Rabu, 18 Maret 2020

Menyiasati Speach Delay



(gambar diunduh 19/03/2020 11.30 WIB dari https://ekosistem.co.id/jaringan-otak)
Kemarin sore saya menerima pesan via wa dari seorang ibu yang ada di Lampung Timur, yang intinya si ibu penasaran dengan komentar saya disalah satu group fb terkait penawaran saya tentang terapi bioenergi untuk mengatasi berbagai keluhan yang ada. Dan salah satu penawaran saya berikan kepada ibu ini atas unggahan yang berisi curhatan tentang keterlambatan anaknya dalam hal kemampuan berbicara.  Kemudian dari tema ini terjadilah perbincangan atau lebih layaknya sebagai konsultasi seputar kesehatan khususnya untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi putrinya yang berupa keterlambatan bicara. Dan bahkan selain keterlamabatan bicara tersebut diatas, si ibu menambahkan juga  keterangan yang didapat dari dokter bahwa si anak juga mengalami sedikit autis. Dan insyaallah hal ini merupakan dampak samping atau efek penyerta yang ditimbulkan.

Untuk dapat memberi masukan, saran dan treatmen yang tepat saya pun butuh informasi yang cukup tentang keluhan anak tersebut terutama dari sisi medis atau berdasarkan analisa dokter. Mengapa hal ini?  Ya karena  secara ke ilmuan teori ini bisa dianggap valid dan bisa dipercaya. Baru setelah itu dipadu dengan pemikiran serta intuisi saya dalam pemberian terapi bioenergy agar hasilnya lebih efektif dan cepat terlihat. Bila tindakan ini bisa membuahkan hasil, tentunya sangat membahagiakan khususnya bagi ibu dan putrinya tersebut. Sedangkan bagi saya, perasaan senang juga pasti ada karena teori atau tindakan terapis yang diterapkan bisa diaplikasikan pada orang lain dalam kasus yang serupa.


Agar tidak terlalu ngelantur pembahasan ini, sepatutnya kita tahu terlebih dahulu apa itu definisi speech delay – keterlambatan bicara itu. Speech delay atau keterlambatan bicara merupakan suatu kelainan atau gangguan yang menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan dan keterlambatan untuk berbicara. Sehingga kondisi ini berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan anak terutama dalam melakukan komunikasi dengan orang lain. Bahkan sisi negative lainnya tidak tertutup kemungkinan berimbas pada kekurang maksimalan pada ranah intelegensinya. Bila sampai terjadi semacam itu, tentunya sangat disayangkan. Tentunya untuk mengatasi permasalahan yang cukup pelik ini dibutuhkan adanya kesriusan, ketelatenan, kesabaran, dan juga waktu yang relative lama.

Setelah mengetahui penjelasan yang didasarkan pada analisa dokter seperti yang saya uraikan diatas kemudian saya melanjutkan ke pertanyaan berikutnya yaitu: bagaimana reaksinya saat dia dipanggil. Cepat bereaksi atau tidak atau dengan kata lain dengar apa tidak? Untuk pertanyaan ini si ibu menjelaskan kalau anaknya reaksinya sangat baik. Berdasarkan jawaban tersebut saya berani menyimpulkan bahwa si anak telinganya normal dan peluang pembenahaman kemampuan bicara yang mengalami keterlabatan bisa dilakukan dengan baik. hal ini didasarkan pada asumsi bahwa memori otak si anak mampu menerima dan menyimpan berbagai data/informasi yang berupa suara lewat pendengarannya. Yang jelas saya merasa optimis yang cukup kuat karena dapat dipastikan si anak bisa bicara secara baik walau membutuhkan penanganan khusus.

Dan pertanyaan yang terakhir adalah bagaimana suaranya saat dia menangis, jelas atau tidak dank eras atau tidak? Untuk pentanyaan ini si ibu menjawab kalau putrinya menangis sangat keras dan suaranya jelas. Dari keterangan tersbut saya meyakini kalau anak tersebut mampu berbicara dengan baik karena alat ucap danpita suaranya juga dalam keadaan normal dan sangat dimungkinkan untuk dapat disingkronkan atara elemen-elemen yang mengalami sedikit gangguan tadi.

