Sabtu, 25 April 2020

METODE PENYEMBUHAN ALTERNATIF "SAYA BETE"

Seperti biasanya, semalam saya melakukan rutinitas layanan terapi ke beberapa klien yang mempercayakan penanganan keluhanya karena beberapa pertimbangan, yang salah satu diantara bosan mengkonsumsi obat kimia maupun karena merasa tidak mendapatkan kemajuan selama dalam perawatan dokter. Maaf ini bukan bermaksud pamer atau maksud lain, tetapi rata-rata semacam itulah alasan yang dilontarkan saat saya taya alasannya. Dan Alhamdulillah setelah mendapatkan perlakuan terapi alternatif yang saya berikan rata-rata terus membaik dan bahkan reaksi atau perubahan yang diperoleh lebih cepat serta lebih terasa bila disbanding dari layanan medis maupun metode alternatif lainnya.

Misalkan keponakan yang ada di desa Karangsari yang menurut dokter terpapar tipus – lambung terganggu dan kepala pusing serta badan lemas, yang menurut diagnose bahkan di analisa lab sudah dinyatakan normal tapi ternyata dia masih tetap merasakan keluhan tersebut belum hilang sama sekali. Bahkan harus mengalami perawatan berkali-kali baik di RS pembantu maupun RS Iskak Tulungagung.  Karena belum mendapatkan kesembuhan akhirnya menempuh alternatif lain yaitu mulai pijat refleksi, rukyah, dan juga herbal, tetapi tetap nihil. Dan Alhamdulillah setelah diberikan terapi bio energi yang saya berikan perubahan itu terjadi dan semakin membaik. Saat ini anaknya sudah berani naik motor lagi. Nafsu makan juga membaik. Aliran energi tubuhnya juga meningkat, sehingga tidak gampang lemes lagi.

Kemudian klien lain yang ada di desa Karangsari yang mengalami pengerasan pada otot tangan kanan dan kedua kakinya juga terus mengalami kemajuan yang cukup melegakan walau belum sembuh seutuhnya. Tapi berita kegembiraan tersebut dirasakan oleh klien yang mengatakan kalau sekarang badanya lebih ringan, nyaman dan mungkin saja kedua kakinya mulai bisa di tekuk bila mengerjakan sholat.

Sedangkan yang lebih menggembirakan lagi kabar yang saya terima dari seorang ibu terpapar kista pada payu daranya dan juga miom yang ada di Ngampel Tulungagung yang mengabarkan sesuatu yang menyenangkan. Katanya rasa sakit, nyeri, panas dan juga pendarahan yang bergumpal-gumpal saat menstruasi yang berlangsung dalam waktu yang lama saat ini sudah tidak terasa dan pendarahanya sudah berhenti beberapa hari yang lalu. Dan untuk memastikan tingkat kemajuan yang dicapai saya sarankan untuk dilakukan rongxen. Sambil menunggu tindakan rongxen proses terapi tetap diberikan dengan tujuan peningkatan daya imunitas dan juga peningkatan kemampuan self healing yang salah satu caranya dengan upaya peningkatan daya listrik statis dalam tubuhnya. Oh ya  hampir terlupakan, untuk penanganan kasus ini dengan pemberlakuan detok menyeluruh serta semacam kemoterapi dengan treatmen energi petir, yang insyaallah penerapan energi ini tidak akan menyerang atau menyasar kebagian tubuh yang lain seperti penerapan kemoterapi secara medis. Bahkan pasien tidak harus mengalami mual, pusing, ataupun lemas dalam tempo sekian hari. Namun biasanya badan terasa agak hangat ke panas.  Semoga kesembuhan secara total segera menghampirinya, aamiin 3x ya rabbal’alamiin.

Semalam tetangga yang terpapar DM yang mencapai level 400 kadarnya datang lagi setelah tiga hari sebelumnya diterapi untuk pertama kalinya. Saat saya tanya perubahan yang terasa, dia menceritakan kalau badannya sudah lumayan enak dan tidak terlalu cepat capek seperti sebelumnya. Untuk kasus DM mungkin dilakukan terapi 30x insyaallah bisa pulih dan sehat lagi. Dalam  takaran tersebut diperkirakan pangkreas sudah bisa sembuh, produksi enzim pengatur kadar gula dalam darah dan tubuh bisa tercukupi lagi. Hal ini didasarkan pada penyembuhan salah satu klien yang ada di desa Gilang kecamatan Ngunut Tulungagung. 30x terapi bisa dilakukan dengan tiga pilihan yaitu: tiap hari, dua hari sekali ataupun 3 hari sekali. Dan menurut pemahaman saya yang terbaik adalah 3 hari sekali dengan pertimbangan tiap kali terapi energi bisa diprogramkan untuk 3 hari.  Bila dilakukan kalkulasi matematis secara sederhana bisa dihitung 3 hari x  30x terapi berarti pasien akan mendapatkan perawatan dalam jumlah yang lebih dari cukup yaitu selama 90 hari. Padahal klien yang ada di desa Gilang dulu mendapatkan rawatan terapis selama 40 an hari secara rutin pagi – malam sehingga orngnya terhindar dari operasi yang harus dijalani karena kakinya sudah bocor. Semoga kesembuhan yang serupa juga terjadi pada tetangga saya yang kadar gulanya mencapai 400 tadi. Ingat durasi 30x terapi tersebut hanyalah perkiraan bagi yang belum mengalami suntikan insulin. Bagi yang sudah berinsulin mungkin dibutuhkan treatmen yang lebih lama.

