Kamis, 12 September 2019

TERPAKSA AKU KEPOIN


Kemarin sore ketika saya sedang mulai makan ada seorang tamu laki-laki yang datang kerumah. Orangnya tidak begitu tinggi, berkaca mata dan dipunggunya terdapat tas yang agak besar. Tentu saja aktivitas makan saya jadi tertunda untuk beberapa waktu karena harus menemui tamu tersebut.
Setelah saya persilahkan masuk dan duduk di kursi yang ada diruang tamu. Diam-diam saya pun mengamatinya untuk menyelidiki dengan berbagai perkiraa. Maklum karena saat ini banyak modus orang melakukan tipu-tipu, mulai dari gendam, pura-pura ngemis tapi sebenarnya mau mencuri dan masih banyak lagi. yang penting harus waspada. Sedia payung sebelum turun hujun walau pun saat ini tidak sedang musim hujan.

 Karena  laki-laki tersebut masih tetap diam, maka untuk memecah kebekuan tersebut saya pun berinisiatif memulai pembicaraan dengan orang tadi. Saya pun ajukan pertanyaan standar “Bapak dari mana da nada keperluan apa ya?”.

“Saya dari dinas kesehatan pak. Saya bertugas untuk melakukan pendataan kesehatan dilingkungan sini”, jawab orang tersebut sambil mengeluarkan kertas. Kemuadian, orang tadi melanjutkan menanyakan RT, RW, nama dan umur saya.

Setelah memberikan jawaban dari pertanyaan laki-laki tadi, saya interupsi dengan sebuah pertanyaan  untuk memerangkapnya. “Katanya bapak tadi dari dinas kesehatan ya?”.

“Ya, benar pak”, jawab laki-laki tadi penuh keyakinan. Mungkin dia merasa dengan menyebut dinas kesehatan dia akan lancar melakukan aksi untuk mewujudkan targetnya. Mungkin dia mengira saya sebagai orang yang mudah di pengaruhi.

Sebagai reaksi sepontan, saya pun juga mantuk-mantuk sebagai tanda respek saya atas jawabanya. Dari situ, kemudian saya ajukan sebuah permintaan “Pak apa saya boleh lihat surat pengantar yang bapak bawa?”, begitu tantangku.

“Boleh”, jawab laki-laki tadi seraya menyodorkan surat pengantar yang dia bbawa.
Setelah saya amati ternyata surat pengantarnya bukan dari dinas kesehatan, melainkan dari sebuah perusahaan yang berkaitan dengan kesahatan – Electric Healthy Care.  “Pak surat pengantar yang bapak bawa ini bukan dari dinas kesehatankan? Ini dari perusahaan kesehatankan?”, tanyaku menudutkannya.

“Iya, benar pak. Saya dari perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan yang memasarkan alat terapi elektrik”, jelasnya.

“ohh begiitu ya!!”, balasku penuh kelegaan karena berhasil mengendus maksud dari kunjungan oran tadi. Kemudian saya lanjutkan dengan jurus berikutnya yang lebih dahsyat lagi “maaf pak, sebenarnya saya ini juga seorang terapis yang juga sering menerapi orang dengan berbagai macam keluhan”.

“Iya to! Terus alat yang bapak gunakan untuk menerapi apa ya?”, tanyanya penuh rasa penasaran.

“Saya tidak menggunakan alat untuk menerapi”, jawab ku mencoba meyakinkannya.

“Lho, kok bisa?”, dia tampak tenggelam dalan rasa penasaran yang penuh kebingungan.

“Saya nerapi dengan bioenergy. Bioenergy itu memanfaatkan energy gelombang alam pak. Tepatnya dengan metode Waskita Reiki”, jelasku. Tampaknya dia semakin bingung penuh karena tidak paham sama sekali.

Saya pun tidak ambil pusing dengan apa yang dirasakan. Entah paham atau tidak. Entah bingung atau tidak. Saya pun tetap melanjutkan penjelasan saya biar dia tidak jadi mempromosikan dagangannya dihadapan saya. Kemudian saya sebutkan bahwa dari terapi yang saya lakukan bisa dilakukan jarak dekat maupun jarak jauh. Bahkan saat saya sebutkan pasien jarak jauh yang pernah saya bantu mulai dari Gorontalo, Riau, Singapur, Johor, Taiwan dan juga Suriname. Mulai dari gangguan lambung, penyumbatan jantung, jantung bocor, patah tulang, vertigo, melahirkan dan masih banyak lagi.

“Ohh, hebat kalau gitu pak”, komentarnya.

“ya begitulah, Alhamdulillah”, jawabku.

“Jadi Maaf, saya tidak memerlukan alat terapi yang ingin bapak tawarkan. Semoga di tempat lain dagangan bapak laku dan laris”, doaku padanya.

Akhirnya laki-laki tersebut berpamitan meninggalkan rumah saya dan saya melanjutkan makan saya yang sempat tertunda untuk menemui tamu dan sekaligus meng-kepoinnya.

0 komentar:

Posting Komentar