Sekama Layang-layang
Sambil mengetik tulisan di hp untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh si ibu tadi, saya mencoba untuk merenung sesaat untuk mencari solusi yang mungkin bisa digunakan sebagai solusinya. Kemudian dibenak saya terbayang ada 4 titik yang perlu penanganan khusus yaitu dengan cara pentransferan bioenergy keposisi yang ada, yaitu: otak, telingan mulut (lidah dan pit suara), dan lambung. Berdasarkan  penemuan ke empat titik tersebut saya terinspirasi untuk menerapinya dengan metode sekema laying-layang. Dan dari sekema laying-layang tadi dapat dijelaskan sebagai berikut: posisi titik atas dari laying-layang mempresentasikan posisi otak; kedua titik sayap dari laying-layang menggambarkan posisi telinga; posisi titik bawah merupakan kedudukan alat ucap; dan yang satu lagi benang laying-layang mewaliki keberadaan lambung.

Setelah penentuan sekema tersebut saya melakukan pengenergian seperlunya guna untuk mensinkronkan kinerja sistemsaraf otaknya. Tindakan ini dilakukan dengan pengaliran energy lewat kedua lubang telinganya. Kemudian dilanjut maksimalisai kemampuan otak beserta daya ingatnya dengan pengenrgian otak besar dan kecil lewat dahi/cakra ajna dan juga lewat sisi otak kecilnya. Dari tindakan ini, selain untuk meningkatkan daya ingat, kecerdasan, serta ketenangan pikir juga untuk mengentaskan anak dari kondisi hiperaktif ataupun autis – semoga saja. Setelah itu fase berikutnta adalah pengenergian alat bicara terutama lidah dan pita suaranya dengan harapan organ ini mampu bekerja secara baik.

Dan baru setelah titik itu berikan treatmen maka tindakan selanjutnya adalah pensinkronan saraf-saraf yang menghubungkan otak, telinga, dan organ bicara secara bersamaan. Dalam proses ini, saya merasakan adanya ketidak sinkronan pada suatu posisi pertemuan atara saraf-saraf tersebut yang yang letaknya tepat di otak bagian bawah dimana lokasi tersebut saraf otak, telinga dan pengucap bertemu. Dalam posisi tersebut saya merakan sesuatu yang agak suram dan tindakan yang saya lakukan sebagai solusinya adalah pembersihan/detok untuk mengeluarkan zat atau cairan yang sedikit mengganggu tersebut. Dan tahap berikutnya adalah pengenergian cakra tenggoran pada anak tersebut dengan tujuan untuk mengaktifkan kemampuan komunikasinya termasuk kemampuan bicaranya. Sedangkan pengenergian pada lambung bertujuan untuk mereduksi zat hormonal yang menjadi pemicu anak menjadi hiperaktif ataupun menjadi autis. Ingat ini hanya analisa saya dan bukan dari susut pandang logika teoritis medistik.

Oh ya hampir terlupakan yaitu satu fase sebelum pemberlakuan pada titik-titik diatas yaitu adanya langkah ditoksifikasi yang bertujuan untuk membersihkan semua zat yang memiliki energy negative yang ditengarai sebagi biang kerok dari permasalahan yang ada. Dan tahap ini sebaiknya tidak dilewatkan begitu saja karena fase ini merupakan momentum yang cukup penting untuk persiapan tahap berikutnya.

Progressive report di sore hari
Setelah pemberlakuan terapi 15 menit dipagi hari, pada sore harinya si ibu tadi melaporkan perubahan yang telah dialami oleh putrinya. Si ibu menceritakan kalau anaknya seharian ngoceh (ceriwis) terus walau suara yang terdengar belum begitu jelas bunyinya. Tapi itu perubahan yang sangat berarti karena si ibu telah menempuh langkah medis selama 7 bulan tidak membawa perubahan sama sekali. Bahkan itu sudah melalui penanganan spesialis saraf. Saya pun merasa sangat senang sekali mendengar kabar tesebut. Hal ini berarti metode yang saya gunakan memiliki keefektifan dan bisa diterapkan pada yang kasus sejenis.

Semoga bermanfaat.
Tegalrejo_Tulungagung, 19/03/2020

0 komentar:

Posting Komentar