Saya merasa sangat
senang sekali saat menerima ajakan Prof Ngainun Naim untuk membuat buku
antologi dengan mengusung tema kuliner jangan blendrang. Tepatnya tiga hari
yang lalu dengan tenggang batas penyetoran naskah 4 hari setelah pengumuman.
Empat hari merupakan rentang waktu yang lebih dari cukup untuk membuat
blendrang. Tapi juga waktu yang relative singkat untuk sekedar membuat tulisan.
Apalagi kalu kemampuan nulisnya masih memiliki ketergantungan dengan mood.
Dari batasan waktu
tersebut saya memilih untuk setor paling akhir saja, yaitu saat date line atau saat
jatuh tempo. Keputusan tersebut saya ambil karena dua alasan, yaitu: yang
pertama karena tulisan baru kelar hari ini, dan yang kedua karena rentang waktu
tiga hari saya anggap sangat cukup untuk membuat cita rasa jangan blendrang
menjadi lebih legit dan jangget banget di lidah. Karena kekhasan itulah jangan
blendrang terkonsep secara kuat di dalam otak.
Bahkan karena ke khasan
jangan blendrang tersebut, seringkali saat menyantapnya pikiran kita terserap
kembali kemasa lalu. Saat-saat kita masih kecil. Saat masih bersama ibu, bapat,
adik, kakak, dan juga orang terkasih dalam hidup kita dimasa lalu. Ya semuanya bisa termunculkan kembali karena sensasi
jangan blendrang.
Dalam konsepsi ini,
agar jangan blendrang tidak terkesan ndeso serta terkesan ketinggal jaman maka
saya ingin menghadirkan nuansa yang lebih kekinian dengan memberi nama yang
lebih jreng dan lebih ngehh. jangan
blendrang dengan sebuatan sayur blendi. Seperti yang kita tahu bahwa kata sayur
itu memang sama saja baik makud, arti maupun wujudnya, yaitu sayur yang sudah
lewat. Dalam konteks ini kita sedikit memasuki ranah gaya bahasa yang
heterologoi. Suatu gaya bahasa yang digunakan untuk menyebut sesuatu yang sama
tetapi menggunakan kata yang berbeda.
Oh ya, mungkin ada yang
penasaran apa sih sayur blendi koronya itu? Ih kok sedikit ngeri karena
mirip-mirip dengan virus yang lagi pandemic saat ini, yaitu virus Corona atau
Covid-19. Sayur blendi yang saya maksud di sini adalah jangan blendrang dik
ingi kalau di Indonesiakan jadi sayur kemarin. Sedangkan koronya lebih mengacu
pada bahan yang dijadikan jangan blendrang tadi. Dan bila mengacu pada judul
tulisan diatas maka baha yang dipilih berupa koro.
Ada satu alasan mengapa
saya memilih sayur blendi dengan bahan dasar koro karena waktu itu orang tua
saya selalu menama koro dipinggiran tegal/lading. Sedangkan lading bagian
tengah sebagian ditanami Lombok dan yang sebagian ditanami singkong untuk bikin
gaplek. Sehingga saat tanaman koro dan lomboknya bebuah dalam jumlah yang
banyak ibu saya selalu njangan koro dalam ukuran yang lebih. Baik koronnya
maupun lomboknya. Hal itu dilakukan dengan pertimbanagan lebih irit dan lebih
praktis. Karena dengan sekali njangan – koro sekuali dengan lombok hijau satu
sampai dua kilogram lombok yang masih diutuhkan bisa dikonsumsi selama dua atau
tiga hari. Tentu saja dengan lombok seukuran itu rasanya cukup pedas. Tapi saat menyantapnya, sambil nyletetin
lomboknya untuk dicampur dengan nasi sebelum dimakan rasanya asik juga. Tapi
ingat, makannya tidak boleh kebanyakan karena bisa bikin perut mules-mules dan
terasa panas saat BAB.
Menurut
pemikiran saya, saat membicarakan jangan blendrang, sebenarnya terdapat banyak unsur
nilai kearifan lokal yang didalamnyan. Nilai-nilai kearifan tersebut
diantaranya: yang pertama yaitu adanya manajemen waktu. Hal ini bisa kita
cermati dengan prosesi masak yang hanya membutuhkan sekali masak dan hasil
masakkanya bisa digunakan untuk beberapa hari berikutnya. Hari berikutnya
tinggal ngenget/memanasi saja. Maka di sini terjadipenghematan waktu. Sehingga
hari berikutnya bisa dimanfaatkan untuk mengerjakan aktifitas lainnya. Biasanya
untuk nggaplek – ngoncek telo setelah itu dijemur dibawah terik matahari.
