Pagi tadi saat upacara hari senin
pagi, masih tetap seperti biasanya. Sperti hari Senin sebelumya. Saya menggantikan
posisi Kepala Sekolah sebagai Pembina upacara dan sekaligus bertanggung jawab
untuk menyampaikan pesan atau amanat kepada peserta upacara. Terutama pengarahan
yang ditujukan kepada murid-murid. Dan salah satu pesan inti yang saya sampai
dalam kesempatan kali adalah ini terkait dengan peristiwa tragisme tragedy nasional
yang terjadi pada tahun 1965. Peristiwa kelam yang menimpa bangsa-negara
Indonesia 54 tahun yang lalu.
Untuk memulai sambutan dalam
pemberian amanat tersebut saya awalai dengan pengajuan dua buah pertanyaan sekaligus
kepada murid-murid peserta upaca. Pertanyaan tersebut adalah “ Peristiwa apa
yang kamu tahu pada tanggal 30 September? dan Mengapa pengibaran benderanya
setelah sampai puncak diturunkan lagi hingga setengah tiang?”. Ternyata mereka
semua hanya bengong, toleh kanan kiri. Mereka semua tidak tahu apa-apa tentang
jejak sejarah perjuangan bangsa ini. Mereka tidak mengenal tokoh sejarah yang
merupakan putra bangsa yang telah gugur membela ibu pertiwi. Kalau nama saja tidak mengenal bagai mana
mereka bisa menghargai, mewarisi semangat juangannya dan menginternalisasi jiwa
nasionalisme dalam diri mereka.
Dari realita kebangsaan yang kita
jumpai semacam ini, tentunya sangat memprihatinkan. Jiwa dan semangat
nasionalisme telah mengalami pengeroposan dari berbagai sisi dalah kehidupan
berkebangsaan. Perspektif pemikiran generasi muda menjadi semakin prakmatis,
egois dan sangat kering dari nilai nilai-nilai luhur ke Indonesiaan yang sangat
toleran, rukun, santun, dan kaya akan nliai humanism.
Menurut pemandangan penulis, terjadi
nihilisme nilai patriotis nasionalis yang memicu menipisnya rasa bangga dan
cinta tanah air salah satunya disebabkan oleh pencereabutan anak-anak didik
kita dari pembelajaran sejarah. Padahal kita tahu bahwa pelajaran sejarah
merupakan salah satu factor yang sangat mendasar bagi keberlangsung serta
eksistensi suatu bangsa agar tetap bisa bertahan.
Sebenarnya, sudah sejak jauh-jauh
hari kenyataan ini suadh dipeningatkan oleh founding father negeri ini, yaitu
oleh presiden pertama kita Ir. Soekarno lewat selogan “JASMERAH”nya. Jasmerah,
jangan melupakan sejarah. Bahkan didalam Al Qur’an pun juga terdapat banyak pesan-pesan
yang bernuansa sejarah dari kaum/bangsa sebelumnya.
Dengan menengok deskripsi diatas,
sudah selayaknya dan sepatutnya pembelajaran sejarah dan perjuangan bangsa
untuk dihadirkan serta diajarkan kembali kepada seluruh putra-putri negeri ini
agar mereka tidak tercerabut jiwanya dari roh peradaban kebangsaan yang telah
lama terbingkai dalam dekapan bumi pertiwi ini. Dari perspektif ini, kita
sepantasnya untuk berguru pada Negara Jepang, yang mana dalah praktek
kehidupannya masyarakat jepang sangat kuat dalam menjunjug tinggi nilai
kultural historis yang telah diwriskan oleh para pendahulunya.
Semoga saja, tulisan singkat dan
kurang mendalam ini mampu menggugah pemikiran fihak –fihak yang terkait dalam
pembuat kebijakan terhadap arah masa depan bangsa tercinta. Yang jelas
pembelajaran sejarah memeainkan peren yang sangat essensi bagi eksistensi
bangsa Indonesia kedepannya. Semoga dan semoga. Aamiin.








0 komentar:
Posting Komentar