Minggu, 29 September 2019

MEMPERTANYAKAN URGENSITAS PELAJARAN SEJARAH PERJUANGAN BANGSA


Pagi tadi saat upacara hari senin pagi, masih tetap seperti biasanya. Sperti hari Senin sebelumya. Saya menggantikan posisi Kepala Sekolah sebagai Pembina upacara dan sekaligus bertanggung jawab untuk menyampaikan pesan atau amanat kepada peserta upacara. Terutama pengarahan yang ditujukan kepada murid-murid. Dan salah satu pesan inti yang saya sampai dalam kesempatan kali adalah ini terkait dengan peristiwa tragisme tragedy nasional yang terjadi pada tahun 1965. Peristiwa kelam yang menimpa bangsa-negara Indonesia 54 tahun yang lalu.

Untuk memulai sambutan dalam pemberian amanat tersebut saya awalai dengan pengajuan dua buah pertanyaan sekaligus kepada murid-murid peserta upaca. Pertanyaan tersebut adalah “ Peristiwa apa yang kamu tahu pada tanggal 30 September? dan Mengapa pengibaran benderanya setelah sampai puncak diturunkan lagi hingga setengah tiang?”. Ternyata mereka semua hanya bengong, toleh kanan kiri. Mereka semua tidak tahu apa-apa tentang jejak sejarah perjuangan bangsa ini. Mereka tidak mengenal tokoh sejarah yang merupakan putra bangsa yang telah gugur membela ibu pertiwi.  Kalau nama saja tidak mengenal bagai mana mereka bisa menghargai, mewarisi semangat juangannya dan menginternalisasi jiwa nasionalisme dalam diri mereka.

Dari realita kebangsaan yang kita jumpai semacam ini, tentunya sangat memprihatinkan. Jiwa dan semangat nasionalisme telah mengalami pengeroposan dari berbagai sisi dalah kehidupan berkebangsaan. Perspektif pemikiran generasi muda menjadi semakin prakmatis, egois dan sangat kering dari nilai nilai-nilai luhur ke Indonesiaan yang sangat toleran, rukun, santun, dan kaya akan nliai humanism.
Menurut pemandangan penulis, terjadi nihilisme nilai patriotis nasionalis yang memicu menipisnya rasa bangga dan cinta tanah air salah satunya disebabkan oleh pencereabutan anak-anak didik kita dari pembelajaran sejarah. Padahal kita tahu bahwa pelajaran sejarah merupakan salah satu factor yang sangat mendasar bagi keberlangsung serta eksistensi suatu bangsa agar tetap bisa bertahan.

Sebenarnya, sudah sejak jauh-jauh hari kenyataan ini suadh dipeningatkan oleh founding father negeri ini, yaitu oleh presiden pertama kita Ir. Soekarno lewat selogan “JASMERAH”nya. Jasmerah, jangan melupakan sejarah. Bahkan didalam Al Qur’an pun juga terdapat banyak pesan-pesan yang bernuansa sejarah dari kaum/bangsa sebelumnya.

Dengan menengok deskripsi diatas, sudah selayaknya dan sepatutnya pembelajaran sejarah dan perjuangan bangsa untuk dihadirkan serta diajarkan kembali kepada seluruh putra-putri negeri ini agar mereka tidak tercerabut jiwanya dari roh peradaban kebangsaan yang telah lama terbingkai dalam dekapan bumi pertiwi ini. Dari perspektif ini, kita sepantasnya untuk berguru pada Negara Jepang, yang mana dalah praktek kehidupannya masyarakat jepang sangat kuat dalam menjunjug tinggi nilai kultural historis yang telah diwriskan oleh para pendahulunya.

Semoga saja, tulisan singkat dan kurang mendalam ini mampu menggugah pemikiran fihak –fihak yang terkait dalam pembuat kebijakan terhadap arah masa depan bangsa tercinta. Yang jelas pembelajaran sejarah memeainkan peren yang sangat essensi bagi eksistensi bangsa Indonesia kedepannya. Semoga dan semoga. Aamiin.


0 komentar:

Posting Komentar