Selasa, 03 September 2019

PENTINGNYA MEMBANGUN BUDAYA LITERASI





Judul               : Geliat Gerakan Literasi Sekolah
Penulis             : Ali Usman, S.S., M.Pd., dkk.
Penerbit           : LovRinz Publishing
Dimensi           : xiv + 392, 14 x 20
Cetakan 1        : Juli 2017
ISBN               : 978-602-6652-86-7

Buku Geliat Gerakan Literasi Sekolah ini merupakan buku antologi kedua saya selama keikutsertaan saya di GGDN. Buku ke dua setelah buku Sinergi dalam Pendidikan Karakter. Sesuai dengan judul yang tertulis pada sampulnya, buku ini mengupas tentang sebuah gerakan literasi yang bertujuan untuk membangun SDM yang literat dan lekat dengan budaya membaca. Di dalam buku ini, orientasi pembahasan terfokus pada lingkungan yang lebih spesifik yaitu di lokasi sekolah yang didalamnya terdapat kepala sekolah, guru, tenaga pendidikan, perpustakaan dan elemen lain yang terkait.

Seperti buku antologi yang pertama, dalam buku ini saya turut menyumbangkan satu artikel yang berjudul “Membangun Budaya Literasi Pada Anak” yang insyaalloh akan saya unggah di blog ini menjadi 3 bagian biar tidak terlalu berat untuk membacanya. Bagian  pertama akan diunggah bebarengan dengan pengantar ini yaitu mulai halaman 248 – 252; bagian kedua, halaman 252 – 256; dan bagian ketiga yaitu halaman 256 – 260.

