Judul : Sinergi dalam Pendidikan
Karakter
Penerbit : LovRinz Publishing
Tebal : x + 229, 14 x 20
ISBN : 978-602-6652-28-7
Buku ini merupakan sebuah buku antologi yang
ditulis oleh guru-guru yang tergabung dalam pelatihan kepenulisan di GGDN (Grup
Guru Dahsyat New) angkatan XIII. Aktifitas kepelatihannya dilaksanakan secara
online via whatsapp yang dilakukan tiap hari Kamis, selama 4 kali daring – (23,
30 Maret dan 6, 13 April 2017).
Sebagai buku antologi, buku ini ditulis oleh
banyak penulis yaitu sebanyak 23 penulis sebagai kontributor naskah teks
tulisnya dan saya salah satu diantaranya dengan rincian sebagai berikut:
1.
Erza Surya Werita, S.Pd – guru
mapel IPA MTsN Kota Baru Solok Sumatra Barat. (Fondasi Pendidikan Karakter
Bebas Munafik).
2.
Duwi Retnaningsih, S.Pd.Si – guru
mapel Kimia SMA Negeri 2 Klaten. (Membangun Karakter melalui Keteladanan dan
Kepedulian).
3.
Fatmayanti, S.Pd.I, S.Pd – guru SDN
Jarakan Jakarta. (Doa Guru Berkah Bagi
Murid).
4.
Zibdah, S.PD.SD – guru SDN Pondowan
01 Kecamatan Tayu Pati Jawa Tengah. (Guru Berkarakter).
5.
Diana Mulawarmaningsih, S.Ag. – guru
BK di SMAN 2 Katingan Hilir Kab.
Katingan Kalimantan Tengah. (Pendidikan
Karakter Melalui Kegiatan Pembelajaran).
6.
Nurus Samawati Anisa, S.Pd –
mengajar di SMPN 8 Tangerang.(Meluangkan Waktu Mengajarkan Akhlaq).
7.
Siti Khusnul Khotimah – mengajar di
MTsN W Aik Ampat Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. (Pendidikan Karakter dalam
Pembelajaran Matematika)
8.
Iskhoyatun, S.Pd – mengajar di SDN
5 Sindangrasa. (Keluarga Harmonis, Landasan Pendidikan Karakter di Tengah
Kehidupan Modern).
9.
Dedi Wahyudi, S.Pd – mengajar di
SMPN 3 Kepulauan Riau. (Pengaplikasian Nilai-Nilai Karakter Bangsa).
10. Puji Astuti,
S.E, S.Pd – mengajar di SDN 007 Balikpapan Selatan. (Implementasi Pendidikan
Berkarakter).
11. Ratiwi, S.Pd –
mengajar di TKIT Assalafush Sholih Citeureup. (Menumbuhkan Nilai Karakter
Religius Sejak Usia Dini).
12. Irawati, S.Pd
– mengajar mapel Kimia di SMKN 1 Sumedang. (Peran Guru Dalam Mengubah Karakter
Siswa).
13. Istiqomah,
S.Pd – mengajar Fisika di SMAN 1 Patean Kab. Kendal Jawa Tengah. (Peran Guru
Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik).
14. Ir. Firtiany
Feby Adiana Gustariany, S.E., M.P., M.Pd.E. – guru Ekonomi di SMAN 2 Rambatan
Kab. Tanah datar Sumatera Barat. (Pendidikan Karakter Cerdas “Miracles The
Reference”).
15. Sri Sulastri,
S.Pd. – guru di MI At Taufiqi Ciboga Kab. Subang. (Tantangan Penuh Berkah).
16. Annisatul
Khoeriyah, S.Pd. – Guru SDN Bencongan VII Kelapa Dua. (Pentingnya Keteladanan
dalan Pendidikan Karakter
17. Samsudin,
S.Pd. – guruSDN 1 Kacangan Kec. Ngunut Kab. Tulungagung. (Peran Guru Dalam
Pembentukan Karakter Siswa).
18. Hj. Khusnul
Qotimah, S.E. – mengajar di SMPN Sentani Kab. Jayapura Papua. (Perlindungan
Profesi Guru).
19. Nur Aini
Mahmudah Himawati, S.Pd. – mengajar di MTs Darul Hikmah Menganti Kedung -
Jepara. (Peran Guru dan Orang Tua Dalam Membentuk Karakter Anak).
20. Iin Endang
Widuri – mengajar di SDN 2 Watugede Singosari Malang. (Keajaiban Karakter
Anak).
21. Amilia
Meiyannie, S.Si – mengajar SMAN 2 Muaradua Kab. OKU Selatan. (Peran Guru Dalam
Mengubah Kebiasaan Siswa).
22. Lilik
Handayani, S.Pd – mengajar di SDN Karangtengah 3 Kota Blitar. (Empat Pilar
Pembentuk Karakter Siswa).
23. Uyun Mulyanah,
S.Pd., M.M. (Membangun Generasi 4G Melalui Pendidikan Karakter.
