Jumat, 18 Juni 2021

Antara Slilit, Kopi dan Mie Goreng

  

Foto: Travel with Clio freya - WordPress.com

Kira-kira pukul 19.00an tadi saya bikin mie goreng dengan resep bumbu yang saya buat sendiri. Racikan bumbunya terdiri dari dua siung bawang putih, empat siung bawang merah ukuran sedang, sedikit garam, gula, empat biji lombok hijau (mbok enom), dan juga penyedap rasa dalam ukuran yang bisa ditolerir secara medis. Karena kalau terlalu banyak garam, selain rasnya asin juga kurang baik untuk kesehatan jantung maupun terhadap tensi darah. Begitu pula dengan gula, kalau kebanyakan juga bisa berbahaya. Selain bisa memicu timbulnya diabetes militus juga bisa nyebabin dirubung semut karena terlalu manis.  sedangkan zat perasa atau penyedap juga kurang baik bagi kesehatandiantaranya bisa menyebabkan penyumbatan saraf otak dan juga memperberat kerja empedu. 


Dan untuk melengkapinya saya buat secangkir kopi instan dengan cita rasa gula aren dengan menggunakan gelas.  Karena cita rasanya cenderung pahit – menurut lidah saya, maka saya menambahkan sedikit gula pasir yang tidak mengandung pasir sama sekali ke dalam gelas tersebut agar rasanya lebih familiar dengan selera saya.  


Saat keduanya matang, saya membawanya kemeja makan dengan pencahayaan lampu yang cukup terang. Karena saat menyantapnya saya bisa melakukannya sambil membaca buku, hingga beberapa lembar. Hal ini saya lakukan agar tidak hanya perut saja yang mendapatkan asupan makanan, melainkan juga otak saya juga berhak mendapatkan nutrisi informasi yang menyehatkan agar kewarasan pikir tetap terpelihara secara baik. 

Untuk asupan nutrisi otak, saya baca salah satu buku karya cak Nun – Emha Ainun Nadjib yang sempat viral di awal tahun 90an, yaitu yang berjudul Slilit sang KiaiSebuah buku yang mengulas banyak hal yang terkait dengan berbagai fenomena baik dari sisi sosial, politik, budaya maupun kultural dengan menggunakan perspektif teology Islami dari sudut pandang Cak Nun.   


Buku ini bisa dikatakan mengulas banyak hal karena buku ini merupakan kumpulan kolom yang ditulis oleh cak Nun era 80 an Dan tentunya permasalahan yang dikupas berupa permasalahan yang muncul pada dekade 80an tersebut, yang salah satu judul kolomnya diangkat menjadi judul buku ini, yaitu Slilit sang kiai.  


foto: dokumen pribadi

Pada kolom ini tersajikan sebuah cerita dialogis antara sang Kiai yang sudah meninggal dunia dengan salah satu santrinya. Di situ diceritakan bahwa sang kiai mengeluhkan kalau dirinya tidak bisa langsung masuk surga padahal semua amal ibadahnya semuanya sudah diterima oleh Allah SWT. Rupanya sang Kiai perjalanan ke Surga terhalang oleh satu hal yang dianggap sepele yaitu tusuk slilit. Tusuk slilit yang diambil dari pagar yang dilakukan tanpa seijin pemiliknya, yang tanpa sengaja dipungut ketika pulang undangan dari sebuah hajatan warga. Kala itu, saat undangan bubaran dan meninggalkan lokasi disebutkan kalau sang kiai terlalu sibuk untuk melayani jabat tangan dengan para  santri undangan lain sehinga sang kia tidak sempat mengeluarkan slilit yang menyelinap di antara sela-sela giginya.   


Kemudian dari kejadian tersebut, si santri yang sempat bermimpi ketemu dengan sang Kiai membayangkan (menalogikan) bagaimana dengan kejadian penebangan hutan dan pembalakan liar yang mencuri hutan Kalimantan dan hutan-hutan lain di Indonesia. Tentunya lebih parah lagi karena proses pengambilan (pencuriannya) dilakukan kepada rakyat, bangsa dan negara.  


Tapi dalam kasus ini, saya tidak menemukan atau mendapati slilit sama sekali yang terselip di sela-sela gigi saya saat menikmati mie goreng dan menyeruput wedang kopi. Karena satu alasan, yaitu gigi geraham saya yang sering tersliliti  pada hari Rabu malam Kamis, 16/06/2021 kemarin telah saya cabutkan kesalah satu dokter gigi yang buka praktik di desa SumberagungSehingga kasus tusuk gigi yang berfungsi bukan untuk mencongkel gigi melainkan menusuk slilit bisa saya hindari. Dan yang pasti, saya bisa menikmati mie goreng ala Samku dengan lezat tanpa terbayang adanya trauma historis dari kisah slilit sang kiai. 

 

 

 

 

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Alhamdulillah dan terimakasih banget atas kunjungannya bu

      Hapus
  2. Mesti disyukuri Bung Sam....giginya sudah bebas slilit....tidak ada yang nyangkut lagi. Salam literasi

    BalasHapus
  3. WWWkkklll, betul pak. slilit bendanya kecil tabi bikin sulit sadah tidak bisa mampir lagi

    BalasHapus