Pada hari Kamis, 06 Agustus kemarin tepatnya
jam 20.22 WIB saya mendapatkan pesan
elektronik via wa dari prof. Ngainun Naim. Dalam pesan tersebut yang
intinya mengabarkan kalau beliaunya memiliki group literasi dan sekaligus
mengundang saya untuk bergabung di dalamnya. Group literasinya diberi nama Sahabat Pena Kita (SPK). Dan saat
mencermati penamaan group tersebut saya
merasakan kalau group ini memiliki kedekatan
dengan group Sahabat Pena Nusantara
(SPN). Praduga instingtif saya ini dilatarbelakangi beberapa alasan sebagai
alibi pemebenarnya. Alasan tersebut yaitu:
Alasan yang pertama adalah Fokus orientasi
kerjanya sama-sama menyasar pada optimalisasi kegiatan literasi. Cuman benda hanya
terletak pada tingkat keluasan wilayah operasionalnya saja. Kalau Sahabaat Pena Kita hanya mengkhususkan diri
untuk menggarap potensi literasi ada di wilayah Kabupaten Tulungagung saja.
Sedangkan Sahabat Pena Nusantara cakupan
wilayahnya meliputi seluruh Nusantara.
Alasan yang kedua yaitu berupa adanya keterlibatan
Prof. Ngainun Naim di kedua group ini, baik di SPK maupun di SPN. Yang mana jejaknya dapat secara mudah saya
temukan. Di group SPK peran sentralnya dapat terbaca secara jelas dari pesan
elektronik WA yang saya terima yang berisi undangan untuk bergabung di
dalamnya. Sedangkan di group Sahabat Pena Nusantara jejaknya dapat saya ikuti dari dua buah buku
antology yang telah diterbitkan oleh SPN dan disitu terulis secara jelas nama
prof Ngainun Naim sebagai penyunting atau editor naskahnya. Kedua buku tersebut
adalah: Resolusi Menulis Menyusun Rencana Mewujudkan Karya, dan Aku Buku dan
Membaca Kisa Persahabatan dengan Buku. Dan dari kedua buku tersebut telah menginspirasi terlahirnya buku antology
bagi group Guru Pegiat Literasi Tulungagung yang terbit di awal tahun 2020 ini.
Dalam buku ini saya berperan sebagai inisiatornya dan sekaligus editornya.
Walaupun hanya berbekal kenekatan saja karena tidak memiliki ilmu editorial
naskah sama sekali. Tapi tetap harus saya syukuri walau disana-sini masih
terdapat banyak kekurang pasan dan kekurang telitian dalam melakukan editor
naskahnya.
Sedangkan reaksi spontanitas yang muncul atas
undangan Prof. Ngainun Naim untuk gabung di group SPK saya langsung merimanya
tawaran tersebut dengan senang hati. Bahkan penuh antusiasme yang meledak-ledak.
Tawaran dan undangan tersebut saya terima dengan pertimbangan utama yaitu untuk konsistensi saya
dalam kegiatan tulis menulis. Sebuah konsistensi merupakan sesuatu yang sangat
berharga dalam segala bidang. Begitu pula dalam aktifitas kepenulisan. Hal ini saya anggap sangat penting karena hanya
dengan konsistensi yang khusuk dan istikhomah segala sesuatunya dapat membuahkan
hasil yang baik. Demikian halnya dengan
dunia tulis menulis. Bahkan konsistensi dalam kepenulisan telah saya jadikan targetkan
utama dalam penyusunan resolusi literasi
tahun 2020 yang telah terbukukan dalam sebuah buku antologi bersama 16 Guru
Pegiat Literasi yang ada di Tulungagung.
Konsisten merupakan sesuatu yang perlu
diperjuangan keberadaannya dalam diri saya. Ya karena kekurang konsistensian saya ini,
seringkali menyebabkan banyak pekerjaan
mengalami keteledoran serta penundaan. Tentu saja semuanya menjadi runyam.
Sebagai contoh kerunyaman karena ketidak konsistensian saya dalam kepenulisan
tersebut yaitu terjadi pada proyek penulisan dua buku saya yang telah menyebabkan
mangkrak hampir 3 tahun. Padahal bagian-bagian dari buku tersebut sudah saya
buat, mulai dari penulisan judul, pembagian bab dan pemilahan subbabnya sudah. Bahkan
sudah saya buat secara rapi. Buku literatur sebagai acuan pustaka dalam
penulisan naskah juga telah ada dalam jumlah yang cukup. Ya, sekali lagi semua harus terbengkelai
karena tidak bisa fokus dalam kekonsistensian tadi.
Realita
tersebut mengingatkan saya pada sebuah unggahan dilaman grafologi yang juga
saya kutip dalam penulisan kata pengantar editor buku Resolusi Literasi
guru-guru yang tergabung dalam group GPL Tulungagung. Menurut unggahan tersebut
dijelaskan kalau banyaknya kegagalan yang dialami banyak orang dalam proses pewujudan
resolusi atau program kerjanya yang telah dibuatnya dikarenakan orang tersebut
tidak memahami dirinya. Yang akhirnya resolusi yang dibuat asal-asalan tanpa mempertimbangkan
karakter dan potensi dirinya secara
baik. Bahkan menurut hasil penelitian hal ini dapat
memicu tingkat kegagalan hingga 92% Grafologi Indonesia info@grafologiindonesia.com lewat md.authmail01.com (21 Des 2019 12.07).
Dengan pertimbangan tersebut dan dengan kemantapan hati
saya siap bergabung di group SPK. Paling tidak dengan ketergabungan saya di SPK
kosistensi dan greget kepenulisan saya bisa terbangun kembali. Entah itu
terdorong karena rasa malu bila tidak menulis; rasa tanggung jawab; atau
kuatnya rasa gengsi dengan teman yang lain kalau tidak memposting tulisan
wajib. Apapun alasannya yang penting spirit dan motivasi didada tetap membakar
sehingga meilin saraf yang berhubungan dengan aktifitas menulis semakin
menguat. Sedangkan penguatan meilin hanya bisa tercipta melalui proses
pengulangan yang ajeg/konsisten dalam rentang waktu yang lama. Tentunya disini kejelian dalam menangkap dan memanfaatkan the spirit power of momentum akan mengkhasilkan sesuatu yang sangat dahsyat bila dalam pengekskusiannya dibarengi dengan kemauan dan mood yang sedang memucak.
Semoga dengan ketergabungan di SPK Tulungagung mampu
membuahkan sesuatu yang manis, baik berupa terkonstruksinya konsistensi pada
diri agar lebih permanen maupun dalam
peneloran karya tulis baik artikel maupun dalam bentuk buku
“insyaallah”.
0 komentar:
Posting Komentar