Jumat, 28 Agustus 2020

LEGITNYA SAYUR BLENDI KORONYA

 

Saya merasa sangat senang sekali saat menerima ajakan Prof Ngainun Naim untuk membuat buku antologi dengan mengusung tema kuliner jangan blendrang. Tepatnya tiga hari yang lalu dengan tenggang batas penyetoran naskah 4 hari setelah pengumuman. Empat hari merupakan rentang waktu yang lebih dari cukup untuk membuat blendrang. Tapi juga waktu yang relative singkat untuk sekedar membuat tulisan. Apalagi kalu kemampuan nulisnya masih memiliki ketergantungan dengan mood.

Dari batasan waktu tersebut saya memilih untuk setor paling akhir saja, yaitu saat date line atau saat jatuh tempo. Keputusan tersebut saya ambil karena dua alasan, yaitu: yang pertama karena tulisan baru kelar hari ini, dan yang kedua karena rentang waktu tiga hari saya anggap sangat cukup untuk membuat cita rasa jangan blendrang menjadi lebih legit dan jangget banget di lidah. Karena kekhasan itulah jangan blendrang terkonsep secara kuat di dalam otak.

Bahkan karena ke khasan jangan blendrang tersebut, seringkali saat menyantapnya pikiran kita terserap kembali kemasa lalu. Saat-saat kita masih kecil. Saat masih bersama ibu, bapat, adik, kakak, dan juga orang terkasih dalam hidup kita dimasa lalu.  Ya semuanya bisa termunculkan kembali karena sensasi jangan blendrang.

Dalam konsepsi ini, agar jangan blendrang tidak terkesan ndeso serta terkesan ketinggal jaman maka saya ingin menghadirkan nuansa yang lebih kekinian dengan memberi nama yang lebih jreng dan lebih ngehh.  jangan blendrang dengan sebuatan sayur blendi. Seperti yang kita tahu bahwa kata sayur itu memang sama saja baik makud, arti maupun wujudnya, yaitu sayur yang sudah lewat. Dalam konteks ini kita sedikit memasuki ranah gaya bahasa yang heterologoi. Suatu gaya bahasa yang digunakan untuk menyebut sesuatu yang sama tetapi menggunakan kata yang berbeda.

Oh ya, mungkin ada yang penasaran apa sih sayur blendi koronya itu? Ih kok sedikit ngeri karena mirip-mirip dengan virus yang lagi pandemic saat ini, yaitu virus Corona atau Covid-19. Sayur blendi yang saya maksud di sini adalah jangan blendrang dik ingi kalau di Indonesiakan jadi sayur kemarin. Sedangkan koronya lebih mengacu pada bahan yang dijadikan jangan blendrang tadi. Dan bila mengacu pada judul tulisan diatas maka baha yang dipilih berupa koro.

Ada satu alasan mengapa saya memilih sayur blendi dengan bahan dasar koro karena waktu itu orang tua saya selalu menama koro dipinggiran tegal/lading. Sedangkan lading bagian tengah sebagian ditanami Lombok dan yang sebagian ditanami singkong untuk bikin gaplek. Sehingga saat tanaman koro dan lomboknya bebuah dalam jumlah yang banyak ibu saya selalu njangan koro dalam ukuran yang lebih. Baik koronnya maupun lomboknya. Hal itu dilakukan dengan pertimbanagan lebih irit dan lebih praktis. Karena dengan sekali njangan – koro sekuali dengan lombok hijau satu sampai dua kilogram lombok yang masih diutuhkan bisa dikonsumsi selama dua atau tiga hari. Tentu saja dengan lombok seukuran itu rasanya cukup pedas.  Tapi saat menyantapnya, sambil nyletetin lomboknya untuk dicampur dengan nasi sebelum dimakan rasanya asik juga. Tapi ingat, makannya tidak boleh kebanyakan karena bisa bikin perut mules-mules dan terasa panas saat BAB.

            Menurut pemikiran saya, saat membicarakan jangan blendrang, sebenarnya terdapat banyak unsur nilai kearifan lokal yang didalamnyan. Nilai-nilai kearifan tersebut diantaranya: yang pertama yaitu adanya manajemen waktu. Hal ini bisa kita cermati dengan prosesi masak yang hanya membutuhkan sekali masak dan hasil masakkanya bisa digunakan untuk beberapa hari berikutnya. Hari berikutnya tinggal ngenget/memanasi saja. Maka di sini terjadipenghematan waktu. Sehingga hari berikutnya bisa dimanfaatkan untuk mengerjakan aktifitas lainnya. Biasanya untuk nggaplek – ngoncek telo setelah itu dijemur dibawah terik matahari.

