Minggu, 22 September 2019

HETEROLOGONI: SENI KETERAMPILAN BERGAYA BAHASA



Pagi tadi saat saya membuka WA dan memelototi postingan yang masuk, saya mendapati  kalimat saran yang sangat impresif yang tertuju pada artikel “Merekonstruski Daftar Isi Buku” yang saya unggah kemarin. Masukan tersebut yaitu berupa saran yang sangat baik untuk ditindak lanjuti guna untuk membuat face valitidy buku yang saya rencanakan menjadi lebih familiar dengan eyes cath – kenyamanan mata pembaca. Dan ini perlu untuk disikapi, ditindak lanjuti serta diekskusi dalam sebuah tindakan nyata. Saran tersebut terkait penggunaan kata Bab dalam daftar isi yang menurutnya kurang lumer dan terasa kaku mirip dengan penulisan sekripsi.  Yang menurutnya akan berpengaruh pada feeling (perasaan) pembaca saat mengunyah kalimat untuk menangkap mana yang terkandung didalamnya. Dan si teman tadi mengusulkan kata bagian sebagai kata yang bisa dipertimbangkan untuk menggatikan kata Bab.

Dari diskripsi diatas, pikiran saya menjadi teringat sebuah kata yang pernah say abaca pada tahun 90 an yaitu kata heterologoni. Kata itu sangat terkesan sekali dalam pikiran saya sampai saat ini. Kata tersebut saya peroleh dari salah satu buku yang judulnya sudah tidak saya sebutkan. Ya karena lupa dan tidak teringat. Yang jelas saat itu saya lagi kesengsem membaca buku-buku terkait dengan tema Post Modernisme yang sedang trending di harian Jawa Pos, Surya, Kompas, Republika dan majalah Tempo.

Dalam buku yang sudah tidak saya ingat judulnya tadi, saya masih ingat betul maksud dari definisi kata herologoni tersebut. Kata heterologoni didefinisikan sebagai gaya atau seni berbahasa yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang sama tetapi menggunakan ucapan dan  ungkapan dengan perkataan atau kalimat yang berbeda, misalkan: bermain-main/bercanda/tidak serius/bersenda gurao; bingung/tidak tahu/tersesat; mengkudu/bentis/pace dan masih banyak lagi. Dan ini merupakan salah satu khasanah yang tumbuh subur dalam bahasa kita. Baik bahasa Indonesia selaku bahasa Nasional maupun bahasa daerah sebagai tanda pluralitas budaya bangsa.

Karena saya merasa kurang yakin dengan ingatan saya terkait definisi dari kata heterologoni maka saya pun mencoba untuk memburu definisinya di KBBI online. Di dalam KBBI saya tidak menemukan kata tersebut, tetapi saya mendapati sebuah kata yang sefamili karena kuatnya kemiripan yang ada keduanya. Menurut feeling saya kata heterologoni sangat dekat dengan heterograf yang kebetulan pendefinisian maknanya juga sangat mendekati. Heterograf didefinisikan sebagai “ Ling dari dua kata atau lebih yang maknanya sama, tetapi ejaannya berbeda”.

Kemudian dengan bekal dua definisi diatas kita bisa menggunakan sebagai parameter untuk mengkritisi penerapan kata bab dan bagian dalam merekonstruksi daftar isi buku saya yang masih terbengkalai hingga kini.

Oke langsung ke pokok permasalahan saja, yaitu mana yang lebih tepat, lebih familiar dan akomodatif dengan mata serta pemikiran kita. Sebenarnya penggunaan dua kata tersebut – bab dan bagian bisa saling untuk mengganti khususnya dalam penyusunan daftar isi buku. Bahkan tidak menggunakan keduanya pun juga bisa, asalkan buku tersebut merupakan buku kumpulan artikel yang tidak memiliki keterkaitan secara langsung satu dengan yang lainnya. Dan buku model ini pun juga sering kali kita temukan. Untuk menikmati buku model ini terasa sangat ringan karena tulisannya tidak terlalu panjang  sehingga waktu yang dibutuhkan untuk melahap satu judul tentang suatu tema hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.  Khusus buku yang bertipe macam ini, pengikatan tulisan satu dan yang lain cukup dengan pemberian bingkai judul yang lumer terhadap artikel-artikel yang termuat didalamnya.

Sedangkan bab dan sub bab berfungsi untuk membagi dan mengelompokkan bagian-bagian yang sama atau hampir sama dalam sebuah ikat bingkai yang relative lebih kecil dari dari sebuah judul buku. Dan penggunaan kata bab  dan sub bab dalam sebuah buku lebih umum dari kata bagian. Yang jelas kedua kata tersebut sama-sama menunjukkan adanya sebuah ordonansi tata urutan hirarkis dari sebuah buku.

Beda dari kata bab dan bagian, menurut feeling saya lebih cenderung pada sebuah kelaziman dan umum atau tidak umum saja. Dari sisi etis akademik dalam kepenulisan mungkin tidak terlalu bermasalah. Apalagi dari sudut pandang teoritis komunikasi verbal tekstual. Dan khusus untuk buku seri tentang menulis yang saya rencanakan terbit secara indi tersebut insyalloh memilih menggukan kata bab karena disitu terdapat tahapan-tahapan atau penjenjangan yang harus dilalui –Cara Mudah Melejitkan Kemampuan Menulis. Sedangkan untuk buku yang satunya lagi –The Magic Power of Writing - hanya mengikatnya dengan sebuah judul saya karena artikel-artikelnya hanya mengulas satu sisi dari keajaiban karya tulis.

Yang jelas sya sangat berterimakasih atas masukannya sehingga tulisan ini bisa dimunculkan dan semoga saja bisa menambah semagat kita untuk tetap berkarya dalam merangkai kata.

0 komentar:

Posting Komentar