Tad I pagi saya mendapatkan sebuah pertanyaan dari istri saya
sambil mendekat dan nunjukin secuil kertas ke saya. “Yah, semalam Jihan apa melanjutkan dengan ayah
setelah saya ketiduran?” tanya istiku dengan sedikit rasa penasaran.
“Ya…” jawabku .
“Memangnya kenapa? Sebuah
kalimat tanya yang terlontar dari mulut saya.
“Ini lo, tulisan Jihan yang diselipkan di HP” ucap istri saya
sambil mengeja tulisan pensil yang terdapat dalam sobekan kertas tersebut.
“Ini buat ibuk
yang kami hormati amiin Jihan yang kami hormati
Aku anak yang
pintar aku belajar sama adik dan ibuk aku sayang semuanya
adik aku pintar
Allah berikan ilmunya banyak ilmu aku sebanyakkan ya Allah aamiin.”
“Semalam Jihan meminta tolong untuk diejakan dua kata yaitu kata
sayang dan kata hormati” jawab saya sambil mengangguk dan sedikit senyum.
Terus terang saya merasa senang dan sekaligus bangga mendengarkan
kalimat semacam itu. Dari situ saya merasa bahwa anak ini memiliki kemampuan
verbal yang cukup lumayan, baik itu dalam bentuk verbal tekstual maupun secara
verbal oral/speach untuk menulis. Secara verbal tekstual bisa ditelusuri lewat
tulisan tadi dan juga tulisan lain yang pernah dia buat. Sedangkan secara
verbal oral/speech dapat saya temukan lewat rekaman video saat saya memijit
junior saya. Dalam video tersebut dia memberikan pengantar yang cukup pintar
layaknya seorang vloger/yutuber yang
sudah banyak menelorkan karya, walaupun tata kalimat serta diksi katanya masih
jauh dari mapan. Maklum saja, karena saat ini dia masih duduk di TK 0
besa. Dan tentunya pencapaian semacam ini merupakan sesuatu perlu diapresiasi secara baik agar
kedepannya potensi yang ada dalam
dirinya bisa berkembang secara maksimal.
Perlakuan semacam ini bukan saja saya berikan kepada anak sendiri
tetapi sebisa mungkin bagi seluruh murid yang saya ajar karena mereka juga
membutuhkan hal yang sama untuk memacu perkembangan seluruh potensi yang ada
pada diri mereka. Dan mungkin hal semacam inilah yang harus dilakukan baik oleh
para orang tua maupun oleh para guru. Karena di bawah pengaruh dan
manajerialnyalah anak-anak akan mampu
menghapi tantangan di masa depan. Untuk itu para orang tua dan guru dituntut
untuk memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup luas agar dapat mengampu
tugas tersebut secara baik.
Hal ini mengingatkan saya pada salah satu karya Kahlil Gibran yang
bercerita tentang anak yang secara bebas dapat dijelaskan sebagai berikut anakmu bukanlah anakmu tetapi
mereka semua adalah anak kehidupan. Sedangkan tugas orang tua/guru hanyalah
membentangkan busur dan melontarkan anak panah ke masa depannya dengan bidikan
arah yang tepak karena mereka semua anak kehidupan yang memiliki tantangan
peradapan sesuai jamannya. Dan mungkin
pemikiran semacam inilah yang mengispirasi pemikiran M. Chotip dalam salah satu
buku yang mengatakan bahwa guru yang hebat bukanlah guru yang banyak gelarnya,
guru adalah mereka yang mampu menemukan serta mengaktifkan potensi/bakat pada
anak didiknya. Paling tidak inilah yang selalu saya coba saya lakukan untuk
anak dan murid-murid saya. Walaupun pencapaiannya belum bisa maksimal. Paling
tidak hal itu pernah saya coba.
Oh ya, untuk kasus anak saya dan juga murid saya biasanya saya
memberikan perlakuan pada beberapa teori atau pengetahuan yang saya dapatkan
dari beberapa buku literature, mulai dari buku psikologi perkembangan,
psikologi pendidikan, NLP, Grafologi, Talent Maping, Hipno Teaching, Student Coaching, dan buku motivasi dan juga buku lain yang memiliki
relevansi tinggi.
Dari buku psikologi perkembangan saya bisa mengenali tingkat
perkembangan intelegensi, kemampuan penguasaan basaha sesuai tingkat umurnya.
Sedangkan dari psikologi pendidikan saya bisa memilih dan menerapkan metode
atau pendekatan pembelajaran yang relative lebih pas untuk diberlakukan dalam
suatu pembelajaran. Tentu saja kesemuanya dengan memperhitungkan tujuan yang
hendak disasar pada tiap fase yang dilewati.
Sedangkan dari buku NLP saya bisa berlatih untuk memilih dan
menggunakan bahasa yang tepat sesuai agar mudah dipahami oleh anak/peserta
didik, yang tentu saja sangat kondusif dengan domain system kerja neuron otak anak. Mana yang pas
untuk yang domain otak kanan atau otak kiri, maupun yang domainnya otak sadar
dan bawah sadar. Kemudian dari informasi ini akan dikompare dengan pengetahuan
yang ada dalam buku hipnoteaching dan juga hipno terapi. Dari sisi ini saya
mencoba untuk melakukan menajemen fluktuasi gelombang otak saya dengan murid
saya agar terjadi kesingkronan gelombangnya sehingga saat dilakukan pengajaran
siswa dapat dengan mudah untuk mengikuti
apa yang diajarkan. Denganj kata lain proses sugseti dapat dijalankan secara
baik karena kritikel area pada otak murid bisa dilewati dengan mudah.
Langkah berikutnya adalah melakukan talent maping, yaitu sebuah
teori pendekatan untuk mendeteksi potensi dan bakat yang terpendam dalam diri pesreta didik. Dari pendekatan ini
diharapkan akan mampu menghasilkan
pencapaian yang sangat berarti bagi masa depan murid. Langkah ini akan sangat
baik bila dipadu dengan penganalisaan tulisan tangan murid dengan teori
grafologi. Dari pendekatan ini kita bisa mengenali karakter, bakat, minat,
kepribadian, dan juga sisi lain dari kepribadian para peserta didik secara
lebih mendalam. Sehingga dari analisa tersebut kita akan mampu memberikan
layanan diagnose secara tepat dan akurat.
Sedangkan lewat pendekatan coaching, siswa diarahkan untuk mampu
mengenali permasalahan yang dihadapi dan selanjutnya dipandu agar bisa bangkit
melalui melalui proses empowrring. Baru setelah itu diberikan pembimbingan
penentuan program yang diorientasikan pada pencapaian hasil akhir yang
ditetapkan. Agar program yang ditetapkan bisa segera terwujud maka harus ada
pembatasan waktu secara tegas karena bila batasan waktunya tidak ditentukan
maka semua yang telah direncanakan pasti akan mengalami kegagalan. Bebarengan dengan program coaching ini
hasilnya akan semakin maksimal bila dilengkapi dengan pemberian motivasi guna
untuk mengobarkan semangat juang anak/peserta didik.
Kacangan/Tegalrejo,2-3 Maret 2020








0 komentar:
Posting Komentar