk salah satu karya seni yang penuh keantikkan sebab tidak semua orang bisa membuatnya. Dan juga tidak semua negara memilikinya. Hanya di Indonesia seni batik itu ada. Sedangkan bisa dikatakan asik karena pakaian bermotif batik akan terasa adanya nilai  eksotisme genik yang terasa. Tentu perasaan semacam itu tidak akan kita dapatkan saat kita mengenakan pakaian motif lain.

T, huruf t terkandung makna tematik, tertata, tersetruktur dan teratur. Berbicara masalah batik tentu kita mengenal beraneka ragam dari motif batik. Baik yang ada dia daerah satu maupun dengan daerah lainnya. Dari keragaman tersebut tentu terdapat tema atau nilai historis yang melatar belakangi lahirnya jenis batik yang ada. Misalkan, nilai historis yang terdapat pada batik Kawung, batik Satriomana, batik Gajah Mada dan masih banyak lagi untuk disebutkan. Dari tema historis yang melatarinya maka ditatalah ekspresi warna dilakukan secara teratur dal alur yang pas dan terstruktur secara baik yang klop dengan nilai kultural masyarakatnya.

I, huruf I dapat diartikan sabagai inisiatif, inspiratif dan imajinatif. Untuk penghadiran sebuah karya seni batik tentu memerlukan adanya kemampuan imajinatif yang sangat tinggi dan inspiratif. Selain itu dari sebuah karya batik akan berdampak pada munculnya inisiasi/inisiatif yang mampu merangsang orang lain untuk mengembangkan imajinasinya.


K, huruf k terkandung makna kreatif dan komunikatif. Untuk menghasilkan sebuah karya seni batik tentu dibutuhkan daya kreasi yang sangat mumpuni sehingga wariasi seni batik menjadi sangat beragam dan layak jual. Bahkan dari karya seni batik tentu terdapat nilai-nilai yang bisa disampaikan. Dengan kata lain, karya seni batik  dapat digunakan sebagai media komunikasi yang dapat fungsikan dalam penyampaian pesan kepada orang lain.

Mungkin itulah sekelumit nilai filosofis yang mampu saya kupas dari kata batik dalam rangka hari batik saat ini. Sedangkan kesimpulan dari deskripsi diatas sepenuhnya terserah pada persepsi dan kedalaman wawasan kita masing-masing. Semoga bisa menambah wawasan kita semua, aamiin.
Kacangan, 02/10/19

0 komentar:

Posting Komentar