Bagian pertama
PENTINGNYA MEMBANGUN BUDAYA LITERASI
Dalam terminology Islam literasi atau membaca  memiliki peran yang sangat esensial bagi kehidupan manusia dan juga terhadap kemajuan peradaban suatu bangsa. Bahkan karena sangat pentingnya, Allah SWT menurunkan wahyu pertama-Nya dalam surat Al Alaq  kepada Nabi Muhammad berupa perintah untuk membaca. Dan kata membaca dalam surat Al Alaq  mendapat pengulangan sampai dua kali. Tentu saja hal  ini merupakan pertanda betapa besarnya manfaat atau faedah yang ditimbulkan dari kegiatan membaca tersebut.
Menurut Hernowo  dalam buku Mengikat Makna, seperti yang dikutip Ngainun Naim dalam karyanya The Power of Reading (hal. 3) disebutkan bahwa membaca itu sangat penting. Membaca bukan sekadar aktivitas menelusuri deretan huruf yang tercetak rapi diatas kertas saja, tetapi lebih dari itu, membaca sesungguhnya juga dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur yang menentukan kualitas dan kemajuan hidup.
Perspektif ini bisa kita pelajari pada kemajuan peradaban bangsa barat yang lebih mapan dan penuh kemudahan. Coba bandingkan dengan pencapaian yang didapat negara ketiga atau negara berkembang termasuk didalamnya Negara Indonesia. Salah satu faktor penyebab ketertinggalan tersebut dikarenakan lemahnya budaya membaca pada warga negaranya.
Kalau di tingkat Asia kita patut mencontoh pada negara Jepang  yang begitu cepat bangun dan bangkit dari keterpurukannya  akibat perang dunia II. Jepang saat itu lumpuh total karena dua kotanya dijatuhi bom nuklir.  Tapi apa yang terjadi, sungguh diluar dugaan,  Jepang segera move on. Jepang bangkit, menggeliat dan mampu menjungkir balikkan perkiraan dunia. Dalam waktu yang cukup singkat untuk ukuran siklus peradaban, jepang mampu menaklukkan dunia lewat kemajuan teknologi, industri dan outomotifnya. Salah satu kunci terbesar dari kesuksesanya adalah tingginya ( kuatnya ) budaya membaca masyarakat Jepang.
Sedangkan di Asia Tenggara kita bisa berkaca pada negara  Singapura, walau  negaranya kecil tapi kemajuannya juga luar biasa. Ya semuanya juga dipengauhi oleh kautnya budaya membaca (budaya literasi) warganya.
Bagaimana dengan perkembangan tingkat bangsa Indonesia? Disinilah sebuah paradok yang cukup mencengankan terjadi. Menurut data sebuah penelitian sebuah lembaga dunia yang melakukan survey terhadap daya membaca yang menyasar ke 41 negara menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-39. Sedangkan menurut laporan Bank Dunia dan Studi IEA di Asia Timur, tingkat membaca anak-anak Indonesia memiliki skor 51,7. Skor ini berada di bawah Filipina (52,1), dan Singapura (74,0), (Ngainun Naim , The power of Reading : 5). Tentu saja fenomena ini berdampak kurang baik terhadap ketersediaan SDM yang kualified bagi perkembangan dan kemajuan bangsa ini. Apalagi SDM kita harus bersaing dengan tenaga asing dalam persaingan pasar bebas seperti saat ini.
Lebih lanjut, Ngainum Naim menjelaskan bahwa tanpa minat membaca yang kokoh, dari mana kita bisa mendapatkan ide-ide segar dan baru? Membaca memberikan kemungkinan yang lebih luas pada kita untuk membuka katup-katup imajinasi dan ide-ide segar yang terus mengalir. Stimulus membaca akan melebarkan saya-sayap imajinasi untuk dikembangkan dalam kehidupan.
Membaca,  selain bermanfaat untuk meningkatkan kualitas SDM dari sisi intelektual dan skill; membaca juga memnimbulkan dampak positif terkait dengan pembentukan karakter (kepribadian) seseorang.
Hal ini selaras dengan penyataan Ngainun Naim (The Power of Reading : 15) bahwa budaya membaca juga memiliki implikasi social yang jauh lebih luas. Rasa tanggung jawab, disiplin, dan sikap-sikap kemajuan selalu mewarnai perilaku masyarakat yang tradisi membacanya tumbuh dengan kuat, sebab membaca sesungguhnya memiliki relasi timbal balik dengan karakteristik dan perilaku masyarakat. Masyarakat yang telah tumbuh dan mendarah daging akan menjadikan seseorang sebagai insan yang sarat dengan nilai-nilai dan mentalitas positif.
Dari uraian diatas, penulis teringat pada pemikiran dua orang penulis yang sangat santer diperbincangan pada tahun 90 an. Penulis  yang pertama adalah seorang futurolog (permal perdaban)  yaitu John Nisbith dengan bukunya The Third Wave yang salah satu prediksinya menyatakan bahwa peradaban dunia akan memasuki tahapan yang ketiga, dimana peradaban tersebut ditengarai dengan dominannya peran informasi dalam segala aktifitas manusia. Pada  fase ini peradaban dunia ditandai dengan pesatnya kemajuan dibidang teknologi informasi (IT ). Fase tersebut, saat ini kita telah menapakinya dengan penuh kegagapan serta keterkejutan karena ketertinggalan kita.

Disisi lain, John Nisbith juga mengatakan bahwa penduduk di negara berkembang yang baru saja memasuki tahap  dunia tulis akan mengalami banyak permasalahan. Dikarenakan pada masa itu, dikawasan negara berkembang yang baru saja melewati pengentasan buta huruf, dan Indonesia termasuk didalamnya – harus memasuki peradaban fase kedua dan ketiga secara bersamaan.
Sedangkan yang akan jadi pemenang dari perang peradaban ini ( Peradaban Gelombang Ketiga ) adalah mereka yang menguasai akses informasi. Dengan kata lain, pemilik informasi dan media informasi yang akan menguasai peradaban ini.

Dan penulis kedua yaitu Jack Athali, ia merupakan  salah satu penasehat ekonomi perdana menteri Prancis saat itu. Didalam bukunya yang berjudul The Third Millinium : Winner and Losser  pada salah satu babnya secara tegas menyebutkan bahwa pada millinium ketiga nanti yang akan menjadai pemenangnya adalah mereka yang terdidik atau yang banyak membaca. (Millinium merupakan rentang waktu 1000 tahun).

Untuk merealisasikan program tersebut kita semua yang berkecimpung dalam dunia pendidikan perlu untuk cangcut taliwondo untuk bersama-sama menyukseskannya. Baik lewat pemberian keteladanan untuk selalu gemar membaca maupun membimbing anak atau siswa senang dengan buku.

0 komentar:

Posting Komentar