Selasa, 03 September 2019

HAMBATAN DALAM PEMBUDAYAAN LITERASI


Untuk mewujudkan sebuah kebiasaan menjadi tradisi apalagi  menjadi sebuah budaya tidaklah gampang dan semudah membalikkan telapak tangan. Sambil mengucapkan mantera bim salabim aba kadabra, dan  cling langsung  jadi. Hal ini dikarenakan  budaya merupakan suatu system dari rangkaian dan sekaligus kompromi berbagai aspek kehidupan suatu bangsa. Yang tentu saja terdapat banyak tantangan dan hambatan yang perlu diatasi agar tujuan itu bisa berhasil.

Menurut penulis, minimal ada 6  permasalahan serius yang sering kali yang menjadi penghambat terhadap peningkatan minat baca suatu masyarakat dan juga mengakibatkan  program literasi sulit berkembang.  Ke enam permasalahan tersebut adalah :
1.      Kurangnya ketersediaan media baca.
Program literasi atau program gemar membaca hanya akan jadi utopia (impian) saja bila tidak dibarengi dengan ketersediaan literatur  (pustaka) yang memadai. Dalam hal ini, tentunya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memfasilitasi pengadaan buku pustaka diseluruh pelosok negeri.
Dan khusus untuk wilayah propinsi Jawa Timur pemfasiltasan ini sudah mulai dirintis yaitu dengan diluncurkan program Perpustakaan Desa. Informasi ini, penulis peroleh saat mengikuti Pembinaan  Teknis Tenaga Perpustakaan Sekolah Tingkat SD / MI se-Kabupaten Tulungagung Tahun 2017 yang berlangsung pada tanggal 18 Mei  lalu di Gedung Rakyat. Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur.
Dengan adanya program tersebut sebagai perwujudan dari good will (niat baik) pemerintah,. Sehingga  masalah ketersediaan buku sebagai sarana literasi dalam jangka waktu dekat bisa terselesaikan. Khususnya di wilayah Jawa timur. Dan semoga untuk propinsi lain juga melakukan program yang sama walau dengan nama yang berbeda.
2.      Mahalnya harga buku.
Tingkat kemahalan harga buku menjadi salah satu penyebab orang merasa enggan untuk memenuhi minat bacanya. Hal ini terkait erat dengan tingkat kesejahteraan (pendapatan)  sebagian masyarakat Indonesia yang masih tergolong minim. Sehingga pengalokasian anggaran pendapatannya lebih dititik beratkan untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari mereka.
Dan bila pemerintah menghendaki warganya berwawasan serta berpengetahuan baik, maka pemerintah perlu untuk turut campur tangan mengatasinya. Untuk pemerintah bisa mengatasinya  lewat pemberian subsidi pembiayaan pengadaan buku.  Sehingga harga buku bisa ditekan serendah mungkin dan masyarakat bawah bisa menjagkaunya.
3.      Kuatnya budaya menonton.
Memang tidak dapat dipungkiri  bahwa masyarakat kita lebih senang untuk menikmati acara televise daripada membaca buku. Bahkan hampir separuh waktu hidupnya dihabiskan untuk duduk di depan TV. Dengan kata lain TV sebagai kotak ajaib banyak menyita waktu  kita hanya untuk menungguinya. Sementara itu, TV tidak pernah peduli dengan kita.
Televisi sebagai kotak ajaib, selain menawarkan nilai positif sebagai media hiburan, infomasi dan edudaksi. Televisi juga membawa  dampak negative yang bersifat merusak terhadap perkembangan kemampuan otak manusia. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan Dharma Sing Khlasa yang kemudian dikutip oleh  Jalaluddin Rahmad dalam bukunya Belajar Cerdas, Belajar Berbasiskan Otak (2005). Dari hasil penelitian tersebut dinyatakan bahwa televisi akan menjadikan otak pasif, melumpuhkan otak kritis, dan merusak – terutama – kecerdasan spasial pada otak sebelah kanan. Namun demikian, dampak paling berbahaya dari menonton televisi adalah mengalihkan perhatian orang dari membaca.
4.      Alasan kesibukan.
Semakin beratnya pemenuhan kebutuhan hidup memaksa seseorang untuk terus bekerja keras agar semua tuntutan hidup bisa tercukupi. Sehingga situasi ini menyeret manusia untuk menghabiskan waktu dan kehidupanya digunakan untuk kerja dan kerja. Yang pada akhirnya tidak ada waktu tersisa untuk meng update otaknya dengan informasi – keilmuan lewat aktivitas membaca.
Dalih semacam ini seringkali digunakan sebagai pembenar saat ditanya tentang seberapa sering seseorang menyisihkan waktunya untuk membaca buku maupun media cetak lainnya.
5.      Mitos yang salah.
Yang penulis anggap sebagi mitos yang salah terkait masalah budaya literasi dan sampai saat ini masih kuat berkembang ditengah di masyarakat kita yaitu adanya anggapan atau persepsi yang menyatakan bahwa membaca itu hanyalah cocok untuk orang-orang berpendidikan tinggi saja.
Ada lagi mitos yang menganggap membaca bikin pusing, membaca bikin pikiran tambah sumpek, membaca membuat mata jadi ngantuk, dan masih banyak lagi. Tentu saja mitos-mitos negative semacam ini perlu dihilangkan agar masyarakat bisa tergugah minat bacanya. Sehingga program Gerakan Literasi Nasional bisa terlaksana dengan baik.
6.      Rasa malas.
Kemalasan atau rasa malas adalah pemicu dari segala bentuk kegagalan pada diri seseorang. Karena bila rasa ini kuat mengendap dalam pikiran sesorang maka orang tersebut sangat sulit untuk bisa maju. Apa lagi untuk mencapai kesuksesan.
Situasi psikis semacam ini akan berdampak sangat fatal bila sudah tertanam kuat dan sudah diyakini zona aman tentang konsepsi dirinya. Kondisi semacam ini perlu penanganan yang serius agar orang tersebut bisa segera move on (bangkit) dengan cara diberi perlakuan khusus lewat mind setting program. Dalam program ini, si pasien bisa diberi nasihat, saran, sugesti, bimbingan, konsultasi, pendampingan dan bisa juga dilakukan hypnotherapy.




0 komentar:

Posting Komentar