|
Paragraph
petikan diatas saya ambil dari postingan yang saya unggah di FB saya sebagi
kalimat pengantarnya terkait dengan kegiatan senam masal Indonesia Pusaka.
Tepatnya hari Rabo pagi kemarin – 13/11/2019, yaitu ketika saya menghantarkan
mendapat mandat untuk mendampingi murid-murid dari sekolahan yang ada di gugus
V kecamatan Ngunut untuk menggantikan posisi guru olahraga yang mendapatkan
tugas tersebut. Saya bersama dengan seorang rekan guru senior mendampingi
murid-murid untuk turut serta mensukseskan senam masal Indonesia Pusaka dalam
rangka memeriahkan hari jadi kabupaten tulungagung yang ke 814 yang digelar
oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga..
Kegiatan
senam masal yang melibatkan siswa perwakilan dari jenjang SD dan SLTP yang ada
di kabupaten Tulungagung tersebut terlaksana dengan cukup meriah. Karena acara
tersebut selain dipandu instruktur senam yang cantik, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan music dangdut dan juga
dilengkapi dengan pengundian bernbagai hadiah doorprice dan juga 3 sepeda
gunung sebagai hadiah utamnya.
Dari
kegiatan pendampingan tersebut saya
menemukan banyak hal yang menurut pemikiran saya sangat menarik untuk dikaji
dan juga cukup seksi untuk ditulis. Menarik dan seksi bukan karena besarnya
sensasi vulgarisme yang dipertontonkan melainkan seksi dan menarik bila menerapkan
pseudho psikoeducative. Pseudho psiko-educative
vaitu suatu metode pendekatan yang berpijak pada teori psikologi pendidikan. Selain itu
juga memperhatikan tipe cara belajar anak dan bahkan juga pada domain gelombang
kerja otak perserta didik.
Berdasarkan
pengamatan saya selama mendampingi tersebut dapat menemukan beberapa potensi
yang bisa dikembangkan untuk memicu perkembanagan potensi SDM yang ada di
wilayah Kabupaten Tulungagung, diantaranya adalah:
Pertama, Sebagaian besar gaya belajar peserta didik
yang ada di Tulungagung tergolong dalam tipe kinestetik. Yang mana gaya belajar tipe kinestetik ditandai oleh banyak gerak.
Dengan kata lain semua hal yang melibatkan gerakkan fisik seperti
olahraga, menari, memainkan musik, percobaan laboratorium, dan lainnya
merupakan alternative pembelajaran yang paling sesuai untuk diterapkan. Karena
dengan penerapan metode ini perkembangan otak anak bisa terpacu secara
baik dan optimal.
Sedangkan sifat
atau ciri khusus yang sangat menonjol
dari anak tipe kinestetik yaitu adanya berkecenderungan anak tidak
bisa diam. Karena anaknya suka bergerak dan berpindah-pindah tempat
serta sedikit usil maka penerapan metode pembelajaran dengan membuat
permainan peran, drama, praktik skill, menari, dan memainkan alat music
dianggap lebih sesuai.
Yang kedua, kontekstual teaching learning approach
akan memberikan dampak atau kesan yang lebih menyenangkan dan sekaligus
mendalam bagi peserta didik. Kondisi dan situasi semacam ini tentunya sangat
baik dalam upaya penanaman pengalaman terdahap peserta didik yang terlibat
secara aktif didalamnya. Dan pada tahap selanjutnya, setiap individu peserta
didik akan mampu merekonstruksi pengetahuannya dengan standart pemahaman
terbaiknya.
Dan yang
ketiga, perlu adanya kebijakan
khusus untuk pemberian perlakuan pada anak didik yang bertipe kenistetik agar
semua potensi yang melekat pada dirinya bisa dikembangkan secara optimal. Karena
anak tipe ini memiliki kemampuan lokomotor fisik yang lebih dan cenderung lemah
dalam penguasaan materi ajar yang sifatnya teoristik maka untuk itu perlu
diadanya reaktualisasi konsep tentang keberhasilan. Sehingga pemahaman konsep
pintar – cerdas yang memposisikan pada anak yang cakap dalam pelajaran eksakta
(matematika, fisika, kimia, dll) sebagai tolak ukur perlu ditinjau ulang lagi.
sehingga dengan adanya pembaharuan semacam ini akan memposisikan anak tipe
kinestetik akan mendapatkan apresiasi yang seharusnya.
Sedangkan untuk tipe/gaya belajar
lainnya bisa dibaca diartikel saya sebelumnya yaitu di https://samsudinathafu72.blogspot.com/2019/10/mengeksplorasi-potensi-anak-lewat.html.
Semoga saja ulasan singkat ini mampu memyumbangkan kemanfaatannya bagi pembuat
kebijakan disektor pendidikan khususnya di wilayah kabupaten tulungagung yang
pada akhirnya mampu mendorong potensi SDM – putra daerah bisa berkompetisi
secara baik dan penuh kemartaban dalam bersaing untuk suskses.







0 komentar:
Posting Komentar