Pada
Minggu pagi tanggal 18/07/2021 yang lalu saya sempat menelusuri unggahan yang
ada di komunitas Sahabat Pena Kita Tulungagung (SPKTA atau SPeKTA). Di sana, saya
mendapati dua un
ggahan yang cukup menyegarkan dan sekaligus menyehatkan.
Unggahan yang sifatnya menyegarkan berasal dari tulisan kang Kamim Tohari.
Sedangkan yang menyehatkan berasal dari tulisan kang Woko Aljonggoly.
Kedua
tulisan tersebut akan terasa sangat pas ketika tulisan tersebut dibaca pada
pagi hari yang cukup romantis (ora mangan tapi atis atau dingin). Atau paling
tidak dari kedua artikel tersebut kita masih tetap mendapat asupan nutrisi yang
lumayan baik yang secara tidak langsung akan berdampak positif terhadap
imunitas tubuh. Walaupun itu hanya sebatas
masukan imateri karena hanya menyasar salah satu elemen dari bagian tubuh yaitu
pada dimensi otak.
Sedangkan dari buah labu, saya tidak menemukan adanya kandungan vitamin seperti pada buah ceri. Tapi dari buah labu saya menangkap kegunaannya saya yang secara implisit terselib pada huruf awal buah labu yaitu berupa huruf L. Huruf L di sini disinyalir berasal dari kata serapan bahasa Inggris yaitu low yang artinya rendah. Mungkin dari konsep inilah buah labu dimanfaat sebagai media herbal untuk menurunkan hipertensi dan juga menurunkan kolesterol.
Salah
satu tulisan tersebut bisa dikatakan menyegarkan karena dalam ulasannya
mencantumkan nama buah-buahan Dua diantara nama buah tadi adalah buah ceri dan
labu. Bahkan nama kedua buah tersebut, oleh Kang Kamim Tohari telah dipilih
untuk dijadikan judul dari tulisan yang saya maksud. Dan yang saya tahu buah
ceri itu mengandung vitamin C walau tingkat kadarnya tidak mencapai 1000
seperti yang terdapat pada minuman suplemen yang terjajakan dirak toko. Dan
kandungan vitamin C ini dari buah ceri saya tahu dari huruf C yang terletak
diawal kata ceri.
Sedangkan
dari buah labu yang tergolong bukan buah karena buah ini tidak bisa dimakan
langsung bila tidak dimasak terlebih dahulu. Selain itu buah labu juga tidak
memiliki rasa manis layaknya buah-buahan yang lain, kecuali hanya rasa hambar
(anyep). Makanya buah labu digolongkan sebagai buah sayur. Secara lebih detail
lagi, menurut pengamatan saya buah juga tidak mengandung unsur vitamin seperti
pada buah ceri. Walaupun begitu buah labu sebagai sayur memiliki kemanfaatan
yang tidak kalah esensialnya disbanding dengan buah ceri. Sejauh yang saya tahu
buah labu memiliki kegunaannya yang secara implisit terselib pada huruf inisial
awal dari namanya yaitu berupa huruf L. Huruf L di sini disinyalir berasal dari
kata serapan bahasa Inggris yaitu low yang artinya rendah. Mungkin
dari konsep inilah buah labu dimanfaat sebagai media herbal untuk menurunkan
hipertensi dan juga menurunkan kolesterol.
Dan
yang lebih menarik lagi, saat membaca dua unggahan tadi mampu menghantarkan
imajiner saya untuk merasakan kehadiran dua sosok fenomenal dan cukup
berpengaruh. Paling tidak anggapan dan penilaian saya yang subjektif ini. Entah
menurut persepsi dan dari sudut pandang kaca mata kalian. Toh semua itu
syah-syah saja dan juga boleh-boleh sajadalam melakukan apresiasi terhadap
segala sesuatunya.
Terus
terang dua sosok tersebut bukanlah sosok kang Kamim Tohari maupu kang Woko
Aljonggoly selaku penulis dari artikel yang saya baca pagi itu. Karena mereka
berdua saya anggap belum memenuhi kriteria untuk dianggap fenomenal. Kedua
tokoh fenomenal yang saya maksud tersebut yaitu: sosok Isaac Newton dan satunya
lagi sosok budayawan asal jombang yaitu Cak Nun Emha Ainun Najib.
