Minggu, 06 Oktober 2019

OPTIMALISASI KEMAMPUAN OTAK BERDASARKAN CARA KERJA OTAK BAWAH SADAR



Kemarin malam saya kedatangan 3 tamu - Rabu, 2/10/2019. Mereka bertiga adalan sepasang pasutri berserta anak laki-lakinya. Mereka datang untuk membantu menerapi anak laki-laki dengan dua tujuan yaitu untuk menigkatkan kemampuan otaknya (kecerdasan dan daya ingatnya) dan yang kedua untuk penyembuhan ambeiennya yang sudah dialaminya sejak kecil. Dan untuk saat ini, si anak masih berumur 8 tahun – kelas 3 SD. Khusus untuk kesempatan ini saya ulas tentang upaya penigkatkan kemampuan otak  saja. sedangkan masalah ambeiennya dibahas dalam bagian terpisah agar pembahasannya bisa dilakukan secara lebih mendetail.

Poin yang pertama yaitu meningkatkan kemampuan.  Guna untuk optimalisasi kemampuan otak maka perlu dilakukan pemrograman ulang kinerja system syaraf otak dan system peredaran darah keotaknya. Dengan pemberlakuan tersebut diharapkan aliran darah keotak bisa lancar, sehingga suplay oksigen dan juga asupan zat-zat yang dibutuhkan otak bisa terpenuhi dengan baik. dan pada tahap selanjutnya akan berdampak pada peningkatan kinerja neuron-neuron otak dalam mendokumentasikan informasi yang telah didapatkannya secara baik pula. Untuk lebih jelas terkait pemrograman kemampuan otak, silahkan untuk membaca dalam buku antologi saya yang berjudul “Banyak Jalan Menuju Sehat  atau dalam artikel sebelumnya dengan judul yang sama yaitu “Pemrograman Ulang Sistem Kerja Syaraf Otak https://samsudinathafu72.blogspot.com/2019/09/pemrograman-ulang-sistem-kerja-syaraf.html.

Oh ya, dalam memberikan penjelasannya bapaknya juga umenanmbahkan kalau si anak juga mengalami kesulitan untuk fokus dalam belajarnya. Dan untuk menanggapi keluhan tersebut maka saya mencoba memberinya penjelasan pada si bapak dengan mengacu pada kajian ilmu psikology pendidikan yang mengklasifikasikan gaya belajar anak kedalam tiga bagian , yaitu: gaya belajar visual; gaya belajar auditori; dan gaya belajar kinestetik. Dan selanjutnya saya berikan tips atau saran berdasar pada informasi yang ada pada buku Membaca Buku 1 halaman/detik karya Agus Setiyawan.
Gaya belajar visual Gaya. Anak yang memiliki gaya beajar model  visual ini  ditandai dengan kuatnya kemampuan belajar yang didasarkan pada penglihatan. Dengan demikian, orang yang tergolong dalam kelompok ini orangnya sangat teliti dan tajam penglihatanya.  Maka tidak perlu heran bila kita mendapati anak tipe ini memiliki kemampuan belajar pada tingkatan yang menonjol terutama bila berhubungan dengan ini matematika, bahasa arab, bahasa jepang, simbol- simbol, dan lainnya yang berkaitan dengan bentuk.
Sedang ciri-ciri yang mudah dikenali dari anak kelompok visual adalah: mereka bisa mengingat dengan lebih cepat dan kuat dengan cara melihat;  tidak terpengaruh oleh suarabising; gemar membaca, sangat kuat dalam mengingat warna; mengingat bentuk; dan kemampuan pada pemahaman artistic. Selain itu, anak tipe ini memiliki penampilan yang rapi tetapi kurang suka mendengarkan penjelasan guru. Hal ini disebabkan oleh dominasi kemampuan visual – melihatnya. Dan metode pengajaran yang sangat bermakna dengan kesan yang sangat mendalam adalah pengajaran yang melibatkan kemampuan visual anaka, yaitu lewat percobaan atau peragaan. Metode pembelajaran yang tepat yaitu dengan metode mindmap, video ilustrasi, alat tulis berwarna, pembelajaran menggunakan bentuk.

