Sabtu, 17 April 2021

Pentingnya Keakuratan Informasi

 

sumber foto: loexie.wordpress.com

Jumat kemarin, 16/04/2021 saya dihubungi lagi oleh salah satu teman dan sekaligus klien terapi alternatif yang saya lakukan. Dihubungi lagi karena beberapa hari sebelumnya sudah menghubungi saya untuk menyempatkan diri mampir ke rumahnya. Katanya ada sesuatu yang ingin disampaikan. Sesuatu yang sangat penting dan perlu untuk segera saya ketahui.” katanya penuh harap.  


Maka-nya Jumat kemarin saya luangkan sedikit waktu saya untuk menjenguk kerumahnyaDan ternyata benar. Ada sesuatu yang spesial banget yang ditunjukkan pada saya, yaitu sebuah film foto rontgen yang dilakukan di RS. dr. Iskak Tulungagung beberapa hari sebelumnya. Foto rontgen terkait keluhan tulang yang beberapa hari ini terasa sangat mengganggu karena terasa sangat linu dan senut-senutKemudian dari situ, kami melakukan perbincangan (konsultasi) berdasarkan hasil rontgen yang ditunjukkan tadi.  Perbincangan tersebut kira-kira berlangsung 10an menit karena saya harus buru-buru untuk pulang. Maklum hari itu hari Jumat dan saya harus melakukan sholat Jumat. Seperti kita tahu bersama bagaimana hukumnya sholat Jumat bagi seorang laki-laki. Ya betul. Hukumnya wajib. Karena wajib makanya harus dilaksanakan bila tidak ingin mendapatkan sanksi dari pengabaian (pelanggaran) atas kewajiban tersebut. 


Saat mengamati klise negatifilm hasil rontgennya, saya merasa sedikit bingung karena 3 hal, yakni: Yang pertama, saya tidak memiliki kapasitas untuk membacanya. Ya karena latar belakang pendidikan akademik yang pernah saya tempuh bukan jurusan kedokteran melainkan jurusan bahasa Inggris di UMM dan juga linierisasi PGSD di UT yang berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri 45.  

Yang kedua, saya melakukan kekeliruan saat melihat negatif filmnya, yaitu saat memposisikan bagian gambar yang seharusnya terletak di bawah saya letakkan di atas dan juga seharusnya bagian depan di depan tetapi malah sebaliknya. Makanya saya merasa ada keanehan dengan gambaran tersebut. Dan setelah menyadari kekeliruan tersebut maka saya lakukan perubahan posisinya sehingga gambarnya menjadi familiar dengan mata saya.  Tapi dari sini saya belum bisa mendapatkan informasi yang cukup untuk dapat membuat simpulan yang pas. Apalagi untuk memutuskan melakukan tindakan chiropatik - yaitu suatu tindakan yang dilakukan untuk memanipulasi tulang agar gangguan yang terjadi bisa diminimalisir dan selanjutnya disembuhkan.   


Dan yang ketiga, dari negatif film tersebut tidak dilengkapi dengan penyertaan keterangan pejelas dari hasi pembacaan kelainan yang ada. Tentu saja hal ini sangat saya butuhkan guna untuk melakukan tidakan reka manipulatif dalam mengatasi serta pemulihan kondisi tulangnya.  


Kemudian pada tahap berikutnya saya langsung mempertanyakan pada teman saya tadi terkait dengan penjelas yang didapat dari dokter  saat membacakan negatif film hasil rontgen tersebut. Teman saya tadi hanya mengatakan intinya keluhan yang dialaminya disebabkan oleh terjadinya proses pengapuran di bagian tulang cethik (pinggang) bagian kanan. Mendengar penuturan seperti itu, secara spontan saya mengatakan bahwa selama ini terapi yang dilakukan merupakan kebalikannya yaitu merangsang peningkatan zat kapur pada bagian tersebut. Dan tentu saja hal ini tidak seharusnya dilakukan karena pada proses pengapuran suplai zat kapur pada titik tadi sudah mengalami kelebihan stok 


Mengapa kekeliruan semacam ini bisa terjadi? Ah ini pasti mal praktek. Mungkin saja jawaban semacam ini bisa dianggap dan atau mungkin tidak. Dianggap ya sebagai mal praktek karena treatmen dan tindakan yang dilakukan tidak sesuai. Dan sebaliknya, bisa dianggap tidak mal praktek karena tindakan yang saya lakukan juga berdasarkan keterangan dari klien itu sendiri. Sedangkan si klien memyampaikan keterangan tersebut juga didasarkan pada penjelasan dari dokter yang menanganinya pada saat awal mula rasa sakit itu muncul. Tapi itu sudah lama. Setahunan yang lalu.  


