Buku bukanlah sekedar tumpukan atau bendelan kertas yang disemati oleh banyaknya rangkaian huruf untuk menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi artikel, artikel menjadi sub bab, seb bab menjadi bab, dan akhirnya bab terkumpul menjadi buku. Nilai lebih dari itu semua karena sebuah buku bisa merubah kehidupan manusia dan juga dapat merubah peradaban dunia. Buku pengaruhnya lebih dahsyat dan lebih mematikan bahkan melebihan sebutir peluru/mortir. dalam sebuah kata bijak disebutkan buku lebih hebat dari sebutir peluru, karena sebutir peluru hanya mampu menembus satu kepala sedangkan buku dapat mempengaruhi berjuta-juta kepala.
selain itu, karena esensinya peran buku dalam sebuah peradaban manusia maka tidak salah bila buku dianggap sebagai jendela dunia, sperti yang tertera pada gambar slogan diatas. Menurutku ungkapan tersebut memang sangat benar adanya. Karena sebuah buku
menyimpan banyak misteri yang penuh dengan keajaiban yang bisa mengantarkan kita kemana saja dalam waktu
sekejab. Buku layaknya sebuah mantera yang nilai magisnya luar biasa terutama bagi penulis maupun bagi penikmatnya. Sebuah buku bisa membantu pembaca untuk melakukan relaksasi, refreshing, dan traveling
imajiner buku juga memberikan banyak mutiara ilmu/hikmah didalamnya. Bahkan ada
lebih dahsyat lagi yang ditawarkan oleh buku yaitu: inspirasi, motivasi, dan
perubahan yang berdampak pada kehormatan,
status social, dan finansial seseorang.

Seandainya, dulu
saya sudah mengenal teori membacakilat 1 halaman/detik – Agus setyawan, tentu
saya bisa membaca semua buku yang ada diperpus UMM yang jumlahnya 15.000 saat
itu – tahun 1991/1995. Wah saya pasti lebih hebat dalam artian kaya ilmu dan
luas wawasannya. Tentu amazing banget. Sayangnya saat itu sampai kini, menurut
perkiraan saya masih membaca buku
dikisaran 300 buku (buku diluar pelajaran) saja dengan rincian 100 buku dimasa kuliah (40 buku literature penyusunan
skripsi yang rata-rata bahasa Inggris, 60an buku sifatnya umum mulai bukunya
Cak Nun, Nurkholis Madjid, Jalaludin Rahmat, Frans Magnessuseno, Dr.Fatchurrahman,
Dr, Schuler, dan masih banyak lagi). Rentang waktu 1996/2008 saya banyak
membaca buku dari perustakaan SDN Tenggong 1 & 2, Perpusda Tulungagung dan
Perpus Akper Bakti Husada Tulungagung melalui adik saya yang saat itu kuliah
keperawatan disana. Dan mungkin jumlahnya 50 – 70 an. Dan yang terakhir 2009
sampai saat ini, saat saya telah menjadi PN kira baru 120 – 150 an buku. Baik dari
perpustakaan SDN 1 Kacangan yang mendapatkan program perpustakaan dan sekitar
100an perpus pribadi saya yang ada dirumah. Dan semoga saja perpus pribadiku
bisa terus bertambah hingga mencapai 1000 buku, yang sebagian adalah karya
tulis saya baik antologi maupun karya mandiri.
Untuk mengatasi
rasa kecewaku terhadap masa laluku terkait aktivitas membacaku maka aku obati
dengan pembiasaan melakukan kegiatan menulis sehingga saya menjadi lebih rajin
dalam mencari informasi dari banyak buku – program untuk pribadi saya. Selain itu
saya juga mencanangkan program khusus untuk muruid-murid saya yaitu program
baca – ( setiap murid harus setor laporan baca sekian halaman setiap pagi
dengan buku bebas). Program ini sudah berjalan dan beberapa murid ada yang
telah menyelesaikan 3 buku. Dan program penegmbangan selanjutnya adalah
penggiringan siswa untuk bisa berkarya
tulis seperti angkatan sebelumnya yang berhasil menelurkan satu buah antologi
setebal 231 halaman.
Semoga lewat tulisan
ini aku, kita bisa bersama-sama tumbuh besar bersama buku seperti Ali Bi abi Tolib, Imam Syafi'i, B. J. Habibi -alm, Jhon F. Kenedy dan masih banyak lagi. Aamiin.
Penyerahan cindera mata kepada ibu asesor UT dari Jakarta di SMK Ngunut Tulungagung









0 komentar:
Posting Komentar