Senin, 02 Maret 2020

Tulisan Tangan di Kertas Sobekan




Tad I pagi saya mendapatkan sebuah pertanyaan dari istri saya sambil mendekat dan nunjukin secuil kertas ke saya. “Yah,  semalam Jihan apa melanjutkan dengan ayah setelah saya ketiduran?” tanya istiku dengan sedikit rasa penasaran.
            “Ya…” jawabku .
“Memangnya  kenapa? Sebuah kalimat tanya yang terlontar dari mulut saya.
“Ini lo, tulisan Jihan yang diselipkan di HP” ucap istri saya sambil mengeja tulisan pensil yang terdapat dalam sobekan kertas tersebut.  
“Ini buat ibuk yang kami hormati amiin Jihan yang kami hormati
Aku anak yang pintar aku belajar sama adik dan ibuk aku sayang semuanya
adik aku pintar Allah berikan ilmunya banyak ilmu aku sebanyakkan  ya Allah aamiin.”

“Semalam Jihan meminta tolong untuk diejakan dua kata yaitu kata sayang dan kata hormati” jawab saya sambil mengangguk  dan sedikit senyum.
Terus terang saya merasa senang dan sekaligus bangga mendengarkan kalimat semacam itu. Dari situ saya merasa bahwa anak ini memiliki kemampuan verbal yang cukup lumayan, baik itu dalam bentuk verbal tekstual maupun secara verbal oral/speach untuk menulis. Secara verbal tekstual bisa ditelusuri lewat tulisan tadi dan juga tulisan lain yang pernah dia buat. Sedangkan secara verbal oral/speech dapat saya temukan lewat rekaman video saat saya memijit junior saya. Dalam video tersebut dia memberikan pengantar yang cukup pintar layaknya seorang vloger/yutuber  yang sudah banyak menelorkan karya, walaupun tata kalimat serta diksi katanya masih jauh dari mapan.  Maklum  saja, karena saat ini dia masih duduk di TK 0 besa. Dan tentunya pencapaian semacam ini merupakan  sesuatu perlu diapresiasi secara baik agar kedepannya potensi  yang ada dalam dirinya bisa berkembang secara maksimal.
Perlakuan semacam ini bukan saja saya berikan kepada anak sendiri tetapi sebisa mungkin bagi seluruh murid yang saya ajar karena mereka juga membutuhkan hal yang sama untuk memacu perkembangan seluruh potensi yang ada pada diri mereka. Dan mungkin hal semacam inilah yang harus dilakukan baik oleh para orang tua maupun oleh para guru. Karena di bawah pengaruh dan manajerialnyalah  anak-anak akan mampu menghapi tantangan di masa depan. Untuk itu para orang tua dan guru dituntut untuk memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup luas agar dapat mengampu tugas tersebut secara baik.
Hal ini mengingatkan saya pada salah satu karya Kahlil Gibran yang bercerita tentang anak yang secara bebas dapat dijelaskan  sebagai berikut anakmu bukanlah anakmu tetapi mereka semua adalah anak kehidupan. Sedangkan tugas orang tua/guru hanyalah membentangkan busur dan melontarkan anak panah ke masa depannya dengan bidikan arah yang tepak karena mereka semua anak kehidupan yang memiliki tantangan peradapan sesuai jamannya.  Dan mungkin pemikiran semacam inilah yang mengispirasi pemikiran M. Chotip dalam salah satu buku yang mengatakan bahwa guru yang hebat bukanlah guru yang banyak gelarnya, guru adalah mereka yang mampu menemukan serta mengaktifkan potensi/bakat pada anak didiknya. Paling tidak inilah yang selalu saya coba saya lakukan untuk anak dan murid-murid saya. Walaupun pencapaiannya belum bisa maksimal. Paling tidak hal itu pernah saya coba.
Oh ya, untuk kasus anak saya dan juga murid saya biasanya saya memberikan perlakuan pada beberapa teori atau pengetahuan yang saya dapatkan dari beberapa buku literature, mulai dari buku psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, NLP, Grafologi, Talent Maping, Hipno Teaching,  Student Coaching, dan  buku motivasi dan juga buku lain yang memiliki relevansi tinggi.
Dari buku psikologi perkembangan saya bisa mengenali tingkat perkembangan intelegensi, kemampuan penguasaan basaha sesuai tingkat umurnya. Sedangkan dari psikologi pendidikan saya bisa memilih dan menerapkan metode atau pendekatan pembelajaran yang relative lebih pas untuk diberlakukan dalam suatu pembelajaran. Tentu saja kesemuanya dengan memperhitungkan tujuan yang hendak disasar pada tiap fase yang dilewati.
Sedangkan dari buku NLP saya bisa berlatih untuk memilih dan menggunakan bahasa yang tepat sesuai agar mudah dipahami oleh anak/peserta didik, yang tentu saja sangat kondusif dengan domain  system kerja neuron otak anak. Mana yang pas untuk yang domain otak kanan atau otak kiri, maupun yang domainnya otak sadar dan bawah sadar. Kemudian dari informasi ini akan dikompare dengan pengetahuan yang ada dalam buku hipnoteaching dan juga hipno terapi. Dari sisi ini saya mencoba untuk melakukan menajemen fluktuasi gelombang otak saya dengan murid saya agar terjadi kesingkronan gelombangnya sehingga saat dilakukan pengajaran siswa dapat dengan mudah untuk  mengikuti apa yang diajarkan. Denganj kata lain proses sugseti dapat dijalankan secara baik karena kritikel area pada otak murid bisa dilewati dengan mudah.
Langkah berikutnya adalah melakukan talent maping, yaitu sebuah teori pendekatan untuk mendeteksi potensi dan bakat yang terpendam  dalam diri pesreta didik. Dari pendekatan ini diharapkan  akan mampu menghasilkan pencapaian yang sangat berarti bagi masa depan murid. Langkah ini akan sangat baik bila dipadu dengan penganalisaan tulisan tangan murid dengan teori grafologi. Dari pendekatan ini kita bisa mengenali karakter, bakat, minat, kepribadian, dan juga sisi lain dari kepribadian para peserta didik secara lebih mendalam. Sehingga dari analisa tersebut kita akan mampu memberikan layanan diagnose secara tepat dan akurat.
Sedangkan lewat pendekatan coaching, siswa diarahkan untuk mampu mengenali permasalahan yang dihadapi dan selanjutnya dipandu agar bisa bangkit melalui melalui proses empowrring. Baru setelah itu diberikan pembimbingan penentuan program yang diorientasikan pada pencapaian hasil akhir yang ditetapkan. Agar program yang ditetapkan bisa segera terwujud maka harus ada pembatasan waktu secara tegas karena bila batasan waktunya tidak ditentukan maka semua yang telah direncanakan pasti akan mengalami kegagalan.  Bebarengan dengan program coaching ini hasilnya akan semakin maksimal bila dilengkapi dengan pemberian motivasi guna untuk mengobarkan semangat juang anak/peserta didik.
Kacangan/Tegalrejo,2-3 Maret 2020


0 komentar:

Posting Komentar