Senin, 24/05/2021 - pagi ini merupakan hari pertama bagi murid-murid kelas 6 Sekolah Dasar. Begitu pula murid-murid kelas 6 SD Negeri 1 Kacangan yang saya ampu saat ini. Semoga saja mereka mampu mengerjakan secara baik dan dengan pencapaian yang maksimal. Atau bahkan bisa benar semua. Aamiin. Harapan ini tentunya bukan sebuah kemustahilan karena peluang sekecil apa pun bila diusahakan dengan tingkat keseriusan serta intensitas tingkat dewa semua yang mustahil bisa diwujudkan secara mudah. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Dewa Eka Prayoga dalam bukunya yang berjudul Melawan Kemustahilan.
Di hari pertama ini, ada dua bidang study yang diujikan, yaitu: Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (07.30 - 09. 30) dan Pendidikan Kewarganegaraan (10.00 - 1200). Sedangkan jumlah keseluruhan soal yang harus dikerjakan oleh setiap murid yaitu sebanyak 80 items. Jumlah tersebut diperoleh dengan rincian tiap-tiap bidang study terdapat 40 soal.
Ujian tulis kali ini merupakan ujian untuk pertama kalinya dilaksakan setelah tahun ajaran yang lalu ditiadakan karena kejadian khusus, yaitu adanya pandemi Covid-19. Karena ujian ditiadakan maka sebagai konsekuensinya pengisian nilai ijazah diambil dari nilai rapot kelas 4 sampai nilai raport kelas 6. Tentunya kejadian yang luar biasa juga disikapi dengan kebijakan yang exceptional (istimewa dan pengecualian) juga. Sedangkan untuk tahun ajaran ini, ujian akhir bisa dilaksakan walau formatnya mengalami perubahan yaitu dari Ujian Nasional menjadi Ujian Satuan Pendidikan. Walaupun begitu, apresiasi patut diberikan mengingat proses pembalajaran selama ini dilakukan secara daring-luring untuk menggantikan pembelajaran tatap muka langsung – face to face.
Secara garis besar hasil dari tes tulis ini memiliki tiga fungsi secara bersamaan, yaitu: yang pertama, berfungsi untuk mengukur tingkat penguasaan serta ketuntasan murid terhadap materi ajar yang telah diformulasikan pada tiap Kompetensi Dasar (KD) dengan batasan pencapaian Kriteria Kelulusan Minimal (KKM).
Yang kedua, scoring nilai yang dicapai berfungsi untuk mengisi ijasah, yang bobotnya mencapai 60% dan sisanya 40% digenapi dari akumulasi nilai rapot kelas 4 sampai kelas 6. Yang kemudian dari akumulasi nilai tersebut ditentukan apakah si murid dinyatakan lulus karena mampu melewati lower passing grade yang telah ditetap oleh sekolah yang bersangkutan.
Dan yang ketiga, berdasarkan data pencapaian tersebut dapat dianalisa guna untuk menentukan kebijakan untuk operasional tahun ajaran berikutnya. Mungkin hampir mirip dengan apa yang dilakukan dari Assesmen Nasional yang akan digelar secara nasional beberapa bulan kedepan.
Sedangkan dari sisi pembekalan baik dari sisi penguasaan materi ajar dan sisi spiritual – motivasi tentunya sangat berbeda dengan yang saya berikan pada tahun-tahun sebelumnya. Ya yang pasti karena situasi pandemi saat ini. Kalau tahun-tahun yang sebelumnya, setiap pagi sebelum pelaksaan ujian saya berikan aktivasi otak bawah sadarnya dengan bantuan sugestif motifation, hypnotery dan juga terapi bio-energi agar semua informasi yang telah dipelajari dan tersimpan dalam otak bisa dimunculkan secara baik. Dan sebagai hasil akhirnya si murid mampu mengerjakan soal secara baik. Tapi sayangnya perlakuan semacam itu tidak dapat saya berikan karena pembelajaran tidak bisa dilakukan secara tatap muka langsung.
Untungnya beberapa bulan yang lalu saya sempat mempersiapkan dan membekali murid-murid dengan latihan Membacakilat yang saya adopsi dari bukunya Agus Setiawan dan saya padu dari webiner yang sempat saya ikuti. Dalam 6 kali pertemuan 1jam/@pertemuan progresifitas hasil yang dicapai cukup menggembirakan. Dan bila dilatih terus setiap hari tentu hasinya sangat luar biasa karena mereka – murid-mrid memiliki kemampuan membaca secepat foto copy – 1 halaman/detik. Semoga saja keamampuan itu tetap dilatih agar meraka mampu meledakkan semua kompetensi dirinya secara maksimal. Aamiin.
Kacangan, 24/05/2021










Jazakallah khairan istikamah berbagi dan menginspirasi, barakallah Aamiin
BalasHapusBelajar dari jenengan bu
BalasHapus