Mungkin saat membaca judul tulisan ini
sepontanitas pikiran kita terseret dalam situasi jaman kerajaan dimana dunia
persilatan dan kependekaran sangat kental.
Entah itu jaman kerajaan Majapahit, Demak, Mataram Hindu, Mataram Islam,
Pajajaran, Sriwijaya, Singasari, Kediri, atau manapun. Atau bisa juga terbayang
sebuah film Joko Sembung, Wiro sableng, dan film-film laga lainnya. Yang jelas
tergambar adalah adanya dua penndekar yang saling berhadapan face to face satu
dengan yang lainnya.
Dan bila gambaran tersebut yang
muncul dalam pikiran kita, tentu saja hal ini sangat tidak tepat karena saat
ini kita sudah hidup di jaman modern dan dalam situasi disrupsi seperti saat
ini. Tentu saja konsep kependekaraan konvensional tersebut sudah tidak ada
relevansinya lagi. Apalagi konsepsi tersebut dikaitkan dengan ranah leterasi.
Konsep kependekaran disini merupakan
sebuah konsep yang memiliki keterkaitan scara erat dengan profesi kependidikan
yang kami (saya dan teman saya) sandang saat ini terutama dari susdut literasi.
Konsep Pendekar tersebut adalah: Penilik dengan Karya dan Pendidik dengan
Karya.
Sebutan pendekar – Penilik dengan
Karya sangat tepat disematkan untuk pak Toni Hartono, M.Pd karena beliaunya
berprofesi sebagai pengawas TK/PAUD di Korwil Kecamatan Ngunut. Penyematan
gelar pendekar ini saya merujuk pada salah satu judul buku karyna beliau yang
berjudul Sepak Terjang Pendekar (Penilik Dengan Karya) yang diterbitkan tahaun
2019 yang lalu. Sedangkan definisi
pendekar saya gunakan untuk diri saya sendiri guna untuk mengimbangi pak Toni
Hartono, M.Pd dalam candaan saya saat mengikuti pelatihan Microsoft office 365
awal bulan Pebruari yang lalu. Gelar pendekar yang terkhusus untuk saya bukan
pendek kekar, melainkan pedidik dengan karya. Tentunya ini ada kemiripan,
kecocokan dan juga kesamaan antara keduanya. Kira-kira sebelas duabelas
begitulah.
Dari pertemua tersebut tidak
menimbulkan keributan apalagi kegaduhan yang ditimbulkan peperangan dua
pendekar yang saling berhadapan secara face to face. Yang muncul hanyalah
guyonan yang sangat renyah, terutama saat kata dan kalimat yang terlontar dalam
perbicangan tadi saya pelintir kesana kemari. Tetapi makna yang dimaksut tetap
terfokus dan tidak kabur.
Perbincangan pun kami mulai dari
saling menanyakan kabar masing-masing. Dan Alhamdulillah kami berdua tetap
sehat serta penuh keberkahan serta penuh limpahan ridhloNya. Aamiin ya
rabbal’alamiin. Setelah itu perbincangan dilanjut kemasalah literasi. Disisi
ini saya mencoba menyinggung proyek penulisan buku antologi yang melibatkan
Penilik TK/PAUD se Jawa Timur yang rencananya dikonsultasikan dan sekaligus
minta bantuan dalam proses penerbitannya. Dan saat menjawab pertanyaan tersebut
beliaunya sedikit mengeluh karena dari sekian banyak Penilik TK/PAUD yang ada,
ternyata hanya terdapat 4 orang penilik yang sudah setor naskahnya. Padahal
tenggang waktunya sudah kelewat satu bulan meleset dari target yang telah
ditetapkan.
Saya pun sangat memahami kegundahan
serta kegalauan yang menyelimuti perasaannya. Perbincangan kami pun terus
berlanjut ke hal-hal yang sedikit teorits tapi tidak mengandung unsur klenik
sama sekali. Ya, masih tetap seputar literasi dan kepenulisan saja karena tema
ini sangat menarik bagi kami berdua. Kemudian saat beliau bercerita tentang
tawaran/ajakan menulis ke guru-guru TK/PAUD yang ada di kecamatan Ngunut,
beliaunya sangat semangat dan antusias sekali. Beliau pun menunjukkan tumpukan
naskah yang ada di mejanya. Saya pun mencoba mengambil beberapa naskah dan
membaca sepintas untuk mempelajarinya.
Kemudian secara sepontantas saya
menyarankan kepada beliau kalau naskah ini bias dibukukan. Dari naskah yang
sudah ada ini jenengan tinggal memoles dan juga sedikit editing agar naskahnya
jadi lebih enak dibaca. Bahkan saya juga siap membantunya, baik editing naskah,
pembuatan kata pengantar maupun proses penerbitannya. Walaupun tawaran yang
saya lakukan itu hanya bermodal kenekatan saja.
Tegalrejo, 18/08/2020









0 komentar:
Posting Komentar