Yang
pertama sosok Isaac Newton hadir untuk memperkenalkan hukum grafitasi tasawufnya
bersamaan dengan jatuhnya buah ceri yang menimpa kepala Nasruddin Hoja sang
sufi jenaka. Maaf istilah grafitasi tasawuf yang saya tulis di sini bukan
bermaksud untuk menghadir tasawuf baru sebagai turunan dari Tasawuf Falasafi – seperti
yang didefinisikan oleh Fathul Mufid dalam jurnal Addin Vol 2, No 1 (2010) dengan
judul Tipologi Tasawuf Falsafi yang
dipublish pada tanggal 28 Januari 2014. Tasawuf falasafi, menurut Fathul Mufid
didefinisikan sebagai pemaduan antara visi mistis dengan visi rasional atau
perpaduan antara tasawuf dengan filsafat, sehingga ajaran-ajarannya bercampur
dengan unsur-unsur dari luar Islam, seperti filsafat Yunani, Persi, India, dan
agama Nasrani.
Grafitasi
tasawuf yang saya maksud di sini adalah untuk menjelaskan sebuah proses
penyadaran atau pencerahan pikir terhadap peristiwa dialektika antara hukum perfeksionisme,
relatifisme dan idialitas subjektif yang dialami oleh Nasruddin Hoja sang sufi
jenaka. Proses dialektik antara ketiga ranah penelaran tersebut bermula saat
sang sufi jenaka beristirahat dibawah pohon ceri. Karena semua yang nampak
sekeliling terlihat sangat indah serta dalam bentuk dan prosorsi yang
proporsinal, maka secara spontanitas si sufi mengakui kesempurnaan Allah SWT
atas semua ciptaannya.
Namun
pengakuan dan kekaguman itu mengalami kegoyahan ketika si sufi jenaka melihat
realita yang sangat kontradiksi yang terdapat pada ukuran buah ceri dan buah
labu. Di mana pohon ceri berukuran besar, kuat, dan tinggi malah buahnya sangat
kecil. Sedangkan pada labu yang batangnya kecil dan hanya bisa menjajarat ke
tamanan lain justru buagnya besar. Tentu
ini suatu kotradiksi paradoksal yang sangat fatal damn sekaligus
antitesa terhadap kemahasempurnaan Allah SWT dalam segala hal. Termasuk dalam
penciptaan buah ceri dan labu.
Dan
ketika keraguan itu semakin memuncak, tiba-tiba saja kepala sang sufi tertimpa
buah ceri yang dianggap kecil dan tidak ideal dalam porsi penciptaannya dengan
dalih terdapat ketidakproporsionalan dengan bentuk fisik pohon ceri yang cukup
kuat dan besar tadi. Namun di situlah titik proses penyadarah serta pencerahan
itu terjadi, yang akhirnya menghempaskan ego rasionalitas sang sufi jenaka.
Sedangkan
dari unggahan kang Woko Aljonggoly, saat membacanya saya merasa menembus lorong
waktu, flashback ke tahun 1992. Dimana saat itu menyaksikan berlangsung perhelatan
sepak bola piala Eropa di tv dan yang keluar sebagai jawaranya yaitu timnas
Denmark. Saya teringat betul nuansa itu karena hampir seluruh pertandingan dari
perhelatan aktar tersebut bisa menyaksikan. Maklum saja karena hampir semua
teman kos yang jumlahnya 11 orang gibol (gila bola) semuanya. Bahkan suasan
tersebut semakin terasa ciamik, ketika pagi harinya dibumbui dengan mebaca
beberapa artikel olah raga yang ada di Koran harian Jawa Pos. Terutama tulisan
essay Cak Nun terdapat dalam rubrik Bola Kultural di Jawa Pos. Tulisannya terasa sangat unik karena
analisanya bukan hanya fokus dari sisi teknis keolahragaan – sepak bola,
melainkan juga dengan menggunakan terminology religi, budaya, kultural, dan
juga filsafat. Pokoknya asik banget.
Sebagai kesimpulan dari tulisan ini yaitu asupan
tubuh yang bersifat segar bukan saja sangat baik bagi kesehatan kesehatan
tetapi juga mampu mendongkrak imunitas tubuh – ini kesimpulan yang mampu saya buat.
Mungkin saja kesimpulan lain juga bisa dibuat dengan formulasi, tata kelola,
dan menajamen kata kedalam kalilimat yang lebih elegan lagi. Atau paling tidak,
di kepala kita terdapat konsep simpulan dari tulisan ini walaupun tidak bisa
tersimpul pada satu titik yang sama. Semua itu benar dan syah-syah saja kok.









Khas Kak Sam, rinci dan memuat perbendaharaan kata baru. Jazakallah.
BalasHapus