Minggu, 23 Agustus 2020

MEMBANGUN KONSISTENSI DALAM KEPENULISAN


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus Versi online/daring (dalam jaringan) kata konsisténsi dikategorikan sebagai kata benda/
n yang didefinisikan sebagai ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak) ~ https://kbbi.web.id/konsistensi. Konsistensi merupakan salah satu faktor penentu dalam pencapaian suatu target kerja. Apa pun itu jenis pekerjaannya. Termasuk didalamnya adalah kegiatan tulis-menulis. Hal in dikarenakan tanpa adanya konsistensi   produktifitas kepenulisan akan mengalami ketersendatan. Bahkan yang lebih fatal lagi kemampuan menulis seseorang bisa semakin tumpul dan hilang sama sekali.  Bila kondisi semacam ini terjadi, tentu saja karya kepenulisan tidak akan pernah bias dihasilkan lagi.

Hal ini searah dengan pernyataan Prof. Ngainun Naim yang dalam bukunya yang berjudul  The Power Of Writing (2015: 50) menyebutkan “agar kita bias menghasilkal tulisan setiap hari dibutuhkan komitmen yang kuat. Tanpa komitmen yang kuat, sulit rasanya menjaga ritme menulis secara terus-menerus. Tetapi jika kita memiliki komitmen yang kuat, berb agai hambatan dapat diatasi.”

Pernyataan Prof. Ngainun Naim diatas lebih dipertegas lagi oleh Hernowo Hasim seperti yang tertulis pada cover buku antologi SPN yang berjudul Resolusi Menulis Menyusun Rencana Mewujudkan Karya (2017) yang secara jelas menyatakan bahwa “Aku juga sadar kemahiran dan kenyamanan menulisku akan hilang sedikit demi sedikit jika tak kujaga dan kurawat. Menjaga dan merawatnya, sekali lagi, hanya dengan berlatih dan menambah pengetahuanku tentangnya. Ini perlu kulakukan secara konsisten. Konsisten disini tidak harus banyak dan berdarah-darah. Sedikit saja (15 – 30 menit), asalkan kulakukan setiap hari tentulah akan membuahkan perbaikan.”

Konsistensi merupakan salah satu bagian penting dari dimensi kepribadian seorang individu secara holistik. Dan untuk merekonstruksi dimensi ini memerlukan rentang waktu yang cukup lama dan harus dibarengi adanya kekuatan niat, tekat, kekhusukan serta keistikhomahan selama dalam menjalani proses. Kemudian rangkaian runtinitas dan  pembiasaan tersebut akan tumbuh dan terbentuk sikap/dimensi kekonsistensian tadi. Mungkin proses semacam inilah penebalan meilin pada otak kita terjadi. Dan bila hal ini bisa terbentuk secara terus-menerus maka hasil akhir (progressif result) akan sangat baik dan relative permanen tertanam dalam diri seseorang.

Seandainya penebalan meilin terbangun memlalui pembiasaan aktivitas menulis tentu dampak positif yang dihasilkan adalah kemudahan dalam melakukan aktifitas kepenulisannya. Baik dalam penggalian ide, penyusunan kalimat maupun dalam pemilihan gaya penulisan yang digunakannya. Bahkan orang telah mencapai fase ini, disetiap harinya dia akan merasa gelisah dan sangat tersiksa bila belum melakukan aktifitas menulis sama sekali. Dia selalu merasa ada kejanggalan karena energy yang terakumulasi dalam meilin kepeneulisan belum tersalurkan.

Tegalrejo, 24/08/2020

4 komentar: