Berkaitan dengan tema pembahasan diatas, penulis mencoba menawarkan beberapa tips dan
sekaligus trik pendekatan (pseudo aprouthment) yang relevan serta dapat
diterapkan. Metode pendekatan untuk menumbuhkan minat baca pada anak, terutama
pada anak tigkat sekolah dasar bisa ditempuh dalam beberapa tahap. Menurut
hemat penulis, paling tidak ada 6 metode pendekatan yang bisa ditempuh yaitu :
1.
Berikan cerita yang menarik.
Seorang guru atau pun orang tua bisa memberikan suatu
cerita yang bisa memancing rasa penasaran pada anak. Berceritalah semenarik
mungkin sehingga perasaan anak turut hanyut dalam cerita itu. Tapi ingat, dalam
penyampaian cerita jangan sampai tuntas. Biarkan si anak tetap penasaran dan
ingin tahu ending dari cerita tersebut.
Dan saat itulah waktu yang tepat bagi kita untuk
menunjukkan buku cerita yang kita sampaikan tadi kepada anak. Momen ini seperti
ini, guru atau orang tua cukup memberikan kesempatan pada anak untuk membaca
sendiri agar menemukan ending cerita tersebut. Bila metode ini dilakukan
berulang-ulang, maka anak bisa jadi kecanduan untuk membaca. Dan dari pembiasaan
ini akan tercipta budaya baca (budaya literasi) dengan sendirinya.
2.
Berikan buku bacaan yang menarik.
Bagi anak yang sudah bisa membaca, kita bisa memberi
rangsang dan penguatan minat bacanya dengan memberikan buku bacaan yang sesuai
dengan usia dan minatnya. Bisa berupa komik, majalah anak, buku cerita dan juga
buku biografi seorang tokoh yang dikaguminya. Dengan demikian si anak akan
merasa senang dan menemukan keasikan dengan bukubuku tersebut.
3.
Disuruh membuat pertanyaan tentang
suatu cerita.
Sebelum diperintahkan membuat pertanyaan dalam jumlah
tertentu tentang suatu bacaan (cerita), saya meminta murid-murid untuk membaca
sebuah teks cerita pendek tiga sampai 5 kali. Cara ini saya tempuh dengan
tujuan untuk membentuk konsepsi diri anak yang terekam dalam otak bawah
sadarnya agar senang membaca. Hal ini, dilatarbelakangi bahwa daya kerja otak
bawah sadar akan bisa maksimal lewat proses pengulangan yang berkali-kkali.
Setelah aktifitas membaca berulang-ulang, guru meminta
siswa/anak untuk membuat pertanyaan sebebasnya tentang cerita tersebut. Bisa
tentang tokohnya, karakter tokoh, pesan cerita, latar belakang dan masih banyak
lagi. Pada tahap ini siswa hanya membuat pertanyaan dan tidak dituntut untuk
membuat jawaban. Cara ini bisa dilakukan secara bertahap, misalnya bulan pertama
membuat 5 pertanyaan, bulan kedua 10 pertanyaan dan bulan ke tiga 20
pertanyaan. Setelah itu anak/siswa jadi sangat kritis pemikiranya dan minat
tentu saja minat bacanya jadi meningkat.
4.
Meresum (merangkum) cerita.
Disaat anak sudah merasa senang dengan membaca, kita
bisa meningkat fase berikutnya yaitu melatih anak untuk membuat resume dari teks
yang dibacanya. Pada tahap awal anak diminta membuat 4 – 6 kalimat setelah itu 6 – 10 kalimat dan seterusnya. Bila fase ini
dapat dilalui dengan baik, secara otomatis anak akan memperoleh tiga keuntungan
yaitu bisa menggali informasi secara mandiri, ketrampilan membaca meningkat dan
juga tumbuhnya ketrampilan menulis pada level awal.
5.
Menceritakan ulang (retell).
Tahap retell atau cerita ulang ini, anak cukup diminta
untuk membacakan hasil resumnya dikelas. Bisa secara bergantian atau pun secara
acak. Pada level ini siswa bisa melatih kemampuan untuk berbicara didepan umum
dan juga kemampuan membanding (comparative skill) hasil karyanya dengan karya
teman yang dibacakan tadi.
6.
Tugas kelompok diskusi.
Langkah awalnya siswa dikelompokkan dalam beberapa
group, setelah itu diberi penugasan ataupun pembahasan suatu kasus terkait dengan
suatu teks bacaan. Dan akhirnya hasil kerja kelompok diprentasikan kedepan
kelas dan sekaligus melakukan Tanya jawab dengan kelompok lain. Dari sini
kemampuan komunikasi siswa/anak dengan orang lain semakin meningkat
. Selain
itu rasa toleransi, menghargai pendapat orang lain dan sikap demokrasi akan
terbentuk dengan sendirinya.
Semoga tulisan ini mampu memberikan kontribusi positif
dan sekaligus inspiratif bagi kalangan pendidik /orang tua dalam menumbuh
kembangkan semangat literasi (baca) pada anak. Penulis yakin, tulisan ini bukan
satu-satunya model pendekatan yang bisa diterapkan dalam upaya membangun budaya
literasi yang saat ini tengah digulirkan pemerintah. Tentunya masih banyak lagi
alternative lain yang perlu di coba hingga menemukan formulasi yang paling
tepat sesuai dengan ketersediaan sarana literasi, kondisi geografis dan kultur
masyarakatnya.








0 komentar:
Posting Komentar