Minggu, 01 September 2019

SINERGI DALAM MEMBANGUN PENDIDIKAN KARAKTER


Judul               : Sinergi dalam Pendidikan Karakter
Penulis             : Erza Surya Werita, S.Pd. dkk.
Penerbit           : LovRinz Publishing
Tebal               : x + 229, 14 x 20
Cetakan 1        : Mei 2017
ISBN               : 978-602-6652-28-7

Buku ini merupakan sebuah buku antologi yang ditulis oleh guru-guru yang tergabung dalam pelatihan kepenulisan di GGDN (Grup Guru Dahsyat New) angkatan XIII. Aktifitas kepelatihannya dilaksanakan secara online via whatsapp yang dilakukan tiap hari Kamis, selama 4 kali daring – (23, 30 Maret dan  6, 13 April 2017).

Sebagai buku antologi, buku ini ditulis oleh banyak penulis yaitu sebanyak 23 penulis sebagai kontributor naskah teks tulisnya dan saya salah satu diantaranya dengan rincian sebagai berikut:
1.      Erza Surya Werita, S.Pd – guru mapel IPA MTsN Kota Baru Solok Sumatra Barat. (Fondasi Pendidikan Karakter Bebas Munafik).
2.      Duwi Retnaningsih, S.Pd.Si – guru mapel Kimia SMA Negeri 2 Klaten. (Membangun Karakter melalui Keteladanan dan Kepedulian).
3.      Fatmayanti, S.Pd.I, S.Pd – guru SDN Jarakan  Jakarta. (Doa Guru Berkah Bagi Murid).
4.      Zibdah, S.PD.SD – guru SDN Pondowan 01 Kecamatan Tayu Pati Jawa Tengah. (Guru Berkarakter).
5.      Diana Mulawarmaningsih, S.Ag. – guru BK di SMAN 2 Katingan  Hilir Kab. Katingan  Kalimantan Tengah. (Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Pembelajaran).
6.      Nurus Samawati Anisa, S.Pd – mengajar di SMPN 8 Tangerang.(Meluangkan Waktu Mengajarkan Akhlaq).
7.      Siti Khusnul Khotimah – mengajar di MTsN W Aik Ampat Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. (Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Matematika) 
8.      Iskhoyatun, S.Pd – mengajar di SDN 5 Sindangrasa. (Keluarga Harmonis, Landasan Pendidikan Karakter di Tengah Kehidupan Modern).
9.      Dedi Wahyudi, S.Pd – mengajar di SMPN 3 Kepulauan Riau. (Pengaplikasian Nilai-Nilai Karakter Bangsa).
10.  Puji Astuti, S.E, S.Pd – mengajar di SDN 007 Balikpapan Selatan. (Implementasi Pendidikan Berkarakter).
11.  Ratiwi, S.Pd – mengajar di TKIT Assalafush Sholih Citeureup. (Menumbuhkan Nilai Karakter Religius Sejak Usia Dini).
12.  Irawati, S.Pd – mengajar mapel Kimia di SMKN 1 Sumedang. (Peran Guru Dalam Mengubah Karakter Siswa).
13.  Istiqomah, S.Pd – mengajar Fisika di SMAN 1 Patean Kab. Kendal Jawa Tengah. (Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik).
14.  Ir. Firtiany Feby Adiana Gustariany, S.E., M.P., M.Pd.E. – guru Ekonomi di SMAN 2 Rambatan Kab. Tanah datar Sumatera Barat. (Pendidikan Karakter Cerdas “Miracles The Reference”).
15.  Sri Sulastri, S.Pd. – guru di MI At Taufiqi Ciboga Kab. Subang. (Tantangan Penuh  Berkah).
16.  Annisatul Khoeriyah, S.Pd. – Guru SDN Bencongan VII Kelapa Dua. (Pentingnya Keteladanan dalan Pendidikan Karakter
17.  Samsudin, S.Pd. – guruSDN 1 Kacangan Kec. Ngunut Kab. Tulungagung. (Peran Guru Dalam Pembentukan Karakter Siswa).
18.  Hj. Khusnul Qotimah, S.E. – mengajar di SMPN Sentani Kab. Jayapura Papua. (Perlindungan Profesi Guru).
19.  Nur Aini Mahmudah Himawati, S.Pd. – mengajar di MTs Darul Hikmah Menganti Kedung - Jepara. (Peran Guru dan Orang Tua Dalam Membentuk Karakter Anak).
20.  Iin Endang Widuri – mengajar di SDN 2 Watugede Singosari Malang. (Keajaiban Karakter Anak).
21.  Amilia Meiyannie, S.Si – mengajar SMAN 2 Muaradua Kab. OKU Selatan. (Peran Guru Dalam Mengubah Kebiasaan Siswa).
22.  Lilik Handayani, S.Pd – mengajar di SDN Karangtengah 3 Kota Blitar. (Empat Pilar Pembentuk Karakter Siswa).
23.  Uyun Mulyanah, S.Pd., M.M. (Membangun Generasi 4G Melalui Pendidikan Karakter.

