Kemarin sore ketika saya sedang
mulai makan ada seorang tamu laki-laki yang datang kerumah. Orangnya tidak
begitu tinggi, berkaca mata dan dipunggunya terdapat tas yang agak besar. Tentu
saja aktivitas makan saya jadi tertunda untuk beberapa waktu karena harus
menemui tamu tersebut.
Setelah saya persilahkan masuk
dan duduk di kursi yang ada diruang tamu. Diam-diam saya pun mengamatinya untuk
menyelidiki dengan berbagai perkiraa. Maklum karena saat ini banyak modus orang
melakukan tipu-tipu, mulai dari gendam, pura-pura ngemis tapi sebenarnya mau
mencuri dan masih banyak lagi. yang penting harus waspada. Sedia payung sebelum
turun hujun walau pun saat ini tidak sedang musim hujan.
Karena laki-laki tersebut masih tetap diam, maka untuk
memecah kebekuan tersebut saya pun berinisiatif memulai pembicaraan dengan
orang tadi. Saya pun ajukan pertanyaan standar “Bapak dari mana da nada keperluan
apa ya?”.
“Saya dari dinas kesehatan pak. Saya
bertugas untuk melakukan pendataan kesehatan dilingkungan sini”, jawab orang
tersebut sambil mengeluarkan kertas. Kemuadian, orang tadi melanjutkan
menanyakan RT, RW, nama dan umur saya.
Setelah memberikan jawaban dari
pertanyaan laki-laki tadi, saya interupsi dengan sebuah pertanyaan untuk memerangkapnya. “Katanya bapak tadi
dari dinas kesehatan ya?”.
“Ya, benar pak”, jawab laki-laki
tadi penuh keyakinan. Mungkin dia merasa dengan menyebut dinas kesehatan dia
akan lancar melakukan aksi untuk mewujudkan targetnya. Mungkin dia mengira saya
sebagai orang yang mudah di pengaruhi.
Sebagai reaksi sepontan, saya pun
juga mantuk-mantuk sebagai tanda respek saya atas jawabanya. Dari situ,
kemudian saya ajukan sebuah permintaan “Pak apa saya boleh lihat surat
pengantar yang bapak bawa?”, begitu tantangku.
“Boleh”, jawab laki-laki tadi
seraya menyodorkan surat pengantar yang dia bbawa.
Setelah saya amati ternyata surat
pengantarnya bukan dari dinas kesehatan, melainkan dari sebuah perusahaan yang
berkaitan dengan kesahatan – Electric Healthy Care. “Pak surat pengantar yang bapak bawa ini
bukan dari dinas kesehatankan? Ini dari perusahaan kesehatankan?”, tanyaku
menudutkannya.
“Iya, benar pak. Saya dari
perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan yang memasarkan alat terapi
elektrik”, jelasnya.
“ohh begiitu ya!!”, balasku penuh
kelegaan karena berhasil mengendus maksud dari kunjungan oran tadi. Kemudian saya
lanjutkan dengan jurus berikutnya yang lebih dahsyat lagi “maaf pak, sebenarnya
saya ini juga seorang terapis yang juga sering menerapi orang dengan berbagai
macam keluhan”.
“Iya to! Terus alat yang bapak
gunakan untuk menerapi apa ya?”, tanyanya penuh rasa penasaran.
“Saya tidak menggunakan alat
untuk menerapi”, jawab ku mencoba meyakinkannya.
“Lho, kok bisa?”, dia tampak tenggelam
dalan rasa penasaran yang penuh kebingungan.
“Saya nerapi dengan bioenergy. Bioenergy
itu memanfaatkan energy gelombang alam pak. Tepatnya dengan metode Waskita
Reiki”, jelasku. Tampaknya dia semakin bingung penuh karena tidak paham sama
sekali.
Saya pun tidak ambil pusing
dengan apa yang dirasakan. Entah paham atau tidak. Entah bingung atau tidak. Saya
pun tetap melanjutkan penjelasan saya biar dia tidak jadi mempromosikan
dagangannya dihadapan saya. Kemudian saya sebutkan bahwa dari terapi yang saya
lakukan bisa dilakukan jarak dekat maupun jarak jauh. Bahkan saat saya sebutkan
pasien jarak jauh yang pernah saya bantu mulai dari Gorontalo, Riau, Singapur,
Johor, Taiwan dan juga Suriname. Mulai dari gangguan lambung, penyumbatan
jantung, jantung bocor, patah tulang, vertigo, melahirkan dan masih banyak
lagi.
“Ohh, hebat kalau gitu pak”,
komentarnya.
“ya begitulah, Alhamdulillah”,
jawabku.
“Jadi Maaf, saya tidak memerlukan
alat terapi yang ingin bapak tawarkan. Semoga di tempat lain dagangan bapak
laku dan laris”, doaku padanya.
Akhirnya laki-laki tersebut
berpamitan meninggalkan rumah saya dan saya melanjutkan makan saya yang sempat
tertunda untuk menemui tamu dan sekaligus meng-kepoinnya.







0 komentar:
Posting Komentar