Didalam buku antologi
ini tulisan saya dengan judul Peran Guru Dalam Pembentukan Karakter Siswa
termuat pada halaman168 – 178. Dan dalam kesempatan kali ini sebagian
dari tulisan saya ersebut akan share lewat blog ini dan saya persilahkan bagi
semuanya untuk mampir serta menikmati postingan saya kali ini. Semoga ada
faedahnya, aamiin.
PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA
Dalam
kegiatan belajar mengajar guru memainkan peran yang sangat sentral karena tanpa
kehadiran seorang guru kegiatan belajar dan mengajar tidak bisa berlangsung.
Karena begitu signifikanya peran guru dalam mempersiapkan kematangan anak
bangsa guru mendapat dianggap sebagi agen of change.
Begitu
pula dalam pelaksanaan pendidikan karakter yang bertujuan menanamkan
nilai-nilai yang telah diuraikan diatas agar terbentuk generasi bangsa yang
cerdas dan berakhlak mulia, guru juga memegang peran yang sangat vital. Dalam
posisi ini, guru berperan sebagai sosok panutan yang dituntut untuk mampu
memberi contoh keteladanan baik dalam, ucapan, sikap, tingkah laku dan
perbuatannya. Dalam peran ini sosok guru mendapat sebutan “iso digugu lan
ditiru” – bisa dipercaya dan bisa diteladani.
Guru
sebagai sosok panutan yang bisa digugu lan ditiru sudah sepatutnya untuk selalu
memberikan contoh suri tauladan bagi murid-muridnya. Baik disaat proses
pembelajaran berlangsung maupun saat diluar kegiatan pembelajaran. Kesan baik
inilah yang nantinya akan turut berimbas pada pembentukan moral karakteristik
peserta didik. Terutama pada anak usia emas (golden age) dalam rentang usia
dini sampai 12 tahun.
Mengapa
pada fase golden age keteladan seorang guru sangat berpengaruh pada pola pikir
dan personality (kepribadian) anak? Menurut analisa penulis setidaknya ada dua
alasan yang tepat untuk menjelaskan situasi tersebut. Pertama, pada masa golden
age semua gerak-gerik dan tingkah polah anak dibawah kendali otak bawah sadar.
Dan secara prinsipil kerja otak bawah sadar tidak bisa membedakan mana yang
benar- mana yang salah dan mana yang nyata maupun mana yang tidak. Selain itu,
pada tahap ini peran kritikel area pada otak anak kurang maksimal. Sebagai
akibatnya apa yang dia lihat dan yang dia dengar dianggap benar dan pantut
untuk ditirukan.
Maka
dari itu, para guru perlu berhati-hati dalam
segala tindakanya, apalagi saat didepan pesreta didiknya. Karena dari
situlah dimensi bangunan karakter peserta didik akan terbentuk. Hal ini bukan
bermaksut untuk menafikkan peran orang tua dan lingkungan peserta didik
berasal.
Yang
kedua, pada usia golden age ini siswa memiliki kemampuan meniru atau mengkopi
yang sangat kuat. Apalagi sosok tersebut dianggap sebagi idolanya. Tentu saja
seorang guru harus bisa memanfaatkan momen semacam ini dengan memberi
contoh-contoh yang baik agar siswanya juga menjadi pribadi yang baik dan
berkepridaian dengan karakteristik yang baik pula.
Metode
Ppendidikan Dalam Pembentukan Karakter
Menurut
pengamatan penulis setidaknya ada 3 metode yang yang paling efektif yang bisa
diaplikasikan untuk menyelenggarakan pendidikan karakter pada anak usia dini
hingga jenjang pendidikan usia dasar. Metode tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Keteladanan
Seperti disebutkan diatas keteladan
adalah sangat penting dalam proses pembentukan karakter siswa. Hal ini benar
sekali seperti yang diungkapkan dalam sebuah kata bijak “sekali contoh lewat
tindakan/perbuatan akan lebih bermakna dari seribu kali penjelasan. Nampaknya
ungkapan tersebut juga sangat tepat untuk diterapkan dalam proses pembentukan
karakter siswa lewat contoh keteladanan dari seorang guru.
2.
Pembiasaan
Pembiasaan merupakan metode pemberlakuan
sesuatu yang dianggap baik dengan cara berulang – ulang. Dari proses
pengulangan inilah karakter dan personality seorang individu terbentuk. Dan ini
nampaknya juga merupakan rahasia dari cara kerja system otak bawah sadar
manusia. Dengan kata lain, melalui proses pengulangan karakteristis seseorang
akan terbentuk dengan sendirinya.
3.
pembelajaran
yang dimaksud dengan pembelajaran
disini adalah pengenalan nilai-nilai moral, norma, etika, aturan, tata tertib
dan kesan baik lewat teks bacaan yang terprogam untuk tujuan tersebut. Teks
bacaan tersebut bisa berupa buku cerita, buku agama dan masih banyak lagi yang
bisa ditempuh.








0 komentar:
Posting Komentar