Selasa, 03 September 2019

JURUS JITU MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI


Berkaitan dengan tema pembahasan diatas,  penulis mencoba menawarkan beberapa tips dan sekaligus trik pendekatan (pseudo aprouthment) yang relevan serta dapat diterapkan. Metode pendekatan untuk menumbuhkan minat baca pada anak, terutama pada anak tigkat sekolah dasar bisa ditempuh dalam beberapa tahap. Menurut hemat penulis, paling tidak ada 6 metode pendekatan yang bisa ditempuh yaitu :
1.     Berikan cerita yang menarik.
Seorang guru atau pun orang tua bisa memberikan suatu cerita yang bisa memancing rasa penasaran pada anak. Berceritalah semenarik mungkin sehingga perasaan anak turut hanyut dalam cerita itu. Tapi ingat, dalam penyampaian cerita jangan sampai tuntas. Biarkan si anak tetap penasaran dan ingin tahu ending dari cerita tersebut.

Dan saat itulah waktu yang tepat bagi kita untuk menunjukkan buku cerita yang kita sampaikan tadi kepada anak. Momen ini seperti ini, guru atau orang tua cukup memberikan kesempatan pada anak untuk membaca sendiri agar menemukan ending cerita tersebut. Bila metode ini dilakukan berulang-ulang, maka anak bisa jadi kecanduan untuk membaca. Dan dari pembiasaan ini akan tercipta budaya baca (budaya literasi) dengan sendirinya.

2.     Berikan buku bacaan yang menarik.
Bagi anak yang sudah bisa membaca, kita bisa memberi rangsang dan penguatan minat bacanya dengan memberikan buku bacaan yang sesuai dengan usia dan minatnya. Bisa berupa komik, majalah anak, buku cerita dan juga buku biografi seorang tokoh yang dikaguminya. Dengan demikian si anak akan merasa senang dan menemukan keasikan dengan bukubuku tersebut.

3.     Disuruh membuat pertanyaan tentang suatu cerita.
Sebelum diperintahkan membuat pertanyaan dalam jumlah tertentu tentang suatu bacaan (cerita), saya meminta murid-murid untuk membaca sebuah teks cerita pendek tiga sampai 5 kali. Cara ini saya tempuh dengan tujuan untuk membentuk konsepsi diri anak yang terekam dalam otak bawah sadarnya agar senang membaca. Hal ini, dilatarbelakangi bahwa daya kerja otak bawah sadar akan bisa maksimal lewat proses pengulangan yang berkali-kkali.

Setelah aktifitas membaca berulang-ulang, guru meminta siswa/anak untuk membuat pertanyaan sebebasnya tentang cerita tersebut. Bisa tentang tokohnya, karakter tokoh, pesan cerita, latar belakang dan masih banyak lagi. Pada tahap ini siswa hanya membuat pertanyaan dan tidak dituntut untuk membuat jawaban. Cara ini bisa dilakukan secara bertahap, misalnya bulan pertama membuat 5 pertanyaan, bulan kedua 10 pertanyaan dan bulan ke tiga 20 pertanyaan. Setelah itu anak/siswa jadi sangat kritis pemikiranya dan minat tentu saja minat bacanya jadi meningkat.

4.     Meresum (merangkum) cerita.
Disaat anak sudah merasa senang dengan membaca, kita bisa meningkat fase berikutnya yaitu melatih anak untuk membuat resume dari teks yang dibacanya. Pada tahap awal anak diminta membuat  4 – 6 kalimat setelah itu  6 – 10 kalimat dan seterusnya. Bila fase ini dapat dilalui dengan baik, secara otomatis anak akan memperoleh tiga keuntungan yaitu bisa menggali informasi secara mandiri, ketrampilan membaca meningkat dan juga tumbuhnya ketrampilan menulis pada level awal.

5.     Menceritakan ulang (retell).
Tahap retell atau cerita ulang ini, anak cukup diminta untuk membacakan hasil resumnya dikelas. Bisa secara bergantian atau pun secara acak. Pada level ini siswa bisa melatih kemampuan untuk berbicara didepan umum dan juga kemampuan membanding (comparative skill) hasil karyanya dengan karya teman yang dibacakan tadi.

6.     Tugas kelompok diskusi.
Langkah awalnya siswa dikelompokkan dalam beberapa group, setelah itu diberi penugasan ataupun pembahasan suatu kasus terkait dengan suatu teks bacaan. Dan akhirnya hasil kerja kelompok diprentasikan kedepan kelas dan sekaligus melakukan Tanya jawab dengan kelompok lain. Dari sini kemampuan komunikasi siswa/anak dengan orang lain semakin meningkat
. Selain itu rasa toleransi, menghargai pendapat orang lain dan sikap demokrasi akan terbentuk dengan sendirinya.

Semoga tulisan ini mampu memberikan kontribusi positif dan sekaligus inspiratif bagi kalangan pendidik /orang tua dalam menumbuh kembangkan semangat literasi (baca) pada anak. Penulis yakin, tulisan ini bukan satu-satunya model pendekatan yang bisa diterapkan dalam upaya membangun budaya literasi yang saat ini tengah digulirkan pemerintah. Tentunya masih banyak lagi alternative lain yang perlu di coba hingga menemukan formulasi yang paling tepat sesuai dengan ketersediaan sarana literasi, kondisi geografis dan kultur masyarakatnya.

0 komentar:

Posting Komentar