Tadi pagi istri saya membeli
jajanan dan sayuran dari penjual ethek yang lewat di jalan depan rumah. Jajanan
tersebut berupa makanan yang berbahan dasar dari singkong – itu dulu. Tapi sekarang
kayaknya Nampak berbeda, tidak seutuhnya dari singkong lagi. mungkin sudah ada
campuran lain dari pati atau mungkin terigu. Ya, jajanan tadi adalah chenil,
sperti yang tertulis pada judul unggahan ini.
Saat menulis tentang chenil,
tiba-tiba saja dalam benak saya terbayang banyak hal yang cukup menarik untuk
dituangkan dalam teks narasi baik secara deskriptif, ekspository dan juga argumentative
secara bersamaan. Beberapa hal tersebut secara sederhana dapat dibagi menjadi
tiga bagian yaitu: bahan, cara pembuatan, cara penghidangan dan muatan nilai
filosofis yang terkandung didalamnya.
Bahan dan alat yang dibutuhkan
dalam pembuatan chenil:
1. Singkong
2. Kelapa
3. Gula merah
4. Parut/selep
5. Daun pisang/piring
6.
Cara membuatnya:
Singkong yang sudah dikupas
kulitnya dipotong-potong agar tidak terlalu panjang dicuci hingga bersih dan setelah itu diparut/diselep
hingga lembut. Kemudian tiriskan parutan
singkong tadi biar kandungan sianidanya berkurang. Ingat zat sianida ini cukup
berbahaya, bila takarannya melebihi batasan yang mampu ditoleransi akan
menyebabkan orang yang mengkonsumsi menjadi keracunan. Bahkan bisa menemui
ajal. Mungkin, kalian masih ingat kasus
kopi sianida beberapa tahun yang silam. Selain berbahaya, racun sianida bila
memapar pada sebuah makanan juga akan merubah/merusak cita rasa dari makanan
tersebut, yaitu menjadi ketir atau langu.
Untuk langkah selanjutnya,
parutan yang sudah ditiris bisa diolah menjadi chenil dengan ukuran sesuai
dengan selera pembuatnya. Sambil menunggu chenil yang ditanak jadi matang dan
siap dihidangkan, kita bisa melakukanhal lainnya yaitu membuat kinco. Kinco sebagai pelengkap chenil terbuat dari
kelapa paarutan dan juga juruh gula merah.
Cara penghidangannya:
Chenil yang sudah matang dan
cukup dingin bisa kita hidangkan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan
bungkusan/pincuk daun pisang – untuk dijual dalan ukuran kecil Rp 1000 1t1u Rp
2000/bungkus. Dan yang kedua dengan menggunakan piring atau mangkok. Yang jelas
untuk yang ini, forsinya lebih banyak dan cukup mengenyangkan. Soal harga tentu
juga beda – tapi relative murah.
Dan yang terakhir adalah nilai
filosofis dari chenil.
Orang Jawa denga kultur Jawanya
mengandung banyak kearifan local yang sangat melekat dengan kondisi kehidupan
masyarakatnya. Seperti halnya dalam pemberian nama, baik nama anak, tempat,
kesenian, maupun nama barang/jajanan. Yang
pertama kali terbayang dan juga saya tangkap dari pemberian nama chenil - merupakan kata camboran Jawa, mengacu
pada bentuk atau ukurannya seperti yang tersirat dari kata chenili itu sendiri.
Kata chenil yang terdiri dari dua suku kata yaitu chen dan nil. Suku kata chen identic
dengan kata chenuk atau chenukan yaitu sebuah bentuk suatu benda atau barang. Sedang
nil bertendensi pada kata sak nil atau sedikit dan bisa juga pada bayangan
benda yang kenyal (kenyil-kencil) dan sedikit lengket. Dengan kata lain berdasarkan deskripsi diatas
chenil dapat dipahami sebagai jajanan yang terbuat dari singkong yang bentuknya
relative kecil namun kenyal dan sedikit lengket.
Sedangkan dalam penyajiannya chenil
tidak bisa tampil secara sendirian melainkan harus dibarengi oleh kinco yang
terbuat dari juruh gula merah dan juga kelapa parutan. Maka dari itu kata kinco
sebagai pelengkap juga memiliki makna sebagi penggenap dari chenil tadi. Kata kinco
yang terdiri dari dua suku kata seperti halnya chenil juga mengandung makna
filosofis yang cukup dalam, bukanyya mengandung babi, bayi ataupun alkhohol lo.
Dari suku kata ki yang bermakna iki –ini dalam bahasa Indonesianya berarti
menunjukkan sesuatu hal yang ditujukan
pada orang lain. Sedangkan dari suku kata co berarti konco (teman) dan eco
(enak dan lezat).
Berdasarkan uraian diatas dapat
kita simpulkan dengan sedikit tersimpul bahwa jajanan chenil terselip sebuah
ajaran kearifan local yang menganjurkan kita untuk suka berderma, sedekah atau
memberi pada sanak saudara walau dalam bentuk jajanan yang berukuran kecil
karena hal itu akan mampu melengketkan/mempererat silaturahim yang penuh
keakraban yang digambarkan dengan kata iki lo co koco.
Bahan situasi tersebut akan lebih
gayeng bila dilengkapi dengan adanya wedang kopi atau pun wedang teh. Yang kita
tahu wedang adalah ngawe kadang atau memanggil teman. Kopi teko pikiran sedang
kan kata the berasal darai kata teteh yang berarti tegas atau jelas.
Kesimpulanya adalah …………..








0 komentar:
Posting Komentar