            Yang kedua yaitu muatan nilai ekonomis. Nilai ekonomisnya bisa didapat dari pengiritan bahan bakar, bumbu masak, dan juga waktunya bisa digunakan untuk kegiatan produktif lainnya. Bahkan saat saya kos ketika kuliah di UMM dulu juga tidak lepas dari kemaslkhatan secara ekonomis dari blendrang. Tapi blendrangnya bukan blendi koronya. Blendinya berupa sambel terasi yang dibikinin ibu saya setiap kali saya pulang. Tiap bulan saya sangu blendi sambel terasi satu botol aqua ukuran satu literan. Ya lumayan dengan bekal sambel satu botol tadi bisa menghemat biaya pengeluaran kira-kira dua mingguan. Blendi banget kan???

            Yang ketiga berupa nilai syukur. Nilai syukur bisa pantik oleh adanya keikhlasan yang tulus dari dalam hati. Ikhlas untuk menerima dan menikmati rejeki apapun bentuknya. Walau itu berupa jangan blendi koronya ataupun sebatas sambel terasi. Tapi di situ terdapat nikmat yang luar biasa. Daintaranya karena blendi sambel terasi kuliah saya bisa rampung dan bisa jadi PNS lewat jalur yang tidak sewajarnya, yaitu jalur data based.

            Dan yang keempat berupa keistikomahan dalam memegang sebuah komitmen. Komitmen di sini bukan hanya terkait dengan masalah blendrang saja. Tetapi bisa ke masalah lain juga. Baik itu di ranah social, norma, maupun pada kehidupan religious. Dengan kata lain, keikhlasan dalam komitmen di sini dapat diartikan tidak gampang waleh atau lenjeh terhadap sesuatu yang telah kita miliki. Mungkin di sinilah letak relevansinya pernyataan Bung Karno andagiomna yang terkenal itu, yaitu JASMERAH. Jangan melupakan sejarah. Sejarah itu bisa berupa apa saja. Kalau dalam konteks personal mungkin rekam jejak masa lalu. Masa di mana seseorang tengah berjuang sebelum titik pencapaian saat ini. Atau bisa juga berupa kenangan yang mampu membangkitkan nilai heroik saat seseorang dalam posisi terpuruk. Atau apalah itu namanya. Yang jelas jangan blendi koronya dan juga sambel terasi ada di dalamnya.

            Sedangkan dari sisi kesehatan, menurut saya tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Asalkan tidak berlebihan seperti yang disarankan oleh Rosulullah saja. Semua pasti aman dan terkendali, yaitu makan secukupnya dan berhenti sebelum kenyang. Terus bagaiman dengan kata dokter? Tidak usah begitu diperhatikan! Asalkan konsep pemikiran yang terinstal di otak kita mengatakan baik dan meyakini blendrang itu baik, insyaallah reaksi negative tidak akan terjadi pada diri kita. Dan dengan sendirinya, pemunculan toksin atau racun yang disebabkan oleh blendrang pasti tidak ada karena apa? Karena konsep atau definisi yang tersimpan diotak bawah sadar tidak mengatakan seperti itu. Sehingga waktu otak sadar melakukan afirmasi apakah blendrang bisa berubah jadi racun yang bisa mengganggu daya tahan dan kesehatan tubuh. Pas afirmasi tersebut dilakukan dan otak sadar tidak menemukan rambu-rambu pesimis semacam itu. Maka  saat program saraf yang telah dikomando oleh otak sadar untuk mencerna makanan berupa bledrang tentu yang dihasilkan adalah sesuatu yang baik-baik saja. Jadi untuk membangun imunitas tubuh yang lebih kuat persepsi positif terkait dengan trust and believe pada jangan blendrang perlu direkonstruksi ulang lagi. Kemudian diganti fomulasi positif dan penuh rasa optimism.

            Hidup blendrang. Hidup blendi koronya. Hidup juga sambel terasi.

3 komentar:

  1. alhamdulillah suka blendinya. semoga saya selain enak dengan kekhasan cita dan rasanya juga bisa mengaktifkan kenangan masa lalu yang penuh perjuangan pak.

    BalasHapus
  2. Kolaborasi kuliner dengan menulis mantao๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘†

    BalasHapus