Untuk mewujudkan
sebuah kebiasaan menjadi tradisi apalagi
menjadi sebuah budaya tidaklah gampang dan semudah membalikkan telapak
tangan. Sambil mengucapkan mantera bim salabim aba kadabra, dan cling langsung jadi. Hal ini dikarenakan budaya merupakan suatu system dari rangkaian
dan sekaligus kompromi berbagai aspek kehidupan suatu bangsa. Yang tentu saja
terdapat banyak tantangan dan hambatan yang perlu diatasi agar tujuan itu bisa
berhasil.
Menurut
penulis, minimal ada 6 permasalahan
serius yang sering kali yang menjadi penghambat terhadap peningkatan minat baca
suatu masyarakat dan juga mengakibatkan
program literasi sulit berkembang.
Ke enam permasalahan tersebut adalah :
1.
Kurangnya ketersediaan media baca.
Program
literasi atau program gemar membaca hanya akan jadi utopia (impian) saja bila
tidak dibarengi dengan ketersediaan literatur (pustaka) yang memadai. Dalam hal ini,
tentunya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memfasilitasi pengadaan buku
pustaka diseluruh pelosok negeri.
Dan khusus
untuk wilayah propinsi Jawa Timur pemfasiltasan ini sudah mulai dirintis yaitu
dengan diluncurkan program Perpustakaan Desa. Informasi ini, penulis peroleh
saat mengikuti Pembinaan Teknis Tenaga
Perpustakaan Sekolah Tingkat SD / MI se-Kabupaten Tulungagung Tahun 2017 yang
berlangsung pada tanggal 18 Mei lalu di
Gedung Rakyat. Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan
dan Kearsipan Jawa Timur.
Dengan adanya
program tersebut sebagai perwujudan dari good will (niat baik) pemerintah,.
Sehingga masalah ketersediaan buku
sebagai sarana literasi dalam jangka waktu dekat bisa terselesaikan. Khususnya
di wilayah Jawa timur. Dan semoga untuk propinsi lain juga melakukan program
yang sama walau dengan nama yang berbeda.
2.
Mahalnya
harga buku.
Tingkat
kemahalan harga buku menjadi salah satu penyebab orang merasa enggan untuk
memenuhi minat bacanya. Hal ini terkait erat dengan tingkat kesejahteraan
(pendapatan) sebagian masyarakat
Indonesia yang masih tergolong minim. Sehingga pengalokasian anggaran
pendapatannya lebih dititik beratkan untuk pemenuhan kebutuhan pokok
sehari-hari mereka.
Dan bila
pemerintah menghendaki warganya berwawasan serta berpengetahuan baik, maka
pemerintah perlu untuk turut campur tangan mengatasinya. Untuk pemerintah bisa
mengatasinya lewat pemberian subsidi
pembiayaan pengadaan buku. Sehingga
harga buku bisa ditekan serendah mungkin dan masyarakat bawah bisa
menjagkaunya.
3.
Kuatnya
budaya menonton.
Memang tidak
dapat dipungkiri bahwa masyarakat kita
lebih senang untuk menikmati acara televise daripada membaca buku. Bahkan
hampir separuh waktu hidupnya dihabiskan untuk duduk di depan TV. Dengan kata
lain TV sebagai kotak ajaib banyak menyita waktu kita hanya untuk menungguinya. Sementara itu,
TV tidak pernah peduli dengan kita.
Televisi
sebagai kotak ajaib, selain menawarkan nilai positif sebagai media hiburan,
infomasi dan edudaksi. Televisi juga membawa
dampak negative yang bersifat merusak terhadap perkembangan kemampuan
otak manusia. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan Dharma
Sing Khlasa yang kemudian dikutip oleh
Jalaluddin Rahmad dalam bukunya Belajar Cerdas, Belajar Berbasiskan Otak
(2005). Dari hasil penelitian tersebut dinyatakan bahwa televisi akan
menjadikan otak pasif, melumpuhkan otak kritis, dan merusak – terutama –
kecerdasan spasial pada otak sebelah kanan. Namun demikian, dampak paling
berbahaya dari menonton televisi adalah mengalihkan perhatian orang dari
membaca.
4.
Alasan
kesibukan.
Semakin
beratnya pemenuhan kebutuhan hidup memaksa seseorang untuk terus bekerja keras
agar semua tuntutan hidup bisa tercukupi. Sehingga situasi ini menyeret manusia
untuk menghabiskan waktu dan kehidupanya digunakan untuk kerja dan kerja. Yang
pada akhirnya tidak ada waktu tersisa untuk meng update otaknya dengan
informasi – keilmuan lewat aktivitas membaca.
Dalih semacam
ini seringkali digunakan sebagai pembenar saat ditanya tentang seberapa sering
seseorang menyisihkan waktunya untuk membaca buku maupun media cetak lainnya.
5.
Mitos yang salah.
Yang penulis
anggap sebagi mitos yang salah terkait masalah budaya literasi dan sampai saat
ini masih kuat berkembang ditengah di masyarakat kita yaitu adanya anggapan
atau persepsi yang menyatakan bahwa membaca itu hanyalah cocok untuk
orang-orang berpendidikan tinggi saja.
Ada lagi mitos
yang menganggap membaca bikin pusing, membaca bikin pikiran tambah sumpek,
membaca membuat mata jadi ngantuk, dan masih banyak lagi. Tentu saja
mitos-mitos negative semacam ini perlu dihilangkan agar masyarakat bisa
tergugah minat bacanya. Sehingga program Gerakan Literasi Nasional bisa
terlaksana dengan baik.
6.
Rasa
malas.
Kemalasan atau
rasa malas adalah pemicu dari segala bentuk kegagalan pada diri seseorang.
Karena bila rasa ini kuat mengendap dalam pikiran sesorang maka orang tersebut
sangat sulit untuk bisa maju. Apa lagi untuk mencapai kesuksesan.
Situasi psikis
semacam ini akan berdampak sangat fatal bila sudah tertanam kuat dan sudah
diyakini zona aman tentang konsepsi dirinya. Kondisi semacam ini perlu
penanganan yang serius agar orang tersebut bisa segera move on (bangkit) dengan
cara diberi perlakuan khusus lewat mind setting program. Dalam program ini, si
pasien bisa diberi nasihat, saran, sugesti, bimbingan, konsultasi, pendampingan
dan bisa juga dilakukan hypnotherapy.









0 komentar:
Posting Komentar