Bahkan dua kekeliruan serupa juga terjadi padanya karena kekurangjelasan saat memberi informasi  yang didasarkan pada keterangan dokter sebelunya, yaitu pada keluhan sakit pada punggung dan juga pada kelainan prostatnya pasca opreasi. Untuk keluhan pada pada tulang belakangya dia hanya mengatakan rasa yang amat sakit ketika akan bergerak untuk berdiri. Dan berdasarkan data tersebut terapi yang dilakukan reaksi yang dihasilkan sangat kecil dan lambat banget. Kemudian setelah beberapa kali terapi, teman saya baru teringat dengan salah satu keterangan dokter yang ada di Kediri yang mengatakan bahwa saraf tulang belakang bagian kanan ada yang terjepit. Kemudian terpipun didasarkan pada informasi tadi dan alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan. Setelah dua atau tiga kali terapi keluhan ini sudah beres. 


sumber foto: Layanan Urologi/radarsukabumi.com

Sedangkan untuk keluhan pasca operasi prostat, terapi yang saya lakukan kurang tepat sasaran, yaitu agak kebawah beberapa centi dari lokasi yang penyumbatan saluran kencingnya. Dan setelah ditunjukkan negatif film hasil rontgennya beserta ditambah penjelasan dari dokter yang menyatakan bahwa penyumbatan yang terjadi pasca operasi dipicu oleh sel keloid pad lokasi bekas operasi yang dilakukan. Maka dengan berdasarkan informasi yang valit penerapian bisa dilakukan secara lebih efektif dan reaksi yang dihasilkan bisa lebih jreng. Setelah diterapi rasa sakitnya alhamdulillah langsung hilang dan saat kencing bisa lebih baik.  


Kasus ketidak akuratan informasi awal semacam ini juga terjadi pada kedua klien saya. Baik klien yang ada di Kelapa Gading Dua Jakarta Utara maupun yang ada dKromasan Tulungagung.  Klien yang ada di Kelapa Gading Dua hanya menginformasikan kalau dada terasa sesak dan sakit sekali, yang mungkin efek penyerta akibat kemoterapi untuk penyembuhan (pembersihan) sisa-sisa kanker payudara yang dialaminya. Bahkan katanya, sisa-sisa sel kanker tersebut telah merambat sampai di beberapa titk dtulangnya. Bahkan, katanya proses kemoterapi tidak sampai menuntaskan jumlah paketan terapi yang harus dilakukannya karena sang dokter sudah tidak berani melakukannya.  

Berdasarkan informasi tersebut, bebarapa tindakan terapi jarak jauh saya lakukan dan hasilnya kurang memuaskan karena reaksi dan perubahannya sangat lambat serta hampir tidak bisa dirasakan. Kemudian setelah kira-kira satu bulan terapi rutin jarak jauh si klien menceritakan kalau dia saat itu tensi darahnya juga cukup tinggi.  


Mendengar penjelasan semacam itu, saya pun langsung menanyakan tentang kondisi lambungnya apakah juga bermasalah asam lambungnya tinggi. Ternyata memang benar, klien tersebut menyebutkan kalau asam lambungnya seringkali tinggi dan terasa perih dan sakit. Dari tamabahan informasi ini dapat disimpulkan bahwa rasa sesak, nyeri dan sakit pada dada klien tadi bukan semata-mata karena pengaruh tindakan kemoterapi yang dijalaninya. Melainkan juga terpengaruh oleh tingginya asam lambung yang pengaruhnya sudah naik mencapai dada (paru dan jantung). Dan untuk mengatasi situasi ini tentunya tindakan terapinya perlu ditambah yang fungsinya membersih zat-zat hormonal yang bersifat resistensi dalam proses penyembuhan dan penormalan lambungnya. Selain itu juga dilakukan pemrograman serta penormalan ulang sistem saraf otaknya agar pikirannya lebih tenang, nyaman dan fresh. Hal ini dilakukan karena kondisi pskologis (otak) sangat berkaitan erat dengan produktifitas asam lambung seseorang. Dan ternyata tindakan ini sangat efektif, sehingga si ibu tadi tidak mengeluhkan lagi rasa sakit di dadanya. Suaranya saat telepon pun juga terdengar santai dan normal. Hal ini beda jauh dengan sebelumnya yang biasanya suaranya terdengar cukup berat bahkan cederung keras/menjerit karena menahan rasa sakitnyaSemoga saja lekas tuntas dan sehat selalu. 