Yang
kedua yaitu muatan nilai ekonomis. Nilai ekonomisnya bisa didapat dari
pengiritan bahan bakar, bumbu masak, dan juga waktunya bisa digunakan untuk
kegiatan produktif lainnya. Bahkan saat saya kos ketika kuliah di UMM dulu juga
tidak lepas dari kemaslkhatan secara ekonomis dari blendrang. Tapi blendrangnya
bukan blendi koronya. Blendinya berupa sambel terasi yang dibikinin ibu saya
setiap kali saya pulang. Tiap bulan saya sangu blendi sambel terasi satu botol
aqua ukuran satu literan. Ya lumayan dengan bekal sambel satu botol tadi bisa
menghemat biaya pengeluaran kira-kira dua mingguan. Blendi banget kan???
Yang
ketiga berupa nilai syukur. Nilai syukur bisa pantik oleh adanya keikhlasan yang
tulus dari dalam hati. Ikhlas untuk menerima dan menikmati rejeki apapun
bentuknya. Walau itu berupa jangan blendi koronya ataupun sebatas sambel terasi.
Tapi di situ terdapat nikmat yang luar biasa. Daintaranya karena blendi sambel
terasi kuliah saya bisa rampung dan bisa jadi PNS lewat jalur yang tidak sewajarnya,
yaitu jalur data based.
Dan
yang keempat berupa keistikomahan dalam memegang sebuah komitmen. Komitmen di
sini bukan hanya terkait dengan masalah blendrang saja. Tetapi bisa ke masalah
lain juga. Baik itu di ranah social, norma, maupun pada kehidupan religious. Dengan
kata lain, keikhlasan dalam komitmen di sini dapat diartikan tidak gampang
waleh atau lenjeh terhadap sesuatu yang telah kita miliki. Mungkin di sinilah
letak relevansinya pernyataan Bung Karno andagiomna yang terkenal itu, yaitu JASMERAH.
Jangan melupakan sejarah. Sejarah itu bisa berupa apa saja. Kalau dalam konteks
personal mungkin rekam jejak masa lalu. Masa di mana seseorang tengah berjuang
sebelum titik pencapaian saat ini. Atau bisa juga berupa kenangan yang mampu
membangkitkan nilai heroik saat seseorang dalam posisi terpuruk. Atau apalah
itu namanya. Yang jelas jangan blendi koronya dan juga sambel terasi ada di
dalamnya.
Sedangkan
dari sisi kesehatan, menurut saya tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Asalkan
tidak berlebihan seperti yang disarankan oleh Rosulullah saja. Semua pasti aman
dan terkendali, yaitu makan secukupnya dan berhenti sebelum kenyang. Terus
bagaiman dengan kata dokter? Tidak usah begitu diperhatikan! Asalkan konsep
pemikiran yang terinstal di otak kita mengatakan baik dan meyakini blendrang
itu baik, insyaallah reaksi negative tidak akan terjadi pada diri kita. Dan dengan
sendirinya, pemunculan toksin atau racun yang disebabkan oleh blendrang pasti
tidak ada karena apa? Karena konsep atau definisi yang tersimpan diotak bawah
sadar tidak mengatakan seperti itu. Sehingga waktu otak sadar melakukan
afirmasi apakah blendrang bisa berubah jadi racun yang bisa mengganggu daya
tahan dan kesehatan tubuh. Pas afirmasi tersebut dilakukan dan otak sadar tidak
menemukan rambu-rambu pesimis semacam itu. Maka saat program saraf yang telah dikomando oleh
otak sadar untuk mencerna makanan berupa bledrang tentu yang dihasilkan adalah sesuatu
yang baik-baik saja. Jadi untuk membangun imunitas tubuh yang lebih kuat persepsi
positif terkait dengan trust and believe pada jangan blendrang perlu
direkonstruksi ulang lagi. Kemudian diganti fomulasi positif dan penuh rasa optimism.
Hidup
blendrang. Hidup blendi koronya. Hidup juga sambel terasi.








Mantab sekali pak tulisannya
BalasHapusalhamdulillah suka blendinya. semoga saya selain enak dengan kekhasan cita dan rasanya juga bisa mengaktifkan kenangan masa lalu yang penuh perjuangan pak.
BalasHapusKolaborasi kuliner dengan menulis mantao๐๐๐
BalasHapus