Minggu, 15 Desember 2019

CHENIL




Tadi pagi istri saya membeli jajanan dan sayuran dari penjual ethek yang lewat di jalan depan rumah. Jajanan tersebut berupa makanan yang berbahan dasar dari singkong – itu dulu. Tapi sekarang kayaknya Nampak berbeda, tidak seutuhnya dari singkong lagi. mungkin sudah ada campuran lain dari pati atau mungkin terigu. Ya, jajanan tadi adalah chenil, sperti yang tertulis pada judul unggahan ini.

Saat menulis tentang chenil, tiba-tiba saja dalam benak saya terbayang banyak hal yang cukup menarik untuk dituangkan dalam teks narasi baik secara deskriptif, ekspository dan juga argumentative secara bersamaan. Beberapa hal tersebut secara sederhana dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: bahan, cara pembuatan, cara penghidangan dan muatan nilai filosofis yang terkandung didalamnya.

Bahan dan alat yang dibutuhkan dalam pembuatan chenil:
1.       Singkong
2.       Kelapa
3.       Gula merah
4.       Parut/selep
5.       Daun pisang/piring
6.        


Cara membuatnya:
Singkong yang sudah dikupas kulitnya dipotong-potong agar tidak terlalu panjang  dicuci hingga bersih dan setelah itu diparut/diselep hingga lembut.  Kemudian tiriskan parutan singkong tadi biar kandungan sianidanya berkurang. Ingat zat sianida ini cukup berbahaya, bila takarannya melebihi batasan yang mampu ditoleransi akan menyebabkan orang yang mengkonsumsi menjadi keracunan. Bahkan bisa menemui ajal.  Mungkin, kalian masih ingat kasus kopi sianida beberapa tahun yang silam. Selain berbahaya, racun sianida bila memapar pada sebuah makanan juga akan merubah/merusak cita rasa dari makanan tersebut, yaitu menjadi ketir atau langu.

Untuk langkah selanjutnya, parutan yang sudah ditiris bisa diolah menjadi chenil dengan ukuran sesuai dengan selera pembuatnya. Sambil menunggu chenil yang ditanak jadi matang dan siap dihidangkan, kita bisa melakukanhal lainnya yaitu membuat kinco.  Kinco sebagai pelengkap chenil terbuat dari kelapa paarutan dan juga juruh gula merah.  

Cara penghidangannya:
Chenil yang sudah matang dan cukup dingin bisa kita hidangkan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan bungkusan/pincuk daun pisang – untuk dijual dalan ukuran kecil Rp 1000 1t1u Rp 2000/bungkus. Dan yang kedua dengan menggunakan piring atau mangkok. Yang jelas untuk yang ini, forsinya lebih banyak dan cukup mengenyangkan. Soal harga tentu juga beda – tapi relative murah.

Dan yang terakhir adalah nilai filosofis dari chenil.
Orang Jawa denga kultur Jawanya mengandung banyak kearifan local yang sangat melekat dengan kondisi kehidupan masyarakatnya. Seperti halnya dalam pemberian nama, baik nama anak, tempat, kesenian, maupun nama barang/jajanan.  Yang pertama kali terbayang dan juga saya tangkap dari pemberian nama  chenil - merupakan kata camboran  Jawa,  mengacu pada bentuk atau ukurannya seperti yang tersirat dari kata chenili itu sendiri. Kata chenil yang terdiri dari dua suku kata yaitu chen dan nil. Suku kata chen identic dengan kata chenuk atau chenukan yaitu sebuah bentuk suatu benda atau barang. Sedang nil bertendensi pada kata sak nil atau sedikit dan bisa juga pada bayangan benda yang kenyal (kenyil-kencil) dan sedikit lengket.  Dengan kata lain berdasarkan deskripsi diatas chenil dapat dipahami sebagai jajanan yang terbuat dari singkong yang bentuknya relative kecil namun kenyal dan sedikit lengket.

Sedangkan dalam penyajiannya chenil tidak bisa tampil secara sendirian melainkan harus dibarengi oleh kinco yang terbuat dari juruh gula merah dan juga kelapa parutan. Maka dari itu kata kinco sebagai pelengkap juga memiliki makna sebagi penggenap dari chenil tadi. Kata kinco yang terdiri dari dua suku kata seperti halnya chenil juga mengandung makna filosofis yang cukup dalam, bukanyya mengandung babi, bayi ataupun alkhohol lo. Dari suku kata ki yang bermakna iki –ini dalam bahasa Indonesianya berarti menunjukkan sesuatu  hal yang ditujukan pada orang lain. Sedangkan dari suku kata co berarti konco (teman) dan eco (enak dan lezat).

Berdasarkan uraian diatas dapat kita simpulkan dengan sedikit tersimpul bahwa jajanan chenil terselip sebuah ajaran kearifan local yang menganjurkan kita untuk suka berderma, sedekah atau memberi pada sanak saudara walau dalam bentuk jajanan yang berukuran kecil karena hal itu akan mampu melengketkan/mempererat silaturahim yang penuh keakraban yang digambarkan dengan kata iki lo co koco.

Bahan situasi tersebut akan lebih gayeng bila dilengkapi dengan adanya wedang kopi atau pun wedang teh. Yang kita tahu wedang adalah ngawe kadang atau memanggil teman. Kopi teko pikiran sedang kan kata the berasal darai kata teteh yang berarti tegas atau jelas.

Kesimpulanya adalah …………..

0 komentar:

Posting Komentar