sumber foto: KlikDokter

Sedangkan kasus yang terjadi pada klien yang ada di Kromasan Tulungagung berupa rasa sakit yang cukup akut di seputaran lambungnya dan setiap kali konsultasi ke dokterpun juga difonis mengalami gangguan asam lambung. Resep-resep obat yang diberikannya pun juga untuk mengatasi gangguan lambungnya. Begitu pun saat minta dibantu lewat terapi entah itu terapi jarak jauh maupun saat terapi langsung jarak dekat tapi reaksinya juga tidak bisa maksimal. Hingga suatu ketika, saat rasa sakitnya memuncak dan tidak tahan lagi maka diputuskan untuk dilakukan tindakan foto rontgen maka baru diketahui secara pasti bahwa di dalam empedunya ditemukan adanya peradangan. Berdasarkan hasil akhir dari foto rontgen yang dilakukan dia mengalami kelalinan berupa batu empedu dan empedunya oleh dokter di RS. Era Medika Ngunut Tulungagung dinyatakan infeksi dan direkomendasikan untuk dioperasi guna untuk mengangkat 6 butir batu empedu yang bersarang di dalamnya. Tapi dia menolak saran yang diberikan oleh dokter untuk diopresai 


Mendengar curhatan tersebut, saya pun menaggapi dengan menyampaikan beberapa pengalaman saya saat menerapi kasus serupa yang akhirnya sembuh dan tidak jadi dioperasi hanya cukup diterapi beberapa kali saja. Misalkan kasus seorang teman yang sudah dirawat di salah RS yang ada di Jombang setelah diterapi jarak jauh satu kali alhamdulillah tidak jadi operasi; kasus seorang teman yang ada di Kutai Kartanegara sudah antrean operasi karena menunggu normal kondisi jantungnya, alhamdulillah diterapi jarak jauh sebanyak tiga kali dari lima perkiraan yang dibutuhkan dan ternyata saat kontrol ke dokter yang menanganinya sudah dinyatakan sembuh; dan begitu pula dengan klien yang sedesa dengan saya setelah lima kalian terapi saat kontrol ke dokter juga dinyatakan sembuh tidak perlu operasi lagi.  


Dari beberapa kejadian tersebut dapat disimpulkan bahwa keakuratan dan kevalitan informasi sangat dibutuhkan agar penyikapan dan tindakan dapat diberikan secara tepat, efektif serta efisien. Tuntutan semacam ini bukan hanya berlaku pada tindakan medis dan terapi penyembuhan saja. Tetapi juga berlaku pada urusan lainnya, termasuk dalam kepenulisan agar tidak memunculkan fitnah dan berita hoaks. 


Semoga bermanfaat sebagai motifasi hidup sehat, aamiin. 


Tegalrejo Rejotangan Tulungagung, 18/04/2021 

 

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. sangat bermanfaat. salam literasi sukses selalu.. pak Sam

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin dan makasih atas kunjungan serta komennya bu

      Hapus
  3. Setuju atas klosing arikel ini, bahwa keakuratan dan kevalidan informasi sangat dibutuhkan termasuk dalam dunia kepenulisan. Disini diperlukan kecerdasa literasi, yang di awali dengan daya baca tinggi dari seseorang. Ini salah satu tugas gerakan literasi sekolah.....salam literasi Bung Samsudin. Ditunggu naskahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nembah nuwun pak Har atas krisannya. untuk naskah yang itu masih belum...pak.

      Hapus
  4. Subhanallah. Alhamdulillah ada alternatif penyembuhan yang luar biasa. Pastinya senang bisa membantu banyak orang. Seandainya saja saya juga bisa membantu banyak orang. Pastinya sangat membahagiakan. Sukses selalu buat pak Sam.

    BalasHapus