Judul : Geliat Gerakan Literasi Sekolah
Penulis : Ali Usman, S.S., M.Pd., dkk.
Penerbit : LovRinz Publishing
Dimensi : xiv + 392, 14 x 20
Cetakan 1 : Juli 2017
ISBN : 978-602-6652-86-7
Buku Geliat Gerakan Literasi Sekolah ini
merupakan buku antologi kedua saya selama keikutsertaan saya di GGDN. Buku ke
dua setelah buku Sinergi dalam Pendidikan Karakter. Sesuai dengan judul yang
tertulis pada sampulnya, buku ini mengupas tentang sebuah gerakan literasi yang
bertujuan untuk membangun SDM yang literat dan lekat dengan budaya membaca. Di dalam
buku ini, orientasi pembahasan terfokus pada lingkungan yang lebih spesifik
yaitu di lokasi sekolah yang didalamnya terdapat kepala sekolah, guru, tenaga
pendidikan, perpustakaan dan elemen lain yang terkait.
Seperti buku antologi yang pertama, dalam buku
ini saya turut menyumbangkan satu artikel yang berjudul “Membangun Budaya
Literasi Pada Anak” yang insyaalloh akan saya unggah di blog ini menjadi 3 bagian
biar tidak terlalu berat untuk membacanya. Bagian pertama akan diunggah bebarengan dengan
pengantar ini yaitu mulai halaman 248 – 252; bagian kedua, halaman 252 – 256;
dan bagian ketiga yaitu halaman 256 – 260.
Bagian pertama
PENTINGNYA MEMBANGUN BUDAYA
LITERASI
Dalam terminology Islam literasi atau membaca memiliki peran yang sangat esensial bagi
kehidupan manusia dan juga terhadap kemajuan peradaban suatu bangsa. Bahkan
karena sangat pentingnya, Allah SWT menurunkan wahyu pertama-Nya dalam surat Al
Alaq kepada Nabi Muhammad berupa
perintah untuk membaca. Dan kata membaca dalam surat Al Alaq mendapat pengulangan sampai dua kali. Tentu
saja hal ini merupakan pertanda betapa
besarnya manfaat atau faedah yang ditimbulkan dari kegiatan membaca tersebut.
Menurut Hernowo dalam buku
Mengikat Makna, seperti yang dikutip Ngainun Naim dalam karyanya The Power of
Reading (hal. 3) disebutkan bahwa membaca itu sangat penting. Membaca bukan
sekadar aktivitas menelusuri deretan huruf yang tercetak rapi diatas kertas
saja, tetapi lebih dari itu, membaca sesungguhnya juga dapat dijadikan sebagai
salah satu tolak ukur yang menentukan kualitas dan kemajuan hidup.
Perspektif ini bisa kita pelajari pada kemajuan peradaban bangsa
barat yang lebih mapan dan penuh kemudahan. Coba bandingkan dengan pencapaian
yang didapat negara ketiga atau negara berkembang termasuk didalamnya Negara
Indonesia. Salah satu faktor penyebab ketertinggalan tersebut dikarenakan
lemahnya budaya membaca pada warga negaranya.
Kalau di tingkat Asia kita patut mencontoh pada negara Jepang yang begitu cepat bangun dan bangkit dari
keterpurukannya akibat perang dunia II.
Jepang saat itu lumpuh total karena dua kotanya dijatuhi bom nuklir. Tapi apa yang terjadi, sungguh diluar
dugaan, Jepang segera move on. Jepang
bangkit, menggeliat dan mampu menjungkir balikkan perkiraan dunia. Dalam waktu
yang cukup singkat untuk ukuran siklus peradaban, jepang mampu menaklukkan
dunia lewat kemajuan teknologi, industri dan outomotifnya. Salah satu kunci
terbesar dari kesuksesanya adalah tingginya ( kuatnya ) budaya membaca
masyarakat Jepang.
Sedangkan di Asia Tenggara kita bisa berkaca pada negara Singapura, walau negaranya kecil tapi kemajuannya juga luar
biasa. Ya semuanya juga dipengauhi oleh kautnya budaya membaca (budaya
literasi) warganya.
