Senin, 17 Agustus 2020

KETIKA DUA PENDEKAR BERTEMU




Mungkin saat membaca judul tulisan ini sepontanitas pikiran kita terseret dalam situasi jaman kerajaan dimana dunia persilatan dan kependekaran sangat kental.  Entah itu jaman kerajaan Majapahit, Demak, Mataram Hindu, Mataram Islam, Pajajaran, Sriwijaya, Singasari, Kediri, atau manapun. Atau bisa juga terbayang sebuah film Joko Sembung, Wiro sableng, dan film-film laga lainnya. Yang jelas tergambar adalah adanya dua penndekar yang saling berhadapan face to face satu dengan yang lainnya.

Dan bila gambaran tersebut yang muncul dalam pikiran kita, tentu saja hal ini sangat tidak tepat karena saat ini kita sudah hidup di jaman modern dan dalam situasi disrupsi seperti saat ini. Tentu saja konsep kependekaraan konvensional tersebut sudah tidak ada relevansinya lagi. Apalagi konsepsi tersebut dikaitkan dengan ranah leterasi.

Konsep kependekaran disini merupakan sebuah konsep yang memiliki keterkaitan scara erat dengan profesi kependidikan yang kami (saya dan teman saya) sandang saat ini terutama dari susdut literasi. Konsep Pendekar tersebut adalah: Penilik dengan Karya dan Pendidik dengan Karya.

Sebutan pendekar – Penilik dengan Karya sangat tepat disematkan untuk pak Toni Hartono, M.Pd karena beliaunya berprofesi sebagai pengawas TK/PAUD di Korwil Kecamatan Ngunut. Penyematan gelar pendekar ini saya merujuk pada salah satu judul buku karyna beliau yang berjudul Sepak Terjang Pendekar (Penilik Dengan Karya) yang diterbitkan tahaun 2019 yang lalu.  Sedangkan definisi pendekar saya gunakan untuk diri saya sendiri guna untuk mengimbangi pak Toni Hartono, M.Pd dalam candaan saya saat mengikuti pelatihan Microsoft office 365 awal bulan Pebruari yang lalu. Gelar pendekar yang terkhusus untuk saya bukan pendek kekar, melainkan pedidik dengan karya. Tentunya ini ada kemiripan, kecocokan dan juga kesamaan antara keduanya. Kira-kira sebelas duabelas begitulah.

Dari pertemua tersebut tidak menimbulkan keributan apalagi kegaduhan yang ditimbulkan peperangan dua pendekar yang saling berhadapan secara face to face. Yang muncul hanyalah guyonan yang sangat renyah, terutama saat kata dan kalimat yang terlontar dalam perbicangan tadi saya pelintir kesana kemari. Tetapi makna yang dimaksut tetap terfokus dan tidak kabur.

Perbincangan pun kami mulai dari saling menanyakan kabar masing-masing. Dan Alhamdulillah kami berdua tetap sehat serta penuh keberkahan serta penuh limpahan ridhloNya. Aamiin ya rabbal’alamiin. Setelah itu perbincangan dilanjut kemasalah literasi. Disisi ini saya mencoba menyinggung proyek penulisan buku antologi yang melibatkan Penilik TK/PAUD se Jawa Timur yang rencananya dikonsultasikan dan sekaligus minta bantuan dalam proses penerbitannya. Dan saat menjawab pertanyaan tersebut beliaunya sedikit mengeluh karena dari sekian banyak Penilik TK/PAUD yang ada, ternyata hanya terdapat 4 orang penilik yang sudah setor naskahnya. Padahal tenggang waktunya sudah kelewat satu bulan meleset dari target yang telah ditetapkan.

Saya pun sangat memahami kegundahan serta kegalauan yang menyelimuti perasaannya. Perbincangan kami pun terus berlanjut ke hal-hal yang sedikit teorits tapi tidak mengandung unsur klenik sama sekali. Ya, masih tetap seputar literasi dan kepenulisan saja karena tema ini sangat menarik bagi kami berdua. Kemudian saat beliau bercerita tentang tawaran/ajakan menulis ke guru-guru TK/PAUD yang ada di kecamatan Ngunut, beliaunya sangat semangat dan antusias sekali. Beliau pun menunjukkan tumpukan naskah yang ada di mejanya. Saya pun mencoba mengambil beberapa naskah dan membaca sepintas untuk mempelajarinya.

Kemudian secara sepontantas saya menyarankan kepada beliau kalau naskah ini bias dibukukan. Dari naskah yang sudah ada ini jenengan tinggal memoles dan juga sedikit editing agar naskahnya jadi lebih enak dibaca. Bahkan saya juga siap membantunya, baik editing naskah, pembuatan kata pengantar maupun proses penerbitannya. Walaupun tawaran yang saya lakukan itu hanya bermodal kenekatan saja.

Tegalrejo, 18/08/2020


0 komentar:

Posting Komentar