Sedangkan kabar dari Lampung Timur dalam kasus speach  delay dikabarkan anaknya sudah dapat mengucapkan kata “nggak” dan ucapannya atau pelafalanya bisa terdengar secara jelas. Walaupun begitu, saya rasa itu sebuah kemajuan dan harapan yang sangat prospektif dalam penanganan problematik ini. Mungkin dengan peningkatan kemampuan cakra tenggorokan dan pengaktifan informasi yang tersimpan dalam memori otaknya secara rutin kemampuan bicara si kecil bisa segera meningkat. Ingat cakra tenggorokan berkaitan dengan kemampuan komunikasi verbal seseorang. Dengan kata lain bila cakranya baik maka kemampuan komunikasinya akan baik juga dan sebaliknya bila cakranya bermasalah kemampuan komunikasinya juga kurang lancar.  Sedangkan pengaktifan data yang tersimpan dalam memori otak berfungsi untuk memudahkan pemanggilan atau pemunculan infornasi lewat ucapan secara lesan.  Mudah-mudahan saja, aamiin 3x ya rabbal’alamiin.

Mungkin dari paparan deskripsi yang cukup panjang kali lebar hingga ketemu luasnya tersebut ada yang bertanya-tanya apa sih kaitannya dengan judul tulisan diatas? Terutama pada kata SAYA BETE. Baiklah untuk menghapus rasa penasaran tersebut saya jelaskan secara singkat tapi padat biar mudah untuk diingat. SAYA BETE adalah sebuah akronim yang terdiri dari 4 kata yang dipadukan yaitu: sabar, yakin, bersyukur dan telaten. Menurut hemat saya 4 unsur tersebut memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses penyembuhan bagi semua orang dan bagi semua penyakit yang ada. Begitu pula dalam penerapan metode ini. Karena apa? Ya karena untuk penyembuhan penyakit pasti membutuhkan waktu untuk berproses. Seperti halnya orang yang ingin kuat mereka juga harus sabar dan rutin untuk berlatih. Hukum ini juga berlaku dalam penyembuhan penyakit.

Yakin merupakan ranah psikologis atau kejiwaan seseorang terkait kepercayaan pada suatu hal yang dianggap benar ataupun bermanfaat bagi dirinya. Dimensi ini sangat terkait dengan kinerja sub conscious mind – otak bawah sadar seseorang. Dimensi ini sangat penting dalam proses penyembuhan karena hal ini terkait langsung dengan konsep, pola pikir dan persepsi seseorang terhadap sebuah permasalahan, terutama konsep negatife yang diyakini sebagai zona aman dalam dirinya. Unsur ini faktor penghambat yang harus dibongkar baik lewat advise (saran) dari psikolog / psikiater, pemberian sugesti maupun secara hipnoterapi. Bila delik ini bisa dirubah maka penyembuhan bisa segera terjadi. Dan bila gagal untuk diubah maka penyembuhan sangat sulit terjadi walaupun itu dengan penanganan dokter spesialis dan obat medis terbaik sekalipun.

Bersyukur adalah kunci lain dari proses penyembuhan yang bisa dilakukan. Ingat dalam ajaran agama ditegaskan bahwa siapapun yang mau bersyukur atas nikmat yang didapat Allah SWT akan menambahkan dengan jumlah kelipatan yang sangat besar. Hukum ini juga berlaku bagi orang yang sedang mengalami sakit. Ingat bahwa salah satu manfaat dari bersyukur terutama bersedekah dapat berfungsi sebagai perisai/pelindung bahkan penyembuh dari suatu penyakit. Dan kemanfaatan ini juga bekerja pada salah satu klien saya yang ada di desa Tanen yang katanya selain mengalami retak/patah tulang tangannya juga mengalami gejala leukemia, dan Alhamdulillah berkat penggabungan metode terapi bioenergi dan sedekah ke anak yatim penyakitnya bisa sembuh secara cepat. Padahal menurut cerita salah satu keluarganya sebelumnya harapannya sudah tipis sekali. Hanya kemurahan dan pertolongan Allah SWT yang bekerja untuk kebaikan serta kesembuhannya lewat sedekah (bersyukur bil hal atau bersyukur lewat perbuatan).

Telaten, untuk penyembuhan tentu saja dibutuhkan adanya sikap telaten. Terutama telaten dalam menjalani proses baik itu perawatannya maupun dalam mengkonsumsi asupan gisi bahkan juga obat yang disarankan. Tanpa adanya unsur ketelaten perubahan apalagi kesembuhan pasti tidak akan terjadi.

Semoga inspirasi pagi ini mampu menginisiasi dan membukakan harapan baru terutama bagi mereka yang sedang diuji lewat sakit. Aamiin.
@@@@@@@Tegalrejo, 26/04/2020@@@@@@@

0 komentar:

Posting Komentar