Bagaimana dengan perkembangan tingkat bangsa Indonesia? Disinilah
sebuah paradok yang cukup mencengankan terjadi. Menurut data sebuah penelitian
sebuah lembaga dunia yang melakukan survey terhadap daya membaca yang menyasar
ke 41 negara menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-39. Sedangkan
menurut laporan Bank Dunia dan Studi IEA di Asia Timur, tingkat membaca anak-anak
Indonesia memiliki skor 51,7. Skor ini berada di bawah Filipina (52,1), dan
Singapura (74,0), (Ngainun Naim , The power of Reading : 5). Tentu saja
fenomena ini berdampak kurang baik terhadap ketersediaan SDM yang kualified
bagi perkembangan dan kemajuan bangsa ini. Apalagi SDM kita harus bersaing
dengan tenaga asing dalam persaingan pasar bebas seperti saat ini.
Lebih lanjut, Ngainum Naim menjelaskan bahwa tanpa minat membaca
yang kokoh, dari mana kita bisa mendapatkan ide-ide segar dan baru? Membaca memberikan
kemungkinan yang lebih luas pada kita untuk membuka katup-katup imajinasi dan
ide-ide segar yang terus mengalir. Stimulus membaca akan melebarkan saya-sayap
imajinasi untuk dikembangkan dalam kehidupan.
Membaca, selain bermanfaat
untuk meningkatkan kualitas SDM dari sisi intelektual dan skill; membaca juga
memnimbulkan dampak positif terkait dengan pembentukan karakter (kepribadian)
seseorang.
Hal ini selaras dengan penyataan Ngainun Naim (The Power of Reading
: 15) bahwa budaya membaca juga memiliki implikasi social yang jauh lebih luas.
Rasa tanggung jawab, disiplin, dan sikap-sikap kemajuan selalu mewarnai
perilaku masyarakat yang tradisi membacanya tumbuh dengan kuat, sebab membaca
sesungguhnya memiliki relasi timbal balik dengan karakteristik dan perilaku
masyarakat. Masyarakat yang telah tumbuh dan mendarah daging akan menjadikan
seseorang sebagai insan yang sarat dengan nilai-nilai dan mentalitas positif.
Dari uraian diatas, penulis teringat pada pemikiran dua orang
penulis yang sangat santer diperbincangan pada tahun 90 an. Penulis yang pertama adalah seorang futurolog (permal perdaban) yaitu John Nisbith
dengan bukunya The Third Wave yang salah satu prediksinya menyatakan
bahwa peradaban dunia akan memasuki tahapan yang ketiga, dimana peradaban
tersebut ditengarai dengan dominannya peran informasi dalam segala aktifitas
manusia. Pada fase ini peradaban dunia
ditandai dengan pesatnya kemajuan dibidang teknologi informasi (IT ). Fase
tersebut, saat ini kita telah menapakinya dengan penuh kegagapan serta
keterkejutan karena ketertinggalan kita.
Disisi lain, John Nisbith juga mengatakan bahwa penduduk di negara
berkembang yang baru saja memasuki tahap
dunia tulis akan mengalami banyak permasalahan. Dikarenakan pada masa
itu, dikawasan negara berkembang yang baru saja melewati pengentasan buta
huruf, dan Indonesia termasuk didalamnya – harus memasuki peradaban fase kedua
dan ketiga secara bersamaan.
Sedangkan yang akan jadi pemenang dari perang peradaban ini (
Peradaban Gelombang Ketiga ) adalah mereka yang menguasai akses informasi.
Dengan kata lain, pemilik informasi dan media informasi yang akan menguasai
peradaban ini.
Dan penulis kedua yaitu Jack Athali, ia merupakan salah satu penasehat ekonomi perdana menteri
Prancis saat itu. Didalam bukunya yang berjudul The Third Millinium : Winner
and Losser pada salah satu babnya secara
tegas menyebutkan bahwa pada millinium ketiga nanti yang akan menjadai
pemenangnya adalah mereka yang terdidik atau yang banyak membaca. (Millinium
merupakan rentang waktu 1000 tahun).
Untuk merealisasikan program tersebut kita semua yang berkecimpung
dalam dunia pendidikan perlu untuk cangcut taliwondo untuk bersama-sama
menyukseskannya. Baik lewat pemberian keteladanan untuk selalu gemar membaca
maupun membimbing anak atau siswa senang dengan buku.








0 komentar:
Posting Komentar