Kamis, 13 Agustus 2020

THE SPIRIT POWER OF MOMENTUM

 

    Pada hari Kamis, 06 Agustus kemarin tepatnya jam 20.22 WIB  saya mendapatkan pesan elektronik via wa dari prof. Ngainun Naim. Dalam pesan tersebut  yang  intinya mengabarkan kalau beliaunya memiliki group literasi dan sekaligus mengundang saya untuk bergabung di dalamnya. Group literasinya  diberi nama Sahabat Pena Kita (SPK). Dan saat mencermati  penamaan group tersebut saya merasakan kalau group ini memiliki  kedekatan  dengan group Sahabat Pena Nusantara (SPN). Praduga instingtif saya ini dilatarbelakangi beberapa alasan sebagai alibi pemebenarnya. Alasan tersebut yaitu:

Alasan yang pertama adalah Fokus orientasi kerjanya sama-sama menyasar pada optimalisasi kegiatan literasi. Cuman benda hanya terletak pada tingkat keluasan wilayah operasionalnya saja. Kalau  Sahabaat Pena Kita hanya mengkhususkan diri untuk menggarap potensi literasi ada di wilayah Kabupaten Tulungagung saja. Sedangkan Sahabat Pena Nusantara  cakupan wilayahnya meliputi seluruh Nusantara.

 Alasan yang kedua yaitu berupa adanya keterlibatan Prof. Ngainun Naim di kedua group ini, baik di SPK maupun di SPN.  Yang mana jejaknya dapat secara mudah saya temukan. Di group SPK peran sentralnya dapat terbaca secara jelas dari pesan elektronik WA yang saya terima yang berisi undangan untuk bergabung di dalamnya. Sedangkan di group Sahabat Pena Nusantara  jejaknya dapat saya ikuti dari dua buah buku antology yang telah diterbitkan oleh SPN dan disitu terulis secara jelas nama prof Ngainun Naim sebagai penyunting atau editor naskahnya. Kedua buku tersebut adalah: Resolusi Menulis Menyusun Rencana Mewujudkan Karya, dan Aku Buku dan Membaca Kisa Persahabatan dengan Buku. Dan dari kedua buku tersebut  telah menginspirasi terlahirnya buku antology bagi group Guru Pegiat Literasi Tulungagung yang terbit di awal tahun 2020 ini. Dalam buku ini saya berperan sebagai inisiatornya dan sekaligus editornya. Walaupun hanya berbekal kenekatan saja karena tidak memiliki ilmu editorial naskah sama sekali. Tapi tetap harus saya syukuri walau disana-sini masih terdapat banyak kekurang pasan dan kekurang telitian dalam melakukan editor naskahnya.  

 Sedangkan reaksi spontanitas yang muncul atas undangan Prof. Ngainun Naim untuk gabung di group SPK saya langsung merimanya tawaran tersebut dengan senang hati. Bahkan penuh antusiasme yang meledak-ledak. Tawaran dan undangan tersebut saya terima dengan  pertimbangan utama yaitu untuk konsistensi saya dalam kegiatan tulis menulis. Sebuah konsistensi merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam segala bidang. Begitu pula dalam aktifitas kepenulisan. Hal ini  saya anggap sangat penting karena hanya dengan konsistensi yang khusuk dan istikhomah segala sesuatunya dapat membuahkan hasil yang baik. Demikian halnya  dengan dunia tulis menulis. Bahkan konsistensi dalam kepenulisan telah saya jadikan targetkan utama dalam  penyusunan resolusi literasi tahun 2020 yang telah terbukukan dalam sebuah buku antologi bersama 16 Guru Pegiat Literasi yang ada di Tulungagung.

 Konsisten merupakan sesuatu yang perlu diperjuangan keberadaannya dalam diri saya. Ya  karena kekurang konsistensian saya ini, seringkali  menyebabkan banyak pekerjaan mengalami keteledoran serta penundaan. Tentu saja semuanya menjadi runyam. Sebagai contoh kerunyaman karena ketidak konsistensian saya dalam kepenulisan tersebut yaitu terjadi pada proyek penulisan dua buku saya yang telah menyebabkan mangkrak hampir 3 tahun. Padahal bagian-bagian dari buku tersebut sudah saya buat, mulai dari penulisan judul, pembagian bab dan pemilahan subbabnya sudah. Bahkan sudah saya buat secara rapi. Buku literatur sebagai acuan pustaka dalam penulisan naskah juga telah ada dalam jumlah yang cukup.  Ya, sekali lagi semua harus terbengkelai karena tidak bisa fokus dalam kekonsistensian tadi.

 Realita tersebut mengingatkan saya pada sebuah unggahan dilaman grafologi yang juga saya kutip dalam penulisan kata pengantar editor buku Resolusi Literasi guru-guru yang tergabung dalam group GPL Tulungagung. Menurut unggahan tersebut dijelaskan kalau banyaknya kegagalan yang dialami banyak orang dalam proses pewujudan resolusi atau program kerjanya yang telah dibuatnya dikarenakan orang tersebut tidak memahami dirinya. Yang akhirnya resolusi yang dibuat asal-asalan tanpa mempertimbangkan  karakter dan potensi dirinya secara baik. Bahkan menurut hasil penelitian hal ini dapat memicu tingkat kegagalan hingga 92%   Grafologi Indonesia  info@grafologiindonesia.com lewat md.authmail01.com (21 Des 2019 12.07).

 Dengan pertimbangan tersebut dan dengan kemantapan hati saya siap bergabung di group SPK. Paling tidak dengan ketergabungan saya di SPK kosistensi dan greget kepenulisan saya bisa terbangun kembali. Entah itu terdorong karena rasa malu bila tidak menulis; rasa tanggung jawab; atau kuatnya rasa gengsi dengan teman yang lain kalau tidak memposting tulisan wajib. Apapun alasannya yang penting spirit dan motivasi didada tetap membakar sehingga meilin saraf yang berhubungan dengan aktifitas menulis semakin menguat. Sedangkan penguatan meilin hanya bisa tercipta melalui proses pengulangan yang ajeg/konsisten dalam rentang waktu yang lama. Tentunya disini kejelian dalam menangkap dan memanfaatkan the spirit power of momentum akan mengkhasilkan sesuatu yang sangat dahsyat bila dalam pengekskusiannya dibarengi dengan kemauan dan mood yang sedang memucak.

 Semoga dengan ketergabungan di SPK Tulungagung mampu membuahkan sesuatu yang manis, baik berupa terkonstruksinya konsistensi pada diri agar lebih permanen maupun dalam  peneloran karya tulis baik artikel maupun dalam bentuk buku “insyaallah”.

0 komentar:

Posting Komentar