Didalam buku antologi ini tulisan saya dengan judul Peran Guru Dalam Pembentukan Karakter Siswa termuat pada halaman168 – 178. Dan dalam kesempatan kali ini sebagian dari tulisan saya ersebut akan share lewat blog ini dan saya persilahkan bagi semuanya untuk mampir serta menikmati postingan saya kali ini. Semoga ada faedahnya, aamiin.

PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA
Dalam kegiatan belajar mengajar guru memainkan peran yang sangat sentral karena tanpa kehadiran seorang guru kegiatan belajar dan mengajar tidak bisa berlangsung. Karena begitu signifikanya peran guru dalam mempersiapkan kematangan anak bangsa guru mendapat dianggap sebagi agen of change.

Begitu pula dalam pelaksanaan pendidikan karakter yang bertujuan menanamkan nilai-nilai yang telah diuraikan diatas agar terbentuk generasi bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia, guru juga memegang peran yang sangat vital. Dalam posisi ini, guru berperan sebagai sosok panutan yang dituntut untuk mampu memberi contoh keteladanan baik dalam, ucapan, sikap, tingkah laku dan perbuatannya. Dalam peran ini sosok guru mendapat sebutan “iso digugu lan ditiru” – bisa dipercaya dan bisa diteladani.

Guru sebagai sosok panutan yang bisa digugu lan ditiru sudah sepatutnya untuk selalu memberikan contoh suri tauladan bagi murid-muridnya. Baik disaat proses pembelajaran berlangsung maupun saat diluar kegiatan pembelajaran. Kesan baik inilah yang nantinya akan turut berimbas pada pembentukan moral karakteristik peserta didik. Terutama pada anak usia emas (golden age) dalam rentang usia dini sampai 12 tahun.

Mengapa pada fase golden age keteladan seorang guru sangat berpengaruh pada pola pikir dan personality (kepribadian) anak? Menurut analisa penulis setidaknya ada dua alasan yang tepat untuk menjelaskan situasi tersebut. Pertama, pada masa golden age semua gerak-gerik dan tingkah polah anak dibawah kendali otak bawah sadar. Dan secara prinsipil kerja otak bawah sadar tidak bisa membedakan mana yang benar- mana yang salah dan mana yang nyata maupun mana yang tidak. Selain itu, pada tahap ini peran kritikel area pada otak anak kurang maksimal. Sebagai akibatnya apa yang dia lihat dan yang dia dengar dianggap benar dan pantut untuk ditirukan.

Maka dari itu, para guru perlu berhati-hati dalam  segala tindakanya, apalagi saat didepan pesreta didiknya. Karena dari situlah dimensi bangunan karakter peserta didik akan terbentuk. Hal ini bukan bermaksut untuk menafikkan peran orang tua dan lingkungan peserta didik berasal.

Yang kedua, pada usia golden age ini siswa memiliki kemampuan meniru atau mengkopi yang sangat kuat. Apalagi sosok tersebut dianggap sebagi idolanya. Tentu saja seorang guru harus bisa memanfaatkan momen semacam ini dengan memberi contoh-contoh yang baik agar siswanya juga menjadi pribadi yang baik dan berkepridaian dengan karakteristik yang baik pula. 

Metode Ppendidikan Dalam  Pembentukan Karakter
Menurut pengamatan penulis setidaknya ada 3 metode yang yang paling efektif yang bisa diaplikasikan untuk menyelenggarakan pendidikan karakter pada anak usia dini hingga jenjang pendidikan usia dasar. Metode tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Keteladanan
Seperti disebutkan diatas keteladan adalah sangat penting dalam proses pembentukan karakter siswa. Hal ini benar sekali seperti yang diungkapkan dalam sebuah kata bijak “sekali contoh lewat tindakan/perbuatan akan lebih bermakna dari seribu kali penjelasan. Nampaknya ungkapan tersebut juga sangat tepat untuk diterapkan dalam proses pembentukan karakter siswa lewat contoh keteladanan dari seorang guru.
2.      Pembiasaan
Pembiasaan merupakan metode pemberlakuan sesuatu yang dianggap baik dengan cara berulang – ulang. Dari proses pengulangan inilah karakter dan personality seorang individu terbentuk. Dan ini nampaknya juga merupakan rahasia dari cara kerja system otak bawah sadar manusia. Dengan kata lain, melalui proses pengulangan karakteristis seseorang akan terbentuk dengan sendirinya.
3.      pembelajaran
yang dimaksud dengan pembelajaran disini adalah pengenalan nilai-nilai moral, norma, etika, aturan, tata tertib dan kesan baik lewat teks bacaan yang terprogam untuk tujuan tersebut. Teks bacaan tersebut bisa berupa buku cerita, buku agama dan masih banyak lagi yang bisa ditempuh.

0 komentar:

Posting Komentar