Gaya Belajar Auditori. Orang yang masuk dalam kategori ini ditandai dengan menonjolnya kemampuan  indera pendengaran yang lebih baik dan lebih terfokus dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu orang dengan gaya belajar tipe ini lebih mudah memahami sesuatu dengan cara mendengarkan. Hal ini berpengaruh terhadap proses menghafal, membaca, atau soal cerita.
Ciri- ciri yang bisa kita kenali dari anak yang bergaya belajar auditori, adalah: Memiliki kemampuan mengingat yang baik dari mendengarkan, sulit  berkonsentrasi dalam  suasana yang bising, dan suka diskusi.  Sedangkan sisi negative dari anak yang bergaya belajar auditori  yaitu anak mudah  dan kurang suka membaca. Anak  model ini lebih suka bertanya dari pada mencari sendiri dari dalam buku.
Gaya Belajar Kinestetik.  Gaya belajar kinestetik yaitu gaya belajar yang ditandai oleh banyak gerak. Hal –hal yang melibatkan gerakkan fisik  yaitu seperti olahraga, menari, memainkan musik, percobaan laboratorium, dan lainnya. Metode pembelajaran yang cukup efekktif diterapkan untuk anak model ini adalah pembelajaran yang aktif atau permainan. Karena dengan penerapan metode ini anak akan mencapai  perkembangan otak  secara baik. Dan tentu saja, anak tipe ini memiliki sifat yang sangat menonjol yaitu berkecenderungan  tidak bisa diam.  Karena anaknya suka bergerak dan berpindah-pindah tempat serta sedikit usil maka penerapan  metode pembelajaran dengan membuat permainan peran, drama, praktik skill, menari, dan memainkan alat music dianggap lebih sesuai.
Gaya Belajar Global. Anak yang masuk dalam kategori ini ditandai adanya kemampuan untuk memahami segala sesuatu secara menyeluruh. Pemahaman meliputi gambaran secara global (besar) dan juga hubungan antara satu objek dengan yang lainnya. Selain itu anak dengan tipe ini  juga mampu mengartikan hal-hal yang tersirat dengan bahasanya sendiri secara baik. sedangkan secara umum anak yang bergaya belajar global ini memiliki stylis/gaya belajar sbagai berikut: mampu melakukan banyak tugas dalam waktu bersamaaan; memeiliki kemampuan dalam bekerjasama dengan orang lain secara baik;  memiliki sensitifitas/kepekaandalam melihat  permasalahan dengan baik; dan juga cakap mengutarakan apa yang dilihatnya dengan kata-kata sendiri secara baik.
Namun disisi lain, anak dengan gaya belajar global memiliki kecenderungan  kurang rapid an dalam melakukan suatu pekerjaan seringkali berantakan (tidak teratur). Karena anak tipe global sering kali  memikirkan bnayak hal sekaligus maka sebagai resikonya  dia kurang mampu untuk tetap focus pada satu pekerja yang pada akhirnya akan berdampak pada terbeklainya tugas yang dikerjakan tadi. Dibalik kelemahan tersebut, anak tipe ini sangat  peka terhadap lingkungan sekitarnya termasuk perasaan orang lain dan merasa senang untuk bekerja keras membuat orang lain senang.

Gaya Belajar Analitik. Anak yang bertipe analitik memikili kemampuan dalam memandang sesuatu cenderung ditelaah terlebih dahulu secara terperinci, spesifik, dan teratur. Dalam mengerjakan segala sesuatunya dilakukan secara bertahap, urut dan rinci. Dengan karakter tersebut anak ini memiliki ciri gaya belajar sebagai berikut: Berfokus mengerjakan satu tugas hingga tuntas;  cara berpikirnya  logis berbasis pada data dan fakta, tidak suka ada hal yang terlewatkan dalam melaksanakan tugas, dan juga memiliki keteguhan/konsistensi secara baik.
Sedangkan metode pembelajaran paling sesuai dan baik untuk diterapkan pada anak tipe ini yaitu dengan cara membuat jadwal belajar yang terstruktur dan penentuan sasaran belajar yang ditargetkan secara  jelas.
Berdasarkan pertimabangan diatas – gaya belajar anak, maka kedua orang tua dari anak tadi saya jelaskan kalau anaknya termasuk dalam kategori kinestetik yang mana anaknya selalu aktif dan agak susah untuk focus dalam melaksanakan pembelajaran. Dan untuk menyiasatinya bisa dilakukan terapi untuk optimalisasi kemampuan otaknya yang melikputi daya kreatif dan daya ingatnya. Hal ini bisa dilakukan secara rutin satu bulan satu kali.
Selain cara tersebut, saya juga kasi saran tambahan yng mengacu pada cara kerja otak bawah sadar manusia dalam posisi gelombang otak alfa yang saya baca dalam buku Agus Setiyawan – Membacakilat 1 Halaman/Detik. Berdasarkan informasi tersebut maka saya anjurkan kalau habis membaca/belajar diusahakan anaknya untuk memejamkan matanya selama 10 – 20 menit. Karena ksaran rentang waktu tersebut yang dibutuhkan otak bawah sadar memproses penyimpanan informasi kedalam otak bawah sadar secara sempurna.
Mengapa harus memejamkan mata? Ya karena hanya dengan memajamkan mata otak sadar khususnya kritikael area dari otak kita tidak dapat bekerja. Sebagai dampak positifnya semua informasi yang tekah kita peroleh bisa tersemipan kedalam memori jangka panjang otak bawah sadar kita. Dan kondisi semacam inilah yang disebut sebagai kondisi jenius otak manusia untuk melakukan pembelajaran, yang tentu saja akan membuahkan hasil yang sangat optimal bila hal ini bisa diterapkan.  
Sedangkan untuk dapat memanggil ulang informasi yang terkemas dalam memori bawah sadar jangka panjang disaat-saat infomasi dibutuhkan bisa saja dilakukan kapan saja. Dan untuk tingkat kemudahan dalam pemanggilan informasi yang tersimpan kita butuh latihan secara baik yang mungkin akan diulas dalam artikel selanjutnya. Semoga pengalaman ini mampu menginisiasi baik baik para guru maupun para orangtua dalam mengenali dan menyikapi gara belajar anak.

5 komentar: