Pagi tadi saat saya membuka WA
dan memelototi postingan yang masuk, saya mendapati kalimat saran yang sangat impresif yang
tertuju pada artikel “Merekonstruski Daftar Isi Buku” yang saya unggah kemarin.
Masukan tersebut yaitu berupa saran yang sangat baik untuk ditindak lanjuti
guna untuk membuat face valitidy buku yang saya rencanakan menjadi lebih
familiar dengan eyes cath – kenyamanan mata pembaca. Dan ini perlu untuk
disikapi, ditindak lanjuti serta diekskusi dalam sebuah tindakan nyata. Saran
tersebut terkait penggunaan kata Bab dalam daftar isi yang
menurutnya kurang lumer dan terasa kaku mirip dengan penulisan sekripsi. Yang menurutnya akan berpengaruh pada feeling
(perasaan) pembaca saat mengunyah kalimat untuk menangkap mana yang terkandung
didalamnya. Dan si teman tadi mengusulkan kata bagian sebagai
kata yang bisa dipertimbangkan untuk menggatikan kata Bab.
Dari diskripsi diatas, pikiran
saya menjadi teringat sebuah kata yang pernah say abaca pada tahun 90 an yaitu
kata heterologoni. Kata itu sangat terkesan sekali dalam pikiran
saya sampai saat ini. Kata tersebut saya peroleh dari salah satu buku yang
judulnya sudah tidak saya sebutkan. Ya karena lupa dan tidak teringat. Yang
jelas saat itu saya lagi kesengsem membaca buku-buku terkait dengan tema Post
Modernisme yang sedang trending di harian Jawa Pos, Surya, Kompas, Republika
dan majalah Tempo.
Dalam buku yang sudah tidak saya
ingat judulnya tadi, saya masih ingat betul maksud dari definisi kata
herologoni tersebut. Kata heterologoni didefinisikan sebagai gaya atau seni
berbahasa yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang sama tetapi
menggunakan ucapan dan ungkapan dengan
perkataan atau kalimat yang berbeda, misalkan: bermain-main/bercanda/tidak
serius/bersenda gurao; bingung/tidak tahu/tersesat; mengkudu/bentis/pace dan masih
banyak lagi. Dan ini merupakan salah satu khasanah yang tumbuh subur dalam
bahasa kita. Baik bahasa Indonesia selaku bahasa Nasional maupun bahasa daerah sebagai
tanda pluralitas budaya bangsa.
Karena saya merasa kurang yakin
dengan ingatan saya terkait definisi dari kata heterologoni maka saya pun
mencoba untuk memburu definisinya di KBBI online. Di dalam KBBI saya tidak
menemukan kata tersebut, tetapi saya mendapati sebuah kata yang sefamili karena
kuatnya kemiripan yang ada keduanya. Menurut feeling saya kata heterologoni
sangat dekat dengan heterograf yang kebetulan pendefinisian maknanya juga
sangat mendekati. Heterograf didefinisikan sebagai “ Ling dari dua kata atau
lebih yang maknanya sama, tetapi ejaannya berbeda”.
Kemudian dengan bekal dua
definisi diatas kita bisa menggunakan sebagai parameter untuk mengkritisi
penerapan kata bab dan bagian dalam merekonstruksi daftar isi buku saya yang
masih terbengkalai hingga kini.
Oke langsung ke pokok
permasalahan saja, yaitu mana yang lebih tepat, lebih familiar dan akomodatif
dengan mata serta pemikiran kita. Sebenarnya penggunaan dua kata tersebut – bab
dan bagian bisa saling untuk mengganti khususnya dalam penyusunan daftar isi
buku. Bahkan tidak menggunakan keduanya pun juga bisa, asalkan buku tersebut
merupakan buku kumpulan artikel yang tidak memiliki keterkaitan secara langsung
satu dengan yang lainnya. Dan buku model ini pun juga sering kali kita temukan.
Untuk menikmati buku model ini terasa sangat ringan karena tulisannya tidak
terlalu panjang sehingga waktu yang
dibutuhkan untuk melahap satu judul tentang suatu tema hanya membutuhkan waktu
beberapa menit saja. Khusus buku yang
bertipe macam ini, pengikatan tulisan satu dan yang lain cukup dengan pemberian
bingkai judul yang lumer terhadap artikel-artikel yang termuat didalamnya.
Sedangkan bab dan sub bab
berfungsi untuk membagi dan mengelompokkan bagian-bagian yang sama atau hampir
sama dalam sebuah ikat bingkai yang relative lebih kecil dari dari sebuah judul
buku. Dan penggunaan kata bab dan sub
bab dalam sebuah buku lebih umum dari kata bagian. Yang jelas kedua kata
tersebut sama-sama menunjukkan adanya sebuah ordonansi tata urutan hirarkis
dari sebuah buku.
Beda dari kata bab dan bagian,
menurut feeling saya lebih cenderung pada sebuah kelaziman dan umum atau tidak umum
saja. Dari sisi etis akademik dalam kepenulisan mungkin tidak terlalu
bermasalah. Apalagi dari sudut pandang teoritis komunikasi verbal tekstual. Dan
khusus untuk buku seri tentang menulis yang saya rencanakan terbit secara indi
tersebut insyalloh memilih menggukan kata bab karena disitu terdapat
tahapan-tahapan atau penjenjangan yang harus dilalui –Cara Mudah Melejitkan Kemampuan
Menulis. Sedangkan untuk buku yang satunya lagi –The Magic Power of Writing - hanya
mengikatnya dengan sebuah judul saya karena artikel-artikelnya hanya mengulas
satu sisi dari keajaiban karya tulis.
Yang jelas sya sangat berterimakasih
atas masukannya sehingga tulisan ini bisa dimunculkan dan semoga saja bisa
menambah semagat kita untuk tetap berkarya dalam merangkai kata.








0 komentar:
Posting Komentar